Matahari menerangi pagi ini. Sinarnya terlihat cerah dari pada biasanya. Kaylila memicingkan matanya yang tertimpa cahaya matahari yang menyilaukan. Beruntung kali ini ia dapat tertidur lumayan lama. Tidak seperti biasanya, baru dapat memejamkan mata di atas pukul dua dini hari. Semalam, ia dapat memejamkan mata lebih awal, pukul satu dini hari. Mungkin saja karena kehadiran Nosa yang sempat menjadi pertanyaan baginya. Meski kekesalan dan kekecewaan meliputi hati, Nosa tetaplah suami sahnya. Kehadiran Nosa ibarat pelipur rasa rindu yang sempat mendera. Dilema, itulah yang dirasakan Kaylila saat ini. Di satu sisi, ia begitu membenci Nosa atas ketidak tegasan dan sikapnya yang lembek, lebih-lebih setelah peristiwa yang melanda rumah tangga mereka. Di lain sisi, Kaylila kerap kali merasa

