Ketika Alvin Sakit

2260 Kata
Ayu tersenyum tipis menatap masakannya yang sudah tersaji di atas meja. Akhirnya setelah berkutat sejak subuh tadi ia berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri. “Ayu udah selesai masak?” tanya Riki, yang baru turun dari lantai atas. Ayu menoleh, lalu mengangguk dan tersenyum simpul pada suaminya itu. “Duduk, Mas,” suruh Ayu sembari menarik salah satu kursi agar Riki—suaminya itu—duduk di tempatnya. “Makasih, Ayu,” ucap Riki, balas tersenyum dan duduk di kursi yang Ayu siapkan untuknya. “Alvin belum bangun?” tanya Riki, menatap sekitarnya seraya mencari sosok Alvin yang tidak ada di sana. “Biasanya Alvin selalu bangun duluan,” lanjutnya. “Mungkin Pak Alvin capek, Mas. Makanya dia bangun siang,” terka Ayu. “Mas sarapan aja, nanti Pak Alvin pasti juga bakal ke sini kok buat sarapan. Mas Riki enggak usah khawatir, Pak Alvin itu bukan tipe orang yang suka ninggalin jadwal sarapannya,” urai Ayu, mencoba menenangkan suaminya agar tidak perlu cemas pada Alvin hanya karena pria itu belum terlihat muncul di ruang makan. Riki menghela napasnya pelan, lalu mengangguk menuruti perkataan istrinya itu. Tapi, ketika Riki baru saja ingin menyuapkan sarapannya ke dalam mulut, tangan pria itu tiba-tiba berhenti bergerak. Ayu yang duduk di sampingnya pun tampak mengernyit bingung menatap suaminya itu heran. “Ada apa, Mas?” tanya Ayu. “Riki khawatir sama Alvin. Perasaan Riki enggak enak,” kata Riki, yang kemudian langsung meletakkan sendoknya ke atas piring kembali. Setelah itu, Riki tiba-tiba bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari sana. “Mas mau ke mana? Mas Riki belum makan sarapan ....” “Bangunin Alvin,” sela Riki sambil menatap ke arah lantai atas di mana kamar Alvin berada. “Riki mau bangunin Alvin,” timpalnya. Ayu mengembuskan napasnya berat, kemudian ia menatap suaminya itu lekat. Dari raut wajahnya, Ayu terlihat tidak senang dengan sikap Riki yang tampak berlebihan dalam mencemaskan Alvin. Tapi sekalipun begitu, Ayu tidak bisa menunjukkan ekspresi kesalnya, karena ia bisa membuat Riki sedih jika dirinya terlihat kesal pada pria itu. Sekali lagi, Ayu hanya bisa menghela napasnya berat, mencoba membuang suasana hatinya yang terasa tak menyenangkan. “Gini aja, biar aku yang bangunin Pak Alvin. Mas Riki lanjut aja sarapannya, ya?” tawar Ayu. “Tapi ....” “Mas, aku udah capek masak dari subuh tadi loh, nanti kalau udah dingin pasti Mas Riki enggak mau makannya. Jadi, mending sekarang Mas Riki selesaiin sarapan Mas. Soal Pak Alvin biar aku yang urus,” cakapnya, terdengar cukup tegas. Riki awalnya tampak tidak setuju, tapi akhirnya pria itu terlihat menganggukkan kepalanya pelan, pertanda kalau ia setuju dengan saran Ayu barusan. “Tapi janji sama Riki, kalau Alvin belum bangun, Ayu harus bangunin Alvin pelan-pelan. Jangan bentak Alvin atau pukul Alvin, pokoknya jangan bangunin Alvin pakai cara kasar,” mohon Riki. Ayu mengulas senyumnya paksa, dia mencoba terlihat tidak masalah dengan permohonan Riki yang terdengar berlebihan itu. Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Ayu sudah merasa sangat frustrasi dengan sikap Riki yang terlalu baik dan memanjakan adik tunggalnya itu. Bahkan dalam kondisi Riki yang seperti sekarang ini, pria itu masih berusaha menjadi sosok kakak yang luar biasa untuk adiknya yang terkadang sangat menyebalkan. “Iya, Mas. Aku janji,” kata Ayu, menanggapi permintaan Riki dengan terpaksa. “Ya udah, Mas Riki lanjutin sarapannya. Aku ke kamar Pak Alvin dulu,” imbuhnya. Setelah berkata seperti itu, Ayu lekas melangkah menuju tangga yang terhubung ke lantai dua rumah itu. Ayu terlihat menaiki satu demi satu anak tangga dengan raut tidak ikhlasnya. Selang beberapa saat kemudian, kaki Ayu akhirnya berpijak tepat di depan pintu kamar Alvin. Untuk beberapa saat, Ayu berdiam diri di sana, bahkan tangannya yang ingin mengetuk pintu kamar pun hanya tampak menggantung di udara tanpa berniat menyentuhkannya pada pintu kayu di depannya itu. Tiga menit sudah berlalu, dan Ayu masih terlihat enggan mengetuk pintu kamar itu, apalagi sebelumnya ia tidak pernah sekalipun menyentuh pintu kamar Alvin, hal itu tentu saja membuat Ayu—sebenarnya—merasa sangat tidak nyaman. Tapi, demi menghilangkan kecemasan dan kegelisahan hati suaminya—yang nyatanya tidak bisa tenang kalau belum melihat langsung keadaan Alvin pagi ini, Ayu akhirnya dengan terpaksa mendaratkan tangannya pada pintu kamar Alvin. Ayu mengetuk pintu kamar Alvin beberapa kali, tapi setelah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar itu, Ayu sama sekali tidak mendapatkan respons apa pun dari dalam sana. Ayu hampir menyerah dan ingin kembali ke ruang makan untuk memberitahu Riki kalau Alvin sepertinya masih tertidur pulas. Tapi, saat Ayu baru saja melangkah pergi dua hasta dari depan kamar Alvin, wanita itu tiba-tiba mendengar ada suara keras seperti benda terjatuh dari dalam sana. Suara itu terdengar cukup keras hingga membuat Ayu sedikit terkejut karenanya. Kaki Ayu pada akhirnya kembali melangkah mendekati pintu kamar Alvin lagi. Bahkan, tanpa sadar tangan Ayu sudah memutar handle pintu kamar Alvin yang ternyata tidak dikunci oleh si empunya kamar. Saat pintu kamar itu terbuka, Ayu melihat kondisi kamar Alvin tampak gelap bagai sebuah ruang tak bercahaya. Perlahan, Ayu melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan rasa cemasnya. Ayu cemas kalau Alvin akan marah padanya karena ia sudah lancang masuk ke dalam kamar iparnya itu tanpa permisi. Tapi sekalipun Ayu takut mendapat amukan dari Alvin, Ayu juga tidak bisa keluar begitu saja, karena ia tetap harus melihat kondisi Alvin demi suaminya. “Pak Alvin?” panggil Ayu sembari menatap sekitarnya yang benar-benar masih tampak gelap. “Maaf saya sudah lancang masuk ke kamar Pak Alvin tanpa izin dari Bapak. Itu ... Mas Riki khawatir kalau Pak Alvin kenapa-kenapa, jadi saya datang ke sini buat periksa Pak Alvin. Pak Alvin baik-baik aja, ‘kan?” tanyanya, masih mencari keberadaan Alvin yang ternyata tidak ada di atas kasurnya. “Pak Alvin?” Suara Ayu terdengar menggema pelan. Ia masih mencari keberadaan Alvin yang entah ada di mana. Akhirnya, karena sudah tidak sabar lagi mencari sosok Alvin dalam kegelapan. Ayu pun dengan cepat menghidupkan lampu kamar tersebut. Dan, saat itulah Ayu mendapati sosok Alvin terbaring lemas di atas lantai. Pandangan mata pria itu tampak kabur, wajahnya pun terlihat pucat pasi. Alvin sepertinya tidak dalam kondisi baik. Ayu yang melihatnya langsung melangkah cepat mendekati Alvin, ia dengan segera membantu Alvin yang sepertinya terjatuh dari tempat tidurnya itu untuk kembali naik ke atas kasur lagi. Setelah membantu Alvin naik ke atas ranjangnya kembali. Ayu secara refleks menyentuh kening Alvin untuk memeriksa suhu tubuh pria itu. Dan siapa sangka kalau suhu tubuh Alvin terasa panas sampai membuat Ayu merasa telapak tangannya seperti tersengat kompor yang baru ia panaskan. “Ayu, Alvin kenapa?” tanya Riki, yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar adiknya itu. “Mas Riki.” Ayu menoleh, menatap suaminya yang kini sudah melangkah masuk mendekati tempat tidur Alvin. “Riki udah habisin sarapan Riki,” kata pria itu, tidak ingin Ayu marah jika ia tidak menyelesaikan sarapannya. Ayu menghela napasnya pelan, sekarang hal itu bukan sesuatu yang penting bagi Ayu. Karena wanita itu entah kenapa seketika merasa cemas dengan kondisi Alvin saat ini. “Mas, Pak Alvin demam. Badannya panas banget, mungkin sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit,” cakap Ayu. “Jangan bawa aku ke rumah sakit,” sahut Alvin, yang sebenarnya sejak tadi mendengar apa yang terjadi di sekitarnya, tapi karena tubuhnya terasa lemas, Alvin hanya bisa memejamkan matanya dan tak banyak merespons. “Tapi Alvin harus dirawat sama dokter. Kalau Alvin enggak mau dirawat ke rumah sakit, Riki telepon Papa sama Mama, Riki kasih tahu mereka kalau Alvin sakit,” kata Riki, terdengar seperti sebuah ancaman. Alvin menghela napasnya berat, pria itu kemudian tampak memijat pelipisnya yang terasa pening dan berdenyut kuat. “Kak, aku enggak mau buat mereka khawatir. Jadi tolong jangan ....” “Mas Riki cuma khawatir sama Pak Alvin. Lagian Pak Alvin kenapa harus pura-pura kuat kalau memang lagi sakit. Kalau misal nanti Pak Alvin kenapa-kenapa, justru Pak Alvin malah buat keluarga Pak Alvin makin khawatir,” oceh Ayu. Alvin bungkam, ini kali pertamanya ia mendapat ocehan keras saat dirinya sedang sakit. Pria itu pasti sangat terkejut. “Kalau Alvin enggak mau dirawat di rumah sakit sama dokter. Alvin dirawat di rumah aja sama Ayu,” usul Riki. “Riki pernah demam, dan Ayu rawat Riki sampai sembuh. Jadi, kalau Ayu rawat Alvin, pasti nanti Alvin bisa sembuh juga,” paparnya. Mata Ayu tampak membeliak kaget mendengar saran dari suaminya itu. “Aku enggak bisa, Mas.” Ayu benar-benar tidak setuju, karena bagaimanapun juga, Alvin dan Riki memiliki status yang berbeda dalam kehidupannya. Riki adalah suaminya, jadi sudah seharusnya ketika pria itu sakit maka Ayu akan merawatnya. Sedangkan Alvin, dia hanyalah ipar Ayu, yang sudah seharusnya Ayu hindari agar tidak ada fitnah di antara mereka. Hanya saja, Riki yang sepertinya sangat polos dan lugu itu sama sekali tidak mengerti dengan situasi seperti ini. “Oke, setuju,” kata Alvin tiba-tiba. Pandangan Ayu langsung beralih ke arah Alvin, wanita itu menatapnya dengan sorot tajam. “Aku bukan istrimu, kenapa aku harus merawatmu?” tukas Ayu, yang bahkan tidak lagi menggunakan nada sopan santunnya sebagai atasan dan bawahan. “Tapi Kak Riki, maksud aku suami kamu nyuruh kamu buat rawat aku,” balas Alvin. “Bukannya perintah suami harus kamu turuti biar kamu dapet pahala?” imbuhnya, benar-benar terdengar licik. Bahkan, Ayu bisa melihat sudut-sudut bibir Alvin tampak terangkat membentuk sebuah seringaian. Ayu mendengus sebal, ia tidak bisa menyangkal apa yang Alvin katakan barusan. “Kalau Ayu enggak bisa rawat Alvin, biar Riki aja yang rawat Alvin ....” “Eh, enggak usah, Mas. Mas Riki istirahat aja, lagian hari ini Mas Riki harus pergi ke rumah sakit. Mas ‘kan ada jadwal kontrol sama dokter,” kata Ayu, dengan senyum hangatnya. Ya, wanita itu memang sudah berkomitmen untuk patuh pada suaminya yang padahal tidak bisa memberinya nafkah, untungnya orang tua Riki mau menyokong kebutuhan rumah tangga Riki dan Ayu sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap Ayu yang harus menikah dengan Riki. “Ayu enggak marah ‘kan sama Riki?” Dengan senyumannya Ayu menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berkata dengan nada lembutnya, “Enggak kok, Mas,” jawab Ayu, walaupun hatinya sebenarnya sangat tidak rela jika ia harus merawat seorang Alvin yang pastinya akan sangat merepotkan. * “Aku mau mandi,” kata Alvin, setelah melihat Ayu yang baru saja kembali dari dapur usai mencuci piring bekas sarapan Alvin. Ayu mendongak, menatap iparnya itu dengan raut datar tanpa ada ekspresi yang terpancar. “Aku mau mandi,” ulang Alvin. “Mandi tinggal mandi, kenapa harus laporan sama aku. Lagian enggak ada yang larang Bapak buat mandi kok,” sewot Ayu sembari meletakkan segelas air mineral di atas nakas dekat tempat tidur Alvin. “Aku lagi sakit,” kata Alvin. “Terus?” “Bantu aku mandi,” ujarnya, yang sontak membuat Ayu melotot tajam pada sosok iparnya itu. “Kamu udah enggak waras, ya? Aku ini ipar kamu, bukan istri kamu. Gila aja bantuin kamu mandi,” oceh Ayu seraya membuang mukanya ke sembarang tempat lantaran terlalu emosi untuk melihat wajah Alvin yang rasanya sangat menyebalkan untuk dilihat. Berbeda dengan Ayu yang sepertinya sangat kesal dengan tingkah Alvin, tapi Alvin sepertinya justru menikmati setiap waktu yang ia lewati bersama Ayu, pria itu merasa puas karena berhasil membuat Ayu terlihat sangat kesal dan tampak harus menahan diri agar tidak marah padanya. “M*sum,” komentar Alvin. Ayu langsung menatap ke arah pria itu lagi. “Siapa yang kamu panggil m*sum, hah?” tukasnya. “Kamu,” jawab Alvin, kini ia dengan sengaja memasang wajah dinginnya di hadapannya Ayu. “Yang m*sum itu kamu bukannya aku,” sergah Ayu, tak terima dituding seperti itu oleh seorang Alvin yang selalu berhasil membuat ubun-ubunnya terus-menerus terasa mendidih. “Aku tahu isi otak kamu, Ayu. Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak, ‘kan? Padahal aku cuma minta kamu buat bantuin aku mandi, maksudnya siapin aku handuk, air hangat, baju yang mau aku pakai, dan juga bantu aku jalan ke kamar mandi,” cakap Alvin. “Emangnya isi otak aku apa, huh? Lagian demam kamu udah agak turun, jalan ke kamar mandi sendiri harusnya udah bisa,” balas Ayu, tak kalah kerasnya. Alvin mengembuskan napasnya berat, ia lantas berdiri dari duduknya dan kini saling beradu mata dengan Ayu yang ada di hadapannya. “Kak Riki suruh kamu rawat aku, jadi kamu harus rawat aku sampai aku sembuh total,” tegasnya. “Sekalipun kamu enggak suka, kamu harus tetap rawat aku,” tukas Alvin. “Kamu itu emang hobi banget ya manfaatin orang,” cibir Ayu. “Mentang-mentang Mas Riki kakak kamu, terus kamu manfaatin dia buat kendaliin aku, iya?” imbuhnya dengan senyum miris yang terlihat meremehkan Alvin. “Aku udah selesai rawat kamu,” tukas Ayu, yang kemudian berniat pergi dari dalam kamar Alvin, tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi dalam sekejap mata. Alvin tiba-tiba menarik lengan Ayu cukup kuat, hingga membuat perempuan itu tersentak kaget, Ayu bahkan kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke atas kasur. Nahasnya, tubuh Alvin juga tidak mendapatkan keseimbangan penuh, akhirnya pria itu ikut terjatuh dan menimpa tubuh Ayu yang ada di bawahnya. Posisi keduanya saat ini terlihat sangat ambigu, orang normal yang melihatnya pasti akan berpikir kalau keduanya tengah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Apalagi ketika kedua netra mereka saling bertubrukan, rasanya tidak ada penolakan dari hati mereka untuk lekas bangkit, mereka seakan sudah terbuai dalam binaran mata masing-masing. Sampai kemudian .... “Alvin, Ayu. Kalian lagi ngapain?” Suara itu menginterupsi Ayu dan Alvin untuk lekas mengubah posisi mereka. Keduanya seketika itu bangkit dan berdiri tegap dengan kepala menunduk di depan Riki yang baru saja kembali dari rumah sakit bersama perawat pribadinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN