Posesif

1468 Kata
“Mas mau ke mana?” tanya Ayu, menatap Alvin seperti seseorang yang tengah menangkap basah pencuri. “Kerja,” jawab Alvin. “Kerja? Tapi kamu masih sakit, Mas,” ujar Ayu, langsung melangkah mendekati Alvin dan berdiri tegas di depan suaminya itu. “Mas enggak boleh berangkat kerja, hari ini Mas izin sakit aja,” suruhnya. “Tapi hari ini aku ada rapat. Aku harus masuk kerja,” tolak Alvin. Ayu menghela napasnya berat. “Aku enggak mau tahu, pokoknya Mas masih sakit, dan Mas enggak boleh berangkat kerja,” kekeh Ayu. “Tapi aku harus kerja biar bisa nafkahin kamu,” ujar Alvin, mencari alasan agar istrinya itu membiarkannya pergi. Berbicara tentang nafkah, Ayu tentu tidak bisa memprotesnya. Tapi, demi kesehatan suaminya, Ayu sepertinya akan tetap bersikeras melarang Alvin pergi dari rumah. Apalagi pria itu belum sembuh sepenuhnya. Alvin masih membutuhkan istirahat lebih agar kondisi tubuhnya kembali sehat. “Ya ‘kan cuma izin sehari aja, Mas. Lagian Mas enggak masuk kerja bukan karena kemauan Mas, tapi karena Mas memang butuh istirahat, Mas lagi sakit,” tukas Ayu, masih bersikeras menyuruh suaminya untuk absen. “Kalau Mas maksa buat kerja, dan nanti Mas tambah sakit ‘gimana? Mas kena hujan dikit aja langsung demam, nanti capek dikit bisa demam lagi,” ocehnya. “Aku enggak selemah itu, Ayu,” sewot Alvin. “Buktinya semalem Mas kena gerimis aja langsung demam,” balas Ayu, skakmat. Alvin diam, ia tidak bisa mengelak karena apa yang Ayu katakan memang benar. Tapi sebelumnya Alvin memang tidak pernah selemah ini. Bahkan hujan badai pun Alvin yakin tidak akan pernah bisa membuatnya tumbang. “Buruan masuk kamar,” suruh Ayu kemudian. “Ha?” Alvin tampak bingung. “Masuk kamar sekarang juga, Mas harus istirahat,” ulang Ayu, memperjelas perintahnya yang seolah tidak ingin dibantah. “Tapi aku—” “Nanti aku telepon Papa kalau Mas lagi sakit, dan Mas izin enggak masuk kerja,” kata Ayu sembari mendesak tubuh Alvin agar kembali naik ke lantai atas, tempat di mana kamar mereka berada. “Iya, iya, aku ke kamar sekarang juga, kamu jangan dorong-dorong aku kayak ‘gitu, nanti aku bisa ja—” “Mas!” pekik Ayu saat ia melihat tubuh Alvin kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh membentur lantai. Ayu pun dengan cepat menahan tubuh suaminya itu agar tidak jatuh, tapi karena tubuh Alvin jauh lebih besar dan tinggi darinya, Ayu kehilangan keseimbangannya juga. Pada akhirnya, Ayu justru jatuh menimpa tubuh Alvin yang ada di bawahnya. “Aw,” ringis Alvin, merasa ngilu di bagian punggungnya. “Ya ampun, kalian ini kayak pengantin baru aja, mesra-mesraan di sembarang tempat,” komentar sebuah suara. “Kalau mau buat bayi tuh di kamar, untung Mama enggak dateng pas kalian udah ... ah aduh bikin malu aja, Mama sampai enggak bisa bayanginnya,” celoteh wanita paruh baya itu. Ayu dan Alvin langsung menoleh ke sumber suara itu berasal. Mama Ajeng, wanita paruh baya itu berdiri tak jauh dari mereka. “Mama,” lirih Ayu, kemudian langsung bangkit dari atas tubuh Alvin yang tak sengaja ia timpa. Sedangkan Alvin, ia masih berada di posisinya, pria itu sepertinya kesulitan berdiri sendiri. “Mas, kamu enggak pa-pa?” tanya Ayu, ia kembali berjongkok dan membantu suaminya itu untuk berdiri tegap. Setelah berdiri, Alvin terlihat sedikit meringis sakit sembari memegangi pinggangnya yang terasa agak kaku. “Pinggang kamu kenapa, Mas? Keseleo, ya?” tanya Ayu. “Coba sini aku lihat,” ujarnya, hendak membuka kemeja yang Alvin kenakan. Namun, dengan cepat Alvin mencegah tindakan istrinya itu. “Dia enggak pa-pa, Yu. Kamu tenang aja, Alvin enggak selemah itu kok,” sahut Mama Ajeng. “Iya ‘kan, Vin?” imbuhnya, meminta pendapat putranya itu sembari tersenyum penuh arti. Alvin menghela napasnya pelan, kemudian dengan sangat terpaksa ia mencoba mengabaikan rasa ngilu yang terasa meremas kuat pinggangnya. Alvin berpura-pura baik-baik saja agar Ayu tidak memandangnya lemah. “Iya, aku enggak pa-pa,” bohongnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Oh, ya, Mama kenapa ada di sini? Mama kebiasaan deh, tiba-tiba dateng tanpa kasih tahu aku,” ujar Alvin pada ibunya, ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan. “Mama tiba-tiba kepikiran kamu dari semalam, jadi ya Mama dateng ke sini. Emangnya Mama enggak boleh dateng ke rumah anak Mama sendiri?” tukas sang ibu. “Bukan enggak boleh, tapi ngerusak privasi aku,” balas Alvin. “Udah ah, aku mau ke kamar dulu,” lanjutnya, yang kemudian langsung melangkah pergi menuju lantai atas. “Kamu mau ke mana? Bukannya kamu mau berangkat kerja?” tanya Mama Ajeng. “Hari ini aku izin enggak kerja,” jawab Alvin. “Loh? Kenapa? Kamu mau bolos kerja, ya?” tuding sang ibu. “Enggak dibolehin kerja sama Ayu,” ujarnya, terdengar seperti sedang mengadu pada ibunya itu. Mama Ajeng sontak langsung menoleh ke arah Ayu, menatap menantunya itu dengan raut penuh tanya. Ayu tersenyum canggung, di dalam hatinya ia sudah mengumpat pada suaminya yang ia tahu sengaja mengadu pada Mama Ajeng. “Mas Alvin lagi sakit, Ma. Jadi aku enggak izinin dia berangkat kerja,” terang Ayu. “Alvin sakit?” “Iya, semalem demam tinggi gara-gara kehujanan,” jelasnya. “Alvin sakit gara-gara kehujanan?” Bingung Mama Ajeng. “Enggak biasanya dia selemah itu fisiknya, bahkan dulu dia pernah kehujanan selama berjam-jam tapi masih oke-oke aja tuh,” cakap Mama Ajeng. “Mungkin Mas Alvin emang lagi kurang fit karena capek, Ma. Makanya kena hujan dikit aja langsung demam,” kata Ayu. “Tapi kok Alvin bisa kehujanan? Bukannya dia bawa mobil?” “Em ... sebenernya kemarin Mas Alvin jemput aku di rumahnya Ega. Kebetulan di depan rumah itu tempat untuk parkir mobilnya udah dipakek sama tetangga, jadi mobilnya Mas Alvin diparkir agak jauh dari rumah,” jelas Ayu. “Kan bisa pakai payung, Alvin biasanya selalu siapin payung di mobilnya,” kata Mama Ajeng. “Payungnya ... payungnya diarahin ke aku, Ma. Jadi ... Mas Alvin masih kena air hujan walaupun enggak basah kuyup,” papar Ayu. “Maaf, Ma. Gara-gara aku, Mas Alvin jadi kehujanan dan demam,” lirihnya. Mama Ajeng mengembuskan napasnya pelan, tapi kemudian wanita paruh baya itu justru tersenyum lebar. “Dasar bucin,” gumam Mama Ajeng. “Ya?” Ayu bingung mendengarnya. “Eh, enggak. Mama lagi ngomongin Alvin, dia kayaknya sekarang makin kesemsem sama kamu,” goda Mama Ajeng. Namun Ayu sepertinya masih belum paham dengan maksud candaan Mama Ajeng barusan. Ayu terlihat menatap ibu mertuanya itu dengan raut bingungnya. Mama Ajeng terkekeh kecil melihat wajah polos Ayu yang tampak menatapnya bingung. Kemudian, wanita paruh baya itu mencoba mengalihkan pembicaraannya agar Ayu merasa lebih nyaman. “Oh, ya, kamu ngapain ke rumah adek kamu? Dia enggak ada ganggu kamu, ‘kan?” “Eng-enggak kok, Ma. Aku ... aku cuma tiba-tiba pengen dateng ke sana,” jawab Ayu, padahal sejujurnya ia datang ke tempat Ega dengan tujuan untuk menenangkan hatinya yang saat itu masih kesal dengan Alvin. Mama Ajeng mengangguk paham. “Em ... anu, Ma. Aku permisi dulu, mau siapin sarapan buat Mas Alvin. Mama duduk dulu aja, nanti biar aku buatin sarapan untuk Mama juga. Mama belum sarapan, ‘kan?” “Eh, enggak usah, soalnya Mama cuma mau mampir bentar, Mama mampir karena mau kasih ini nih,” cakap Mama Ajeng sembari memberikan sebuah tas berisi kotak makan yang tampak cukup besar. “Awas panas,” lanjutnya saat Ayu menerima tas yang mirip seperti totebag itu. “Ini apa, Ma?” tanya Ayu sembari mengintip ke dalam tas yang terasa sedikit agak berat. “Sup ayam, Alvin biasanya kalau lagi sakit suka banget minta buatin makanan itu. Semalem Mama tiba-tiba kepikiran mau buatin dia. Mungkin karena dia lagi demam, dan Mama sebagai ibunya secara enggak langsung bisa rasain kalau dia lagi sakit,” kata Mama Ajeng, “Makasih banyak, Ma. Mas Alvin pasti seneng bisa makan masakan Mama pas dia lagi sakit,” ucap Ayu. Mama Ajeng tersenyum mendengarnya. “Ya udah, Mama langsung pulang, ya. Soalnya tadi Mama minta Papanya Alvin buat tunggu di depan, takutnya nanti kalau kelamaan dia bisa ngambek,” kata Mama Ajeng bersama candaannya. Ayu balas tersenyum dan mengangguk singkat. “Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Salam buat Papa, dan makasih banyak udah repot-repot buatin sup untuk Mas Alvin.” “Iya, sama-sama. Oh, ya. Kamu juga makan supnya, ya. Soalnya Mama buat banyak untuk kalian berdua,” ujar Mama Ajeng. “Ya udah, Mama pamit, kamu enggak usah nganter ke depan, nanti biar pintunya Mama kunci pakek kunci cadangan. Kamu tolong rawat Alvin, ya. Maafin dia kalau sikapnya agak manja dan buat kamu kerepotan,” lanjutnya. Ayu tersenyum simpul sembari berkata, “Iya, Ma.” “Makasih,” ucap Mama Ajeng. Setelah itu, Mama Ajeng melenggang pergi dari hadapan Ayu, menyisakan Ayu yang kini terlihat menatap ke lantai atas sembari menghela napasnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN