Ikatan Suami Istri

1924 Kata
“Hari ini kamu enggak usah siapin bekal makan siang buat aku,” ujar Alvin sembari mengaitkan kancing lengan bajunya. “Soalnya nanti siang Papa ngajak aku makan bareng,” imbuh Alvin. “Iya,” jawab Ayu, menanggapi seadanya. “Bantu aku pakai dasi, bisa?” pinta Alvin, ketika sang istri tampak menyodorkan dasi yang diambil dari laci lemarinya. Ayu mengangguk singkat, lalu ia maju satu langkah lebih dekat dengan Alvin. Ayu memasangkan dasi Alvin sesuai dengan permintaan suaminya itu. Selama Ayu memakaikan dasi untuknya, Alvin tak lepas dari memandangi wajah Ayu dari jarak yang cukup dekat. Ia bahkan entah sadar atau tidak mengurai senyumnya melihat wajah sang istri yang padahal tampak datar. Selesai memasangkan dasi untuk suaminya, Ayu langsung melangkah mundur ke belakang, sejak subuh tadi Ayu terlihat selalu berusaha menjaga jarak dari suaminya itu. “Sudah?” tanya Alvin sembari menyentuh dasinya yang sudah terpasang rapi. Ayu tak menjawab dengan suara, ia hanya mengangguk, lalu melangkah pergi dari hadapan Alvin. “Makasih,” ucap Alvin pada Ayu yang sudah memunggungi dirinya. Ayu lagi-lagi tak menanggapinya. Dia benar-benar berubah menjadi sosok yang sangat dingin pada Alvin. “Kamu kenapa sih?” Alvin bertanya tentang sikap Ayu yang terasa dingin dan enggan berada di dekatnya. Ayu kembali mengacuhkan Alvin. Kini ia terlihat mendekati tempat tidurnya, lalu menarik seprei yang membungkus kasur itu dan berniat membawanya ke tempat cuci baju yang ada di lantai bawah, dekat dapur. “Ayu, suami kamu ini lagi ngomong sama kamu,” tukas Alvin, mulai kesal karena sang istri terus mengacuhkan dirinya. Ayu menghentikan langkahnya. Tapi wanita itu sama sekali tidak berniat untuk berbalik menghadap suaminya. “Kamu kenapa?” tanya Alvin, lagi. “Kamu marah sama aku gara-gara semalem?” lanjutnya. “Aku minta maaf kalau semalem aku terlalu kasar sama kamu,” imbuh Alvin, menatap punggung Ayu yang terasa dingin seperti gunung es. Ayu masih diam, dari gelagatnya saja sudah terlihat jelas kalau wanita itu sama sekali tidak mau berbicara dengan Alvin. “Ayu—” “Mas, ini udah jam delapan, Mas mau dateng terlambat ke kantor?” sela Ayu. “Aku mau cuci seprei ini, Mas hati-hati di jalan,” timpalnya, yang kemudian langsung melangkah pergi keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamar itu rapat. Alvin mengembuskan napasnya berat melihat sikap Ayu yang sangat dingin padanya. * * * “Gimana kabar Ayu?” tanya Pak Damar saat tengah makan siang bersama putra satu-satunya itu. Alvin menatap sekilas ke arah ayahnya, lalu kembali fokus pada makanannya. “Kabar yang mana?” Alvin balik bertanya, karena ia tahu kabar yang ayahnya maksud bukan tentang kabar kesehatan Ayu, tetapi kabar yang lain. “Mama kamu terus nyuruh Papa tanya ke kamu, ‘gimana Ayu, apa udah ada tanda-tanda kalau dia hamil?” ujar Pak Damar. Alvin menghela napasnya pelan, pria itu lantas meletakkan sendoknya dan menatap ayahnya lekat. “Papa sama Mama mau desak Ayu buat cepet-cepet punya anak?” tanya Alvin, dengan nada tidak sukanya. “Bukan begitu, Vin. Papa sama Mama enggak bermaksud mendesak kamu ataupun Ayu buat cepet-cepet punya keturunan. Tapi kamu tahu sendiri, sekarang kamu anak Papa sama Mama satu-satunya. Papa bentar lagi juga mau pensiun. Enggak lama lagi kamu bakal ambil alih perusahaan, jadi Papa harap sebelum kamu ambil alih perusahaan, kamu seenggaknya udah punya keturunan, lebih bagus lagi kalau anak pertama kamu itu laki-laki,” papar sang ayah, membuat Alvin merasa semakin kesal. Alvin tersenyum miris, ia bahkan sampai kehilangan nafsu makannya karena perkataan ayahnya barusan. “Jadi Papa ajak aku makan siang bareng cuma mau bahas ini?” tukas Alvin, sama sekali tidak mau menutupi rasa kesalnya pada sang ayah. “Vin, Papa bukannya mau atur hidup kamu. Tapi kalau kamu enggak punya keturunan yang bisa lanjutin bisnis keluarga kita, sepupu-sepupu kamu itu bakal rebut perusahaan kita. Kamu tahu sendiri Papa enggak akan biarin itu terjadi. Kamu juga tahu sendiri bagaimana perjuangan Papa bangun perusahaan Chalv Group ini, ‘kan?” ujar Pak Damar. Pria paruh baya itu menghela napasnya sejenak. “Kamu harus inget, dulu kita pernah susah. Papa diusir dari rumah pas kamu masih bayi, Papa enggak diakui sama orang tua Papa karena Papa maksa nikah sama Mama kamu hanya karena Mama kamu seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Lalu akhirnya Papa nekat buka usaha pakaian sendiri tanpa bantuan ataupun dukungan dari mereka, dan sekarang setelah semua kerja keras Papa, Papa berhasil bangun perusahaan ini. Tapi keluarga Papa masih aja rakus, mereka sama sekali enggak berubah. Mereka bahkan udah punya niat buat rebut perusahaan kita, Vin,” urai pria paruh baya itu seraya mengingat masa-masa menyedihkannya di masa lalu. Alvin tak tahu harus menanggapi apa. Karena perihal masa lalu ayahnya, Alvin tahu bagaimana susah payahnya sang ayah saat baru merintis perusahaan Chalv Group. Walaupun tidak ingat sepenuhnya, tapi Alvin cukup ingat bagaimana dia harus menahan lapar setiap malam. Alvin baru bisa merasakan hidup nyaman ketika sang ayah berhasil mendapatkan investasi dari perusahaan luar negeri. Dan saat itu Alvin baru menginjak usia lima tahun. “Aku bakal bicarain ke Ayu tentang masalah kapan kami bakal punya anak,” kata Alvin kemudian. Pak Damar tersenyum mendengarnya. “Papa enggak akan paksa kamu buat buru-buru punya anak, tapi seenggaknya kalian punya rencana buat punya anak kedepannya,” ujar Pak Damar. Alvin mengangguk paham, kemudian ia kembali menyantap makanannya yang tersisa sembari memikirkan bagaimana ia akan mengatakan pada Ayu soal permintaan ayahnya ini. Tapi mengingat apa yang terjadi semalam, Alvin berharap benih yang ia tanam di dalam rahim Ayu berhasil bertahan dan tumbuh di dalam sana. Walaupun Alvin tidak begitu yakin, karena bagaimanapun juga, semalam adalah pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami istri setelah hampir satu tahun menikah. * * * Entah apa yang Ayu pikirkan, tapi saat ini kakinya telah berdiri tepat di depan rumahnya dulu. Ayu menatap rumah itu cukup lama, sampai seorang tetangga yang mengenalinya terdengar menyapa Ayu dari teras rumah. “Ayu?” panggil tetangga samping rumah Ayu. Ayu menoleh, menatap wanita paruh baya berkacamata itu. Senyum Ayu kemudian mengembang saat ia mengenali siapa yang memanggilnya tadi. “Bude,” sapa Ayu bersama senyumnya. “Ya ampun, Yu. Bude kira enggak bakal ketemu kamu lagi. Soalnya Ega bilang kamu pergi ke Inggris, ke tempat ibu kamu, katanya kamu kerja di sana, bener, Yu? Bude agak kaget loh dengernya, kamu pergi enggak bilang apa-apa sama Bude, enggak pamit juga,” kata Bude Lastri, yang merupakan tetangga terdekat Ayu sejak Ayu kecil. Ayu tersenyum tipis, ia tahu kalau Ega pasti terpaksa membohongi semua tetangganya tentang kepergiannya yang tidak terasa sudah hampir satu tahun lebih. “Maaf, Bude. Waktu itu Ayu buru-buru, jadi enggak sempet pamit sama siapa-siapa,” alibi Ayu, mengikuti kebohongan yang sudah adiknya buat. “Oalah, iya ndak pa-pa, Yu. Yang penting kamu baik-baik aja di sana,” ujar Bude Lastri. “Iya, Bude,” jawab Ayu, ramah. “Mbak Ayu?” Suara itu mengalihkan perhatian Ayu. Ayu menatap sosok adiknya yang tampak kuyu dan lebih kurus dari beberapa minggu lalu, di saat dia dan Ega bertemu di kantor polisi. “Mbak Ayu ngapain datang ke sini?” tukas Ega, pria itu ingin mengusir sang kakak, tapi saat ia melihat ada Bude Lastri yang sejak tadi diam memperhatikan gerak-geriknya, Ega pun dengan terpaksa mengurungkan niatnya. “Masuk,” ujar Ega, yang kemudian melangkah mendekati pintu rumah dan membuka pintu itu dengan kunci yang ia ambil dari saku celananya. Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka. Ega menyuruh kakaknya untuk masuk lebih dulu. Setelah Ayu masuk, Ega juga ikut masuk ke dalam, lalu menutup pintu rumah itu kembali. “Mbak Ayu ngapain sih dateng ke sini? Mau hina aku?” tukas Ega, tanpa basa-basi terlebih dulu. “Kamu jarang bersihin rumah, ya?” tanya Ayu, alih-alih menjawab pertanyaan Ega tadi. Ega menghela napasnya berat, ia lantas mendekati kakaknya dan berdiri tepat di depan wajah sang kakak, menghalangi pandangan kakaknya itu dari melihat seisi rumah yang cukup berantakan. “Mbak Ayu mending balik ke rumah suami Mbak sekarang juga. Tolong jangan ganggu kehidupan aku lagi, udah cukup kemarin pas di kantor polisi Mbak Ayu sok ikut campur urusan aku,” pungkas Ega. Ayu menatap adiknya itu lembut, sama sekali tidak ada goresan rasa kesal ataupun benci yang terurai di wajahnya. Tapi, hal itulah yang justru membuat Ega semakin kesal pada Ayu. Harusnya kakaknya itu marah padanya, harusnya kakaknya itu membencinya. “Aku mau numpang tinggal di rumah ini selama beberapa hari ke depan,” cakap Ayu. Ega melotot mendengarnya. “Apa?!” “Kamarku masih ada, ‘kan?” tanya Ayu, yang kemudian hendak melangkah menuju kamarnya yang berada di ruang tengah. Namun, saat kaki Ayu melangkah, Ega dengan cepat menghentikan langkah kaki kakaknya itu. Ega menghadang di depan sang kakak, tidak memberi jalan untuk kakaknya pergi ke kamar. “Minggir, Ga,” suruh Ayu. “Aku enggak akan izinin Mbak Ayu tinggal di sini. Lagian untuk apa Mbak Ayu nginep di sini? Mbak Ayu udah punya rumah sendiri. Rumah Mbak Ayu juga lebih besar dan bagus dari rumah ini. Terus nanti kalau misal suami Mbak Ayu nyariin ‘gimana? Nanti aku bisa dikira nipu mereka. Mbak Ayu mau aku masuk penjara?!” sergah Ega. Ayu mengembuskan napasnya berat, lalu menatap adiknya itu lekat. “Mbak lagi ada problem sama kakak ipar kamu itu,” tukas Ayu, dengan nada suaranya yang seketika berubah sedikit kesal. “Ha?! Mbak diusir dari rumahnya?” terka Ega. “Bukan diusir, tapi Mbak yang kabur dari rumah,” terang Ayu. Ega membeliak tak percaya dengan tingkah kakaknya itu. “Mbak Ayu udah enggak waras, ya? Mbak mau cari mati? Mbak bener-bener mau aku dipenjara, ya?!” kesal Ega. “Ga, tolong, jangan buat isi kepala Mbak tambah pusing. Lagian nanti malem Mbak bakal pergi dari sini, kamu enggak usah khawatir,” cakap Ayu, seketika ia berubah menjadi sosok yang sangat judes dan dingin. Setelah berkata seperti itu, Ayu langsung menepis tubuh Ega dari hadapannya. Kemudian Ayu melangkah menuju kamarnya yang berada di ruang tengah. Ega terdiam melihat sikap kakaknya barusan. Sebagai seorang adik yang hidup bersama kakaknya selama bertahun-tahun lamanya. Ega tentu saja sangat paham betul dengan gelagat kakaknya itu. Ega tahu kalau Ayu pasti sedang dilanda rasa kesalnya. Wanita itu butuh waktu untuk sendiri. * * * Alvin baru pulang ke rumah. Pria itu masuk ke dalam rumah sembari merenggangkan ikatan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Sesampainya di kamar, Alvin langsung mencari sosok Ayu yang biasanya selalu menyambutnya ketika ia baru kembali dari bekerja. Namun, hari ini Alvin tidak mendapati sosok Ayu di mana pun. Bahkan, di dapur yang tadi sempat Alvin lewati, ia juga tidak mendapati Ayu di sana. “Ayu?” panggil Alvin. Biasanya Ayu akan selalu menyahutinya dan berlari menghampirinya ketika ia memanggil istrinya itu. Tapi, lagi-lagi Alvin mendapati kekosongan. Tidak ada tanda-tanda kalau Ayu ada di rumah. “Ayu, kamu di mana?” seru Alvin, mulai merasa cemas. “Sayang?” Alvin bahkan mengganti panggilannya agar Ayu mau muncul di depannya. Namun, sebanyak apa pun Alvin memanggil, dan seteliti apa pun Alvin mencari di seluruh penjuru rumah. Alvin masih juga belum menemukan sosok Ayu. Yang Alvin temui hanyalah kehampaan yang terasa mengoyak hatinya. Sampai kemudian, Alvin menemukan selembar sticy note yang sengaja Ayu tempel di kulkas. ‘Aku pergi ke rumah Ega. Aku tahu kamu enggak akan peduli. Jadi enggak usah marah kalau nanti aku pulang telat. Aku pulang malem. Ayu.’ Alvin mengembuskan napasnya lega, setidaknya ia tahu di mana Ayu sekarang. Alvin pun kemudian bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya untuk pergi ke rumah Ega demi menjemput sang istri pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN