Raut wajah Ayu terlihat sangat panik, ia terus berlari mencari ruangan di mana suaminya berada. Bahkan Ayu seolah sudah tidak hirau lagi dengan kakinya yang tampak terluka karena harus berlarian menggunakan pantofelnya yang berhak tinggi.
“Ayu.” Panggilan itu membuat kaki Ayu akhirnya berhenti bergerak, pandangan Ayu pun beredar, sampai kemudian Ayu menemukan sosok ibu mertuanya yang tampak berdiri di depan sebuah ruangan.
Ayu langsung melangkah mendekati ibu dan ayah mertuanya.
“Mas Riki ... Mas Riki di mana, Ma?” tanya Ayu, dengan napas yang terengah-engah, lantaran harus berlarian dari jarak yang cukup jauh.
Mama Ajeng bahkan sampai menatap sedih wajah Ayu yang terlihat dibanjiri keringat.
“Riki ada di dalam sama Alvin, lagi diperiksa sama Dokter Hendra,” kata Pak Darma, ayah mertuanya. Pria paruh baya itu tampak menatap ke sebuah ruangan dengan nomor 303.
Selang beberapa saat kemudian, pintu kamar itu terbuka, dokter yang menangani Riki dan dua perawat tampak keluar dari dalam sana.
“Dokter Hendra, ‘gimana kondisi anak saya?” tanya Mama Ajeng, menahan air matanya yang sudah ingin jatuh sejak mendengar kabar tentang kondisi Riki yang kritis.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ....” Dokter Hendra terlihat menghela napasnya pelan, lalu menatap ke arah ruangan tempat Riki berada. “Riki sudah berada di batas maksimalnya. Dia akan kesulitan jika harus bertahan lebih lama lagi. Kalaupun kita memaksanya untuk bertahan hidup menggunakan alat medis dan obat-obatan, kita hanya akan menyiksanya karena dia harus terus merasakan sakit,” terang Dokter Hendra, menghela napasnya lagi, sebelum kembali berbicara.
“Saya sarankan, keluarga harus siap menerima ....”
“Tidak,” sela Mama Ajeng. “Saya enggak akan rela lepasin anak saya ‘gitu aja, Dok. Dokter Hendra juga pasti tahu bagaimana Riki berjuang bertahan hidup sepuluh tahun lalu, dan saya yakin sekarang Riki juga bisa melakukannya,” timpal Mama Ajeng.
“Ma, kalau Mama paksa Riki buat bertahan, sama aja Mama siksa Riki,” nasihat Pak Damar.
“Bu Ajeng, saya tahu kalau keputusan ini pasti sangat berat, tapi sekarang Riki bukan hanya menderita akibat cidera otak yang dialaminya sepuluh tahun, Riki juga menderita karena kanker otaknya yang sudah sampai di stadium akhir, Riki bahkan sudah kesulitan menggerakkan tubuhnya,” papar Dokter Hendra.
Mama Ajeng luruh dalam kesedihannya, dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
“Kita hanya bisa menunggu waktunya saja, karena dari apa yang saya lihat, Riki sepertinya sudah menyerah untuk berjuang lebih jauh lagi, dia sudah merasa sangat kesakitan,” imbuh Dokter Hendra.
“Kami akan mengikuti saran dari Dokter Hendra, apa pun yang terbaik menurut Dokter, kami akan mengikutinya,” kata Pak Damar, dengan kelapangan hatinya, yang mau tidak mau harus merelakan putra sulungnya.
Mama Ajeng sudah tidak kuasa lagi untuk berbicara, wanita paruh baya itu semakin menangis pilu dalam dekapan Pak Damar.
Dokter Hendra yang sudah mengenal baik keluarga Pak Damar pun merasa ikut teriris melihat kesedihan yang menyelimuti keluarga itu. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat banyak, dia juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Riki bertahan, hanya saja—Tuhan ternyata berkehendak lain.
“Oh, ya. Pak Damar, Bu Ajeng, dan Mbak Ayu, silakan masuk ke dalam, tadi Riki sempet minta mau ketemu sama kalian,” ujar Dokter Hendra kemudian.
Bu Ajeng mengusap air matanya, lalu menatap Pak Damar yang tampak menghela napasnya pelan.
“Jangan nangis di depan Riki,” pesan Pak Damar, yang kemudian melangkah masuk ke dalam ruang rawat Riki sembari menuntun Bu Ajeng yang masih berusaha untuk tidak menangis lagi.
Ayu pun juga ikut masuk ke dalam sana, dan menutup pintu ruang rawat itu rapat.
Di dalam ruang rawat Riki, Alvin tampak duduk termangu di samping kakaknya. Dua pria itu terlihat saling diam tanpa kata.
“A-ayu,” lirih Riki, suaranya terdengar sangat lemah, hingga membuat Ayu dan juga Bu Ajeng harus berusaha kuat menahan air mata mereka agar tidak jatuh berserakan.
“Iya, Mas. Ayu ada di sini,” jawab Ayu, segera mendekat ke sisi kiri Riki, karena sisi kanan Riki sudah di tempati oleh sosok Alvin yang seolah enggan untuk pergi dari sana.
“Ri-ki mau ngomong sama Ayu,” katanya. “Sama Alvin juga,” imbuh Riki dengan susah payah.
“Kak Riki mau ngomong apa?” kata Alvin.
“Riki mau Alvin sama Ayu menikah,” pinta Riki tiba-tiba.
Permintaannya itu tentu saja membuat semua orang kaget.
“Kak—”
“Riki mohon sama Alvin, tolong jaga Ayu,” sela Riki, seolah tidak mengizinkan Alvin untuk berbicara, apalagi menolaknya. “Ayu juga tolong jaga Alvin, ya?” pintanya pada sang istri.
“Tapi aku istri kamu, Mas,” ujar Ayu.
“Kalau Riki udah pergi, Ayu harus jadi istri Alvin. Alvin baik kok,” cakap Riki.
Ayu tak tahan lagi, wanita itu akhirnya menangis di depan suaminya. Hatinya benar-benar pilu. Belum genap tiga bulan ia menikah dengan Riki, tapi sekarang ia sudah diminta untuk menjadi istri pria lain, yang notabenenya adalah iparnya sendiri.
“Alvin mau ‘kan kabulin permintaan Riki. Ini permintaan terakhir Riki, sebelum nanti Riki ikut pergi sama Nenek Arum,” katanya, yang sontak membuat semua orang dibanjiri rasa duka.
“Iya, Riki. Alvin sama Ayu nanti bakal menikah demi Riki. Jadi, Riki enggak usah khawatir, ya,” sahut Mama Ajeng di sela-sela isak tangisnya yang tertahan. “Mama juga izinin Riki buat ikut pergi sama Nenek Arum, jangan lupa sampaiin salam Mama sama Papa buat Nenek di sana, ya,” lanjutnya, yang sudah kalut dalam kesedihan.
“Cukup, Ma,” tukas Alvin. “Kak Riki enggak akan pergi ke mana-mana, dia harus tetep di sini sama kita,” tegasnya.
“Alvin, kamu jangan egois kayak ‘gitu. Kamu enggak tahu apa yang selama ini udah Riki rasain, kamu enggak tahu ‘gimana perjuangan dia buat bertahan dari cidera sepuluh tahun yang lalu, dan sekarang, kanker otak yang ada di dalam tubuhnya, kamu enggak tahu—”
“Pa, jangan berantem sama Alvin. Riki enggak mau lihat Papa sama Alvin berantem,” pinta Riki, sengaja memotong perkataan ayahnya yang terdengar penuh emosi. “Riki mau istirahat, kepala Riki sakit, Riki ngantuk,” imbuhnya.
Mama Ajeng yang seolah tahu apa maksud perkataan terakhir Riki itu, ia tampak membungkam mulutnya, menahan isak tangisnya yang hampir membuncah.
Perlahan-lahan mata Riki tertutup, bersamaan dengan itu, monitor yang ada di samping ranjang Riki pun terdengar berbunyi. Semua orang menatapnya dengan raut sedih, hati yang hancur, dan pikiran yang kacau.
Pada akhirnya, Riki yang malang telah pergi jauh menemukan kebahagiaannya.
*
Enam bulan kemudian.
Ayu menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di depannya dengan raut sedih.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Alvin, setelah empat bulan sepuluh hari yang lalu ia menyelesaikan masa iddah-nya.
Sebenarnya cukup sulit bagi Ayu untuk menikah lagi saat dirinya bahkan baru ditinggal pergi oleh suaminya belum genap setahun. Apalagi pria yang akan menikah dengannya adalah sosok Alvin, adik mendiang suaminya.
Turun ranjang bukanlah sesuatu yang menyenangkan, banyak hal yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran Ayu. Bahkan jika saja ia bisa menolak, Ayu pasti akan berkata ‘tidak’, dia pasti akan menolak menikah dengan Alvin, yang Ayu tahu sama sekali tidak menyukai dirinya.
Sekalipun usia Alvin tergolong lebih tua dan dewasa darinya, pikiran Alvin pun juga lebih matang daripada mendiang suaminya—Riki. Tapi, tetap saja, hati Ayu masih terasa berat untuk menerimanya.
“Ayu, ayo keluar, Alvin baru aja selesai mengucap ijab kabulnya,” kata Mama Ajeng dengan senyumnya yang terlihat penuh kebahagiaan.
Melihat Mama Ajeng yang tampak bahagia, Ayu pun berusaha mengukir senyumnya juga, kemudian ia bangkit dari duduknya dengan jantung yang sudah berdebar tak karuan.
Kini statusnya dengan Alvin bukan lagi sebatas ipar, tapi sudah berubah menjadi suami dan istri. Alvin punya hak atas dirinya, dan Ayu punya kewajiban atas diri Alvin.
Ayu sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan hidup berumah tangga dengan pria seperti Alvin. Akankah ia sanggup menghadapi suami barunya yang terkadang sangat menyebalkan itu?
*
Ayu menghela napasnya pelan lagi, ia kini duduk di tepi ranjang, sesekali pandangannya melirik ke arah pintu kamar mandi yang sejak beberapa saat lalu tertutup rapat. Alvin ada di dalam sana.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka, sosok Alvin terlihat keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk hitamnya sebatas pinggang sampai atas lutut.
Melihat Alvin yang setengah bertelanjang itu, Ayu sontak mengalihkan pandangannya dengan muka bersemu merah.
Alvin yang melihatnya sama sekali tidak peka, pria itu bahkan sepertinya tidak peduli apalagi merasa risih jika hanya memakai handuk di depan Ayu.
“Baju saya mana?” tanya Alvin, suaranya terdengar sangat segar.
Ayu yang tiba-tiba diajak bicara oleh Alvin pun tampak terlonjak kaget, ia bahkan sampai bangkit dari duduknya dan menatap Alvin dengan raut takut.
“Baju?” Ayu terlihat bingung.
Alvin menyedekapkan kedua tangannya di depan dadanya, lalu menatap Ayu lekat.
“Kamu itu sekarang istri saya, jadi semua kebutuhan saya harus kamu siapin,” tukasnya. “Cepetan ambilin baju saya,” suruh Alvin, terkesan seperti seorang atasan yang memerintah bawahannya.
“I-iya, Pak,” jawab Ayu, tubuhnya langsung bergerak mendekati lemari Alvin.
Ayu membuka lemari itu dan mulai mengambil baju kaos yang biasa Alvin pakai untuk tidur.
“Celananya ....” Ayu tampak ragu.
“Kenapa celananya?” tanya Alvin, nada suaranya sama sekali tidak terdengar lembut.
“Celananya apa perlu saya ambilin juga?” tanya Ayu, sedikit menoleh ke arah Alvin.
Alvin tampak menghela napasnya kasar. “Ya iyalah, pakek tanya segala. Emangnya kamu mau saya pakai baju aja, terus enggak pakai celana? Bagus banget ya isi otak kamu itu,” cakapnya, yang selalu saja ketus.
“Celana itu juga, Pak?” Ayu kembali bertanya dengan suara yang terkesan ragu-ragu.
“Celana apa?”
“Yang di dalam,” kata Ayu.
Helaan napas Alvin kembali terdengar, bahkan kali ini terdengar lebih kasar dari sebelumnya, seolah menandakan kalau pria itu sudah jengah dengan tingkah Ayu yang tampak belum terdidik untuk melayani suaminya.
“Kamu selama nikah sama mendiang kakak saya dulu ngapain aja sih? Hal kayak ‘gitu aja pakek ditanyain segala. Kalau saya suruh siapin pakaian saya, ya berarti siapin semuanya, semua yang saya pakai,” tandas Alvin.
“Ma-maaf, Pak,” cicit Ayu, tak berani menatap sosok Alvin yang terlihat sangat menakutkan di mata Ayu.
“Ya udah buruan bawa sini, saya bisa demam lagi kalau terus-terusan pakai handuk kayak ‘gini,” oceh Alvin.
Ayu pun langsung beranjak dari lemari Alvin, kemudian melangkah mendekati Alvin dan memberikan pakaian yang dipegangnya itu pada Alvin.
“Ini, Pak,” ucap Ayu, tanpa berani beradu mata dengan sosok suaminya yang terkesan galak.
Alvin mendengus kasar, lalu merebut pakaian yang Ayu berikan tanpa kelembutan, pria itu bahkan tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’ seperti yang biasa Riki ucapkan pada Ayu saat dulu Ayu masih menjadi istri mendiang Riki.
Perbedaan sifat dua kakak beradik itu benar-benar terlihat sangat jelas. Riki memiliki sisi yang sangat lembut, hangat dan baik hati. Sedangkan Alvin, pria itu benar-benar suka sekali memerintah, mengoceh, dan sangat tidak berperasaan. Di mata Ayu, mereka seperti sosok bawang putih dan bawang merah dalam versi laki-laki.
“Kenapa masih diem di situ?” tukas Alvin sembari menatap Ayu dengan raut judesnya. “Kamu mau lihat saya ganti baju? M*sum kamu, ya,” tudingnya.
“Eh? Eng-enggak, saya ....” Ayu tahu ia tidak akan pernah menang berdebat melawan Alvin, kecuali jika dirinya sedang dalam mode dilanda emosi. “I-iya, saya keluar,” ujar Ayu, yang pada akhirnya mengalah. Wanita itu langsung melangkah pergi keluar dari dalam kamar Alvin.
Lagi pula Ayu sama sekali tidak berharap melihat Alvin berganti pakaian di depan matanya, sekalipun mereka adalah suami istri yang sudah halal untuk melihat satu sama lain.
Ayu tadi hanya mengira kalau Alvin akan seperti Riki, yang terbiasa mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi untuk menghormati dirinya yang belum siap melihat suaminya tak berbusana di depan mata.
Ayu mengembuskan napasnya berat, di luar kamar Alvin ia bersandar pada pintu kamar itu sembari menatap kamarnya dulu dengan Riki. Jujur, Ayu merasa rindu dengan sikap Riki yang selalu membuatnya teduh dan tenang. Mengingat tentang Riki, rasanya Ayu ingin sekali menangis.
“Ayu.” Suara itu terdengar dari dalam kamar Alvin, yang memang adalah suara suaminya yang menyebalkan itu. “Masuk,” titahnya.
Helaan napas berat Ayu kembali terdengar. “Yang sabar ya, Ayu. Kamu pasti bisa ngadepin suami baru kamu yang kayak macan jantan itu,” gumam Ayu sembari mengusap dadanya pelan, lalu lekas masuk ke dalam kamar sebelum Alvin mengocehinya.