Kesabaran Ayu

2083 Kata
“Eh, kalian udah denger belum kabar kalau Pak Alvin udah nikah?” ujar seorang pegawai butik Edelweis yang siap memulai gosipnya di siang bolong. “Kalau kabar langsungnya sih belum, tapi dari gosipnya sih katanya Pak Alvin belum lama ini nikah tapi enggak ada resepsi, kayak nikah diem-diem ‘gitu,” sahut yang lainnya. “Kayaknya sih beneran nikah deh, soalnya kalian lihat sendiri ‘kan di jari manisnya Pak Alvin sekarang ada cincinnya, padahal kemaren-kemaren enggak ada,” kata yang lain, satu per satu pegawai ikut menimpali. “Udah jangan gosip deh, kalian enggak inget waktu itu Maria pernah kena tegur sama Pak Alvin gara-gara dia gosipin Pak Alvin. Untung aja waktu itu ada Ayu yang berani bantuin, coba kalau enggak ada, pasti Maria udah dipecat sama Pak Alvin,” nasihat si pegawai senior, yang saat itu tengah duduk di ruang pegawai untuk istirahat makan siang. Di sela-sela obrolan mereka itu, tiba-tiba Ayu masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat semua pasang mata terarah pada sosok Ayu yang seketika bingung karena mendapat tatapan lekat dari semua rekan kerjanya. “Nah, ini sang penolongnya,” kata si pegawai yang memulai gosip, Jeni namanya. “Ada apa, ya?” tanya Ayu, mengerutkan keningnya bingung. “Kita baru aja ngomongin kamu, Yu,” ujar seorang rekan kerjanya. “Eh? Ngomongin aku?” Ayu semakin bingung. “Iya, ngomongin kamu sama Pak Alvin,” sahut Jeni. Mendengar namanya dan Alvin disebut bersamaan, tubuh Ayu sontak menegang, ia seketika teringat tentang fakta pernikahannya dengan Alvin yang memang belum di publikasikan secara luas. Pernikahan Ayu dengan Alvin hanya sebatas ijab kabul yang dihadiri keluarga inti Pak Damar dan Bu Ajeng saja. Sedangkan dari pihak Ayu, Ega yang seharusnya menjadi wali nikah Ayu, malah melemparkan tanggung jawabnya itu kepada wali hakim. Sehingga, untuk kali keduanya, Ayu menikah tanpa ada keluarga yang mendampinginya. Sungguh, bukan sebuah pernikahan yang selama ini Ayu idamkan apalagi ia impikan. “Ayu? Kok malah ngelamun sih?” tegur Jeni seraya menatap Ayu dengan raut penuh selidik, curiga kalau Ayu menyembunyikan sesuatu yang mungkin saja bisa mereka jadikan sebagai bahan gosip terhangat. “Eng-enggak, aku enggak ngelamun,” kilah Ayu. “Aku cuma bingung aja, kenapa kalian ngomongin aku sama Pak Alvin?” tanyanya sembari menyembunyikan tangan kirinya dan diam-diam melepas cincin nikahnya dengan Alvin, lalu menyimpannya ke dalam saku rok kerjanya. “Kamu lupa, Yu? Beberapa bulan lalu kamu pernah ngelawan sama Pak Alvin demi belain si Maria,” kata yang duduk di bagian pojok. “Kita lagi ngomongin itu,” imbuhnya. “Oh, itu, aku bahkan udah lupa,” ujar Ayu sembari tersenyum canggung. “Waktu itu kamu juga kasih Pak Alvin bekal sarapan loh, masa kamu lupa sih?” celetuk Jeni. “I-iya, aku beneran udah lupa. Lagian itu ‘kan udah lama banget,” resah Ayu, berusaha menutupi sebuah fakta. “Masa sih, Yu?” pungkas Jeni, yang tampak masih belum percaya dengan jawaban Ayu. “Aku inget banget loh, waktu itu kamu bilang ke Pak Alvin kalau kamu kasih bekal sarapan itu karena disuruh sama suami kamu. Eh, berarti kamu udah nikah ya, Yu? Kok enggak kabar-kabar kita sih?” lanjut Jeni, yang masih sangat gigih mengungkit kejadian masa lalu, dan mendesak Ayu untuk mengungkapkan sebuah fakta tersembunyi. Ayu benar-benar merasa terpojok, masalahnya saat itu ia masih menjadi istri mendiang Riki, dan saat ini dia sudah sah menjadi istri Alvin. Status berbeda dalam waktu yang singkat. Bagaimana bisa Ayu memberitahu mereka fakta gila itu. “Ayu.” Panggilan itu seperti sebuah penyelamat bagi Ayu di waktu genting. Dengan cepat Ayu langsung menoleh ke sumber suara, yang tak lain adalah suaminya sendiri. Alvin berdiri di ambang pintu masuk ruangan pegawai wanita. Dengan karismanya yang menyebar penuh pesona, Alvin menatap Ayu lekat. “Pak Alvin manggil saya?” tanya Ayu, berakting layaknya atasan dan bawahan. Lagi pula, saat di rumah, mereka juga lebih mirip seperti majikan dan babu daripada sepasang suami istri baru. “Memangnya di sini siapa lagi yang namanya Ayu?” tukas Alvin. Ayu bungkam tak menjawab. “Ikut ke ruangan saya,” titah Alvin kemudian. Setelah berkata seperti itu, Alvin langsung melenggang pergi dari sana. “Kasihan kamu, Yu. Padahal baru aja mau istirahat makan siang, tapi Pak Alvin malah nyuruh kamu ke ruangannya. Kamu enggak ada buat kesel dia ‘kan, Yu?” komentar Jeni, yang paling cerewet dan suka bergosip. Ayu tak menanggapinya, ia memilih untuk lekas pergi dari sana, mengikuti Alvin yang sudah terlihat masuk ke dalam ruangan pria itu. * Di dalam ruangan Alvin, Ayu berdiri berseberangan dengan Alvin yang duduk di kursinya. “Ada perlu apa Pak Alvin panggil saya?” tanya Ayu, sopan. Alvin tak menjawab, pria itu tampak sedikit menunduk untuk mengambil sesuatu dari dalam lacinya. “Bantu saya makan siang,” kata Alvin sembari meletakkan dua kotak makanan yang ia pesan beberapa saat lalu. “Bantu Bapak makan siang?” Ayu mengernyit bingung. “Suapin saya,” suruh Alvin. “Ha?” “Kenapa? Kamu enggak suka saya minta tolong sama kamu?” tuduh Alvin. “Eh, enggak, bukan ‘gitu, Pak Alvin. Saya cuma bingung, kenapa saya harus suapin Bapak? Kan Pak Alvin punya tangan buat makan sendiri. Mas Riki aja enggak—" Brak. Alvin tiba-tiba menggebrak mejanya cukup keras, hingga membuat Ayu terkejut dan langsung mengatupkan mulutnya rapat, ia bahkan mengambil satu langkah mundur ke belakang, karena terlalu takut berada di dekat suaminya itu. “Kamu enggak lihat saya lagi kerja? Saya harus selesaiin laporan penjualan bulan ini demi gaji kalian, tangan saya harus ngetik di keyboard selama berjam-jam demi kalian bisa dapet reward dari perusahaan. Terus sekarang, saat saya minta tolong sama kamu buat suapin saya karena saya enggak sempet makan siang, kamu malah bandingin saya sama Kak Riki. Bagus banget kamu ya jadi istri,” oceh Alvin. Nyali Ayu seketika itu menciut, ia merasa dirinya sudah bersalah, tapi Ayu juga merasa sedikit kesal karena Alvin seperti melampiaskan rasa lelahnya pada dirinya yang padahal juga lelah karena harus bekerja seharian penuh—di butik dan di rumah. “Maaf,” lirih Ayu, pada akhirnya ia akan menjadi pihak yang selalu mengalah. “Kalau kamu ngerasa bersalah, buruan suapin saya,” tukas Alvin. Ayu pun sontak langsung bergerak maju mendekat ke sisi Alvin, kemudian ia meraih kotak makan yang berisi lauk kesukaan suaminya itu. Ayu perlahan mulai menyendok makanan yang ada di dalam kotak, lalu menyuapkannya pada Alvin yang terlihat kembali fokus pada layar monitor PC-nya. “Besok kalau Pak Alvin mau, saya bisa siapin bekal makan siang buat Pak Alvin,” cicit Ayu, yang masih diselimuti rasa takutnya. “Ya, silakan,” jawab Alvin tanpa menoleh ataupun menatap istrinya yang berdiri di sampingnya itu. “Pak Alvin mau saya buatin menu makan siang apa?” tanya Ayu sembari menyuapkan satu suap lagi ke mulut Alvin. “Apa aja, selama lidah saya enggak nolak, dan yang bukan buat saya alergi,” kata Alvin sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Pak Alvin alergi apa?” “Udang,” jawab Alvin, singkat. “Oh.” Ayu menanggapi seadanya, lalu kembali menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Alvin lagi. Setelah obrolan singkat itu, keduanya diselimuti keheningan, tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Alvin juga terlihat sangat sibuk dengan layar monitornya yang menampilkan tabel-tabel berisi laporan penjualan harian yang tengah ia rekap menjadi laporan bulanan. Keheningan itu terus berlanjut sampai makanan yang ada di dalam kotak makan itu habis. “Pak Alvin mau makan yang satunya juga?” tanya Ayu, membuat Alvin menoleh padanya. Pria itu menatap kotak makan yang dipegang Ayu telah kosong, hanya menyisakan beberapa sayur mentah yang tidak ia sukai. “Duduk,” suruh Alvin kemudian, pandangannya terarah pada kursi yang ada di seberangnya. Ayu tak berani lagi membantah, wanita itu segera menuruti perintah Alvin. Dia duduk di kursi seberang yang Alvin tunjuk melalui pandangannya tadi. Setelah duduk di sana dengan perasaan cemas dan sedikit rasa takut. Ayu menatap Alvin, menunggu perintah selanjutnya dari suaminya itu. “Makan.” Alvin kembali melontarkan titahnya sembari menyodorkan kotak makanan yang satunya ke arah Ayu. “Tapi itu punya Pak Alvin,” cakap Ayu. “Kamu pikir saya ini rakus? Saya sengaja pesan dua karena satunya buat kamu,” papar Alvin. “Untuk saya?” “Jangan ge’er, saya beliin kamu bukan karena saya peduli atau perhatian sama kamu, tapi sebagai rasa terima kasih saya karena kamu udah mau bantuin saya buat makan siang tanpa saya harus meninggalkan pekerjaan saya,” alibinya. Ayu mengangguk paham, perempuan polos seperti Ayu tentu akan percaya begitu saja. “Cepetan makan, jam makan siang kamu bentar lagi habis,” tegas Alvin. “Iya, Pak,” jawab Ayu, yang kemudian langsung mengambil kotak makan yang ternyata berisi makanan kesukaannya. Ayu melirik Alvin yang sebenarnya sejak tadi menunggu respons darinya soal isi di dalam kotak makanan itu. “Pak Alvin tahu makanan kesukaan saya?” tanya Ayu. “Memangnya itu makanan kesukaan kamu?” Alvin balik bertanya dan berpura-pura tidak tahu menahu. “Saya enggak tahu kalau itu makanan kesukaan kamu,” bohongnya. Ayu yang tadinya dilanda kesal pun kini ia mampu mengulas senyumnya lebar. “Makasih, Pak Alvin,” ucap Ayu, tersenyum sumringah. “Mas,” kata Alvin. “Ya?” “Panggil saya ‘Mas’, saya ini suami kamu bukan bapak kamu,” komentar Alvin. “Tapi ini di tempat kerja, saya enggak mungkin panggil Pak Alvin kayak 'gitu,” jawab Ayu. “Kenapa? Kamu malu punya suami kayak saya?” tuding Alvin. “Bukan, bukan ‘gitu maksud saya. Tapi—” “Cincin