Firasat

2407 Kata
“Ayu,” panggil Bu Ajeng, menatap Ayu yang tengah menyiram bunga di halaman belakang. Ayu menoleh, lalu tersenyum simpul menatap ibu mertuanya itu. “Ma,” sapa Ayu. “Bunga-bunganya cantik, ini kamu yang tanam?” tanya sang ibu mertua, tengah berbasa-basi. Ayu mengangguk singkat, dan menjawab, “Iya, Ma.” “Nanti boleh Mama minta bibitnya? Mama juga mau tanam di rumah deh,” kata Bu Ajeng. “Boleh kok, Ma. Nanti aku siapin,” balas Ayu. Bu Ajeng tersenyum menanggapinya. Ayu pun lantas kembali fokus menyiram bunga-bunganya yang baru saja tumbuh subur. “Em, Ayu,” ucap Bu Ajeng, setelah beberapa saat diam dalam keheningan. “Iya, Ma?” Ayu menoleh ke arah ibu mertuanya lagi. “Soal Riki ... Mama minta maaf karena enggak kasih tahu kamu dari awal,” cakap Bu Ajeng, terlihat jelas dari binaran matanya kalau wanita paruh baya itu sebenarnya sangat kasihan dengan nasib yang harus Ayu jalani. Ayu mencoba mengulas senyumnya, walaupun kenyataannya sejak tadi pikirannya sudah kacau karena memikirkan kondisi Riki saat ini. Rasa kecewanya pun sebenarnya sudah lama singgah, hanya saja—Ayu berusaha untuk menahan semua itu. “Enggak pa-pa kok, Ma. Selama Mas Riki masih mau sama aku, aku bakal jaga Mas Riki, aku juga bakal bahagiain Mas Riki,” tutur Ayu, yang tentu saja membuat hati Bu Ajeng terenyuh haru. “Makasih banyak ya, Yu,” ucap Bu Ajeng. “Mama enggak tahu harus ‘gimana bilang makasih ke kamu. Kamu itu bener-bener malaikat yang Allah kasih buat Riki,” pujinya. Ayu meletakkan wadah penyiram bunganya ke atas tanah, lalu ia menghadap ke arah Bu Ajeng yang masih menatapnya haru. Ayu pun memegang kedua tangan ibu mertuanya itu dan tersenyum tipis. “Ma, Mama harus inget kalau aku nikah sama Mas Riki juga karena uang, keluarga Mama udah kasih banyak uang ke Ega, dan sebagai gantinya aku harus jaga Mas Riki dengan baik, aku harus bahagiain Mas Riki ‘gimanapun caranya. Jadi, rasanya aku enggak pantes dapet pujian kayak ‘gitu,” urai Ayu. Bu Ajeng hampir saja menangis melihat keteguhan hati Ayu yang terasa lapang. Wanita itu dengan ikhlas menerima semua perbuatan jahat orang lain dan memaafkannya tanpa dendam. “Ayu, Mama bener-bener bersyukur bisa punya menantu kayak kamu,” jujur Bu Ajeng. “Nanti, suatu saat nanti, kalau seandainya ... Riki udah enggak ada, Mama harap kamu masih bisa jadi menantu Mama,” harapnya. Ayu tak dapat menanggapinya, wanita itu terlalu larut dalam keharuan yang melekat pekat dalam hatinya. Di sisi lain, sosok Alvin sejak tadi berdiri di dekat jendela yang terhubung ke halaman belakang, pria itu menguping pembicaraan Ayu dan ibunya dari sana. “Alvin lagi ngapain?” tanya Riki, yang baru saja tiba di ruang belakang karena tidak mendapati siapa pun di ruang depan. Alvin menoleh, lalu tersenyum menatap kakaknya yang ternyata sudah bangun dari tidur siangnya. “Kak Riki,” ucap Alvin. “Eng-enggak, aku enggak lagi ngapa-ngapain kok,” bohongnya sembari menutupi jendela yang menampakkan sosok Ayu dan ibu mereka. “Alvin lihat Ayu enggak?” tanya Riki kemudian. “Kenapa nyariin Ayu?” Alvin balik bertanya. “Riki pengen lihat Ayu,” jawab Riki sembari memainkan kedua tangannya dengan raut malu-malu. Alvin menghela napasnya pelan, lalu ia menyingkir dari depan jendela. Riki pun akhirnya bisa melihat sosok Ayu yang masih berbincang dengan ibu mereka. “Mama,” seru Riki, terlihat senang. Suara Riki bahkan terdengar sampai luar, hingga membuat dua wanita yang tengah mengobrol itu menoleh ke arah jendela ruang belakang. “Mama.” Riki berseru lagi, pria itu kini sudah berlari keluar menghampiri sang ibu seperti anak kecil yang lama tidak bertemu dengan ibunya. Bu Ajeng yang melihat putra sulungnya itu tampak berlari ke arahnya, ia lantas membuka kedua tangannya lebar, siap memberikan pelukan hangat pada putranya itu. “Anak Mama udah bangun, ya?” tanya sang ibu, yang sudah memeluk hangat putra sulungnya itu. Riki merengkuh tubuh ibunya erat. “Riki kangen sama Mama,” katanya. Bu Ajeng terkekeh. “Kalau Riki kangen sama Mama, Riki pulang sama Mama mau? Tapi Ayu di sini, enggak ikut Riki,” candanya. Mendengar hal itu, Riki tiba-tiba langsung melepaskan pelukan ibunya, dan menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak mau, Riki enggak mau pulang ikut Mama. Riki mau di sini aja sama Ayu, sama Alvin,” tegasnya. Bu Ajeng kembali terkekeh kecil melihat tingkah putra sulungnya itu, yang pada dasarnya sudah jatuh hati pada sosok Ayu yang penuh kasih sayang. “Jadi Riki lebih pilih Ayu daripada Mama, ya?” canda Bu Ajeng, lagi. Riki mengibaskan kedua tangannya sembari menggelengkan kepalanya lagi. “Enggak, Mama. Bukan ‘gitu. Riki sayang sama Mama, sama Ayu juga,” katanya, benar-benar seperti anak kecil yang sangat polos. Senyum Bu Ajeng pun mengembang, ia lantas mengusap puncak kepala putranya itu penuh kelembutan. “Iya, Sayang. Mama tahu kok,” ujar Bu Ajeng, yang langsung membuat Riki tersenyum lebar. “Ini udah sore, kamu enggak mau masak?” sahut Alvin dengan nada ketusnya kepada Ayu. Ayu langsung melihat langit yang tampak mulai berubah jingga, pertanda waktu sore sudah tiba. “Ah, iya. Maaf, aku hampir lupa,” jawab Ayu. “Alvin, kamu ini apa-apaan sih, enggak sopan nyuruh-nyuruh Ayu kayak ‘gitu, dia itu istrinya kakak kamu,” oceh sang ibu. Alvin mengembuskan napasnya berat. “Justru karena dia istrinya Kak Riki, jadi dia harus siapin makanan, itu baru namanya istri yang berbakti sama suaminya,” cakap Alvin. Bu Ajeng menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah putra bungsunya itu, yang sejak awal memang terlihat tidak pernah menyukai sosok Ayu. “Ayu, kamu enggak usah dengerin omongannya Alvin. Malam ini kita makan di luar. Jadi kamu enggak perlu repot-repot masak buat makan malam nanti,” ujar Bu Ajeng, benar-benar ibu mertua idaman semua wanita lajang. * Ayu berdiri dari duduknya, berniat untuk pergi ke toilet usai menyantap hidangan makan malamnya di restoran yang ibu mertuanya pilih. “Ayu mau ke mana?” tanya sang ibu mertua. “Mau ke toilet bentar, Ma,” jawabnya. “Oh, ya udah, hati-hati,” balas Bu Ajeng sembari tersenyum tipis. Setelah itu Ayu melangkah pergi dari mejanya, wanita itu berjalan menuju ke arah belakang restoran, tempat di mana toilet berada. Selang beberapa saat kemudian, Ayu terlihat keluar dari dalam toilet wanita. Tapi saat Ayu baru saja ingin berbelok menuju area depan restoran, Ayu tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang dan hampir membuatnya jatuh terjerembab ke belakang. Untungnya orang yang bertabrakan dengannya itu berhasil menangkap tubuhnya. Ayu pun kembali berdiri dengan jantung yang sedikit berdebar karena terkejut. “Maaf, saya enggak sengaja,” kata pria yang bertabrakan dengan Ayu. “Ega?” lirih Ayu, matanya terbeliak kaget melihat sosok adiknya kini berdiri tepat di depan matanya. “Mbak Ayu,” ucap Ega, suaranya terdengar sangat pelan hingga membuat Ayu hanya samar-samar mendengarnya. “Ega, kamu kerja di sini?” tanya Ayu saat ia melihat seragam Ega tampak sama seperti pegawai restoran lainnya. Ega terlihat gelagapan saat ditanya seperti itu oleh kakaknya. Karena bagaimanapun juga, Ega tidak mau kakaknya itu tahu kalau dirinya sudah ditipu oleh mantan kekasihnya yang telah membawa kabur semua uang yang Ega dapat dari menjual Ayu ke keluarga Riki. “Mbak Ayu kayaknya udah bahagia, ya,” ujar Ega, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Ega, kenapa masih di sana? Ayo cepat sini,” teriak seorang pria yang sepertinya adalah bos di tempat kerja Ega ini. Ega menghela napasnya pelan, lalu menatap kakaknya itu sekilas, kemudian dengan cepat Ega melangkah pergi dari hadapan Ayu yang masih dibuat bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi pada Ega, * Sepulang makan malam di luar, Ayu langsung masuk ke dalam kamarnya, bahkan ia mengabaikan Riki yang saat itu tengah mengekorinya bersama Alvin. Alvin yang berada di samping Riki pun ikut heran dengan sikap Ayu yang tidak seperti biasanya. Wanita itu terlihat seperti seseorang yang dipenuhi beban pikiran. Padahal tadi saat mereka berangkat untuk makan di luar, Alvin melihat Ayu baik-baik saja, iparnya itu bahkan masih bisa tersenyum simpul saat mengobrol dengan Mama Ajeng. “Kak, mau tidur sama aku enggak?” tawar Alvin, yang tiba-tiba berpikir kalau Ayu mungkin membutuhkan ruang untuk sendiri. Riki yang baru saja sampai di depan pintu kamarnya, dan ingin membuka pintu kamar itu, ia menoleh pada Alvin yang berdiri di belakangnya. “Tapi Ayu ....” “Aku pengen tidur sama Kak Riki, malem ini aja,” pinta Alvin, terlihat sedikit merengek agar kakaknya itu mau menuruti permintaannya. Riki tampak bimbang, pria itu beberapa kali terlihat menatap pintu kamarnya dan Alvin bergantian. “Kak Riki enggak sayang sama aku?” desak Alvin. “Sa-sayang. Riki sayang sama Alvin. Tapi ....” Riki menggaruk kepalanya bingung. Sampai kemudian, tubuh Riki menghadap ke arah Alvin sepenuhnya. “Iya, malam ini Riki tidur sama Alvin. Tapi malam ini aja, ya?” kata Riki. Alvin mengulas senyum sumringahnya, kemudian dengan segera ia membuka pintu kamarnya yang berada tepat di depan pintu kamar Riki dan Ayu. Alvin menyuruh kakaknya untuk masuk lebih dulu, setelah Riki masuk ke dalam, Alvin berkata, “Aku mau ke dapur dulu ya, Kak.” Riki menoleh, lalu menanggapinya dengan anggukan kepala. Setelah itu, Alvin menutup pintu kamarnya, lalu berbalik menghadap ke kamar lain yang berada di sebarang kamarnya. Alvin menghela napasnya pelan, dan melangkah maju mendekati pintu kamar itu. Sesaat Alvin diam, tapi kemudian tangannya tampak bergerak mengetuk pintu kamar tersebut. Beberapa kali ketukan, Alvin pun akhirnya mendapatkan jawaban dari dalam sana. Sosok Ayu terlihat keluar dengan pakaian yang berbeda. Wanita itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. “Pak Alvin? Mas Riki mana?” tanya Ayu, yang langsung mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekitar, tapi ia sama sekali tidak mendapati Riki di manapun. “Kak Riki malam ini tidur sama saya, kamu enggak masalah ‘kan tidur sendirian?” kata Alvin. “Mas Riki ada di kamar Pak Alvin?” Ayu balik bertanya. “Iya, dia udah mau tidur, jangan diganggu. Pokoknya malam ini dia tidur sama aku. Kamu enggak berhak buat larang kakak saya tidur di mana dan sama siapa, lagian saya adiknya dan saya laki-laki,” tukas Alvin. Ayu mengangguk paham, sejujurnya ia tidak masalah jika Riki meminta tidur bersama Alvin, apalagi saat ini dirinya memang butuh waktu untuk sendiri. Ayu butuh ruang sendiri untuk memikirkan banyak hal, terutama tentang Ega, yang benar-benar membuatnya dilanda rasa bingung sekaligus penasaran dengan kondisi dan kabar adiknya itu. “Ya udah, kamu tidur sana, besok kerja, ‘kan?” “Iya, besok saya masuk pagi, Pak,” jawab Ayu. “Saya enggak tanya itu, yang penting besok kamu harus berangkat kerja kalau kamu masih mau kerja di butik Edelweis,” sergah Alvin. “I-iya, Pak.” Ayu menanggapi. Alvin menatap Ayu sejenak, lalu pria itu berbalik, berniat untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tapi, saat Alvin baru saja ingin memutar handle pintu kamarnya, Ayu tiba-tiba memanggil. “Pak Alvin.” Alvin pun sontak menoleh. Saat itu ternyata Ayu sudah berdiri di belakang Alvin. Wanita itu tiba-tiba menyentuh kening Alvin sejenak, merasakan suhu tubuh Alvin yang sudah terasa kembali normal. “Syukurlah, Pak Alvin udah enggak demam lagi,” cakap Ayu sembari mengulas senyum lebarnya. Alvin termenung merasakan hangatnya tangan Ayu yang masih menyentuh keningnya, pria itu juga terpaku pada senyum Ayu yang juga masih merekah bagai bunga mawar. Tanpa sadar Alvin seperti dibius oleh sesuatu yang membuat hatinya seakan terpana oleh sosok Ayu. “Pak Alvin? Bapak baik-baik aja?” tegur Ayu, menarik Alvin dari lamunan singkatnya. Alvin yang tersadar pun langsung mundur satu jengkal agar tangan Ayu tak lagi menyentuh kulitnya. Pria itu juga langsung mengalihkan pandangannya agar ia tak dapat lagi melihat senyum merekah yang sebenarnya sudah Ayu tanggalkan dari wajahnya. “Lain kali jangan asal sentuh saya,” sungut Alvin, tanpa menoleh ke arah Ayu. Setelah berkata seperti itu, Alvin lekas membuka pintu kamarnya dan masuk dengan cepat. Bahkan pria itu langsung menutup pintu kamarnya sedikit keras, membuat Ayu sedikit merasa heran dengan sikap Alvin yang terkesan aneh di matanya. * Di dalam kamar Alvin, Riki terlihat sedang duduk di tepi ranjang, pria itu duduk menatap Alvin yang baru saja masuk ke dalam kamar. “Alvin makan, ya?” tanya Riki. “Eh? Enggak kok,” jawab Alvin. “Kok lama?” “Oh, tadi ketemu sama Ayu. Aku udah bilang ke dia kalau Kak Riki tidur sama aku malam ini,” terang Alvin, tak sepenuhnya berbohong. “Ayu bilang apa?” “Enggak bilang apa-apa. Cuma bilang Kak Riki jangan tidur malem-malem,” jawab Alvin. Kali ini sengaja berbohong agar kakaknya itu tidak bertanya lagi. “Oh, ya. Kak Riki tidur pakai baju Alvin aja, ya. Soalnya kasihan kalau mau bangunin Ayu. Tadi aku lihat dia udah masuk kamar, dan kayaknya udah ngantuk banget. Takutnya Ayu udah tidur,” lanjut Alvin. Riki mengangguk setuju. Alvin pun lalu melangkah menuju lemarinya, mengambil baju kaosnya yang berukuran paling besar di antara kaos lainnya. Karena faktanya tubuh Riki memang sedikit lebih besar dari tubuhnya. “Alvin,” panggil Riki pada adiknya yang masih memilah-milah pakaian di dalam lemari, pria itu sekarang sedang mencari boxer milik kakaknya yang pernah ia pinjam beberapa waktu lalu. “Hm?” Alvin menanggapi seadannya. “Kalau Riki enggak ada, Alvin mau jagain Ayu, ‘kan?” tanya Riki tiba-tiba. Tubuh Alvin seketika itu menegang, hatinya pun tiba-tiba terasa ngilu. “Kak Riki ngomong apa sih?” kesal Alvin, menatap kakaknya yang masih duduk anteng di tepi ranjang. “Riki cuma tanya saja. Soalnya, beberapa hari ini Riki mimpi kalau Riki pergi jauuuh banget, Riki ninggalin Ayu, Alvin, Mama sama Papa. Riki pergi sama Nenek Arum,” terangnya, seperti sebuah pertanda. Alvin mengembuskan napasnya berat. Pria itu tak kuasa mendengarnya. Ia kemudian menutup lemarinya dan mendekati kakaknya itu hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter saja. “Kak, inget ya, Alvin enggak mau lagi denger Kak Riki ngomong kayak ‘gitu,” tegas Alvin. Riki hanya diam, tak pernah berani menjawab adiknya jika adiknya itu sudah terlihat kesal. “Ini baju sama celananya, buruan Kak Riki ganti, habis itu tidur,” suruh Alvin kemudian, sembari menyerahkan baju kaos miliknya dan juga celana boxer milik Riki yang ia pinjam beberapa hari yang lalu. Riki memilih untuk tidak menjawab. Pria itu hanya diam sembari mengambil kaos dan celana boxer yang Alvin sodorkan padanya. Setelah itu, Riki melangkah menuju kamar mandi, dan mengganti pakaiannya di dalam sana. Alvin menghela napasnya berat sembari mengusap wajahnya kasar, kemudian pria itu tampak menangkup wajahnya dan duduk di tepi ranjang. Perkataan Riki tadi benar-benar membuat perasaan Alvin menjadi tak karuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN