Ega menghela napasnya panjang, ia lantas meletakkan sendoknya cukup keras ke atas meja yang ada di ruang tengah itu.
Ayu yang mendengarnya hanya diam. Wanita itu masih terus melanjutkan makan malamnya tanpa peduli pada adiknya yang sejak tadi tampak tidak setuju dengan keberadaannya di rumah ini.
“Ini udah malem. Mbak Ayu masih belum mau pulang juga?” tukas Ega.
“Setelah makan malam, Mbak balik ke rumahnya Mas Alvin,” jawab Ayu, santai. Namun tidak dengan Ega, pria itu khawatir kalau keluarga Pak Damar akan bersikap keras padanya. Ega juga cemas kalau kakaknya itu mungkin saja akan mendapatkan hukuman karena sudah berani pergi dari rumah suaminya tanpa izin.
Tok. Tok. Tok
Suara ketukan pintu itu membuat pikiran Ega pecah, ia lantas menoleh ke belakang, menatap ruang tamu yang sudah bersih dan rapi. Ayu sudah membersihkannya sepanjang siang tadi.
“Aku buka pintu dulu,” ujar Ega, kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu rumah yang ada di area ruang tamu.
Sesaat sebelum membuka pintu, Ega sempat merasa ragu tentang siapa yang bertamu di malam yang ditemani gerimis dan udara dingin seperti ini.
Namun, Ega tetap memutar handle pintu rumah itu dan membukanya sedikit lebar.
Saat pintu itu terbuka, Ega cukup kaget melihat sosok Alvin—kakak iparnya— berdiri di depan pintu dengan baju yang sedikit basah lantaran terkena hujan gerimis di luar sana.
“Pak Alvin ...,” lirih Ega, ia sontak menoleh ke belakang, menatap ke ruang tengah, tempat di mana Ayu berada. Rasa cemas dan khawatir Ega pun seketika itu meluap. Ia takut kakaknya benar-benar akan mendapatkan hukuman dari sosok pria di depannya itu.
“Ayu ada di sini?” tanya Alvin. Dari nada suaranya, pria itu tampak biasa saja, Alvin tidak terlihat sedang marah ataupun dilingkupi emosi. Dia hanya terlihat seperti sosok suami yang memang sedang menjemput istrinya dengan cara baik-baik.
“A-ada,” jawab Ega, tergagap. “Mbak Ayu lagi makan di ruang tengah sambil nonton TV di sana,” paparnya.
Alvin mengurai senyumnya sembari mengangguk paham.
“Boleh aku masuk?” tanyanya pada Ega yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu dan sama sekali belum menyuruh iparnya itu untuk masuk ke dalam.
“Oh, iya, silakan masuk, Pak Alvin,” kata Ega, sangat sopan dan formal.
Alvin terkekeh kecil melihat sikap adik iparnya itu. “Panggil ‘Kakak’ aja, aku ini ipar kamu, jangan panggil ‘Pak’, rasanya aneh kalau kamu panggil aku ‘gitu,” pinta Alvin.
“I-iya, Pak, eh, maksudnya Kak. Iya, Kak Alvin,” cakap Ega, merasa sedikit kaku.
Alvin kembali tersenyum. Lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah itu.
“Kak Alvin mau jemput Mbak Ayu, ‘kan? Kak Alvin duduk aja di sofa itu, biar aku panggilin Mbak Ayu dulu,” ujar Ega seraya menunjuk sofa yang ada di ruang tamu itu.
Kemudian, sebelum sempat Alvin berbicara, Ega sudah buru-buru melangkah pergi dari hadapan Alvin untuk memanggil Ayu yang ada di ruang tengah.
Tapi tak lama dari itu, Ega tiba-tiba memutarbalik tubuhnya, pria itu dengan sengaja menghentikan gerakannya dan berbalik kembali menghadap ke arah Alvin.
“Em ... tapi sebelumnya, nanti Kak Alvin tolong jangan marahin Mbak Ayu, ya? Mbak Ayu dateng ke sini karena aku yang minta dia buat dateng, soalnya tiba-tiba aku kangen sama masakannya Mbak Ayu,” tutur Ega, ia sengaja berbohong karena bagaimanapun juga ia tidak mau kalau kakaknya akan mendapatkan amarah dari kakak iparnya itu.
Alvin yang mendengarnya justru terkekeh kecil. Ia kemudian maju ke depan mendekati Ega, lalu menepuk bahu adik iparnya itu pelan.
“Aku enggak akan marahin dia, kamu tenang aja. Lagian dia itu istri aku, wanita yang harus aku lindungi, bukan aku sakiti,” ujar Alvin, sedikit membuat Ega merasa lega, walaupun sejujurnya ia masih belum yakin sepenuhnya.
“Siapa yang dateng, Ga?” tanya Ayu, wanita itu muncul dari balik dinding pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.
Sorot mata Alvin dan Ayu seketika itu bertemu, tapi selang beberapa detik kemudian Ayu langsung memutuskan kontak matanya dengan Alvin. Ayu memilih mengalihkan pandangannya ke sembarang arah daripada bertatapan lama dengan suaminya itu.
“Aku dateng buat jemput kamu,” kata Alvin.
Ayu mengembuskan napasnya berat, kemudian ia menatap adiknya yang tampak diam menyimak.
“Ga, makanan untuk kamu sarapan besok pagi udah Mbak masukin ke kulkas, besok kamu tinggal panasin aja. Dan makan malam kamu, buruan kamu habisin, nanti keburu dingin,” cakap Ayu pada adiknya.
“Iya, iya, aku tahu,” jawab Ega. “Ya udah, Mbak buruan ikut pulang sama Kak Alvin, takutnya nanti hujan makin deres, soalnya arah sini biasanya sering kena banjir,” imbuhnya.
Ayu mengangguk paham. “Iya, Mbak pulang, udah sana kamu lanjut makan,” cakap Ayu, kemudian ia menatap Alvin sekilas, lalu melangkah keluar dari rumah.
Alvin yang melihatnya langsung bergegas menyusul istrinya itu. Dia mengejar Ayu yang tampak berjalan di bawah gerimis menuju mobilnya yang ia parkir sedikit jauh dari depan rumah lama Ayu, yang memang tidak bisa menampung mobil Alvin karena ada truk kecil milik tetangga yang dititipkan di sana.
“Ayu, tunggu,” seru Alvin, berlari kecil di bawah gerimis sembari membentangkan payung yang ia bawa.
Alvin akhirnya berhasil mengejar Ayu dan memayungi tubuh istrinya itu dari rintikan hujan yang terasa semakin deras.
Dari kejauhan, Ega tampak tersenyum tipis melihat kakaknya yang ia rasa sudah menemukan sosok laki-laki yang tepat. Ega merasa kalau Alvin memiliki lautan kasih sayang dan kehangatan untuk membahagiakan Ayu.
Ega sangat berharap Ayu bisa bahagia setelah kemarin wanita rapuh itu telah banyak melalui duri tajam yang mengoyak habis hidupnya.
* * *
“Kamu mau ke mana?” tanya Alvin ketika Ayu langsung melangkah pergi begitu saja saat mereka baru masuk ke dalam rumah.
“Ke kamar,” jawab Ayu, masih terkesan dingin.
“Aku laper,” kata Alvin, terdengar sedikit merengek. “Tadi pas baru pulang kerja langsung jemput kamu, belum sempet makan,” imbuhnya.
Ayu mengembuskan napasnya pelan, lalu menatap ke arah suaminya itu.
“Aku udah siapin makan malam buat kamu, itu ada di meja makan,” terang Ayu sembari menatap ke arah dapur yang berada tak jauh dari tangga menuju lantai atas.
“Itu kapan kamu masak?” tanya Alvin. “Kamu tahu ‘kan aku enggak suka makanan yang udah dingin,” ujarnya.
“Jadi aku harus masak lagi?” Ayu balik bertanya dengan perasaan malasnya jika Alvin benar-benar memintanya untuk memasak makan malam lagi.
“Enggak, aku cuma minta tolong dipanasin aja makanannya,” kata Alvin. “Aku juga minta tolong kamu temenin aku makan. Aku enggak suka makan sendirian,” lanjutnya, dengan tatapan penuh harap, tatapan yang rasanya sulit untuk Ayu tolak.
Ayu mengembuskan napasnya berat, wanita itu lantas melangkah menuju dapur, mulai menyiapkan makan malam untuk suaminya itu.
Alvin tersenyum, lalu ia ikut melangkah menuju dapur, duduk di salah satu kursi makan, dengan tenang ia menunggu Ayu yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuknya.
Beberapa saat kemudian, semua hidangan makan malam yang Ayu buat sore tadi sudah Ayu panaskan dan hidangkan kembali di atas meja makan.
“Makasih,” ucap Alvin saat Ayu memberikan sepiring nasi kepada Alvin.
“Hm.” Ayu menanggapi singkat. Kemudian, ia duduk di salah satu kursi dekat suaminya itu, menunggu Alvin menyelesaikan makan malamnya.
“Oh, ya, besok tolong siapin aku bekal makan siang kayak biasanya, ya,” kata Alvin, di sela-sela mengunyah makanannya.
“Hm.” Ayu kembali menanggapi singkat.
Alvin menatap Ayu sejenak, istrinya itu tampak sibuk mengupas buah dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
“Kamu masih marah ya sama aku?” tanya Alvin.
“Enggak,” jawab Ayu, tanpa menoleh ke arah suaminya itu.
Alvin menghela napasnya berat, lalu meletakkan sendoknya dan menatap Ayu serius.
“Aku minta maaf,” ucap Alvin.
“Iya.” Ayu kembali menanggapi seadanya.
“Ayu,” panggil Alvin.
“Hm.”
“Aku mau kita belajar saling menerima satu sama lain,” kata Alvin tiba-tiba.
Ayu tampak menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong buah.
“Pas tadi aku pulang dan kamu enggak ada di rumah, aku baru sadar, ternyata aku udah bergantung sama kamu, aku udah terbiasa ada kamu di sisi aku,” paparnya.
“Jadi, pas kamu tiba-tiba menghilang dari pandangan aku. Rasanya kayak ada yang ... hilang dari diri aku. Aku khawatir, panik, cemas, gelisah, semua perasaan yang enggak nyaman itu aku rasain pas kamu enggak ada di sini, di samping aku,” lanjut Alvin, masih menatap Ayu dengan raut seriusnya.
Ayu menoleh ke arah Alvin, menatap suaminya itu dengan raut datarnya.
“Aku serius sama apa yang aku omongin barusan, Ayu,” ujar Alvin, khawatir jika Ayu mungkin saja akan meragukan ungkapan yang sebenarnya berasal dari isi hatinya itu.
Ayu terdengar menghela napasnya pelan, kemudian ia tampak meletakkan pisau yang dipegangnya, juga buah yang belum selesai ia potong.
“Aku pergi ke kamar duluan,” ucap Ayu, langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari pandangan Alvin.
Perasaan Ayu sedang dilanda gundah, Ayu bingung dengan sikap Alvin yang belakangan ini terlalu lunak padanya.
Ayu berpikir, mungkin Alvin masih merasa bersalah padanya atas apa yang terjadi malam itu.
Tapi melihat tatapan serius yang Alvin pancarkan padanya. Rasanya pria itu memang benar-benar serius dengan perkataannya tadi.
Hanya saja, Ayu masih belum begitu yakin.
Ayu takut, jika semua ini hanyalah fatamorgananya saja. Ayu takut kecewa jika ia berharap terlalu tinggi pada suaminya itu. Karena pada dasarnya, pernikahan mereka berawal dari keterpaksaan yang tak pernah diharapkan sebelumnya.
Ayu juga merasa sakit hati atas perlakuan Alvin yang merenggut kasar kesuciannya yang telah ia jaga bertahun-tahun lamanya.