Alvin bergerak gelisah, tidurnya terlihat tidak nyaman. Ayu yang tidur di sampingnya pun terusik dengan tingkah suaminya itu.
Ayu lantas memutar tubuhnya, melihat suaminya yang tampak terpejam namun sama sekali tidak bisa diam.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Ayu, menatap suaminya heran.
Ayu mengubah posisinya, kini ia duduk menghadap lurus ke arah suaminya yang masih terpejam.
“Ayu,” lirih Alvin, kelopak matanya sayu-sayu terbuka perlahan.
“Iya, aku di sini, Mas,” jawab Ayu.
Alvin kemudian menoleh, menatap Ayu yang tengah memperhatikannya.
“Kepala aku pusing,” keluhnya dengan suara yang terdengar sedikit serak.
Ayu menatap Alvin lekat, dan saat itulah Ayu sadar kalau kening suaminya itu sudah dibanjiri keringat yang seharusnya tidak mungkin Alvin kepanasan karena AC di kamar mereka hidup dengan suhu enam belas derajat celcius.
Tangan Ayu sontak bergerak mengecek suhu Alvin yang memang terasa panas.
“Mas, kamu demam,” lirih Ayu, wajahnya seketika itu berubah panik. “Aku ambil air dingin dulu buat kompres kamu, ya,” katanya.
“Jangan,” cegah Alvin, menahan lengan Ayu, agar istrinya itu tidak pergi dari sisinya. “Jangan pergi,” pintanya seraya menatap Ayu dengan raut memelasnya.
“Bentar aja, Mas,” cakap Ayu.
Alvin menggelengkan kepalanya pelan, lalu pria itu bergerak mendekati Ayu, kemudian tiba-tiba ia merengkuh tubuh Ayu erat. Alvin membenamkan wajahnya pada perut Ayu, menikmati kehangatan tubuh Ayu yang padahal justru membuat tubuhnya terasa semakin gerah.
“Mas, aku harus ambil obat buat kamu, kamu juga harus dikompres biar demam kamu turun,” kata Ayu, berusaha melepaskan pelukan Alvin yang terasa semakin erat.
“Mas,” desak Ayu, meminta Alvin untuk melepaskannya sebentar saja.
Alvin akhirnya dengan terpaksa melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya itu dengan pandangannya yang tampak sayu.
“Jangan lama-lama,” ujar Alvin.
“Iya,” ucap Ayu.
Ayu kemudian turun dari atas kasur, lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin yang kembali berbaring di atas tempat tidurnya.
* * *
Selang beberapa saat kemudian, Ayu kembali ke kamar dengan membawa kotak obat dan juga baskom berisi air dingin.
Ayu melangkah mendekati suaminya yang tampak terpejam dengan kening berkerut, seolah menggambarkan kalau pria itu tidur dengan rasa sakit yang menemaninya.
Ayu lantas meletakkan kotak obat yang ia bawa dan juga baskom berisi air dingin serta handuk kecil itu ke atas nakas, dekat tempat tidur Alvin.
Sejenak, Ayu mengecek suhu Alvin dengan punggung tangannya.
Rasa panas masih terasa menjalar di punggung tangan Ayu.
Ayu menghela napasnya pelan, lalu ia mengambil handuk kecil yang ada di baskom berisi air dingin itu.
Ayu memeras handuk itu perlahan, kemudian menempelkannya pada kening Alvin.
Alvin bergerak gelisah saat ia merasakan hawa dingin yang terasa menyelimuti keningnya.
“Tenang, Mas. Aku lagi kompres kening kamu,” bisik Ayu.
Tak lama setelah Ayu berbicara seperti itu, Alvin pun kembali tenang.
“Mas, bangun bentar, ya? Minum obat dulu, biar panas Mas turun, biar Mas juga enggak pusing lagi,” kata Ayu kemudian.
Perlahan, Alvin membuka matanya. Tatapan matanya yang tampak sayu itu memandang Ayu lemas.
Ayu mengulas senyumnya tipis, lalu membantu suaminya itu untuk bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
Setelah Alvin duduk, Ayu lekas mengambilkan parasetamol dari dalam kotak obat yang dibawanya tadi. Kemudian, ia memberikan obat itu pada Alvin.
“Ini Mas diminum obatnya,” kata Ayu seraya memberikan satu butir obat dan juga segelas air mineral kepada suaminya itu
Alvin meminumnya sesuai perintah sang istri. Setelah meminum obat itu, Alvin kembali membaringkan tubuhnya sembari menatap Ayu dengan senyum lemahnya.
“Makasih,” ucap Alvin, pelan.
“Iya,” jawab Ayu. “Mas lanjut tidur aja, biar aku kompres Mas,” katanya.
Alvin mengangguk lemah, lalu matanya kembali terpejam. Tak butuh waktu lama, Alvin sudah terjun ke alam bawah sadarnya.
Sedangkan Ayu, wanita itu masih setia mengompres kening suaminya.
Bahkan ketika malam semakin larut, Ayu masih terjaga untuk memastikan suhu tubuh Alvin tidak kembali tinggi.
Ayu dengan sabar merawat suaminya itu. Dan seolah ia telah melupakan semua rasa kesalnya pada Alvin atas apa yang telah suaminya itu perbuat padanya.
* * *
Pukul empat subuh. Alvin terbangun dari tidurnya yang terasa panjang. Pria itu merasa gerah lantaran keringat yang membanjiri hampir seluruh tubuhnya.
Saat hendak bangkit, Alvin melihat kepala Ayu tampak terbaring di sisi kirinya.
Istrinya itu tidur dengan posisi yang terlihat sangat tidak nyaman. Ayu tidur dengan posisi duduk di lantai dan kepala yang menyandar pada kasur, di sisi Alvin.
Pandangan Alvin kemudian terpaku pada handuk kecil yang tadi sempat jatuh dari keningnya. Seketika itu Alvin tahu kalau Ayu pasti bergadang sepanjang malam hanya untuk merawatnya.
Alvin menghela napasnya pelan, hatinya tiba-tiba merasa bersalah pada sosok istrinya. Dia telah membuat istrinya itu kelelahan menjaganya sepanjang malam.
Alvin kemudian bangkit dari tidurnya, pria itu turun dari atas kasur dan menggendong tubuh Ayu. Lalu meletakkan tubuh itu perlahan ke tempat tidurnya.
“Makasih udah rawat aku, dan maaf udah buat kamu kelelahan kayak gini,” bisik Alvin, tepat di depan wajah Ayu.
Cukup lama dia memandangi wajah istrinya itu, sampai kemudian ia mengecup bibir Ayu singkat. Lalu, menjauh dari sisi ranjang.
Alvin melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket.
Beberapa menit berlalu, Alvin keluar dari dalam kamar mandi. Tapi saat keluar, ia dikejutkan dengan sosok Ayu yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu itu.
Dari sikapnya, Ayu sepertinya sudah menunggunya sejak tadi.
“Ka-kamu udah bangun?” tanya Alvin, sedikit tergagap karena rasa terkejutnya atas kehadiran Ayu yang tiba-tiba ada di depan matanya.
“Mas mandi?” Ayu balik bertanya. Ia menatap Alvin lekat, dari atas sampai bawah.
“I-iya,” jawab Alvin, sedikit merasa risih dengan tatapan Ayu yang terlihat begitu intens.
“Mandi air apa? Kenapa enggak bangunin aku? Kan aku bisa siapin air hangat buat Mas mandi,” ujar Ayu.
“Aku enggak mau repotin kamu, lagian kamu udah kelelahan rawat aku dari semalem,” kilah Alvin.
Ayu menghela napasnya pelan, ia lantas maju mendekati Alvin. Anehnya, Alvin justru mundur saat Ayu mendekatinya. Ayu bahkan sampai mengerutkan keningnya bingung.
“Aku cuma mau cek suhu tubuh kamu, Mas,” tukas Ayu.
“Aku udah enggak pa-pa kok,” kata Alvin.
Ayu tak menanggapinya, wanita itu masih bersikeras ingin memeriksanya sendiri. Dia bahkan kembali melangkah mendekati Alvin, menyentuh kening suaminya yang masih terasa hangat.
“Mas, masih demam,” ujar Ayu. “Mas mandi air dingin, ya? Kenapa malah keramas? Nanti kalau kepala Mas pusing lagi ‘gimana?” ocehnya.
“I-iya, Maaf. Aku tadi enggak nyaman karena ngerasa gerah, keringetan,” cicit Alvin.
Helaan napas berat Ayu kembali terdengar. Kemudian, ia menarik tangan Alvin dan membawa suaminya itu untuk duduk di sisi ranjang.
“Tunggu bentar, biar aku siapin baju Mas,” katanya.
Alvin mengangguk, rasanya ia tak berani membantah Ayu yang terlihat seperti sosok ibunya.
Selang beberapa saat kemudian, Ayu kembali dengan membawa beberapa helai pakaian lengkap suaminya itu.
“Mas mau aku bantu pakai baju?” tawar Ayu.
Alvin membeliak kaget, tidak percaya dengan apa yang barusan istrinya itu katakan. Rasanya sangat mustahil jika Ayu berkata seperti itu padanya.
“Mas? Kok malah ngelamun sih? Mas bisa demam loh kalo terus-terusan pakek handuk kayak ‘gini,” omel Ayu, lagi-lagi wanita itu terlihat seperti sosok ibunya yang sering memarahinya ketika Alvin masih kecil dulu.
“Berdiri, Mas. Biar aku bantu Mas pakai—”
“Enggak usah,” potong Alvin, ia langsung berdiri dari duduknya dan merebut pakaiannya yang dipegang oleh Ayu. “Aku bisa sendiri,” cakapnya.
“Tapi—”
“Kamu belum sholat subuh, ‘kan? Sana kamu sholat subuh duluan,” suruh Alvin, entah kenapa ia merasa gugup dengan sikap Ayu yang tak seperti biasanya.
“Tapi Mas—”
“Udah sana buruan sholat subuh. Aku bisa pakai baju sendiri, lagian aku bukan anak kecil lagi yang harus dibantuin pakai baju,” tukas Alvin sembari mengalihkan wajahnya yang tampak bersemu merah.
Ayu menatap suaminya itu heran, ia merasa aneh dengan sikap Alvin yang seperti tengah salah tingkah padanya.
Tapi Ayu tidak mau ambil pusing, ia melangkah pergi sesuai permintaan Alvin yang menyuruhnya untuk sholat subuh lebih dulu.