Kecurigaan Sarah

2298 Kata
“Dia perempuan yang aku ceritain semalam, Ma,” kata Reza. Kemudian ia menatap ke arah Ayu. “Yu, kenalin, ini Mama aku,” ujarnya. Ayu tersenyum ramah pada wanita paruh baya di depannya itu. “Ah, jadi kamu ya yang namanya Ayu,” kata ibunya Reza dengan senyumnya yang terlihat mengembang sempurna. “Iya, Tante,” jawab Ayu, sopan. “Cantik,” pujinya sembari menatap Ayu dengan sangat antusias. “Pantesan aja dari semalem Reza senyum-senyum sendiri, katanya lagi mikirin kam—” “Mama,” cegah Reza, tak ingin ibunya itu membongkar rahasianya di depan Ayu. Sang ibu langsung mengulum senyumnya, merasa gemas melihat putra bungsunya yang tampak salah tingkah itu. “Ayu, tolong kamu bantuin tante pilih gaun, ya. Pilihin yang paling bagus menurut kamu,” kata ibunya Reza, sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar putranya itu bisa mengatur ritme jantungnya yang sepertinya sudah berdetak tak normal. “Siap, Tante. Ayu bakal bantu Tante buat pilih gaun yang paling cocok dan bagus untuk Tante,” cakap Ayu. Keramahannya itu membuat ibunya Reza merasa sangat dekat dengan Ayu ketika Ayu mulai membantunya memilih pakaian. Mereka sesekali juga terlihat saling melempar candaan, lalu tersenyum bersama, dan bahkan tampak terkekeh kecil beberapa kali. Reza merasa sangat euforia melihat dua wanita yang singgah pekat di hatinya itu tampak sangat akrab satu sama lain, walau padahal keduanya baru bertemu beberapa menit yang lalu. Pikiran Reza bahkan sudah mulai mengkhayalkan masa depan. Masa di mana ia berhasil menjadikan Ayu sebagai istrinya. Di sisi lain, sepasang mata tampak beberapa kali melirik ke arah mereka. Bahkan, saking penasarannya dengan obrolan mereka, pemilik mata hitam pekat itu sampai tidak fokus dengan apa yang tengah dibahasnya bersama sang kepala butik—Sarah. “Pak Alvin?” panggil Sarah, padahal ia baru saja mengutarakan pendapatnya tentang rencana event yang akan diselenggarakan di acara anniversary sepuluh tahunnya butik Edelweis. Sarah mengernyit bingung menatap Alvin yang benar-benar melamun sepenuhnya, pria itu bahkan tidak lagi mendengar Sarah yang memanggilnya beberapa kali. Saking penasarannya, Sarah pun akhirnya mengikuti arah pandang Alvin yang tampak menatap lurus keluar jendela ruangan itu. Saat mengikuti arah pandang Alvin, saat itulah Sarah mengetahui apa dan siapa yang telah mengacaukan fokus manajernya itu. “Pak Alvin lagi liatin Ayu, ya?” celetuk Sarah, sengaja bertanya seperti itu agar Alvin tersentak dari lamunannya. Benar saja, Alvin langsung mengalihkan pandangannya, ia kembali fokus menatap Sarah yang seolah baru saja menangkap basah dirinya. “Pak Alvin suka sama Ayu, ya?” Sarah kembali melontarkan pertanyaannya lagi. Pertanyaan yang sangat tajam dan kejam bagi diri Alvin. “Suka sama Ayu? Kamu pikir mata saya ini udah enggak berfungsi lagi? Saya masih bisa bedain mana wanita yang menarik bagi saya dan mana wanita yang bahkan dilihat dikit aja bikin sakit mata,” tukas Alvin, dari gelagatnya itu jelas sekali kalau ia tengah menutupi sebuah kebenaran. “Oh, maaf kalau saya salah, Pak. Saya pikir Pak Alvin ada rasa sama Ayu. Soalnya dari tadi saya lihat Pak Alvin perhatiin Ayu terus,” kata Sarah. Alvin tersenyum miring. “Kamu jangan salah paham ‘gitu, saya lihatin Ayu bukan karena saya suka sama dia, tapi saya cuma mau pastiin Ayu itu kerjanya bener. Soalnya pelanggan yang dia layanin itu kayaknya orang penting,” kilah Alvin. “Iya, Pak. Sekali lagi saya Maaf, Pak. Maaf karena saya udah salah paham sama Pak Alvin,” ucap Sarah, walau sebenarnya hatinya berkata lain. Sarah sebenarnya masih dibuat heran dengan sikap Alvin yang terkesan aneh. Karena di mata Sarah, tadi itu Alvin bersikap seperti seorang pacar yang memergoki pasangannya tengah bersama pria lain. Tatapan Alvin bahkan tampak menusuk tajam ke arah Ayu dan pria yang berdiri di samping Ayu itu. Alvin terdengar menghela napasnya pelan, lalu ia kembali menatap berkas yang ia pegang. “Ini proposal untuk event nanti tolong kamu revisi bagian-bagian yang menurut kamu perlu direvisi. Nanti sebelum kamu print, file-nya kamu kirim aja ke email saya, nanti akan saya cek,” ujar Alvin sembari menyerahkan sebuah map berisi lembaran kertas yang merupakan proposal untuk event yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. “Baik, Pak,” kata Sarah. “Ya sudah, silakan keluar,” suruh Alvin kemudian. Sarah mengangguk, lalu ia pamit undur diri, dan melangkah pergi dari dalam ruangan Alvin. Selepas kepergian Sarah, Alvin langsung melangkah mendekati jendela, pandangannya seketika itu menghunus tajam ke arah Ayu yang tampak masih berbincang ria dengan sosok wanita paruh baya dan juga seorang pria yang Alvin kenali karena semalam ia juga melihat laki-laki itu mengantar Ayu pulang. Tingkah Alvin itu, tanpa ia sadari kembali dipergoki oleh Sarah yang masih berada di dekat ruangan Alvin. Sarah tampak memicingkan matanya heran, ia menatap Alvin dan Ayu secara bergantian, memandangi dua orang itu dengan raut penuh tanya. Sarah merasa ada sesuatu di antara Alvin dan Ayu. *** Ayu mengantar Reza dan ibunya keluar dari butik Edelweis—setelah beberapa saat lalu mereka cukup lama berbincang sembari melihat-lihat gaun yang dipajang di etalase F. Tante Tiara—ibunya Reza itu tampak senang karena berkat Ayu, ia berhasil menemukan gaun yang ia sukai. “Makasih ya, Ayu,” ucap Tante Tiara. Ayu mengurai senyum simpulnya. “Iya, sama-sama, Tante,” jawab Ayu. “Tante minta maaf ya kalau udah bikin kamu repot karena bantuin Tante pilih gaun ini,” imbuh Tante Tiara seraya menatap paper bag berisi gaun yang sudah dibelinya. “Eh, enggak kok, Tante. Tante Tiara sama sekali enggak bikin Ayu repot kok. Ini udah jadi tugas Ayu sebagai pegawai di sini untuk bantu Tante, lagian Ayu juga sebagai temennya Reza udah sewajarnya bantuin Tante,” kata Ayu. Tante Tiara kembali mengulas senyumnya lebar. “Pokoknya makasih banyak, Tante beneran puas loh belanja di sini terus dilayani sama kamu,” terangnya. “Makasih, Tante. Semoga ke depannya Tante bisa jadi pelanggan setia butik kami,” cakap Ayu. Tante Tiara mengangguk, mengiakan harapan Ayu. “Ya udah, Tante pulang dulu, ya. Sekali lagi makasih. Ayu yang semangat ya kerjanya,” pamit Tante Tiara. “Iya sama-sama, Tante. Hati-hati di jalan, Tante,” balas Ayu. Setelah itu, Tante Tiara melangkah pergi dari hadapan Ayu, diikuti Reza yang tampak mengekori ibunya itu. Melihat mereka sudah pergi, Ayu pun berniat kembali masuk ke dalam butik. Tapi, saat Ayu baru saja berbalik, tiba-tiba suara Reza terdengar kembali. “Ayu,” panggil Reza, pria itu ternyata kembali dan kini sudah berada di dekat Ayu lagi. Ayu menoleh ke arah Reza, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Reza yang jauh menjulang tinggi darinya. “Loh, Za? Kenapa balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Ayu. “Enggak pa-pa, enggak ada yang ketinggalan kok. Aku cuma mau tanya ke kamu, kamu hari ini pulang jam berapa?” ujar Reza. Ayu mengerutkan keningnya, ia merasa bingung dengan sikap Reza yang tiba-tiba bertanya tentang waktu kepulangannya. “Jam lima sore, tapi karena hari ini weekend, jadi kayaknya aku bakalan pulang lebih lambat. Kemungkinan jam tujuh malem aku baru pulang,” jawab Ayu. “Emangnya ada apa kamu tanya kapan aku pulang, Za?” Ayu kembali melontarkan pertanyaannya. “Oh, enggak kok, enggak pa-pa,” ujar Reza seraya menggaruk kepalanya dengan sikapnya yang tampak gugup. “Oh, kirain ada apa. Ya udah, buruan anterin Mama kamu pulang, kasihan Mama kamu pasti udah nungguin kamu di mobil,” lontar Ayu, sengaja berkata seperti itu agar Reza lekas pergi, sehingga kecanggungan yang membuatnya tidak nyaman itu bisa lenyap. Namun, Reza masih menatap Ayu lekat, kemudian tiba-tiba pria itu berkata, “Em, sebenernya aku mau tawarin diri buat anter kamu pulang, soalnya setelah aku anter Mamaku pulang ke rumah, aku masih ada urusan di sekitar sini, terus juga rumah kita 'kan searah, jadi kalau kamu mau, aku bisa anter kamu pulang. Tapi itu pun kalau kamu enggak keberatan.” Ayu tersenyum simpul. “Makasih tawarannya, Za. Tapi maaf banget, kayaknya aku enggak bisa deh terima tawaran kamu itu. Soalnya aku juga enggak begitu yakin jam berapa aku bakalan pulang. Terus takutnya nanti aku malah ganggu urusan kamu, dan jadi repotin kamu,” tolak Ayu, sehalus mungkin. Faktanya, sampai kapan pun Ayu tidak akan pernah mungkin bisa pulang bersama orang lain, karena Alvin—suaminya itu sudah menekankan pada dirinya kalau dia harus pulang dan berangkat dengan Alvin selalu, dan tidak boleh ada bantahan sedikit pun. Reza merasa cukup kecewa mendapatkan penolakan dari Ayu barusan. Reza berpikir kalau Ayu masih sama sulitnya seperti dulu. Perempuan itu benar-benar sulit untuk didapatkan hatinya. “Oh, ‘gitu ya, Yu. Ya udah enggak pa-pa kok. Tapi kalau misalnya kamu butuh tumpangan, kamu bisa langsung hubungi aku aja,” cakap Reza. Ayu mengangguk. “Iya, Za. Sekali lagi makasih dan maaf,” ujarnya. “Iya, enggak pa-pa. Ya udah, kalau ‘gitu aku pergi dulu. Mama udah nungguin di mobil,” kata Reza. “Semoga kita bisa ketemu lagi,” imbuhnya. “Iya, hati-hati di jalan,” balas Ayu. “Kita pasti bakal ketemu lagi, Za. Soalnya aku masih ada janji mau traktir kamu makan, sebagai ucapan terima kasih aku ke kamu, karena semalem kamu udah anterin aku pulang,” paparnya. Reza mengurai senyum senangnya. “Siap, aku tunggu kabar dari kamu. Sampai ketemu lagi ya, Yu. Assalamu’alaikum,” pamitnya. “Wa’alaikumusalam,” balas Ayu, menjawab salam yang Reza lontarkan. Selepas kepergian Reza, Ayu kembali melangkah masuk ke dalam butik Edelweis. Dan saat Ayu masuk, langkahnya tiba-tiba terhalang oleh sosok Jeni yang dengan sengaja menghalangi jalan Ayu. “Jen, ada apa?” tanya Ayu. Jeni seketika tampak menyeringai lebar. “Cie, seumur-umur aku belum pernah loh lihat kamu ngobrol sama cowok, baru kali ini aku lihatnya. Dan kayaknya kamu deket sama dia, bahkan sama ibunya juga,” komentar Jeni. “Cowok tadi pacar kamu, ya?” terkanya. Ayu menghela napasnya pelan, ia tahu kalau Jeni tengah mengorek informasi tentangnya, sehingga nanti wanita itu akan memilki banyak bahan untuk digosipkan bersama pegawai lain. “Dia cuma temen aku yang enggak sengaja ketemu, Jen,” ujar Ayu. “Ah, masa sih. Tapi tadi aku denger dia tawarin diri buat anterin kamu pulang loh,” desak Jeni. “Mana ada temen tapi perhatian banget kayak ‘gitu. Atau jangan-jangan kamu sama dia cinta sepihak? Dia suka sama kamu, tapi kamu enggak suka sama dia. Ya ampun, Yu. Kalau beneran kayak ‘gitu, kamu bakal rugi loh. Itu cowok ganteng banget, keliatan mapan juga, masa sih mau kamu sia-siain,” celoteh Jeni, seolah tidak ada habisnya. “Jeni, bukannya tadi saya suruh kamu buat cek barang di gudang? Kenapa masih ada di sini?” sahut Sarah, kedatangannya itu bagai sesuatu yang menakutkan bagi Jeni. “Eh, Mbak Sarah. Maaf, Mbak. Ini lagi mau otw ke gudang,” katanya, yang kemudian langsung melangkah pergi menuju gudang butik. “Makasih ya, Mbak,” ucap Ayu pada Sarah yang selalu membantunya. Wanita itu sudah seperti hero bagi Ayu. Sarah tersenyum menanggapinya. “Lain kali kalau kamu enggak suka diinterogasi sama Jeni, kamu harus keras sama dia. Biar dia enggak kepo lagi sama urusan pribadi kamu, Yu,” nasihat Sarah. “Iya, Mbak.” Sarah menghela napasnya pelan, lalu pandangannya mengarah pada etalase F, tempat di mana tadi Ayu melayani Tante Tiara di sana. “Kamu berhasil jual gaun rancangannya Madam Han?” “Iya, Mbak. Tadi Tante—maaf maksud saya pelanggan tadi suka banget sama desainnya yang elegan. Jadi dia pilih gaun itu,” terang Ayu. Sarah menganggap paham. “Kerja bagus, Yu,” puji Sarah. “Dan selamat ya, kemungkinan nanti kamu bakal dapet bonus karena udah banyak jual barang-barang rancangan khusus dari para desainer terkenal,” imbuhnya. Dulu saat mendengar kata ‘bonus’, Ayu akan merasa sangat senang. Tapi sekarang, setelah ia masuk dalam keluarga Pak Damar, Ayu seakan menganggap bonus bukanlah sesuatu yang istimewa. Terlebih lagi saat semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh nafkah yang diberikan Alvin padanya. “Makasih banyak, Mbak,” ucap Ayu, menanggapi seadanya. “Ya udah, ayo balik kerja,” kata Sarah kemudian. Ayu mengangguk, lalu menatap Sarah yang tampak melangkah menjauh darinya. Namun, baru beberapa hasta kaki Sarah melangkah. Ayu melihat wanita itu tiba-tiba kembali menoleh padanya, kemudian mendekat ke arah Ayu lagi. Ayu yang melihatnya pun tampak mengerutkan keningnya heran. “Ada apa, Mbak?” tanya Ayu. “Ada yang mau aku kasih tahu ke kamu, Yu,” ujar Sarah. “Tentang Pak Alvin,” lanjutnya, yang sontak membuat jantung Ayu berdetak tak normal. “Pak Alvin ke-kenapa, Mbak?” tanya Ayu, terlihat sedikit gagap. “Tadi Pak Alvin lihatin kamu, dia kayak perhatiin kamu pas kamu lagi layani pelanggan tadi sama pria muda tadi,” papar Sarah. Mendengar hal itu, seketika hati Ayu dilanda cemas. Takut kalau suaminya salah paham dan marah padanya. Apalagi ia tahu kalau Alvin pasti mengenali sosok Reza sebagai pria yang mengantarnya pulang semalam. “Mbak Sarah serius?” tanya Ayu. “Kapan aku pernah bercanda, Ayu,” balas Sarah. “Tapi, beneran Pak Alvin liatin aku? Terus dia lihatin akunya pakai tatapan tajamnya enggak, tatapan yang mirip kayak macan jantan yang lagi ngamuk ‘gitu.” Ayu tampak gelisah sendiri. Sarah menatap Ayu bingung. Dari gelagat Ayu, Sarah bisa melihat kalau Ayu seperti tikus yang tertangkap basah oleh seekor macan. “Kayaknya sih iya, tapi enggak tahu juga,” ujar Sarah. Ayu mengembuskan napasnya berat. Wajahnya seketika itu tampak tertekan. “Mampus,” lirih Ayu, yang masih bisa didengar samar oleh Sarah. Hal itu tentu membuat Sarah dibuat semakin bingung dan juga penasaran tentang apa yang terjadi di antara Ayu dengan sang manajer. Tapi, sekalipun Sarah sangat penasaran, wanita itu tetap memegang teguh prinsipnya, dia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi orang lain. Setidaknya dengan prinsip Sarah itu, Ayu dan Alvin bisa merasa sedikit beruntung, karena hubungan rahasia mereka mungkin akan tetap tersembunyi untuk beberapa waktu ke depan, sebelum entah suatu saat nanti ada orang lain—selain Sarah—yang juga akan curiga dengan hubungan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN