Hati Esa kini, berbunga-bunga mendapat hadiah dari Evans.
"Hari ini Evans memberiku jam tangan. Siapa tau besok dia memberiku cincin dan langsung melamarku," gumamnya terlalu berharap.
Kini Esa sudah mulai berani dan tak malu-malu lagi jika bertemu Evans. Yang ada kini ia ingin selalu berdekatan dengannya.
Evans masih tak menyangka, dengan respon Esa memeluk dirinya. Seberani itu kah Esa! Yang dia tau Esa selalu malu-malu saat bertemu dengannya. Tapi ini malah sebaliknya.
"Lucu juga ekspresi Esa tadi, sama seperti Vania. Sedang apa Vania saat ini. Aku merindukannya."
Belum ada sehari saja Evans begitu merindukan Vania. Lalu bagaimana jika Vania benar-benar memutuskan untuk berhenti bekerja.
***
Vania menghabiskan waktunya seharian dengan beraktifitas di dalam rumah. Ia tak berani keluar rumah walau hanya sekedar duduk di kursi teras. Ia khawatir Evans akan mencari dirinya dirumah. Untung saja mama Vania pulangnya juga masih nanti sore. Setidaknya Vania juga bisa beristirahat dengan tenang.
Rambut Vania tampak kusut. Ia baru saja menikmati tidur siangnya. Tangannya meraih benda pipihnya yang terletak di atas nakas, samping tempat tidurnya. Di lihatnya beberapa pesan masuk, di antaranya pesan dari mamanya dan dari Esa. Untung saja Evans belum tau nomor pribadinya. Jika punya, pasti Evans sudah membrondong Vania pesan bahkan riwayat panggilan di penuhi oleh nama Evans.
Vania duduk terdiam di tempat tidurnya. Merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Ia tau betul, Evans tak memiliki nomor pribadinya. Sebaliknya dengan dirinya, tak punyai nomor pribadi Evans. Tapi perasaannya terasa hampa melihat tak ada nama Evans di pesan atau pun di riwayat panggilan.
"Kenapa rasanya seperti ini. Seperti ada sesuatu yang hilang," gumam Vania dengan mendekap benda pipihnya.
Kedua mata Vania mulai berkaca-kaca. Ia bingung dengan perasaannya.
"Apa yang terjadi denganku? Aku rasa tadi baik-baik saja. Kenapa aku mendadak rapuh," sambung Vania, lalu menyeka bulir bening di sudut matanya.
"Nggak! aku nggak boleh kayak gini. Aku harus menjauhi Evans demi Esa. Mungkin aku hanya merasa bosan seharian di dalam rumah. Jadi mikir yang enggak-enggak," tuturnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar pintu utama rumahnya di ketuk beberapa kali. Vania beranjak dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju pintu depan. Sesampainya di depan pintu, Vania tak langsung membuka pintu itu. Melainkan mengintip siapa yang datang, melalui jendela kaca yang tertutup tirai berwarna putih.
Seketika Vania merasa senang ternyata Evans yang tengah mencari dirinya. Tangannya hampir memegang pegangan pintu itu, namun ia urungkan.
"Bodohnya aku, hampir saja aku membuka pintu." Batinnya.
Vania baru ingat bahwa ia sedang menghindar dari Evans.
Ia hanya mengintip saja dari dalam rumah. Sebenarnya ia tak tega melihat Evans yang terlihat cemas saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, demi Esa ia melakukan ini.
Ia tak ingin menjadi penghalang untuk Esa. Terlebih setelah Evans mengungkapkan perasaannya. Dan perasaan Vania sendiri yang terkadang membuatnya dilema.
Ia berharap Evans segera pergi dari rumahnya, sebelum mamanya kembali.
Evans terlihat celingukan di depan pintu. Menanti seseorang dari dalam rumah membukakan pintu untuknya. Namun tak kunjung ada. Rumah itu tampak sepi, semua jendela tampak tertutup rapat.
Evans menghela napas dalam, terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan rumah Vania, dengan perasaan kecewa tak berhasil menemui Vania. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga menghilang di jalanan.
Vania hanya terdiam di balik jendela. Melihat Evans berlalu pergi meninggalkan dirinya. Batinnya menjerit ingin sekali memanggil Evans untuk menahannya.
"Jangan pergi! Aku ada disini," batin Vania.
Namun, ia segera menepis segala kegalauan yang menerpa.
***
Hari telah berganti, tapi entah kenapa Vania tak semangat memulai hari. Ia sedang duduk di teras depan, menunggu kedatangan mang Ujang yang belum kunjung datang.
"Kalau mng Ujang nggak datang, aku mau bolos lagi ah," ucap Vania.
Tak lama kemudian terlihat mang Ujang datang menjemputnya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati mang Ujang.
"Aduh neng, maafkan Mang Ujang terlambat lagi. Ini motor pakai acara ban bocor segala sih. Maaf ya, Neng Vani!"
Mang Ujang memberikan alasan, kenapa dia bisa datang terlambat. Kemudian mang Ujang memberikan helm kepada Vania.
"Nggak apa kok mang, aku mah santuy!" Sahutnya sambil memakai helm yang di berikan mang Ujang.
Sejurus kemudian, ia naik motor di belakang Mang Ujang.
"Gimana neng Vani, siap!" Tutur mang Ujang.
"Siap Mang! Berangkat," sahut Vania menirukan jargon kaya di tv "Tukang Ojek Pengkolan!"
Di perjalanan pun Vania lebih banyak diam tak seperti biasanya.
"Neng Vani tumben diam saja. Apa lagi sakit?" Tanya mang Ujang heran.
"Enggak kok mang. Nggak tau aku nggak semangat gini hari ini," jawab Vania berterus terang.
Sambil melihat pemandangan sebuah taman yang mereka lalui.
"Tadi belum sarapan mungkin, Neng?"
"Udah juga, Mang."
Kali ini Vania tersenyum, melihat anak kecil laki-laki dan perempuan berjalan sejajar dengan tangan bergandengan. Sepertinya kedua anak kecil itu bersahabat. Dan berangkat sekolah bersama. Vania melambaikan tangannya kepada kedua anak kecil itu. Mereka pun balik melambaikan tangan kepada Vania. Vania tersenyum lepas, terlintas bayang-bayang masa kecilnya dulu. Sama persis seperti itu.
Tak terasa motor yang di kendarai mang Ujang dan Vania di belangnya. Sampai di depan restoran, Vania turun lalu kemudian melepas helm dan memberikan helm itu kepada Mang Ujang kembali.
"Terimabkasih, Mang," ucap Vania tersenyum.
"Sama-sama, Neng,"
Mang Ujang mengangguk, lalu kemudian mengendarai motornya menuju kejalanan.
Vania segera masuk restoran, lalu kemudian meletakkan ransel berwarna hitam miliknya ke dalam lokernya.
"Van!"
Esa menepuk punggung Vania dari belakang. Hingga membuatnya terperanjat kaget.
"Esa! Bikin kaget aja. Jantungku serasa mau copot akibat ulahmu," protes Vania.
Tangannya tengah sibuk mengelus dadanya.
Esa terkekeh.
"Maaf-maaf, nggak boleh marah ya. Nanti cepat ubanan lho," bujuk Esa agar Vania tak marah kepadanya.
Vania menghela napas, kemudian menggangguk.
"Thank you soo much, Vania," ucap Esa lega, setelah memastikan Vania tak marah kapadanya.
Vania tersenyum, ia melihat ada yang berbeda dengan Esa. Esa terlihat lebih bersemangat dan bahagia. Vania melihat jam berwarna gold yang melingkar cantik di tangan sahabatnga.
"Sa, jam tangan kamu baru ya? Beli diman?" Ucap Vania sambil mengangkat tangan Vania agar lebih dekat dengan kedua matanya.
"Aku nggak beli. Ini hadiah dari Evans untukku," jawabnya bangga.
Vania terkejut mendengarnya. Ia bingung harus senang apa sedih. Esa beruntung memdapatkan hadiah dari Evans.
"Bagus banget ini, Sa! Aku jadi iri. Kapan ya ada cowok yang perhatian sama aku dan memberi kado special seperti kamu,"
Vania mengaharapkan hal yang sama.
"Aku doain, semoga kamu segera ketemu jodoh yang baik. Seperti aku yang udah mentok sama Evans Haidar," sahut Esa senyam senyum mengingat, ketika ia memeluk Evans.
"Oh iya Van. Seperti apa yang kamu mau, aku udah nggak malu-malu lagi dan lebih bersemangat nggak mlempem lagi lhoh. Buktinya kemarin aku berani memeluk Evans," ucapnya jujur.
Kedua mata Vania membulat tak percaya dengan apa yang Esa katakan.
"Serius kamu, Sa?" Tanya Vania yang masih ragu.
"Serius lah, Van,"
Perasaan Vania terasa sakit mendengar kejujuran Esa.
"Harusnya aku ikut senang melihat Esa bahagia. Tapi kenapa rasanya nggak enak gini. Dih, jadi melow gini aku," batin Vania. Dengan berat ia menelan salivanya.
"Waah, selamat kalau begitu, Sa. Aku ikut seneng," tutur Vania.
Meski pun sebenarnya ada rasa cemburu yang merasuk dalam pikirannya. Ia menutupinya.
Eaa tersenyum senang.
"Duh, perutku tiba-tiba sakit gini. Aku ke toilet dulu ya, Van," ucap Esa lalu dengan tergesa-gesa menuju toilet.
Vania mengangguk, kedua matanya menatap punggung Esa yang kemudian hilang di balik bilik. Vania mendudukkan diri di pantry sebelum jam kerja di mulai. Ia duduk terdiam mengingat kata-kata sahabatnya.
"Apa benar kemarin mereka berpelukan? Secepat itukah Evans melupakan ku. Jika itu benar, kenapa kemarin sore dia mencariku di rumah. Tapi biarlah memang seharusnya Evans itu bersama Esa. Mereka terlihat lebih serasi,"
Vania menahan batinnya yang ingin meronta. Vania pun kini bingung dengan perasaannya.
Vania menghela napas dalam. Mencoba tenang meski terasa remuk di dalam. Tetap saja ia menepis perasaannya itu. Sebuah perasaan yang salah menurutnya sendiri. Kenapa Vania tetap saja menyalahkan perasaannya itu. Perasaan yang muncul dengan sendirinya, tanpa ia duga dan tanpa ia minta.
"Van"
Seseorang memanggil Vania, yang tengah berdiri di samping tempat duduknya.
Vania menoleh ke arah suara itu. Terlihat jelas kerinduan tergambar di wajah Evans. Ya! Evans lah yang menyapanya. Kedua mata Vania membualat kaget. Ia segera beranjak meninggalkan Evans.
Namun Evans berhasil mengenggam tangan Vania, sebelum Vania mencoba untuk menghindarinya.
Bersambung...