“Kamu hari ini shift pagi?” tanya Alvin, yang baru datang di ruang makan.
Ayu meletakkan secangkir kopi di depan Alvin, lalu menatap ke arah suaminya itu.
“Iya,” jawabnya, singkat. Entah kenapa pagi ini Ayu terlihat sedikit lesu dan kurang bersemangat.
Alvin memicingkan matanya menatap Ayu heran. “Kamu sakit?” tanyanya.
Ayu menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak, saya baik-baik aja,” jawab Ayu.
Sebenarnya Ayu tidak begitu yakin kalau dirinya benar baik-baik saja atau tidak. Karena sejak bangun subuh tadi, Ayu merasa kepalanya sedikit pening, ia juga merasa tubuhnya sangat lemas dan seolah tidak bersemangat untuk menjalani hari ini.
Tapi, sekalipun Ayu merasa seperti itu, Ayu masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Lagi pula, sejak dua tahun lalu, ia memang harus selalu memaksa tubuhnya untuk terus tampil kuat, dan seolah tidak akan pernah jatuh sakit.
“Kamu kayaknya agak beda hari ini. Make up kamu agak keliatan beda dari biasanya,” komentar Alvin pada penampilan Ayu yang tidak senatural biasanya.
“Wajah saya keliatan aneh ya, Pak?” tanya Ayu, yang memang biasanya tidak pernah memakai full make up seperti sekarang ini. Biasanya Ayu hanya mengenakan lip balm dan sedikit polesan bedak di wajahnya, serta eyeshadow dan eyeliner yang tidak terlalu mencolok.
Sedangkan saat ini, Ayu sengaja memoles wajahnya sedemikian rupa, karena tidak mau orang lain mengira dirinya sakit lantaran wajahnya yang terlihat sedikit pucat.
“Bukan aneh, tapi enggak biasanya kamu pakai make up kayak ‘gitu,” ujar Alvin, padahal hatinya tengah memuji wajah Ayu yang terlihat lebih segar dan cantik dari biasanya.
“Cantik enggak, Pak?” tanya Ayu, meminta pendapat Alvin tanpa berpikir panjang.
Alvin terdiam, isi kepalanya seolah tengah loading mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang barusan Ayu lontarkan padanya.
“Lu-lumayan,” jawab Alvin sembari menyeruput kopi buatan Ayu, yang rasanya cukup membuat Alvin terkejut.
“Ini kok rasanya ....” Alvin menatap cangkir yang ia pegang, ternyata yang dipegangnya itu bukan cangkir kopinya, melainkan cangkir milik Ayu yang berisi air garam.
“I-itu Pak Alvin salah ambil,” kata Ayu.
Alvin langsung meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja.
“Ambilin air minum,” suruh Alvin sambil bergerak tak tenang karena rasa asin pada lidahnya. Rasa yang tidak terlalu ia sukai.
Ayu melangkah cepat mengambilkan air mineral untuk Alvin, lalu memberikannya pada suaminya yang tampak keasinan itu.
“Ini, Pak. Pelan-pelan minumnya,” ujar Ayu, menatap cemas ke arah Alvin, yang langsung mengambil air minum itu dan meneguknya habis.
“Kamu itu ngapain sih buat air garam yang asin banget kayak ‘gitu. Lagi uji coba bunuh saya, ya?” tuding Alvin, yang sudah merasa lebih baik.
Ayu menatap Alvin dengan raut bersalahnya. “Maaf, Pak. Itu tadi gelas saya, saya buat air garam itu untuk saya sendiri, bukan untuk Pak Alvin,” terang Ayu.
“Kamu ngapain minum air kayak ‘gitu? Mau bunuh diri di depan saya?” tukas Alvin.
“Eng-enggak, saya buat air itu karena tenggorokkan saya agak enggak nyaman, jadi untuk antisipasi biar nanti enggak batuk, saya minum air itu,” cicit Ayu.
Alvin menghela napasnya pelan, lalu menatap air garam itu sekilas, sebelum kemudian bangkit dari duduknya.
“Lain kali kalau kamu ngerasa tenggorokan kamu sakit, pergi ke dokter, atau minum obat, jangan aneh-aneh kayak ‘gitu lagi,” oceh Alvin.
“I-iya, Pak,” jawab Ayu, tanpa berani menatap suaminya yang cerewetnya melebihi ibu mertua di Indosi*r.
“Ya udah, buruan kamu siap-siap, setelah itu kita berangkat,” ujar Alvin sembari mengambil tas kerjanya dan bersiap untuk keluar dari rumah.
“Tapi ini sarapannya belum Pak Alvin makan,” kata Ayu.
“Kamu masukin aja ke kotak bekal, nanti sampai butik saya makan di sana,” cakap Alvin. “Oh, ya. Bekal makan siang saya juga jangan lupa, kamu kemarin udah janji mau buatin saya bekal makan siang, ‘kan? Sekarang udah kamu buatin?” tambahnya.
“Iya, udah saya siapin, Pak,” jawab Ayu.
“Ya udah buruan, saya tunggu kamu di mobil.”
“Kopinya enggak Bapak minum?” tanya Ayu—lagi—saat Alvin baru saja ingin melangkahkan kakinya.
Alvin kembali menoleh ke arah Ayu, kemudian pandangannya tertuju pada cangkir kopinya yang seketika membuatnya teringat dengan kejadian salah ambil cangkir tadi. Pria itu seketika merasa sangat trauma dengan rasa asin yang singgah pekat di lidahnya beberapa saat lalu.
“Kamu minum aja,” suruh Alvin, beralih menatap Ayu sekilas. Setelah itu ia melangkah pergi dari area dapur.
***
“Selamat datang,” sapa Sarah, menyapa seorang wanita paruh baya yang tampak masuk ke dalam butik Edelweis bersama pria muda di sampingnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Ibu dan Masnya?” kata Sarah, menyambut dengan ramah.
“Saya mau cari gaun untuk acara makan malam,” kata si wanita paruh baya.
“Ibu suka yang glamor atau elegan?” tanya Sarah.
“Elegan,” sahut pria muda di sampingnya, yang membuat wanita paruh baya itu tersenyum dibuatnya.
“Sesuai perkataan anak saya, Mbak,” ujar wanita paruh baya itu pada Sarah.
Sarah tersenyum. “Baik, kalau ‘gitu silakan ikuti saya, Bu, Mas,” kata Sarah, yang kemudian melangkah menuju etalase yang dipenuhi gaun-gaun dengan desain yang sederhana dan terkesan elegan.
“Mbak Sarah.” Panggilan itu membuat Sarah menoleh ke arah Devi yang kini terlihat melangkah ke arahnya.
“Ada apa, Dev?” tanya Sarah pada Devi yang barusan memanggil namanya.
“Pak Alvin minta Mbak Sarah buat dateng ke ruangannya,” kata Devi, pegawai baru yang belum lama bekerja di sana.
“Sekarang?” tanyanya.
“Iya, sekarang,” jawab Devi.
“Oh, oke,” ucap Sarah sembari mengangguk paham, lalu kemudian ia kembali menatap ke arah dua pelanggan yang tampak diam menunggu dirinya berbincang dengan Devi.
Sarah tersenyum ke arah mereka. “Silakan dilihat-lihat dulu ya, Bu, Mas. Nanti saya panggilin pegawai lain buat bantu Ibu pilih gaunnya, maaf saya ada urusan sebentar,” kata Sarah, yang ditanggapi ramah oleh dua pelanggannya itu.
“Iya, Mbak,” jawab si wanita paruh baya.
Setelah itu, Sarah berjalan beberapa langkah menjauh dari dua pelanggan tadi, diikut oleh Devi di belakangnya.
Sarah berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari pegawai senior yang bisa ia suruh untuk melayani pelanggan tadi.
“Ayu.” Pandangan Sarah tertuju pada sosok Ayu yang baru saja selesai mengantar pergi pelanggan yang baru saja membeli pakaian di butik itu.
Ayu menoleh pada Sarah, lalu melangkah mendekati Sarah yang melambaikan tangan padanya.
“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya Ayu, ketika ia sudah sampai di depan Sarah.
“Itu ada pelanggan baru, kamu tolong layani mereka, ya. Aku disuruh Pak Alvin ke ruangannya. Devi juga masih baru, jadi belum paham betul sama produk yang ada di butik kita, apalagi etalase itu,” kata Sarah.
Ayu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Iya, Mbak. Siap. Serahin aja ke saya,” kata Ayu.
“Makasih, Yu,” ucap Sarah, menepuk bahu Ayu sekilas, lalu melangkah pergi menuju ruangan Alvin.
Setelah Sarah pergi, Ayu kemudian menatap ke arah Devi yang masih berdiri di sampingnya.
“Dev, kamu tolong rapiin etalase C aja, ya. Mereka biar aku yang layanin,” kata Ayu.
“Oke, Mbak,” ujar Devi. “Permisi,” pamitnya, bersikap sopan pada seniornya itu.
Selepas kepergian Devi, Ayu memutar tubuhnya, menghadap ke arah pelanggannya yang terlihat sedang melihat-lihat gaun di etalase F.
“Selamat siang, Bu, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Atau mungkin ada yang mau ditanyakan soal gaun yang ada di etalase ini?” kata Ayu, dengan keramahannya sebagai seorang pegawai butik terkenal itu.
“Pak?” protes si pria yang tampak memunggungi dirinya dan si wanita paruh baya yang ada di depan Ayu.
Pria itu kemudian memutar balik tubuhnya, menampakkan dirinya yang tengah memegang ponsel. Dia menatap Ayu dengan senyumannya, saat itulah Ayu baru menyadari kalau pria itu adalah Reza Anggara.
“Reza?” lirih Ayu.
Reza mengulas senyumnya. “Hai, kita ketemu lagi,” ucapnya.
Ayu balas tersenyum canggung. “Ha-hai,” balas Ayu, kikuk.
“Kalian saling kenal?” tanya si wanita paruh baya, menatap Reza dan Ayu yang ada di sisi kanan dan kirinya.