Pagi ini restoran terlihat ramai pengunjung. Seperti biasa Esa tengah mengantarkan beberapa pesanan ke meja pengunjung. Senyum manis selalu menghiasi wajah Esa dengan penuh semangat. Walau pun kali ini sahabatnya tidak bekerja. Tak membuatnya hilang semangat.
"Ini pesanannya, selamat menikmati," ucapnya dengan tersenyum. Usai meletakkan pesanan makanan dan minuman ke meja pengunjung.
"Terimakasih" jawab salah satu pengunjung yang di sapa oleh Esa.
Esa mengangguk menanggapinya. Ia melangkah kembali ke meja pengunjung lain yang tengah menunggu pesanannya. Dan melayani para pengunjung restoran dengan baik.
Evans terlihat baru memasuki restoran. Ia melihat ke seluruh penjuru restoran. Seperti mencari emas permata yang hilang. Sangat jeli dan teliti. Benar saja yang dikatakan Vania. Evans pasti mencari dirinya. Tak mendapati Vania dlam pndangannya. Evans berjalan mendekati Esa yang tengah melayani pengunjung.
"Ehem.. Sa bisa kita bicara sebentar?" Evans tersenyum kepada Esa.
Mendengar Evans berdeham, Esa berbalik menoleh lalu mengangguk meng-iyakan. Mereka berjalan sedikit menjauh dari meja pengunjung.
"Ada apa Vans" tanya Esa dengan kedua mata berbinar. Ia sangat senang Evans menyapa dirinya pagi ini. Hal yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
"Vania. Sejak tadi aku tak melihatnya. Kemana dia?"
"Vania hari ini tidak masuk. Dia ijin sebab ada urusan mendadak." Esa mengingat pesan yang di kirimkan Vania untuknya.
"Urusan apa?"
"Pagi ini, dia pergi mengunjungi neneknya."
Evans memicingkan matanya. "Apa kau tau dimana rumah Vania?"
Esa menggeleng kepala. "Maaf aku tidak tau itu." Jawab Esa dengan jujur.
Evans terlihat kecewa dengan jawaban yang baru ia dengar. 'Sial! Dimana kau saat ini Vania. Aku tau! Kau sengaja menghindariku. Sehari tak melihatmu serasa dunia ku gelap.' Batin Evans mencurigai Vania, sengaja menghindari dirinya. Insting yang tepat.
"Ada yang bisa saya bantu?" tawarnya
"Bawakan secangkir kopi ke ruanganku," sahut Evans. Kemudian berlalu meninggalkan Esa yang masih berdiri memperhatikannya pergi.
"Baik" ucap Esa. Hatinya serasa berbunga-bunga. Ia segera membuatkan secangkir kopi special untuk pria yang ia sukai. Ia membuat kopi itu dwngan penuh perasaan cinta.
Begitulah biasanya kalau orang sedang jatuh cinta. Apa-apa ia lakukan dengan sepenuh hati. Esa menyisir rambut hitamnya dengan jari tangannya, agar terlihat lebih rapi. Sebelum ia mengantarkan kopi itu ke ruangan Evans.
Esa menaiki anak tangga dengan hati-hati, menuju ke ruangan Evans. Dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi hitam. Ia mengetuk pintu lalu masuk. Seketika ia diam, mendapati Meisha tengah berada duduk berhadapan di meja kerja Evans.
'Sejak kapan Meisha ada di sini? Nampaknya mereka tengah serius membicarakan sesuatu. Terlihat dari raut wajah Evans, sepertinya, ia sedang emosi.' Batin Esa menebak apa yang terjadi antara Meisha dan Evans.
Esa memberanikan diri melangkah lebih dekat. Ia meletakkan kopi itu di atas meja. Terdengar jelas di telinga Esa, jika Evans mengusir Meisha dari ruangannya.
"Lebih baik kau segera pergi dari sini! Sebelum aku benar-benar emosi!" Gertak Evans dengan tatapan tajam.
Meisha tersenyum licik. Sebelum akhirnya ia melangkah pergi keluar ruangan, lalu menghilang di balik pintu.
Evans mendesah kesal. Tangannya mengepal menahan emosi.
"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Esa memberanikan diri.
Evans menghela napas panjang kemudian mengangguk. "Aku baik-baik saja. Apa kau tadi mendengar kami berdebat?" Evans kembali bertanya. Ia menatap Vania yang tampak bingung dengan apa yang tengah terjadi.
"Tidak, aku tidak mendengar apapun. Kecuali saat kamu meminta Meisha pergi, aku mendengarnya." Jawabnya dengan serius.
"Meisha memaksaku untuk menemui papanya. Entah apa tujuannya sebenarnya. Tanpa undangan dari om Sinegar sendiri aku tak akan datang." Tutur Evans menceritakan tentang apa tujuan Meisha menemuinya, tanpa menutup-nutupi.
Dengan serius Esa mendengarkan Evans. "Sepertinya dia masih mengharapkanmu? Dan akan sering datang kesini sesuka hatinya. Bahkan seringkali ia mehina para waiters disini." Esa tak sadar mengadu sikap Meisha selama ini. Ia ikut gemas melihat tingkah Meisha yang semakin menjadi.
Kedua mata Evans membulat kaget, mendengar perilaku Meisha yang sebenarnya dari Esa. Ia tak menyangka Meisha bersikap seperti itu. Meisha selalu terlihat sopan dan manis saat berhadapan dengannya.
"Aku baru tau kalau dia seperti itu,"
"Benarkah? "
"Ya, selama ini dia bersikap baik di depanku. Tapi sikapnya berubah setelah aku menolak dirinya," ucap Evans berterus terang kepada Esa. Ia pikir Esa juga sudah tau masalah yang terjadi di antara mereka.
"Jangan terlalu di pikirkan! Cuekin aja nanti dia(Meisha) juga capek sendiri. Dengarkan saja kata hatimu. Pilih yang terbaik, mana yang benar-benar tulus buat kamu" tutur Esa. ' Seperti aku yang sedia tulus mencintaimu' batin Esa penuh harapan.
"Thanks atas kebaikanmu selama ini, Sa. Dari sekian banyak waiters, hanya kamu yang masih setia bekerja disini. Mereka datang silih berganti. Entah, apakah karna aku yang kurang baik ini!" Evans memuji kesetiaan Esa bekerja di restorannya. Di banding yang lain, kebanyakan hanya coba-coba bekerja di tempatnya. Hanya beberapa saja karyawan lamanya, selebihnya karyawan baru. Seperti Vania.
Evans mengeluarkan kotak berwarna hitam berukuran kecil dari laci mejanya. "Aku ada sesuatu buat kamu. Jangan dilihat dari rupanya, yang mungkin tak sebanding dengan kebaikanmu. Aku harap kau mau menerimanya." Evans tersenyum memberikan kotak hitam itu kepada Esa.
Esa meraih kotak itu dengan kedua tangannya. Jantungnya berdebar-debar bak seorang gadis di lamar pacarnya. Dengan perlahan ia membuka kotak hitam yang kini berada di kedua tangannya. Hingga kotak itu terbuka dan menampakkan isinya. Sebuah jam tangan berwarna gold yang terlihat cantik dan elegan tersimpan rapi di dalam kotak.
Esa merasa sangat bahagia sekaligus terharu. Kedua matanya berkaca-kaca dengan senyum lepas menghiasi wajah cantiknya. "Ini serius, buatku!" Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya. Meskipun itu hadiah, ungkapan rasa terimakasih Evans kepada Esa yang setia bekerja di restorannya. Esa sangat senang dan seolah Evans memberi harapan kepadanya. Esa baper.
"Iya itu buat kamu, Sa," jawab Evans meyakinkan Esa. Ia ikut senang melihat Esa sebahagia in Evans berdiri mendekati Esa, tanpa sadar tangannya mengusap bulir bening yang membasahi pipi mulus Esa. Dih jadi baper.
Esa terdiam. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Wajahnya memerah karena tersipu malu.
"Meskipun harganya nggak seberapa. Jangan di buang ya!" pinta Evans dengan tersenyum.
"Nggak akan. Aku sangat menyukai hadiah ini. Terimakasih banyak." Tutur Esa. Sejurus kemudian ia memasang jam tangan itu di pergelangan tangan kirinya. Terlihat cocok dan cantik, jam itu sekarang melingkar di tangan Esa.
"Oh my good! Ini keren sekali, aku suka!" imbuhnya riang. Esa sangat menyukai pemberian Evans. Wajahnya tampak berseri-seri dan bersemangat. Tak sadar Esa memeluk Evans yang tengah berdiri di depannya. Bruukk! Dengan cepat tubuh Esa menempel dengan tubuh Evans.
Evans kaget dan merasa canggung.
Esa begitu sangat bahagia. Ini adalah momen yang Esa tunggu setelah sekian lama. Wangi aroma maskulin tercium dari baju Evans.
Seakan ingin berlama-lama mendekap tubuhnya.
'Tuhan jangan biarkan waktu berlalu begitu cepat. Aku tak ingin semua ini cepat lalu' do'a Esa dalam hati.
"Sekali lagi termakasih, Vans," ucapnya. Perlahan ia melepas pelukannya dan menatap sendu wajah Evans pujaan hatinya.
"Sama-sama Esa," sahut Evans terswnyum kepada Esa. Membuat Esa semakin terbuai oleh pesona ketampanan Evans.
Pipi Esa memanas lagi, memerah karena malu.
"Kalau begitu, aku pamit untuk bekerja lagi," ucapnya kini.
Evans mengangguk mengijinkan.
Kemudian Esa melenggang keluar dari ruangan Evans.
Evans menatap punggung Esa yang kemudian hilang di balik pintu. Evans menghela napas panjang. Ia tak menyangka jika Esa sesenang ini! sebahagia ini. Dan merespon pemberiannya sedemikian rupa.
Esa tengah duduk di pantry. Ia senyam senyum sendirian terus memandangi hadiah dari Evans.
"Andai saja saat ini kau ada disini Van. Pasti kau akan ikut bahagia bersamaku," gumam Esa sendirian.
Bahagia itu sederhana, sesederhana hari-hari yang kita lalui bersama dilingkupi tawa yang terbalut dengan semesta, cinta.
Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki. Bersemangatlah dengan apa yang kamu inginkan.
Esa masih tak percaya dengan yang barusan terjadi. Ia mengusap-usap jam tangan pemberian Evans, yang telah melingkar dengan cantik di pergelangan tangannya.
"Thankyou Evans Haidar. Ini hadiah terindah yang pernah aku terima. Semoga kau pun bisa merasakan getaran cinta dariku. Aku mencintaimu sangat mecintaimu," gumamnya dalam kesendirian saat ini.
Tak sabar Esa ingin mencurahkan segala isi hatinya, kepada sahabatnya esok. Menceritakan kabahagiaan yang tengah ia rasakan. Hal yang sangat ia nantikan. Seperti mimpi tapi ini bukanlah mimpi. Esa mencubit lengannya sendiri untuk memastikan itu.
"Nggak ini bukan mimpi!" Batinnya senang tiada tara.
Bersambung...