“Kamu apain kakak saya?!” amuk Alvin, menatap Ayu dengan sorot tajamnya.
“Sa-saya ... saya cuma ....”
“Kalau sampai kakak saya kenapa-kenapa, saya enggak akan segan-segan lagi buat ngelakuin hal buruk ke kamu,” ancam Alvin, sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan Ayu terlebih dulu.
Alvin bahkan langsung menarik kakaknya untuk segera keluar dari dalam kamar, pria itu berniat membawa Alvin ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu pada kakaknya.
“Pak Alvin, Pak Riki-nya mau dibawa ke mana? Pak Riki harus istirahat, jangan dibawa keluar dulu,” kata perawat pribadi Riki yang baru kembali dari dapur untuk mengambilkan Riki minum.
Alvin menatap perawat pribadi kakaknya itu sembari menghela napasnya berat.
“Kamu enggak lihat kakak saya berdarah kayak ‘gini?” tukas Alvin.
Mendengar hal itu, perawat pribadi Riki tampak tidak terkejut sama sekali. Dari raut wajahnya, ia seolah sudah menganggapnya sebagai hal yang wajar.
“Pak Alvin, bisa ikut saya sebentar? Ada sesuatu yang harus saya beritahu ke Pak Alvin dan keluarga Pak Alvin,” kata si perawat pribadi Riki, menatap Alvin dengan raut yang menggambarkan duka.
Perasaan Alvin seketika itu semakin tak karuan, ia kian cemas dengan apa yang kemungkinan terjadi pada kakaknya.
“Mbak Ayu juga ikut, ya,” imbuh si perawat, Sinta.
“Dia enggak perlu ikut, dia bahkan udah buat kakak saya jadi kayak ‘gini,” sergah Alvin.
Sinta—perawat pribadi Riki itu tersenyum tipis. “Pak Riki mimisan bukan karena Mbak Ayu. Tapi ....” Sinta tak sanggup menjelaskannya di depan Riki yang sejak tadi tampak diam menyimak walaupun dia tidak akan paham sepenuhnya.
“Tapi apa?” desak Alvin.
Sinta menghela napasnya pelan, lalu menatap Riki sejenak, sebelum kemudian ia kembali menatap Alvin yang masih menunggu jawabannya.
“Saya akan menjelaskannya nanti,” kata Sinta. “Sekarang biarkan saya membantu Pak Riki untuk istirahat,” lanjutnya.
*
Ega menutup pintu rumahnya, lalu menatap sekelilingnya yang tampak gelap tak bercahaya. Pria itu kemudian mendekati sakelar lampu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Saat lampu sudah menyala, Ega bisa melihat kondisi rumahnya tampak cukup berantakan, berbeda dari saat Ayu masih tinggal bersama dirinya.
Ega menghela napasnya pelan, lalu meletakkan tas punggungnya ke atas kursi, kemudian pria itu mulai memunguti setiap sampah yang ada di meja dan memasukkannya ke dalam kantong sampah.
Pria itu juga mengambil satu demi satu pakaian kotor yang beberapa hari ini hanya ia letakkan ke sembarang tempat.
Setelah selesai merapikan rumahnya, Ega merebahkan tubuhnya ke atas sofa lamanya. Pria itu lalu mengembuskan napasnya berat. Tapi, beberapa saat kemudian, suara isak tangis tiba-tiba terdengar dari diri Ega.
Ya, Ega menangis, ia menangis karena telah melakukan kesalahan besar. Pada akhirnya dia menyesal karena telah salah mengambil sebuah keputusan. Ega menyesal karena sudah membiarkan egonya menang. Dan kini, ia benar-benar menyesal karena telah membuat satu-satunya keluarganya—Ayu—pergi dari kehidupannya.
“Bodoh,” lirih Ega, mengumpati dirinya sendiri dengan penuh ratapan.
*
Sinta berdiri menatap Alvin dan Ayu yang sejak tadi sudah menunggunya di ruang tamu.
“Pak Riki udah tidur, mimisannya juga udah berhenti,” terang Sinta, memberikan laporannya.
Alvin menghela napasnya lega. “Makasih,” ucapnya.
Sinta, wanita yang sudah berkepala tiga itu tersenyum tipis menanggapi Alvin.
“Jadi, apa yang mau kamu bicarain ke saya dan juga keluarga saya?” tanya Alvin kemudian.
Sinta tampak ragu, tapi kendatipun begitu tidak mungkin ia menutup fakta tentang kondisi Riki saat ini.
“Hasil pemeriksaan Pak Alvin dua hari lalu sudah keluar, dan hasilnya ... tidak terlalu menyenangkan untuk didengar,” kata Sinta.
Alvin mengerutkan keningnya. “Maksud kamu apa? Bukannya kesehatan kakak saya enggak ada masalah?” tanyanya.
Sinta tiba-tiba merasa bingung, padahal permasalahan kondisi kesehatan Riki yang kurang baik sudah dibeberkan pada keluarga Riki sejak enam bulan yang lalu. Tapi, dari sikap dan perkataan Alvin barusan, pria itu seolah tidak tahu apa-apa tentang kesehatan Riki yang tidak begitu baik.
“Apa Pak Damar sama Bu Ajeng enggak cerita soal Pak Riki yang terkena kanker otak?” Sinta bertanya dengan penuh kehati-hatian.
“Kanker otak?” lirih Alvin, ia tampak syok, begitu juga dengan Ayu yang ada di sampingnya. “Kamu enggak lagi bercanda sama saya, ‘kan?” tukasnya, masih sulit untuk percaya.
“Kalau Pak Alvin enggak percaya, Pak Alvin bisa cek sendiri hasil pemeriksaan Pak Riki dari enam bulan lalu,” papar Sinta.
“Enam bulan yang lalu?” gumam Alvin, seketika itu ia teringat kalau enam bulan yang lalu ia sempat pergi dari rumah karena cekcok dengan kedua orang tuanya.
“Kenapa Mama sama Papa enggak kasih tahu aku?” lirih Alvin, berbicara pada dirinya sendiri.
Sinta menghela napasnya pelan, lalu ia menatap ke arah Ayu yang tampak memandang kosong ke depan.
“Mbak Ayu,” panggil Sinta, yang sontak membuat Ayu menatap ke arahnya. “Saya sebenernya cukup berat kasih tahu hal ini ke Mbak Ayu. Saya juga bukannya mau buat hati Mbak Ayu sedih. Tapi, dari hasil pemeriksaan Pak Riki tadi, dokter bilang kalau usia Pak Riki udah enggak banyak lagi. Kanker Pak Riki udah sampai stadium akhir,” terang Sinta.
Tak ada lagi yang bisa Sinta tutupi. Karena menurut Sinta, semua orang harus tahu agar kemungkinan buruk yang terjadi di kemudian hari tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan. Setidaknya ... semua orang bisa menyiapkan hati mereka untuk menerima sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan akan terjadi.
“Apa yang barusan kamu bilang, Sinta?” tanya suara lain, dari arah pintu masuk rumah besar itu.
Sinta yang hafal dengan suara itu langsung menoleh, ia menatap ke arah dua orang paruh baya yang tampak syok mendengar perkataannya tadi.
“Kamu bilang umur putra saya enggak akan lama lagi?” tukas Pak Damar—ayah Alvin dan Riki. “Kamu berani bilang begitu tanpa bukti?!” imbuhnya.
“Pa, tenang, Pa,” ucap Bu Ajeng, mencoba menenangkan suaminya yang tampak sangat terpukul karena mendengar kabar tentang kondisi Riki saat ini.
“Bu Ajeng sama Pak Damar bisa temui langsung Dokter Hendra. Beliau sendiri yang bilang seperti itu ke saya. Beliau juga yang menyuruh saya untuk memberitahu semua keluarga Pak Riki tentang kondisi Pak Riki saat ini,” urai Sinta, menatap serius ke arah Pak Damar dan Bu Ajeng. “Kanker yang diderita Pak Riki sudah sampai di stadium akhir,” imbuhnya, dengan tatapan turut berduka cita.
“Enggak mungkin,” lirih Bu Ajeng sembari menggelengkan kepalanya pelan, wanita paruh baya itu merasa sulit untuk percaya dengan fakta yang ada.
Bu Ajeng benar-benar terlihat sangat sedih dan bahkan hampir luruh ke lantai jika saja Pak Damar tidak segera menopang tubuhnya.
“Pa, anak kita, Pa,” ujar Bu Ajeng, air matanya sudah terjun bebas membentur pipinya.
“Mama sama Papa udah tahu tentang kondisi Kak Riki dari enam bulan lalu, tapi kenapa Mama sama Papa enggak kasih tahu aku?” sahut Alvin, yang masih diselimuti emosi atas kekecewaannya pada sang ayah dan ibu yang tidak memberitahunya tentang kanker otak yang diderita Riki.
Pak Damar menatap putra bungsunya itu lekat, lalu ia menghela napasnya berat.
“Kamu enggak inget? Waktu itu kamu kabur dari rumah karena enggak mau turun jabatan jadi manajer di butik Edelweis,” tukas Pak Damar.
“Tapi setelah aku pulang, kalian ‘kan bisa kasih tahu aku,” balas Alvin, tak kalah keras.
Bu Ajeng tampak kian terisak melihat suami dan putra bungsunya itu berdebat.
“Pak Alvin, udah cukup, Mama sama Papa lagi sedih. Pak Alvin jangan tambah buat mereka makin sedih dengan sikap Pak Alvin ini,” nasihat Ayu, berusaha melerai situasi yang terasa kian genting.
“Diem kamu. Kamu enggak punya hak buat ikut campur masalah keluarga saya,” tukasnya.
“Alvin,” tegas sang ibu, yang tampak tidak suka dengan sikap kasar Alvin pada Ayu. “Ayu itu istri Riki, kamu enggak berhak bersikap kayak ‘gitu sama dia. Dia itu juga keluarga kita,” timpalnya, mampu membuat Alvin bungkam.
Kemudian, Bu Ajeng tampak menghela napasnya berat, mencoba membuang emosinya yang sempat singgah lekat di dalam hati.
Setelah merasa cukup tenang, Bu Ajeng kembali menatap putra bungsunya itu dengan sorot sendunya.
“Mama sama Papa minta maaf karena enggak kasih tahu kamu tentang kondisi Riki. Tapi kami berdua punya alasan kenapa kami enggak kasih tahu kamu,” kata Bu Ajeng.
“Alasan?”
“Mama sama Papa takut kalau kamu tahu tentang kondisi Riki, kamu pasti bakal salahin diri kamu sendiri. Kamu bakal mikir kalau Riki kayak ‘gini gara-gara kecelakaan sepuluh tahun lalu,” jelasnya.
Penjelasan Bu Ajeng barusan benar-benar membuat Alvin bungkam. Bahkan hati Alvin seketika itu terasa hatinya hancur lebur. Pandangan Alvin pun tiba-tiba terasa buram. Kenangan tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu benar-benar menjadi momok bagi diri Alvin. Pria itu menjadi tidak terkendali ketika isi kepalanya memutar kilas balik ke masa itu.
Napas Alvin bahkan terasa sesak, seperti sesuatu yang berat dan tajam tersangkut di tenggorokannya.
Tak ingin orang lain melihatnya kacau. Alvin langsung melenggang pergi begitu saja, meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan raut cemas, kecuali Ayu yang belum mengetahui tentang fakta sepuluh tahun lalu.