Hearts

1022 Kata
Ayu mengerjapkan matanya, sejenak ia terdiam menatap lurus ke langit-langit kamar. Jam dinding di kamar itu sudah menunjukkan pukul empat pagi, hampir memasuki waktu subuh. Kemudian, Ayu menoleh ke sisi kanannya, terlihat sosok Alvin masih tertidur pulas di sana sembari memeluknya erat. Ayu lantas bergerak pelan, tapi sesaat ia tampak merintih tertahan ketika dirinya merasakan ketidaknyamanan dan sedikit perih di bawah sana. Helaan napas berat terdengar dari diri Ayu, ingatannya tentang apa yang terjadi semalam seketika itu membuat hatinya merasa pedih dan juga sakit. Apalagi ketika dirinya melihat wajah Alvin, yang hanya dengan menatapnya saja, ia merasa sesak. Ayu tak tahan lagi berlama-lama berada di sisi Alvin. Perlahan Ayu memegang tangan Alvin, kemudian menyingkirkan tangan kokoh itu dari pinggangnya. Setelah berhasil lepas dari dekapan erat Alvin, Ayu pun lekas turun dari atas ranjang. Namun, saat itulah Ayu tersadar kalau dirinya masih belum mengenakan busana apa pun. Ayu hendak menarik selimut yang masih membungkus tubuh Alvin, tapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya itu saat dirinya menebak kalau Alvin pasti juga masih belum mengenakan sehelai benang pun. Ayu akhirnya memilih untuk segera melangkah menuju kamar mandi. Ia masuk ke dalam sana untuk lekas membasuh diri. Selang beberapa saat kemudian, Ayu keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya sebatas lutut dan dadanya. Rambutnya pun tampak basah. Lalu, Ayu bergerak mendekati lemarinya, dengan segera ia mengambil beberapa helai pakaian yang dibutuhkannya, juga mukena dan sajadah yang ia simpan di dalam sana. Setelah mengambil semua yang ia perlukan. Ayu sekilas menatap ke arah Alvin yang masih tertidur lelap dalam mimpi indahnya. Ayu pun kemudian melangkah menuju ke pintu kamar, tapi saat hendak membuka pintu itu, Ayu baru ingat kalau semalam ia mengunci pintu tersebut dan memberikan kuncinya pada Alvin. Helaan napas berat Ayu kembali terdengar. Ia tidak ingat di mana kunci itu Alvin simpan, lantaran semalam pikirannya terlalu kalut hingga membuatnya tidak memperhatikan beberapa hal. Tapi kemudian, saat Ayu melihat celana Alvin yang tergeletak di atas lantai. Ayu berharap Alvin menyimpan kuncinya di salah satu saku celana milik pria itu. Ayu tak ingin menyia-nyiakan waktu, sebelum Alvin bangun, Ayu ingin lekas keluar dari dalam kamar. Karena jujur, Ayu masih merasa sangat enggan melakukan kontak mata dengan Alvin apalagi berbicara dengan pria itu, yang semalam telah merengut sesuatu dari dirinya secara paksa, mengingatnya saja membuat Ayu ingin sekali membenci suaminya itu. Setelah beberapa saat menyusuri setiap saku celana Alvin, Ayu akhirnya menemukan kunci kamar yang ia cari. Namun, saat Ayu baru saja mendekati pintu, suara berat yang sangat ingin ia hindari tiba-tiba terdengar menyeruak telinganya. Tubuh Ayu seketika itu menengang. “Kamu lagi ngapain?” kata Alvin, yang mampu membuat Ayu terdiam membeku di tempatnya. “Kamu udah mandi, ya? Kenapa enggak bangunin aku?” lanjut Alvin. Ayu sama sekali tidak berniat untuk menatap ke arah pria itu, Ayu masih diam bergeming di tempatnya. Sampai kemudian, Ayu mendengar langkah kaki Alvin yang sepertinya mendekat ke arahnya. Dan benar saja, tak lama kemudian, Ayu merasakan tangan Alvin menyentuh lengannya. “Tunggu aku, aku mandi bentar, setelah itu kita sholat subuh bareng,” ujar Alvin sembari mengambil kunci kamar yang Ayu pegang. Setelah itu, Alvin mengambil handuk lain di lemarinya, karena handuk miliknya yang selalu ia siapkan di kamar mandi sudah dipakai oleh Ayu. Namun, sekalipun Ayu memakainya, Alvin sama sekali tidak protes, padahal sebelumnya pria itu selalu enggan berbagi barang dengan Ayu. “Jangan berdiri di situ, duduk sana, atau tiduran dulu sambil nunggu aku,” suruh Alvin, menatap ke arah Ayu yang masih berdiam diri di tempatnya tadi. “Aku tahu 'itu' kamu masih sakit,” imbuhnya. Ayu mengalihkan pandangannya, merasa malu ketika Alvin menyebut sesuatu yang masih terasa tabu bagi telinganya. * * * Reza duduk di kursinya, pria itu kini berada di meja makan bersama ayah dan ibunya untuk sarapan bersama. Ya, semalam Reza menginap di rumah orang tuanya, karena ibunya memintanya untuk pulang dan menginap di rumah lantaran semalam sang ayah pulang terlambat. “Pagi, Ma, Pa,” sapa Reza pada kedua orangtuanya. “Pagi,” balas sang ibu dengan senyumannya, kemudian wanita paruh baya itu tampak mendekati meja makan sembari membawa dua piring berisi nasi goreng buatannya. “Ini untuk Papa, dan ini untuk anak Mama yang lagi jatuh cinta,” cakap Mama Tiara sembari menatap putranya yang hampir tersedak karena mendengar candaannya itu. “Barusan Mama bilang apa? Siapa yang jatuh cinta?” tanya pria paruh baya yang duduk di kursi utama. Dia ayahnya Reza, Pak Radityo. “Papa enggak tahu, ya? Reza itu lagi kesemsem sama satu perempuan, katanya sih cinta pertamanya pas masih SMA,” ungkap sang ibu, yang langsung membuat Reza berdehem, mengkode ibunya untuk tidak membeberkan semua curhatannya kala itu. “Bener, Za? Kamu akhirnya suka sama wanita?” tanya sang ayah, yang seketika itu langsung menatap Reza dengan raut antusiasnya. Reza yang tengah mengunyah makanannya tampak menelannya cepat, ia lagi-lagi hampir saja tersedak saat mendengar pertanyaan ayahnya yang terakhir. Kenyataannya, selama beberapa tahun ini, di dalam keluarganya, banyak yang mengira kalau Reza kemungkinan besar adalah pria tidak normal. Karena selama bertahun-tahun lamanya, tidak ada satu pun yang melihat Reza yang tampak menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hal itu terkadang membuat orang tua Reza merasa cemas. Walaupun kenyataannya, Reza tetaplah laki-laki normal, hanya saja ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga membuatnya abai terhadap hubungan asmara. Terlebih lagi, hati Reza masih terpaku pada sosok wanita yang pernah menolaknya di masa lalu, dia adalah Ayu, cinta pertamanya. “Papa ngomong apa sih? Papa pikir selama ini aku suka sama cowok, ya?” keluh Reza, menghela napasnya pelan. “Nanti kalau aku berhasil dapetin dia, aku bawa dia ke rumah. Aku bakal kenalin dia ke kalian. Biar kalian enggak lagi ngira kalau aku ini enggak normal,” ujar Reza. “Tapi sebelum itu, Papa enggak usah dengerin Mama. Papa tahu sendiri, Mama itu suka banget nambah-nambahin info yang enggak bener,” lanjutnya. Pak Radityo tampak mengurai senyumnya, lalu mengangguk setuju dengan perkataan putranya itu. “Good luck ya, my son,” cakap sang ibu, Mama Tiara. Reza kembali menghela napasnya pelan, lalu mengabaikan ibu dan ayahnya yang masih mesem-mesem ke menatapnya. Reza memilih untuk lekas menghabiskan sarapannya, lalu pergi kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN