Salah Paham

1325 Kata
“Mas,” lirih Ayu, jantungnya sudah berdegup kencang lantaran takut jika Riki marah padanya. Walaupun faktanya, Riki yang memiliki masalah dengan otaknya itu sama sekali tidak akan paham dengan keambiguan yang sudah pria itu lihat dengan kedua matanya sendiri. “Kak, aku bisa jelasin,” sahut Alvin, sepertinya pria itu juga merasa bersalah pada kakaknya. “Apa yang perlu dijelasin?” tanya Riki, terlihat bingung, benar-benar seperti bocah polos yang tak tahu apa-apa. “Permisi.” Suara lain terdengar menginterupsi. Seorang wanita dengan seragam perawatnya berdiri di depan pintu. “Pak Riki harus minum obat dan istirahat,” katanya. Wanita itu adalah perawat pribadi Riki yang sudah bekerja selama lima tahun ini. Riki menoleh menatap perawat pribadinya itu sesaat. Tak lama setelah itu, ia kembali menatap Ayu yang masih terlihat cemas. “Ayu, Riki minum obat sama istirahat dulu, ya. Ayu bisa tolong jagain Alvin lagi, ‘kan? Nanti kalau Riki udah bangun, biar Riki yang gantian jagain Alvin,” ujar Riki. “Ta-tapi, Mas ....” Ayu tampak ingin menolak, tapi saat ia melihat manik mata Riki yang begitu polos, Ayu tak kuasa untuk menolaknya. “Riki ke kamar dulu, ya,” pamit Riki kemudian. Setelah itu, Riki melangkah pergi digandeng oleh perawatnya yang tampak begitu sabar merawat Riki sejak beberapa tahun lalu. Ayu mengembuskan napasnya berat. Jujur saja ia sedikit lega melihat suaminya itu sudah pergi dari hadapannya, karena bagaimanapun juga, Ayu tidak bisa melupakan fakta bahwa dirinya dan iparnya—Alvin—hampir saja menimbulkan skandal besar. “Semua gara-gara Pak Alvin,” tukas Ayu, tiba-tiba menuding Alvin dengan tatapan kesalnya. “Saya?” Alvin menunjuk dirinya sendiri dengan kening berkerut bingung. Bingung karena Ayu tiba-tiba menyalahkan dirinya. “Kenapa kamu tiba-tiba nyalahin saya?” tukasnya. Helaan napas Ayu kembali terdengar berembus berat. Tatapannya pun masih terlihat begitu tajam. “Kalau Bapak enggak tarik tangan saya, saya enggak akan jatuh kayak tadi,” oceh Ayu. “Atau ... jangan-jangan Pak Alvin sengaja ya tarik tangan saya? Pak Alvin mau ngelakuin tindakan asusila ke saya, ya?” tuding Ayu. Mata Alvin seketika itu melotot tajam saat Ayu menudingnya yang tidak benar. Apalagi dalam kamus seorang Alvin, melecehkan wanita adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lakukan. Ya, tidak akan pernah, kecuali khilaf. Tapi, dalam isi kepala Alvin, Ayu bukannya tipe wanita yang bisa membuatnya khilaf. Tubuh Ayu bahkan tidak cukup menarik untuk Alvin khayalkan. Terlebih lagi, Ayu adalah istri kakaknya. “Otak kamu itu terbuat dari apa sih? Dangkal banget mikirnya. Kamu pikir saya tertarik sama kamu? Kamu itu bukan tipe saya. Sekalipun Kak Riki ceraiin kamu dan kamu satu-satunya wanita di dunia ini, saya enggak akan ambil kamu jadi istri saya,” tukas Alvin, benar-benar terdengar tajam hingga membuat hati Ayu merasa ngilu karenanya. “Makasih atas komentar Bapak tentang saya,” balas Ayu, yang kemudian langsung melenggang pergi dari hadapan Alvin, sebelum pria itu kembali menahannya. “Kamu mau ke mana? Kamu masih harus rawat saya,” seru Alvin. Blam! Suara pintu yang sengaja ditutup keras oleh Ayu itu seketika membuat Alvin terlonjak kaget dan bungkam. Jantungnya bahkan seperti baru saja melompat bebas dari atas trampolin. * Ega, pria itu menatap buku tabungannya dengan raut frustrasi dan penuh kekesalan. “Ga, tolong kasih minuman itu ke pelanggan nomor empat,” suruh seorang pria yang merupakan bos di tempat Ega bekerja. Ya, sejak dua bulan lalu, setelah Ayu menikah dengan Riki—Ega mulai mencari pekerjaan untuk dirinya. Pria itu kini bekerja di salah satu kafe dekat sekolah menengah atasnya dulu. “Ga?” Panggilan itu kembali terdengar, Ega sepertinya terlalu larut dalam lamunannya, hingga membuat pria berusia dua puluh dua tahun itu tidak mendengar apa yang ada di sekitarnya. “Ega?” panggil sang bos, lagi. “I-iya?” Ega dengan segera berdiri dari duduknya, pria itu bahkan langsung menyimpan buku tabungannya agar tidak dilihat oleh orang lain. “Kamu ngelamun, ya?” tanya si bos. “Ma-maaf, Bang. Tadi saya ....” “Udah enggak perlu dijelasin, buruan kamu kasih pesanan itu ke pelanggan, pelanggan kita banyak hari ini,” kata si bos, menegur tanpa emosi. Ega diam, pria itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan bosnya barusan. Setelah bosnya melangkah masuk ke dalam, Ega lekas mengambil nampan berisi pesanan yang sudah disiapkan oleh bosnya tadi, lalu ia melangkah mendekati meja nomor empat, di mana di sana ada sepasang pria dan wanita yang tengah mengobrol ria. Sesampainya di meja nomor empat, Ega langsung meletakkan pesanan yang di pesan oleh pelanggan nomor empat itu dengan sopan santunnya. “Selamat menikmati,” ujar Ega, usai memberikan minuman yang dipesan oleh pelanggan nomor empat. “Ega?” ucap si wanita yang duduk di meja nomor empat itu. “Kamu Ega, ‘kan? Adeknya Ayu?” tanyanya. Mendengar nama kakaknya disebut, Ega langsung merasa gelisah. “Kamu udah gede ya ternyata,” lanjut wanita itu. “Maaf, mungkin Mbaknya salah orang,” jawab Ega, ia tidak mau berurusan dengan siapa pun yang mengenal dirinya dan Ayu. Wanita yang mengenali Ega itu tampak mengernyit, ia lantas menatap Ega semakin lekat. Meneliti wajah Ega, apakah ia benar-benar salah orang atau tidak. “Ga, tolong cek gudang, ya. Stok barang kita dateng hari ini,” seru si bos dari depan pintu area dapur. Ega yang tadinya dibuat cemas oleh wanita di meja nomor empat itu, ia akhirnya bisa bernapas lega berkat si bos. “Saya permisi, Mas, Mbak. Silakan dinikmati hidangannya,” pamit Ega, yang kemudian langsung melangkah pergi tanpa mau menatap ke arah wanita yang mengenali dirinya dan Ayu itu. Namun, kepergian Ega masih menyisakan rasa penasaran di hati si wanita. Ia bahkan masih menatap jejak Ega yang sudah lenyap ditelan dinding pembatas. “Lo kenal sama cowok tadi, Ver?” tanya seorang pria yang duduk di samping wanita itu. “Kayaknya sih iya. Dia mirip sama adeknya temen gue pas SMP dulu,” kata wanita itu—Vera. “Si Ayu, ya? Dulu lo sering banget cerita tentang dia, gue sampai penasaran sama orangnya,” kata si pria, yang merupakan tunangan Vera. Vera mengulas senyumnya tipis. “Gue juga penasaran sama kabarnya dia,” lirih Vera seraya menatap sendu ke arah minumannya. * “Mas,” panggil Ayu, yang baru saja masuk ke dalam kamar suaminya. “Mas, aku enggak mau rawat Pak Alvin lagi. Dia itu ....” Perkataan Ayu terhenti saat ia melihat gelagat Riki tampak aneh dan membuatnya curiga. “Mas, kamu kenapa?” tanya Ayu, alisnya berkerut penasaran menatap suaminya yang tampak sengaja memunggungi dirinya. “Ayu keluar. Ayu jangan masuk kamar,” suruh Riki, berusaha terdengar tegas, tapi Ayu bisa merasakan ada kegelisahan pada suara Riki barusan. “Mas, tatap aku,” pinta Ayu, yang sudah berada di belakang Riki. “Mas, hadap sini, lihat aku,” desaknya sembari menarik tangan Riki agar pria itu segera berbalik menghadapnya. Riki berusaha memberontak, tapi pria itu tak kuasa melawan Ayu yang sudah kepalang kasar padanya. Pada akhirnya, Ayu berhasil membuat tubuh Riki menghadap ke arahnya. Dan tepat saat itu, Ayu tampak sangat terkejut mendapati hidung suaminya mengeluarkan banyak darah. “Astaghfirullah. Mas, kamu mimisan,” panik Ayu, yang kemudian langsung mengambil tisu di atas nakas terdekatnya dan membantu Riki untuk menyumpal hidungnya dengan tisu itu, juga menyeka darah yang terlanjur mengotori tangan Riki. “Kamu kenapa sembunyiin ini dari aku, Mas? Dari kapan kamu mulai mimisan kayak ‘gini? Jangan bilang kemarin-kemarin kamu juga mimisan kayak ‘gini tapi enggak mau bilang sama aku, iya?” oceh Ayu. “Kamu udah berani marahin kakak saya?” tukas suara lain, dari arah pintu kamar. Ayu yang saat itu sedang sibuk membantu Riki menyumbat hidungnya, ia terpaksa menoleh ke belakang, menatap sosok Alvin yang ternyata menyusul dirinya. “Pak Alvin ....” Belum sempat Ayu berbicara, Alvin tiba-tiba berlari kecil mendekati Riki dengan raut cemasnya. Ya, Alvin melihat darah yang ada pada tisu, dan berpikir kalau kakaknya mungkin terluka. “Kamu apain kakak saya?!” amuk Alvin, menatap Ayu dengan sorot tajamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN