“Pak Alvin udah pulang?” cicit Ayu, menatap Alvin dengan raut takutnya.
“Kenapa emangnya kalau saya udah pulang?” tukas Alvin. “Pertanyaan saya belum kamu jawab, tadi kamu pulang dianter sama siapa? Cowok tadi siapa kamu? pacar kamu?” tanyanya, beruntun.
“Saya tadi pulang dianter sama temen, Pak.”
“Temen?” ucap Alvin, tidak percaya kalau Reza hanya sekedar teman saja. “Temen tapi romantis banget, ya. Dibukain pintu mobil, dikasih jaket, so sweet,” komentar Alvin.
Ayu menundukkan kepalanya, jarinya sudah beradu cemas, takut kalau Alvin cemburu, walaupun Ayu juga tahu diri kalau Alvin tidak mungkin cemburu padanya.
“Tapi saya sama Reza beneran cuma temen,” terang Ayu.
“Iya, cuma temen. Temen yang mesra ‘gitu, ‘kan?” sindir Alvin.
“Enggak, Pak Alvin. Saya sama Reza beneran cuma temen aja. Lagian saya sama dia tadi itu enggak sengaja ketemu. Mobil dia enggak sengaja lewatin genangan air, terus nyiprat ke saya, makanya dia kasih jaket ini karena baju saya basah kuyup. Dia anterin saya juga karena ngerasa bersalah, udah cuma sebatas itu aja,” terang Ayu, benar-benar seperti seorang istri yang diinterogasi oleh suaminya.
Alvin tersenyum miring mendengarnya. “Wah, romantis banget, ya. Enggak sengaja ketemu, dikasih jaket, dianterin pulang, terus nanti ketemu lagi dan siapa yang tahu kalau kalian lama-lama saling suka,” kata Alvin, terdengar seperti sebuah sindiran keras.
Pria itu bahkan tampak mengembuskan napasnya kasar, seperti seseorang yang benar-benar dilanda rasa kesal.
Ayu menatap suaminya itu heran, bingung bagaimana lagi ia harus menjelaskan. Alvin seolah sengaja membuatnya terpojok lantaran pria itu kesal padanya. Tapi, apa yang membuat Alvin kesal? Ayu benar-benar tidak mengerti dengan sikap suaminya itu.
“Pak Alvin ... Pak Alvin enggak mungkin cemburu sama Reza ‘kan?” tanya Ayu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, hati Alvin rasanya seperti baru saja ditombak tepat sasaran. Ia merasa skakmat tapi sisi lain dari dirinya tidak mau mengakui.
“Ha? Cemburu?” balas Alvin, yang kemudian tertawa hambar. “Saya cemburu? Mimpi kamu. Saya enggak akan pernah cemburu lihat kamu sama cowok lain,” yakinnya.
“Kalau Pak Alvin enggak cemburu kenapa Pak Alvin kayak kesel ‘gitu lihat saya sama Reza?” desak Ayu.
Alvin berdehem, ia merasa seperti tersedak batu besar yang mengganjal tepat di kerongkongannya.
“Siapa yang kesel, saya enggak kesel sama kamu. Saya biasa aja,” kilah Alvin, gelagatnya itu padahal jelas sekali seperti orang yang amatir dalam hal berbohong.
“Beneran?” tanya Ayu. “Jadi ... Pak Alvin enggak marah 'kan saya dianter pulang sama Reza?” imbuhnya.
“Ngapain saya marah, kamu pikir saya beneran cemburu sama kamu? Ngaco kamu. Lagian kamu mau pulang sama cowok mana aja terserah kamu, saya enggak akan cemburu,” tukas Alvin, yang kemudian memilih untuk lekas pergi dari hadapan Ayu, sebelum istrinya itu semakin mendesaknya dengan berbagai pertanyaan yang jawabannya tidak ingin ia akui.
Ayu mengulum senyumnya, entah kenapa ia merasa kalau Alvin seperti baru saja kalah perang dengannya. Pria itu jelas sekali ingin menghindarinya karena merasa terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
“Buruan ganti baju kamu, kamu pikir saya bakalan tergoda liat kamu basah-basahan kayak ‘gitu,” seru Alvin tiba-tiba, dari lantai atas.
Ayu mengernyit bingung. “Siapa yang goda dia?” gumamnya. “Lagian aku basah bukan karena aku mau,” gerutu Ayu.
*
Malam itu, hujan yang tadinya sempat reda, kini kembali mengguyur lagi. Bahkan lebih deras dari sebelumnya.
Ayu baru saja selesai mandi, ia keluar dari dalam kamar mandi dengan baju tidur lengkapnya.
Wanita itu kemudian melangkah mendekati meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Di sisi lain, tanpa Ayu sadari, sejak tadi sepasang bola mata hitam gelap tampak terus memperhatikan dirinya.
Bahkan ketika Ayu masih berada di dalam kamar mandi, dua bola mata itu terlihat sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi tersebut, menunggu Ayu keluar dari dalam sana.
Tapi, ketika Ayu sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia langsung mengalihkan pandangannya pada buku yang tengah dibukanya.
Dan saat Ayu sibuk dengan hal lainnya. Ia tanpa sadar masih terus memperhatikan gerak-gerik istrinya itu.
“Pak Alvin.” Ayu tiba-tiba menoleh padanya, membuat Alvin gelagapan dan langsung mengubah pandangannya pada buku yang dipegangnya itu.
“Pak Alvin,” panggil Ayu, lagi.
“Hm.” Alvin berpura-pura tidak peduli dan bersikap dingin. Pria itu mengarahkan pandangnya fokus pada buku yang ia pegang, walaupun padahal ia sama sekali tidak membaca buku itu satu huruf pun.
“Itu buku yang Pak Alvin baca kebalik loh,” kata Ayu, menatap Alvin dengan raut herannya.
Sebenarnya Ayu sudah merasa heran sejak tadi. Pasalnya sejak tadi—saat Ayu tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, wanita itu tanpa sengaja melihat pantulan Alvin dari cermin yang ada di depannya.
Dari cermin itu, Ayu melihat Alvin tampak tengah membaca sebuah buku, tapi anehnya buku yang Alvin pegang terbalik.
Ayu yang merasa kurang puas dengan cara membaca Alvin pun pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Dan tindakan Ayu itu tanpa ia sadari berhasil membuat Alvin terlihat seperti seorang murid yang baru saja ketahuan tidak fokus membaca buku oleh gurunya. Pria itu benar-benar dibuat salah tingkah dan skakmat. Bahkan, batin Alvin seolah sudah menjerit frustrasi.
“Bodoh kamu, Alvin. Pegang buku aja kebalik. Kamu lulus TK enggak sih?” omel Alvin pada dirinya sendiri.
Tapi, sebisa mungkin Alvin berusaha terlihat biasa saja di depan Ayu, pria itu bersikap seakan-akan ia tidak melakukan sesuatu yang salah ataupun aneh.
Alvin bersikap seperti itu agar Ayu tidak curiga kalau sejak tadi sebenarnya ia tidak membaca buku yang dipegangnya itu, melainkan terus memperhatikan sosok Ayu yang entah kenapa ingin terus Alvin amati diam-diam.
“Sengaja,” ujar Alvin, menjawab pertanyaan Ayu tadi.
“Sengaja?” Ayu tentu saja bingung. Bukan hanya Ayu, semua orang pasti bingung. Manusia seperti apa yang dengan sengaja membaca buku dengan posisi terbalik? Tentu itu sangat aneh.
“Emangnya bisa ya baca buku kebalik kayak ‘gitu?” heran Ayu.
“Bisa,” jawab Alvin, tanpa menatap ke arah Ayu.
Ayu meringis kebingungan, sepanjang hidupnya, baru kali ini Ayu menemui orang super aneh seperti Alvin.
“Tapi ... sejak kapan Pak Alvin suka baca novel saya?” tanya Ayu, sekali lagi membuat Alvin skakmat.
Alvin seketika itu melihat sampul buku yang ia pegang, saat itulah ia baru menyadari kalau buku yang sejak tadi dia pegang adalah novel romansa milik Ayu.
“Sa-saya cuma penasaran aja,” cakap Alvin tergagap, melirik Ayu yang tampak memicingkan matanya curiga. “Saya beneran cuma penasaran aja, soalnya tiap hari saya lihat kamu baca ini,” katanya sembari berdehem pelan, menetralkan rasa gugupnya karena takut ketahuan.
“Pak Alvin aneh,” celetuk Ayu tanpa tahu konsekuensi dari mulutnya yang asal ceplos itu.
Alvin benar-benar langsung menatap tajam ke arah Ayu sembari menutup buku yang dipegangnya. “Kamu barusan ngatain saya?” pungkas Alvin, seketika itu ia memutar balik keadaan. Kini Ayu yang tampak terpojok dan kehabisan nyalinya.
“Eng-enggak, saya enggak bermaksud ngatain Pak Alvin. Saya cuma heran aja sama sikap Pak Alvin yang an—unik, iya unik maksud saya, bukan aneh,” kilah Ayu seraya mengumbar senyumnya yang terkesan canggung.
Alvin diam tak menanggapi, pria itu hanya duduk dengan pandangannya yang masih menatap tajam ke arah Ayu.
Ayu yang merasa kikuk pun memilih untuk memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah cermin lagi, dari sana ia melihat pantulan Alvin yang masih bersedekap dad* sembari menatapnya lekat.
“Mulai besok, kamu berangkat kerja dan pulang kerja bareng saya,” kata Alvin kemudian.
Ayu pun langsung menoleh kembali ke arah suaminya itu.
“Pak Alvin serius?” tanya Ayu.
“Kamu pikir saya ini suka bercanda?” tukas Alvin.
“Enggak, bukan ‘gitu. Maksud saya kalau saya berangkat bareng Pak Alvin, dan pulang bareng sama Pak Alvin juga, bukannya nanti bakal buat orang-orang di butik Edelweis curiga sama hubungan kita?” komentar Ayu.
“Saya udah pikirin itu. Jadi nanti saya bakal turunin kamu di persimpangan sebelum butik Edelweis, deket halte bus. Saya juga bakal tunggu kamu di situ pas pulangnya,” terang Alvin.
Ayu mengangguk paham. Ia tentu setuju dengan tawaran yang Alvin berikan. Lagi pula jarak antara persimpangan jalan dengan butik Edelweis tidaklah jauh, hanya berjarak sekitar empat ratus meter saja.
“Ya udah, saya mau tidur,” ujar Alvin. “Kamu kalau udah dandannya buruan matiin lampunya. Saya enggak bisa tidur kalau lampunya masih nyala,” timpalnya.
“Saya enggak dandan kok,” kata Ayu.
“Ya, terserah kamu. Pokoknya cepetan matiin lampunya. Saya mau tidur,” suruh Alvin.
Ayu menghela napasnya pelan. Lalu beranjak dari duduknya dan mendekati sakelar lampu yang ada di dekat pintu.
Ayu menekan sakelar lampu itu dan kamar pun berubah gelap, hanya ada cahaya redup dari lampu tidur di sisi kiri.
“Selamat malam, Pak Alvin,” ucap Ayu.
“Hm, malam,” jawab Alvin, memutar tubuhnya membelakangi Ayu saat Ayu baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sama dengan Alvin.
Ya, faktanya mereka memang tidur satu ranjang, walaupun di rumah itu ada dua kamar lain yang kosong. Satu kamar bekas milik Ayu dan Riki dulu, dan satunya lagi kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Sejak awal pernikahan, Alvin memang tidak meminta Ayu untuk tidur di luar ataupun di sofa. Pria itu juga tidak berniat untuk tidur di tempat lain selain ranjangnya.
Jadi, sampai detik ini mereka memang tidur bersama, walaupun tidak ada sentuhan fisik karena adanya guling yang membatasi keduanya. Tapi, entah bagaimana, Alvin sungguh luar biasa karena sanggup menahan dirinya dari naluri prianya yang sebenarnya cukup liar.