“Sayang, jangan membuatku takut,” rengek Gladys dengan suara bergetar. Ia benar-benar takut dengan kenyataan yang akan dipilih Nosa untuk mereka. Ia bahkan tidak siap bila harus berpisah dengan Nosa. “Aku tidak menginginkan Andre, Sayang. Yang aku inginkan hanya kamu, tidak ada yang lainnya lagi. Tidakkah kamu mengerti itu?” Suara Gladys kian bergetar, air mata dari sudut matanya menitik. “Kamu tahu betul apa yang kumaksudkan, Gladys. Aku ingin pernikahanku baik-baik saja, begitu pula dengan Kaylila.” Nosa menjatuhkan lutunya di depan Gladys, memegang erat pergelangan tangannya. “Aku mohon padamu, jangan pernah mengulangi semua yang telah kamu lakukan pada Kaylila dan padaku. Aku mohon padamu. Atau, bila perlu, aku akan bersujud di hadapanmu!” Gladys tak dapat menahan air matanya

