Berulang kali dilihat gambar yang berada di ponselnya, maka berulang kali pula rasa sesak menyerang d**a. Airmata menganak sungai tanpa mampu ditahan. “Cobaan apalagi ini? Apakah Mas Nosa sedang bermain di belakangku?” Kaylila masih tidak mempercayai apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. “Mungkin ini hanyalah pekerjaan orang iseng, yang tidak punya pekerjaan. Aku tidak boleh secara langsung menilai apa yang dilakukan Mas Nosa. Tapi, siapapun akan berpikir yang sama seperti yang kupikirkan.” “Apa yang harus kulakukan? Menghubungi Mas Nosa kemudian memberondongnya dengan semua pertanyaan yang ingin kutanyakan? Ataukah cukup membiarkannya saja?” “Lalu, aku harus bagaimana? Tidak mungkin Mas Nosa berbohong. Haris? Perlukah aku bertanya padanya? Aku bisa gila.” Terus menerus berbic