pernikahan kita ... kenapa enggak kamu pakai?” tanya Alvin, pandangannya menghunus tajam ke arah jari manis di tangan kiri Ayu. Mendengar hal itu, Ayu bergerak refleks menyembunyikan tangannya. “Itu ... tadi pas saya ke kamar mandi buat cuci tangan, saya lepas bentar,” bohong Ayu. Alvin menyipitkan matanya, menatap Ayu penuh selidik, mencari kebohongan dari gelagat Ayu yang kini terlihat enggan melakukan kontak mata dengannya. “Kamu enggak lagi bohong, ‘kan?” tuntut Alvin. “Eng-enggak kok,” jawab Ayu, mendongakkan kepalanya dan berusaha menatap manik mata Alvin tanpa gugup. Alvin menghela napasnya pelan, lalu kembali menatap layar monitornya. “Ambil cincin kamu, dan pakai sekarang juga,” perintah Alvin. Seketika itu Ayu langsung merogoh saku rok kerjanya, berniat mengambil cincin pernikahannya dengan Alvin yang seingatnya ia simpan di dalam sana setelah ia dengan sengaja melepasnya beberapa saat lalu. Namun, beberapa kali Ayu merogoh saku rok kerjanya, Ayu sepertinya hanya mendapatkan kehampaan, Ayu sama sekali tidak menemukan sosok cincin emas putih itu di dalam sana. “Kenapa?” tanya Alvin, yang kini tampak memperhatikan raut panik Ayu. “Aduh, ‘gimana ini? Pak Alvin pasti bakal marah kalau tahu cincinnya hilang.” batin Ayu bersuara. “Mana cincinnya? Kenapa belum kamu pakai?” desak Alvin, kembali menanyai soal cincin pernikahan mereka yang sekarang tidak tahu entah ada di mana. “Anu, Pak. Kayaknya cincinnya jatuh di ruangan tadi,” cicit Ayu, benar-benar takut menatap ke arah Alvin. “Kamu jangan bercanda, Ayu,” ujar Alvin. Dari nada suaranya—pria itu sepertinya sudah siap mengamuk. “Maaf, Pak. Tadi ... saya sengaja lepas cincinnya karena takut ketahuan pegawai lain, soalnya tadi mereka lagi bahas tentang saya dan Bapak,” urai Ayu, dengan perasaan takutnya. “Kenapa takut ketahuan? Memangnya kamu sama saya ngelakuin hal yang melanggar negara dan agama?” omel Alvin. “Sa-saya pikir Pak Alvin enggak akan suka kalau orang-orang tahu tentang Pak Alvin yang menikah sama saya,” terang Ayu. Mendengar penjelasan Ayu, Alvin terdengar mengembuskan napasnya kasar. “Oke, saya emang belum siap kalau orang lain tahu saya nikah sama kamu. Tapi, bukan berarti kamu harus lepas cincin itu,” tukas Alvin. “Kalau sampai cincin itu hilang, ‘gimana saya bisa jelasin ke Mama sama Papa, ha? Kamu juga mau bilang apa ke Mama sama Papa?” kesalnya. Ternyata, Alvin mencemaskan cincin pernikahan Ayu yang hilang bukan karena pria itu ingin Ayu mengingat pernikahan mereka setiap waktu. Tapi karena Alvin takut kalau orang tuanya datang menemui mereka, dan Ayu tidak memakai cincin tanda pernikahan mereka itu, orang tuanya akan curiga tentang fakta bahwa dia dan Ayu sengaja menyembunyikan pernikahan mereka dari publik, termasuk ruang lingkup kerja mereka. Apalagi Alvin tahu kalau mamanya tidak akan pernah suka dengan hal tersebut. “Sekarang saya enggak mau tahu, pokoknya kamu harus cari cincin pernikahan itu sampai ketemu,” suruh Alvin, tidak peduli lagi dengan Ayu yang bahkan belum sempat memakan makanannya. Ayu hanya bisa diam tanpa berani menjawab. Sekalipun, perkataan Alvin barusan terdengar sangat egois.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN