Ayu melepaskan sepatu pantofelnya, lalu sedikit memijat kakinya yang terasa pegal.
Wanita itu kemudian menghela napasnya pelan, merasakan lelah yang menghujam seluruh tubuhnya.
“Yu, bisa tolong kasih berkas laporan ini ke Pak Alvin enggak? Aku mau bantu Devi dulu,” kata Sarah—sang kepala butik.
Tak bisa menolak, Ayu langsung memakai sepatu pantofelnya kembali, lalu mengambil berkas laporan yang Sarah sodorkan padanya.
“Ini minta tanda tangan atau langsung kasih aja ke Pak Alvin?” tanya Ayu.
“Langsung kasih aja ke Pak Alvin,” jawab Sarah.
“Oh, oke.”
Setelah itu, Ayu melangkah menuju ruangan Alvin yang berada di sebelah kanan butik.
Di depan pintu ruangan suaminya itu, Ayu tampak berdiri dengan raut cemasnya, sejujurnya ia masih merasa takut dengan apa yang terjadi siang tadi.
Tangannya bahkan tampak bergerak maju mundur, ragu untuk membuka pintu ruangan tersebut.
“Masuk.” Suara Alvin tiba-tiba terdengar, pria itu ternyata sejak tadi memperhatikan Ayu dari jendela ruangannya.
Ayu terlonjak kaget saat ia tiba-tiba mendengar suara Alvin menggema. Bahkan, Ayu merasa jantungnya baru saja melompat bebas dari tempatnya.
“I-iya, Pak,” lirih Ayu tanpa berani menoleh ke arah Alvin yang masih memperhatikan dirinya.
Ayu pun lekas membuka pintu ruangan itu, lalu masuk ke dalam dan menutupnya kembali.
“Tarok aja berkasnya di meja,” suruh Alvin, yang berdiri di dekat jendela, tepat di samping Ayu yang masih berdiri di depan pintu ruangan.
“Iya, Pak,” cicit Ayu, segera melangkah menuju meja Alvin dan meletakkan berkas itu di atas meja tersebut.
“Cincin kamu udah ketemu?” tanya Alvin saat Ayu baru saja ingin berpamitan keluar dari dalam ruangan.
“Udah, Pak,” kata Ayu, sama sekali tidak berani menatap wajah suaminya.
Alvin melirik ke arah tangan kiri Ayu, ia melihat cincin itu sudah melingkar kembali di sana.
“Ketemu di mana?”
“Tadi ditemuin Mbak Sarah,” jawab Ayu.
“Dia tanya apa sama kamu soal cincin itu?”
“Enggak tanya apa-apa, Pak. Mbak Sarah tahu kalau itu cincin saya, soalnya pas saya enggak sengaja jatuhin, Mbak Sarah lihat,” terang Ayu.
“Dia enggak tanya itu cincin apa?” tanya Alvin, lagi.
“Enggak, Pak. Mbak Sarah bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan pribadi orang lain,” papar Ayu.
Alvin mengembuskan napasnya lega. “Syukurlah,” ucap Alvin. “Inget, lain kali jangan diilangin lagi, kalau bisa kamu pakai terus, jangan pernah dilepas. Kalau ada yang tanya itu cincin apa, jawab aja itu cuma aksesoris,” pesannya.
“Iya, Pak.” Ayu menanggapi seadanya.
“Ya udah balik kerja sana,” suruh Alvin kemudian.
Ayu hanya menganggukkan kepalanya, lalu dengan cepat keluar dari dalam ruangan tersebut.
*
Malam itu, Ayu baru pulang. Jangan berpikir kalau Ayu akan pulang bersama Alvin. Faktanya, pria itu sudah pergi dari butik sejak sore tadi karena harus ke perusahaan untuk menyerahkan laporan penjualan bulan ini.
Ayu melirik jam tangan hitamnya. Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Tapi karena sejak magrib tadi hujan mengguyur ibu kota Jakarta, jalanan pun rasanya sepi, banyak orang yang masih memilih untuk berteduh di toko atau di kafe pinggir jalan.
Saat Ayu baru saja ingin melangkah menyeberang jalan raya, tiba-tiba sebuah mobil melintas di depannya, membuat genangan air yang ada di depan Ayu menyiprat ke seluruh tubuhnya. Baju Ayu pun basah kuyup, membuat perempuan itu merasa sial sepanjang hari ini.
“Mbak enggak pa-pa?” tanya seorang pria, mendekati dengan membawa payungnya, menatap Ayu yang masih sibuk menepuk-nepuk rok hitamnya yang tampak kotor karena lumpur.
“Enggak pa-pa kok, Mas,” kata Ayu, tanpa menoleh ke arah si pria yang merasa bersalah padanya.
“Maaf ya, Mbak. Tadi saya enggak sengaja ....”
“Iya, enggak pa-pa, Mas,” sela Ayu sembari mendongakkan kepalanya dan beradu pandang dengan pria di sampingnya itu.
Saat kedua manik mata mereka bertemu, Ayu tampak terkejut, dia sepertinya mengenali pria itu, sama seperti pria itu yang tampak terkejut karena juga mengenali dirinya.
“Ayu?”
“Reza?”
Dua insan yang sudah lama tidak bertemu itu terdengar saling menyebut nama satu sama lain, hampir bersamaan.
“Kamu Ayu, ‘kan?” tanya pria itu.
“Iya, aku Ayu,” jawab Ayu. “Kamu ....”
“Aku Reza Anggara, kamu inget aku, ‘kan?” ujar pria bernama Reza itu.
Ayu tersenyum canggung. “Iya, aku inget,” kata Ayu.
“Kalau kamu enggak inget, aku bakal bilang kalau aku ketua OSIS yang pernah nyatain cinta ke kamu tapi kamu tolak,” canda Reza, yang justru semakin membuat Ayu canggung karenanya.
“Oh, ya. Bisa tolong pegang payungnya bentar?” pinta Reza.
Ayu mengangguk, lalu mengambil alih payung yang dipegang oleh Reza.
Setelah Ayu mengambil alih payungnya, Reza tampak melepaskan jaket tebalnya, lalu memakaikannya ke tubuh Ayu yang tampak basah kuyup karena terkena cipratan air tadi.
“Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi basah kuyup kayak ‘gini,” ucap Reza.
“Enggak pa-pa kok, Za. Lagian aku juga salah karena mau nyebrang tapi enggak lihat-lihat dulu,” kata Ayu.
“Em, ‘gimana kalau kamu ikut aku? Kita beli baju ganti buat kamu,” usul Reza. “Kamu bisa masuk angin kalau masih pakai baju kamu yang basah ini,” imbuhnya.
“Makasih, Za. Tapi aku beneran enggak pa-pa kok. Lagian rumahku enggak jauh dari sini,” tolak Ayu, selembut mungkin.
Namun, Reza sepertinya masih gigih ingin membantu Ayu bagaimanapun caranya.
“Kalau ‘gitu aku anter kamu pulang, ya?” tawar Reza. “Please, jangan ditolak. Aku beneran enggak enak sama kamu, aku udah buat kamu basah kuyup kayak ‘gini soalnya,” timpalnya.
Ayu tampak berpikir sejenak. Di sisi lain ia memang ingin menolak, karena rasanya canggung jika harus berada di dekat Reza terus. Tapi, di sisi lain Ayu juga membutuhkan tumpangan, apalagi kakinya yang sudah terasa lelah karena bekerja seharian.
“Mau ‘kan aku anter?” tanya Reza, memecahkan lamunan singkat Ayu.
Ayu menghela napasnya pelan, lalu perempuan itu mengangguk sembari tersenyum tipis.
“Iya,” jawab Ayu. “Tapi ... apa aku enggak repotin kamu? Kamu enggak ada urusan mendesak, ‘kan?” tanyanya.
Reza mengulas senyumnya hangat. “Enggak ada urusan mendesak kok. Kamu enggak usah ngerasa sungkan ‘gitu sama aku,” cakap Reza.
Ayu mengangguk paham. “Iya, makasih, Reza,” ucap Ayu.
*
Dalam perjalanan menuju rumah Ayu, Reza tampak sesekali melirik ke arah Ayu yang sejak tadi hanya diam menatap lurus ke depan.
Saat SMA dulu, Reza juga sering kali diam-diam memperhatikan sosok Ayu seperti saat ini.
Dulu, dalam ingatan Reza, Ayu adalah gadis yang penuh keceriaan, senyumnya hangat dan penuh pesona. Ayu juga terkenal ramah pada semua orang.
Tapi, saat Ayu menginjak kelas dua SMA—tepat ketika ayah Ayu meninggal dunia. Ayu seketika itu berubah menjadi sosok yang berbeda. Gadis itu menjadi sangat pendiam, tertutup, bahkan sering terlihat melamun seorang diri.
Reza menghela napasnya pelan, jujur saja sejak dulu sampai detik ini ia sangat merindukan sosok Ayu yang dipenuhi warna-warna pelangi dalam setiap senyumnya.
“Em, Yu. Ngomong-ngomong, ‘gimana kabar kamu sekarang?” tanya Reza, memecahkan keheningan yang ada di antara mereka.
Ayu menoleh, menatap Reza sekilas, lalu kembali memandang lurus ke depan sembari menjawab pertanyaan Reza barusan.
“Baik,” jawab Ayu, singkat. “Kamu sendiri ‘gimana?” Ayu ternyata mau balik bertanya.
Reza tentu senang ditanya balik oleh gadis yang rasanya masih singgah di dalam hatinya itu.
“Aku ... alhamdulillah baik juga,” jawabnya.
“Syukurlah.” Ayu menanggapi seadanya.
Setelah itu, tidak ada lagi obrolan, keduanya kembali diselimuti keheningan dan rasa canggung yang mendera di hati masing-masing, terutama diri Ayu.
Tapi, Reza tak akan tinggal diam. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya bersama Ayu.
“Yu,” panggil Reza.
“Ya?” Ayu langsung menoleh.
“Boleh enggak aku minta nomor handphone kamu? Atau ... sosial media kamu?” ujar Reza, penuh harap.
“Sosial media ... aku enggak punya. Kalau nomor hape ada tapi ... untuk apa kamu minta?” kata Ayu.
Reza mengulas senyumnya. “Em, kalau kamu ngerasa enggan buat ngasihnya enggak pa-pa, aku enggak mau paksa kamu,” terang Reza.
Ayu tak menjawab, ia memilih untuk diam dan berharap segera sampai di rumahnya yang tak jauh lagi.
“Yang mana rumah kamu, Yu?” tanya Reza, saat mobilnya sudah sampai di area kompleks perumahan tempat Ayu tinggal bersama Alvin.
“Itu yang cat warna abu-abu,” kata Ayu. “Itu, Za. Yang itu,” lanjutnya sembari menunjuk salah satu rumah di antara rumah-rumah lainnya.
Reza pun menghentikan mobilnya di depan halaman rumah yang Ayu tunjuk.
“Ini rumahnya?” tanya Reza, takut kalau ia salah berhenti.
“Iya, bener,” jawab Ayu, yang kemudian bersiap untuk turun.
“Tunggu bentar,” cegah Reza saat Ayu hendak membuka pintu mobilnya.
Ayu pun sontak menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap bingung ke arah Reza.
“Tunggu bentar,” ulang Reza, yang kemudian keluar dari dalam mobil melalui pintu lainnya dan berlari kecil ke pintu mobil tempat Ayu akan keluar.
Reza ternyata sengaja menyuruh Ayu menunggu agar pria itu membukakan pintu untuknya.
“Ayo, Yu, keluar,” ujar Reza setelah membukakan pintu mobil untuk Ayu.
Ayu pun keluar dari dalam mobil Reza, lalu berdiri di samping Reza untuk mengucapkan terima kasih pada pria itu.
“Makasih ya, Za. Maaf udah repotin kamu,” ucap Ayu.
Reza mengulas senyumnya lebar, hingga deretan giginya yang putih bersih tampil dengan penuh pesona.
“Iya, sama-sama,” kata Reza. “Oh, ya. Karena kamu enggak mau kasih nomor kamu. Ini aku kasih kartu nama aku, di situ ada nomor aku yang bisa kamu hubungi,” katanya sembari memberikan sebuah kartu nama kepada Ayu.
Ayu mengambil kartu nama itu dan membacanya sekilas.
“Kamu dokter?” tanya Ayu, saat melihat kartu nama itu tertera nama Reza dan gelar spesialisasinya.
“Iya, dokter kandungan,” jawab Reza. “Kalau suatu saat nanti kamu hamil, kamu bisa banget loh konsultasi kehamilan dan juga periksa kehamilan kamu ke aku,” ujarnya.
Mendengar perkataan Reza barusan, hati Ayu pun sekitar merasa miris.
“Hamil? Aku enggak mungkin hamil. Bukan karena enggak bisa. Tapi, aku dan Pak Alvin enggak mungkin kami ....”
Ayu menghela napasnya pelan. Lalu menatap ke arah Reza kembali.
“Makasih banyak ya, Za. Em, mungkin nanti aku bakal hubungi kamu buat traktir kamu makan sebagai ucapan terima kasih aku karena malam ini kamu udah anter aku pulang,” kata Ayu.
Hati Reza rasanya melompat senang saat mendengar Ayu akan menghubungi dirinya, yang artinya mereka akan bertemu kembali di lain waktu.
“Boleh, silakan hubungi aku kapan aja. Aku bakal tunggu pesan dari kamu,” ujar Reza.
Ayu mengangguk, kemudian berkata, “Sekali lagi makasih ya, Za.”
“Iya, sama-sama,” balas Reza. “Ya udah, ya. Aku pulang dulu, takutnya nanti kamu kelamaan di luar sini gara-gara aku enggak pulang-pulang,” imbuh Reza dengan senyumnya yang terpancar hangat.
Ayu hanya menanggapinya dengan senyuman singkat.
“Aku pulang ya, Yu,” pamit Reza kemudian.
“Iya, hati-hati di jalan,” pesan Ayu.
Reza mengangguk paham, lalu ia melangkah menuju bagian kemudi. Reza masuk ke dalam mobilnya, dan tak lama kemudian pria itu melajukan mobilnya pergi dari halaman rumah Ayu.
Ayu menghela napasnya pelan, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah itu, Ayu mendapati lampu rumah sudah menyala terang benderang, pertanda kalau Alvin pasti sudah pulang ke rumah.
“Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?” Suara itu tiba-tiba menggema tajam, menghentikan langkah Ayu yang baru saja hendak berjalan menuju lantai atas.
Ayu pun menoleh, menatap ke sumber suara itu berasal.
“Itu kamu pakai jaket siapa? Cowok yang tadi anter kamu pulang, dia siapa kamu?” tanya Alvin, terdengar seperti sedang menginterogasi Ayu. Pria itu kini bersandar pada dinding dekat pintu masuk rumah, tangannya pun terlihat bersedekap, menatap Ayu dengan tatapan mengintimidasinya.