bab 20

1862 Kata
Evans berhasil menahan Vania, sebelum Vania pergi berlalu meninggalkannya. Mereka kini saling bertatap muka, hingga kedua iris mereka saling bertabrakan. Tersirat kerinduan yang mendalam diantara mereka. Entah kenapa Vania selalu luluh ketika menatap iris mata yang berwarna hitam, yang kini lekat tengah menatap dirinya itu. Dengan cepat Vania membuang muka, agar ia tak terbius oleh sejuta pesona yang Evans miliki. Evans terlihat heran melihat sikap Vania, yang kini berusaha menghindarinya. "Ada apa? Kenapa kamu berusaha menghindariku?" tanya Evans heran. "Lepaskan aku Evans Haidar!" berontak Vania mencoba melepaskan tangan Evans yang sedang menggenggam lengannya. Namun Evans tak akan melepaskan Vania begitu saja. "Ada apa denganmu? Kenapa kau berusaha untuk menghindariku?" Tanya Evans dengan tatapan menghujam. "Aku nggak menghindarimu, Evans! Lepaskan tanganku sakit!" ucap Vania, ia terlihat meringis merasakan genggaman Evans yang semakin kuat. "Aku akan melepaskanmu, tp kau harus janji untuk tidak menghindariku!" Tanpa berpikir panjang Vania mengangguk mengiyakan permintaan Evans. Perlahan Evans melepaskan genggamannya, yang membuat Vania merasa sakit. "Katakan apa mau mu!" ucap Vania, ia memijit lengannya yang terasa nyeri. "Aku hanya ingin kau membuatkan kopi untukku!" ucap Evans datar. Seketika Vania menganga sekaligus terheran-heran mendengar perintah Evans. "Hah! itu saja! hanya meminta dibuatkan secangkir kopi, kau sampai membuat tanganku sakit begini!" Vania menggeleng-geleng kepala tak habis pikir. "Pasti ini hanya alasanmu saja!" batin Vania. "Itu bukan salahku! Siapa suruh mencoba menghindariku!" protes Evans. "Lebih baik, cepat kau bikinkan aku kopi dan antar ke ruanganku," sambungnya menyuruh Vania agar tak banyak bicara lagi. Vania melongo melihat sikap Evans yang berubah menyebalkan saat ini. Ia tak bisa menolak perintah darinya. Mau tak mau Vania menuruti perintah Evans dan membuatkan kopi untuknya. "Jangan lama-lama! Aku tunggu di ruanganku," ucap Evans berlalu meninggalkan Vania yang masih heran dengan sikapnya kini. "Apa yang terjadi dengannya. Kenapa dia jadi berubah seperti ini," batin Vania dalam hati. Ia segera membuatkan kopi untuk Evans. Segera mengantarkan secangkir kopi itu ke ruangannya. Perlahan ia memasuki ruangan itu, dilihatnya Evans tengah duduk santai di kursi kebesarannya sambil membaca koran. Vania meletakkan secangkir kopi itu di atas meja. Tanpa bicara sepatah kata pun Vania berbalik melangkah meninggalkan Evans yang masih serius membaca koran. "Mau kemana? Aku belum mengijinkanmu untuk pergi!" tegurnya membuat langkah Vania terhentikan. Vania menghela napas, sebal! "Aku pikir tugasku sudah selesai. Kau juga sibuk dengan koran itu, jadi, dimana salahku!" cerocos vania membela diri merasa tak bersalah. Evans mulai tersenyum. "Kemarilah!" perintahnya kepada Vania. Dengan ragu Vania melangkah maju, hanya satu langkah kemudian ia berhenti. "Sudah," ucap Vania datar. "Lebih dekat lagi," sahut Evans. Vania memicingkan kedua matanya. "Ini sudah dekat. Kalau mau ngomong, ngomong aja. Dih, jangan-jangan kau mau menciumku lagi ya!" Tuduhnya dengan pikiran negatif. "Bukan! Aku hanya ingin melihatmu lebih dekat lagi. Apa kau tak bisa melihat dari sorot mataku. Bahwa aku merindukanmu." Batin Evans dalam hati. Ia tak berani mengungkapkan perasaannya lagi. Ia takut jika Vania akan terus menghindarinya lagi. "Kemana saja kemarin? Seenaknya saja nggak masuk kerja. Kamu udah sering ijin, harusnya kau tau itu," ucap Evans berpura-pura marah kepada Vania. "Ma-maaf. Soalnya aku ada kepentingan yang nggak bisa untuk di tunda," jawabnya, ia menunduk merasa bersalah. "Sejak kapan Evans jadi galak begini," batin Vania bertanya-tanya. "Aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kau harus di hukum!" Vania menelan salivanya. "Apa! hanya karna aku nggak masuk kerja kemarin aku di hukum! Tapi kan aku udah ijin, kenapa masih di hukun. Jangan ya, nggak usah hukum-hukuman," ucap Vania dengan wajah memelas. "Nggak usah di buat-buat gitu wajahmu. Aku akan tetap menghukummu," sahut Evans tersenyum licik. Vania mencibir kesal. "Lalu, apa hukuman untukku," tanya Vania. "Kau harus memijit bahuku seperti kemarin. Kebetulan merasa pegal sekali." Kedua mata Vania membulat sempurna. "Apa nggak salah dengar aku! Hukuman macam apa ini. Kalau hukumanya hanya memijitnya. Siapa pun juga mau," batin Vania menerima hukuman dari Evans. "Baiklah," jawab Vania datar. Ia masih kepikiran dengan sikap Evans. "Biasanya ia bersikap lembut, tapi sekarang dia malah jadi atasan yang menyebalkan. Siapa pun juga nggak akan menolak kalau hukumannya hanya seperti ini ," batin Vania. Ia melangkahkan kaki lebih dekat dengan Evans. Dan berdiri di belaskang Evams yang tengah duduk, lalu kemudian memijitn kedua bahunya secara perlahan. "Besok-beaok aku mau buka jasa pijit saja. Jadi aku nggak akan membuang -buang tenaga ku seperti ini." Sindirnya, ia merasa di permainkan oleh Evans. "Sudahlah pijit saja yang enak. Tenang saja, nanti aku akan membayarmu," ucap Evans menanggapi Vania. Vania di buat heran lagi oleh Evans. Ia menerima hukuman, akan tetapi ia juga akan mendapat bayaran. "Permaiann apa yang sedang kau mainkan, Evans Haidar?" batin Vania penasaran. "Apa karna habis di peluk Esa, kemarin. Dia jadi berubah aneh seperti ini," pikir Vania. Tak henti-hentinya memikirkannya. "Mungkin saja saat ini aku terlihat menyebalkan bagimu. Tapi kulakukan ini agar kau tak menjauh lagi dari ku, Vania Olivia." Batin Evans di dalam hatinya. Evans merasa nyaman oleh pijitan Vania. Tangannya meraih secangkir kopi hitam buatan Vania. Lalu kemudian menyesapnya. "Kopi apa ini! Nggak enak banget," ucap Evans. "Bagaimana bisa, aku meraciknya sama seperti aku membuat kopi sebelumnya. Masak sih nggak enak?" tutur Vania membela diri. Ia tak yakin dengan apa yang Evans katakan. "Coba kau berdiri di sini," tangan Evans menunjuk tepat di samping ia duduk. Dengan polos Vania nurut begitu saja. Kini ia berdiri tepat di samping Evans duduk. Menatap Evans dengan tatapan datar. "Kenapa menyuruhku berdiri disini?" tanyanya heran. "Tersenyumlah!" Dengan ragu Vania terpaksa tersenyum. Evans menatap Vania, lalu melanjutkan acara menyesap kopinya. "Nah sekarang baru terasa enak ini kopi," ucapnya dengan tersenyum. Kedua mata Vania membulat, wajahnya berubah merona merah muda. Dih, Evans benar-benar membuatnya malu. "Kopi ini akan terasa enak jika kamu tersenyum. Bukan cemberut melulu, Vania." Sengaja Evans menyindir Vania. Vania mencibir mendengar Evans. "Sejak kapan Evans pandai melawak? Ah, bodo amat!" batin Vania. "Apa aku sudah boleh pergi? Sepertinya kau sudah cukup puas menyindirku. Masih banyak pekerjaan di bawah sana yang sudah menungguku!" Vania merasa tenaganya sudah tak di butuhkan oleh Evans. Evans menngangguk. "Baiklah kau boleh pergi sekarang. Tapi nanti sebelum pulang kerja, kau harus menemui ku terlebih dulu." Evans bersikap tak acuh tanpa memandang Vania. Beda dari biasanya, sebelumnya dia tak akan melepas pandangannya dari wajah cantik Vania. Vania menatap Evans dengan tatapan tajam. "Untuk apa aku kesini lagi," pikiran Vania penuh dengan tanda tanya. Ia menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan kesini lagi nanti. Tapi, jika aku ingat!" sambungnya. Lalu kemudian ia berjalan keluar dari ruangan itu. "Hah, untuk apa lagi dia menyuruhku datang kesini lagi. Benar-benar tak bisa di tebak," gerutunya lirih, sebelum dia membuka pintu untuk keluar. "Sudahlah, datang saja nanti kau juga akan tau," sahut Evans yang mendengar suara Vania walau samar. Vania mendengus sebal, ia segera membuka pintu lalu keluar. Evans tersenyum melihat Vania yang menghilang di balik pintu. Ia senang melihat ekpresi sebal Vania saat tadi yang terlihat lucu. "Aku lebih suka membuatmu merasa kesal kepadaku. Daripada sikapku yang memaksamu untuk selalu dekat denganku. Namun kau malah menghindariku." Batin Evans, ia terlihat tersenyum tenang. Vania keluar dari ruangan Evans dengan muka di tekuk. Kenapa sekarang Evans malah membuatnya penasaran dengan sikapnya. Vania bingung! permainan apa yang tengah Evans lakukan. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Tangannya meraih nampan yang tertumpuk rapi di atas meja. Lalu kemudian mengambil secarik kertas yang berisi pesanan pengunjung. Ia mengantarkan makanan dan minuman itu ke meja pengunjung. Vania mlai merasa terhibur dengan pekerjaan yang ia lakukan. Hingga ia melupakan apa yang terjadi barusan.Tentang pesan Evans, jelas ia sudah lupa. *** Hari sudah mulai gelap. Restoran sudah mulai sepi, meski masih ada beberapa pengunjung yang berdatangan. Esa terlihat sedang membersihkan meja pengunjung yang sudah kosong. Ia sering tersenyum sendiri melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Mengingatkannya ketika ia tengah memeluk Evans, yang membuat dirinya begitu sangat bahagia. Vania menghampiri sahabatnya. "Cie, Esa senyam senyum sendiri. Keliatannya seneng banget, ada apa sih cerita dong." Vania tersenyum, ia mendudukkan diri di kursi pengunjung yang tengah kosong. "Dih, kamu kepo ya! Nggak kok. Aku seneng aja lihat jam ini," ucap Esa seraya mengusap jam berwarna gold yang tampak elegan itu. Senyum Vania mengendur menatap jam itu. Perasaan aneh mulai muncul dalam benaknya. Seperti ada jarum yang tengah menusuk hatinya. Vania terdiam menatap jam yang di pakai Esa. Esa heran melihat sahabatnya yang kini terdiam. "Kanapa Van?" Pertanyaan Esa membuat Vania kaget. "Eh, ada apa Sa?" "Kok malah balik nanya. Kamu kenapa diem aja?" "Nggak apa. Aku hanya merasa ngantuk aja kok," sahut Vania. "Jam berapa sih? udah waktunya pulang belom?" Vania melihat jam Esa tapi tidak begitu jelas dari pandangannya. Esa lalu melihat jam miliknya. "Udah nih, yuk kita kemas-kemas trus pulang," ucap Esa bersemangat, mengingat dia juga sudah capek bekerja seharian. Vania beranjak dari tempat duduknya. Tangannya menutup mulutnya yang sedang menguap. Kedua matanya tak sengaja melihat pintu ruangan Evans di lantai 2 yang masih tertutup. Ia berjalan menuju pantry, terlihat beberapa rekan kerjanya tengah bersiap untuk pulang. Vania pun segera mengeluarkan ransel miliknya dari dalam loker. Tiba-tiba Vania menepuk jidatnya. Ia ingat pesan Evans yang memintanya untuk menemuinya sebelum ia pulang. "Kenapa aku ingat sih, kenapa nggak lupa aja." Vania berniat mengabaikan pesan Evans. Namun ia urungkan, ia juga penasaran untuk apa Evans menyuruhnya untuk menemui dirinya. Vania melihat Esa masih masuk ke dalam toilet. Ia segera melangkah menuju ruangan Evans. Dengan mengenakan ransel melekat di punggungnya. Vania mengetuk pintu ruangan Evans, lalu kemudian masuk kedalam ruangan. Ia mendapati Evans tengah duduk, dengan menatap dingin dirinya. "Kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu," ucap Evans memulai percakapan. "Sekarang aku sudah di sini. Cepat katakan, untuk apa kau meminta ku menemuimu? Jangan membuang waktuku, jam kerjaku sudah habis," protes Vania mengingatkan Evans, sudah saatnya ia pulang. "Ambil ini!" Evans menyerahkan sebuah benda pipih kepada Vania. Vania memicingkan kedua matanya, begitu melihat benda pipih milik Evans di todongkan ke arahnya. "Untuk apa! Kenapa kau memberikan ini untukku?" tanyanya heran. "Cepat ambil, jangan membuang waktuku." Perintah Evans. "Bukannya kau yang telah membuang waktuku. Harusnya aku sudah berada di perjalanan pulang" batinnya kesal. Vania mengambil benda pipih di tangan Evans. "Lalu untuk apa ini!" ucap Vania ketus. "Ketik nomor pribadimu di situ," Vania terdiam menatap Evans yang tengah berdiri di depannya. "Malah bengong, buruan ketik nomor pribadi kamu! Jangan membuang waktuku terlalu lama," ucap Evans mangulang kata-katanya lagi. Wajah Vania kini tampak kesal. Ia segera mengetik nomor pribadinya di benda pipih milik Evans. Kemudian menyerahkan benda pipih itu kepada Evans. Evans menerima benda pipih miliknya, kemudian menyimpan nomor pribadi Vania ke dalam daftar kontaknya. "Sekarang kau bisa pergi," ucap Evans datar. Vania tak habis pikir. "Jadi dia menyuruhku datang kesini, hanya meminta ku untuk mengetik nomor pribadiku ke dalam ponselnya. Tadi pagi kan juga bisa! Huh! Benar-benar membuang waktuku saja." Batin Vania begitu sebal. Ia segera berbalik lalu meninggalkan Evans yang tengah berdiri menatapnya dengan senyuman. Evans menahan tawa melihat wajah Vania yang tampak sebal. "Kamu terlihat lucu dengan wajahmu saat ini," sindirnya. Membuat Vania terhenti lalu menghela napas panjang. Vania hanya melirik malas. Ia membuka pintu keluar meninggalkan Evans tanpa sepatah kata pun. Evans tersenyum lepas setelah melihat Vania menghilang di balik pintu. Sejurus kemudian ia menyimpan benda pipih miliknya ke dalam saku kemeja berwarna putih yang melekat di tubuhnya. "Akhirnya, aku mendapatkan nomor pribadimu langsung darimu sendiri, Vania." Batin Evans. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN