"Van! Kamu kenapa dari tadi kok diem aja? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Esa seraya menelisik raut wajah sahabatnya itu yang terlihat berbeda. Nggak seceria biasanya.
"Nggak apa-apa, aku merasa sangat baik," jawab Vania tersenyum, meyakinkan Esa.
Esa memperhatikan Vania, di sela-sela kesibukkan mereka, saat melayani pengunjung. Ia merasa Vania menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa? Esa belum menemukan jawabannya.
"Van! Kamu yakin nggak apa-apa?"
Esa sengaja mengulang pertanyaannya bukan kerena lupa. Melainkan dia penasaran dengan kekepoan yang meninggi.
"Yakin! emang kenapa sih. Aku kelihatan aneh ya?"
Esa mengangguk dengan serius ia mendengarkan jawaban dari Vania.
"Sebenarnya aku..."
Vania pikir Esa harus tau yang sebenarnya.
"Aku merasa lapar, tadi pagi belum sempat sarapan, Sa," sambung Vania mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Esa yang sebenarnya.
"Ck, aku kira kenapa Van. Aku nya udah serius dengerin, ternyata cuma lapar." Esa berdecak merasa sebal sendiri.
Vania terkekeh melihat Esa dengan raut wajah ditekuk.
"Lagi pula, kamu kan yang kepo!"
Vania mengusap bulir bening di sudut matanya, ia tertawa geli.
Esa mendengus kesal. Lalu kemudian, ia ikut tertawa karena kekepoannya yang menurutnya, salah. Kedua sahabat itu saling berpelukan. Mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Ah, kenapa aku selalu saja kepo. Ke kepoanku membuatku resah, terkadang memaksaku untuk jadi orang yang sok tau, dan mencari tau." Apalah yang di katakan Esa ini, berbelit.
Vania memandang sahabatnya itu dengan senyuman yang tak kunjung pudar. Terkadang Vania terhibur dengan sikap dan tutur kata yang terlontar dari mulut, Esa. Lucu! menurut Vania.
Meisha melenggang mendekati mereka.
"Hey! bukannya kerja malah asik ngrumpi disini. Emangnya, Evans membayar kalian hanya buat ini, apa! kalau aku jadi Evans, udah ku pecat kalian," tegurnya dengan sorot mata tajam.
Jika di sinetron, sepertinya peran antagonis sangatlah cocok di perankan oleh Meisha. Pasalnya, Meisha kerap kali berhasil membuat Vania dan Esa naik darah. Ia selalu memulai membuat kerusuhan. Bahkan masalah sepele, akan menjadi rumit karena Meisha.
"Menurutku ini bukan suatu masalah! malah, kamu sendiri yang membuat ini menjadi, masalah!" Esa menentang Meisha dengan sangat berani.
Vania mengelus lengan Esa, dengan maksut agar sahabatnya itu menghadapinya dengan sabar.
"Berani sekali kau menantangku! kau lupa aku siapa!" bentak Meisha dwngan kedua mata tambah melotot serta kedua tangan mengepal keras. Esa berhasil membuatnya naik darah.
"Nggak mungkin aku lupa! aku masih ingat dengan jelas siapa, anda. Anda adalah Meisha Sinegar. Satu-satunya wanita yang udah di tolak perjodohannya oleh Evans Haidar. Betul kan!"
Kata-kata yang di ucapkan Esa sangat menusuk. Meisha yang kini naik pitam, hampir mendaratkan tamparan di pipi mulus Esa.
Esa memalingkan muka dengan mata terpejam.
Dengan sigap, tangan Vania menggenggam dan menahan pergelangan tangan, Meisha. Yang siap menampar pipi, Esa.
"Jika kau berani menyentuh sahabatku. Kau akan berurusan denganku!" gertaknya Vania.
Vania menggenggam tangan Meisha dengan sangat kuat. Hingga Meisha terlihat meringis kesakitan.
Vania juga jago bela diri. Waktu masih sekolah ia juga mengikuti kelas bela diri di sekolahnya. Jadi ancaman Vania, bukan hanya omong kosong belaka.
"Lepaskan! beraninya kau melawan Meisha Sinegar!" berontaknya, ia berusaha melepas tangannya dari genggaman Vania.
"Kau harus janji, untuk tidak mengganggu kita lagi, Meisha!"
"Kau mau jadi jagoan di sini rupanya, hah!" Meisha bersikeras melepas.
Namun Vania, semakin menekan genggamannya.
"Aduh! oke, oke aku nggak akan mengganggu kalian. Sekarang tolong lepaskan!" bentak Meisha dengan kasar.
Vania melepaskan tangan Meisha yang terlihat memerah. Ia menatapnya dengan tatapan dingin. Vania yakin, Meisha pasti nggak akan kapok. Dia pasti akan berulah lagi, nantinya.
Esa menatap datar Meisha.
"Lebih baik, sekarang kau pergi dari sini. Jangan sampai, membuat kita, naik darah."
Meisha masih mengusap tangannya yang memerah. Ia menatap kearah Vania dan Esa secara bergantian.
"Kalian pikir, aku takut dengan ancaman kalian!"
Meisha menggeleng beberapa kali.
"Aku nggak takut! lihat aja, aku akan balas perlakuan kalian!" imbuhnya, dengan sorotan mata tajam penuh dengan kebencian.
Vania memicingkan kedua matanya.
"Silahkan saja," ucapnya datar tanpa rasa takut.
Evans keluar dari ruangannya. Untuk melihat situasi di restorannya. Perasaannya nggak enak, ketika melihat ke tiga Wanita yang tengah saling menatap tajam. Ia segera melangkah menuruni tangga dengan cepat, lalu menghampiri mereka.
"Ada apa ini!" tanya Evans yang sempat melihat tangan Meisha yang masih merah, sebelum Meisha menyembunyikan tangannya di balik badannya.
"Mei, bukannya kau tadi pamit pulang. Kenapa masih disini?"
"Oh, aku tadi itu.. kebelet! jadi ke toilet dulu." Meisha menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Evans mengangguk beberapa kali. Meski pun, ia tak percaya dengan Meisha begitu saja.
Vania langsung pergi begitu saja, di ikuti oleh Esa di belakangnya.
Evans hanya terdiam melihat Vania dan Esa meninggalkan mereka, tanpa sepatah kata pun. Dari raut wajah mereka, terlihat sedang kesal dan marah.
"Apa kau membuat masalah lagi dengan mereka?"
"Aku nggak melakukan apapun. Kenapa kau selalu saja curiga dan menyalahkanku!"
Meisha mengelak, malah ia yang merasa di tindas saat itu juga.
"Sebab kau tak pernah terlihat akur dengan mereka. Walau hanya 5 menit saja. Aku belum pernah melihatnya." Evans mengatakan apa adanya.
"Soalnya. Aku memang belum sempat, sebab selalu saja terburu-buru. Dan mereka pun, juga pastinya super sibuk," ucap Meisha dengan alasan yang kurang tepat. Dan terkesan mengada-ada.
Evans tersenyum kecut mendengar Meisha. Selalu saja ada alasan yang dibuatnya. Evans sudah hafal oleh hal itu. Mengingat sudah saat nya jam makan siang, pengunjung restoran mulai ramai berdatangan. Mengalihkan perhatian Evans, dari Meisha. Evans menyambut kedatangan salah satu pengunjung, yang merupakan teman cs nya dulu saat sekolah.
Mereka ngobrol dengan sangat akrab, lama tak berjumpa beberapa tahun silam. Sebenarnya, teman cs nya itu, sering juga berkunjung dan makan di restoran Evans. Hanya saja Evans yang nggak tau.
Meisha kesal di tinggal Evans begitu saja. Bibirnya mulai mengerucut. Ia tak sadar sedang berdiri mematung sendirian, dan tengah menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
"Dih, Evans tega bener ninggalin daku sendirian. Bukannya di tuntun untuk duduk malah di abaikan. Sial!" Gumamnya sendirian.
Bukannya cepet pergi, malah ngedumel sendirian di situ si Meisha.
Tak lama kemudian ia memutuskan untuk pergi.
Evans melihat ke arah Meisha keluar restoran sebentar, lalu ngobrol kembali dengan salah satu pengunjung. Ia memang sengaja meninggalkan, Meisha ,tadi. Agar ia merasa jenuh karna tak di anggap dan memutuskan untuk segera pergi.
Suasana siang ini, begitu ramai. Seperti suasana hati seorang Esa. Yang terlihat begitu ceria, menatap lekat wajah tampan Evans dari kejauhan.
Sementara suasana hati Vania terasa hampa.
Bersambung...