Bab 27

1014 Kata
*** Kenapa perasaan Vania terasa hampa? Sebab, saat ini ia berada di posisi yang sulit. Sulit untuk di lupakan dan sulit untuk dia gapai. Nyesek! Benih-benih cinta tumbuh tanpa, Vania, mau. Kenapa harus dia suka dengan orang yang sama! Orang yang juga di sukai oleh sahabatnya, Esa. Ya Tuhan, Evans berhasil membuat kedua sahabat itu, jatuh hati kepadanya. Perasaan cinta ini, membuat Vania bingung, serba salah! dan sepertinya dia sendiri harus ngalah. Demi sahabatnya, Esa. Tes, bulir bening menetes dari sudut mata Vania. Perasaannya nggak enak, galau, kacau, bingung jadi satu. Susah untuk di ungkapkan, hanya bulir bening itulah yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Ia duduk di ranjang tempat tidurnya, suasana sunyi yang menemani dirinya, saat ini. Air matanya tumpah, meski dengan susah Vania menahannya. Ia terisak pilu, dengan apa yang ia rasakan. Perasaannya nggak karuan. Nyesek! Kenapa ini harus terjadi kepada, Vania. Ia juga berhak untuk bahagia. Baru saja ia merasakan indahnya jatuh cinta. Tetapi dengan sekejap, dia harus rela mengubur dalam-dalam perasaannya itu. Nggak adil! Harusnya dia bahagia saat ini, bukan malah sakit hati merasakan kepedihan seperti ini. Dan kenapa juga, Vania rela mengalah demi Esa. Karena Esa, sahabat terbaiknya. Dan Vania nggak mau menodai persahabatan mereka hanya karena perasaan yang menurutnya salah. Salah! tapi salahnya dimana? ya Tuhan, Vania ini masih juga menyalahkan dirinya sendiri. Dengan susah payah Vania menenangkan perasaan yang membuatnya galau. Tiba-tiba saja pintu kamar Vania terbuka, Mama Vania mendekatinya. Vania kaget, ia segera mengusap pipinya yang basah menggunakan tisu. Rupanya dia tadi lupa untuk mengunci pintu. "Ceroboh!" batinnya sendiri. Secepat mungkin ia menghapus air matanya, dan mengakhiri kegalauannya. Ia menarik napas, lalu mengeluarkan napas yang sempat di tahan di hidungnya itu dengan cepat. Memasang senyum manis di wajahnya dengan hiasan mata sedikit sembab. Wulandari terheran-heran melihat banyaknya tisu yang berceceran di atas lantai, kamar Vania. Kedua matanya menelisik kamar Vania yang terlihat berantakan. Hingga Wulandari terpaku, mendapati putrinya tengah duduk di atas tempat tidur, tersenyum ke arahnya. Wulandari segera menghampiri putrinya. "Sayang, kamu habis nangis, ya?" tanya wulandari, ia menghawatirkan putrinya yang terlihat kurang baik, dari sebelumnya. "Iya, Ma. Tadi Vania baru nonton drama Korea, kisahnya itu mengandung bawang. Jadi Vania ikut sedih, akhirnya mewek juga deh!" jawab Vania menutupi apa yang sebenarnya yang membuat dirinya menangis. "Kamu nggak lagi bohongin Mama, kan?" Wulandari meragukan putrinya, setelah melihat laptop putrinya yang masih tertutup, belum bergeser sedikit pun dari tempatnya. Ia tau betul, karena Wulandari sendiri yang membersihkan kamar Vania dan yang menyimpan laptop itu, siang tadi. "Enggak Ma. Mama aku pengen dipeluk. Beberapa hari ini, Mama jarang peluk Vania. Vania kangen." Wulandari segera memeluk putrinya dengan kasih sayang. "Maafin Mama, ya, sayang. Akhir-akhir ini Mama terlalu sibuk. Tapi kamu benaran nggak apa-apa kan, Nak?" "Vania nggak apa-apa, Ma," jawab Vania menyakinkan mamanya. Kedua mata Vania mulai berkaca-kaca lagi. Ia memeluk Mamanya semakin erat. "Kamu serius? Kalau ada masalah jangan di pendam sendiri. Curhat aja sama Mama, jangan main rahasia sama Mama," tutur Wulandari sambil mengusap punggung Vania, agar putrinya merasa lebih tenang. "Yakin, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Iya, kan Vania biasanya juga curhat sama Mama. Kalau ada apa-apa, Vania pasti curhat." Tapi kali ini, Vania nggak curhat sama Mamanya. Ia lebib memilih memendam perasaan itu, sendirian. Wulandari melepas pelukannya, "Ya udah, buruan tidur gih! Udah malem lho ini," tuturnya kemudian tersenyum. Vania mengangguk, ia berbaring di ranjang tidurnya. Wulandari membantu menarik selimut untuk putrinya. "Nice dream, sayangku." Wulandari mengecup kening Vania. Vania tersenyum manis. "Beneran tidur ya, jangan nonton drama korea lagi! Nanti nangis lagi, kan sayang tisunya habis terbuang." Sesekali Wulandari bercanda juga. Vania tertawa, "Apa sih Mama, iya ini, Vania juga mau tidur." "Ya, udah. Selamat malam" Wulandari melangkah meninggalkan Vania. "Malam" Vania memejamkan kedua matanya. Seharian bekerja membuatnya merasa lelah. Tak lama kemudian, ia pun tertidur pulas. *** Di restoran. Esa menelpon Vania yang belum kunjung datang. Padahal, biasanya Vania datang lebih awal dari pada dirinya. Namun, apabila Vania datang 5 menit lagi, itu pun sudah sangat terlambat masuk kerja. "Kemana Vania, kok nggak di angkat?" Ia terus mendial nomor Vania, di layar benda pipihnya. Terhubung dan berdering, tapi tidak ada jawaban dari sahabatnya. Esa menghela napas. Ia membalikkan badan. Tiba-tiba kedua matanya membulat kaget, melihat Evans yang tiba-tiba berdiri di hadapannya, saat ini. Entah sejak kapan Evans berdiri di belakangnya, tadi. Esa baru tau. Jantung Esa berasa mau copot. "Ada apa?" tanya Evans. Sebenarnya ia tau, kalau Esa kaget dengan kehadirannya, yang secara tiba-tiba. Esa masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Lalu kemudian ia menarik napas panjang. Setelah itu, ia baru menjawab pertanyaan Evans. "Nggak apa-apa, hanya sedikit kaget," sahutnya kemudian. Vania mana? Apa dia ijin lagi," tanya Evans lagi, setelah tak mendapati bayangan Vania sekali pun, sejak ia memasuki restorannya. "Nggak tau! Aku tadi sudah mencoba menghubunginya. Tapi, tak kunjung ada jawaban." Esa menjawab dengan jujur. "Apa sebelumnya dia mengeluh sakit? Atau dia bilang mau kemana gitu?" Esa menggeleng, "Nggak ada. Kemarin dia baik-baik aja. Biasanya, kalau nggak masuk, malamnya dia kasih kabar. Tapi kali ini, malah sebaliknya. Nggak ada kabar!" jelas Esa menjelaskan panjang lebar. Dalam benaknya kini juga penuh tanda tanya. Di mana Vania? Mengapa tak mengabarinya! Evans mengeluarkan benda pipihnya dari saku celana. Mancari nama Vania di dalam daftar kontak, lalu mendialnya. Di tempelkannya benda pipih itu, dengan telinganya. Dengan sabar ia menunggu jawaban. Namun, hal yang sama yang ia dapat. Telponnya tak di angkat oleh Vania. "Bagaimana?" Tanya Esa penasaran. "Sama. Nggak di jawab juga! Apa kamu punya nomor pribradi tante Wulan?" Esa menggeleng, mengartikan nggak punya. "Atau mungkin, kamu tau nomor telpon rumahnya?" Esa menggeleng lagi. "Nggak tau" jawabnya datar. Evans menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berpikir untuk mendatangi Vania langsung ke rumahnya saja. "Kalau begitu. Aku langsung ke rumah Vania aja, sekarang," ujarnya berlalu maninggalkan Esa. "Tunggu!" Suara Esa menghentikan langkah Evans, lalu menoleh kearahnya. "Aku boleh ikut," pinta Esa dengan wajah tersenyum manis. Berharap Evans mengijinkannya. Tapi kalau sebaliknya, juga nggak apa-apa. Esa akan lanjut untuk bekerja. Tanpa berpikir panjang. Evans mengangguk pelan seakan membolehkan Esa, ikut dengannya. Sejurus kemudian, Evans berjalan keluar restoran di ikuti oleh Esa di belakangnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN