Alvin menyedekapkan kedua tangannya, menatap Ayu dengan sorot matanya yang sangat tajam, hingga membuat Ayu sedikit pun tak berani memandang ke arah suaminya itu.
“Tutup pintunya,” suruh Alvin.
Ayu langsung menutup pintu kamar itu rapat.
“Kunci,” suruhnya, lagi.
Ayu kembali menuruti perintah suaminya, ia mengunci pintu kamar itu.
“Bawa sini kuncinya,” titah Alvin lagi, yang seketika itu langsung membuat Ayu bergerak mendekatinya.
Ayu memberikan kunci itu pada Alvin dengan rasa takutnya.
Setelah kunci itu berada di tangan Alvin, Ayu melangkah mundur ke belakang, menjaga jarak aman dari Alvin yang masih terlihat marah padanya.
“Kamu mau aku hukum pakai cara kasar atau lembut?” tanya Alvin.
Walaupun pria itu memberikan sebuah tawaran, tapi tetap saja, rasanya apa yang Alvin tawarkan itu seperti sebuah bumerang bagi Ayu.
“Mas, aku minta maaf—”
“Aku enggak suruh kamu minta maaf,” ujar Alvin. “Kamu cukup jawab pertanyaan aku tadi,” tukasnya.
“Tapi, Mas. Aku beneran minta maaf, aku janji enggak akan ulangi lagi kesalahan aku hari ini. Aku janji enggak akan minta anterin Reza pulang kalau misal aku sama dia ketemu lagi,” pinta Ayu, benar-benar takut jika Alvin sungguh akan menghukumnya.
Alvin tersenyum miring. “Kamu udah pernah janji sama aku, dan buktinya kamu masih langgar janji kamu itu,” katanya.
“Mas—”
“Jawab aja pertanyaanku tadi,” hardik Alvin, dengan suara kerasnya yang membuat nyali Ayu benar-benar lenyap.
“Aku ... aku ....” Ayu tak bisa menjawab, rasa takutnya membuat pikiran Ayu kalap, bahkan jari-jemarinya tampak saling beradu cemas.
Alvin mengembuskan napasnya berat, pria itu kemudian melangkah maju ke depan, mendekati Ayu yang tampak langsung bergerak mundur ke belakang.
“Dua kali kamu udah langgar aturan aku, Ayu,” ujar Alvin, menatap Ayu tajam. “Pertama, kamu pulang sama cowok lain tanpa kasih tahu aku. Kedua, kamu berani sebut nama cowok lain di depan aku,” tekannya sembari mendekati Ayu, hingga membuat Ayu terpojok dalam kuasanya.
“Mas, aku bisa kasih alasan kenapa aku mau pulang sama Reza,” ujar Ayu, masih mencoba untuk menjelaskan bahwa dirinya benar-benar tidak pernah berniat pulang bersama Reza tanpa ada alasan yang jelas.
“Kamu berani sebut nama dia lagi?” tukas Alvin, nada suaranya berubah berat, bahkan kini wajahnya sudah semakin intens berada di dekat Ayu.
“A-aku ....”
“Aku enggak suka, Ayu,” tegas Alvin, menatap Ayu dengan sorot gelapnya. “Aku enggak suka kamu sebut nama cowok lain di depan aku! Apalagi dia. Berapa kali aku harus ingetin kamu, ha?!” bentaknya, tepat di depan wajah Ayu.
Ayu bahkan sampai menutup matanya rapat. Takut dengan Alvin yang sepertinya benar-benar marah padanya.
Sampai kemudian—ketika Ayu masih menutup matanya—Ayu merasakan sesuatu yang lembut terasa menyambar bibirnya kasar. Ayu sontak langsung membuka matanya lebar.
Saat itulah Ayu melihat Alvin tampak menciumnya tanpa ada sisi lembut yang menyapa. Pria itu melahap habis bibirnya seperti seorang pria yang diselimuti oleh nafsu kotornya.
Ayu ingin menolak, tapi tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Alvin, membuat Ayu berada dalam kuasa Alvin sepenuhnya.
Ciuman itu terus berlanjut hingga Alvin merasakan desakan paru-parunya yang membutuhkan oksigen lebih banyak, membuatnya harus melepaskan bibirnya dari Ayu.
Keduanya tampak terengah-engah, meraup oksigen sebanyak yang mereka butuhkan.
Namun, selang beberapa detik kemudian, Ayu tiba-tiba hampir ambruk. Ayu merasa kakinya sangat lemas, hingga membuatnya tak sanggup berdiri tegap.
Untungnya, Alvin langsung menangkap tubuh Ayu cepat, ia bahkan menggendong Ayu ala bridal style dan membawa istrinya itu ke tempat tidur mereka.
Alvin merebahkan tubuh Ayu ke atas ranjang.
Sejenak, Ayu berpikir kalau Alvin akan melepaskan dirinya, tapi siapa sangka, Alvin justru membuka semua kancing kemeja hitam yang dikenakannya, setelah itu ia naik ke atas tubuh Ayu tanpa menerima penolakan dari Ayu yang ada di bawahnya.
“Mas,” lirih Ayu, suaranya terdengar serak.
Alvin tak menanggapi. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Ayu, berniat merampas bibir istrinya itu lagi.
Tapi kali ini Ayu bisa melihat pergerakan Alvin, ia pun sontak langsung menoleh ke sisi lain, membuat Alvin tak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Namun, tingkah Ayu itu justru membuat Alvin merasa geram.
Entah sadar atau tidak, tangan Alvin dengan sangat kasar mencengkeram dagu Ayu kuat, membuat Ayu mau tidak mau menghadap ke arah suaminya kembali.
Alvin kembali melahap habis bibir Ayu, tangannya yang lain bahkan sudah bergerak membuai titik-titik sensitif yang ada pada tubuh istrinya itu.
Hanya saja, sekalipun gerakan Alvin terasa begitu mulus dan lembut, hal itu sama sekali tidak berhasil membuat Ayu berhenti memberontak.
Perempuan itu masih bergerak seperti cacing kepanasan, ia masih berusaha lepas dari Alvin yang padahal sudah memegang penuh kendali atas dirinya.
Ayu sebenarnya hanya tinggal pasrah saja, karena dia benar-benar tidak akan pernah bisa memberontak sedikit pun.
Usahanya untuk bisa lepas dari Alvin hanya akan berujung sia-sia.
Apalagi kodratnya adalah seorang wanita dan istri. Ayu sungguh tidak akan pernah bisa menolak apalagi melawan api yang membara di dalam diri Alvin.
“Mas, cukup ...,” lirih Ayu, ketika Alvin baru saja melepaskan ciumannya, lalu berniat mengalihkan ciuman itu ke area lain—leher Ayu.
Wajah Ayu tampak memelas dengan semburat merona yang menghiasi pipinya. Ayu sangat berharap pada Alvin agar pria itu mau melepaskannya.
“Aku mohon, Mas. Jangan seperti ini,” pintanya, dengan binaran matanya yang tampak begitu melas. Ayu bahkan terlihat ingin menangis.
Namun, Alvin yang dibutakan oleh nafsunya sama sekali tidak hirau dengan permintaan istrinya itu.
Alvin mengabaikan lirihan Ayu, ia semakin gencar membubuhi leher Ayu dengan bekas ciumannya yang membekas merah.
Ayu tidak tahan lagi, pada akhirnya tangisan Ayu pun pecah. Air mata Ayu terjun bebas.
Hati Ayu rasanya kacau ketika ia merasa seperti diperkosaa oleh suaminya sendiri.
Malam kemarin mungkin ia bisa lolos dari Alvin, karena setelah ibu mertuanya memergoki mereka, Alvin langsung melenggang pergi menuju perpustakaan pribadinya. Alvin berada di sana sampai Ayu tertidur dan tak tahu kapan pria itu kembali ke kamar.
Namun, malam ini sepertinya Ayu tidak akan bisa lolos lagi dari permainan Alvin. Apalagi pria itu diselimuti oleh amarah dan seolah tengah cemburu pada Ayu.
“Mas, aku mohon ....” Ayu masih meminta suaminya untuk berhenti. Padahal kini tangan Alvin sudah bergerilya di tempat paling sensitif pada bagian tubuh Ayu.
Ayu hampir mengeluarkan suara terlarangnya, tapi sebisa mungkin Ayu menahan suaranya itu lepas begitu saja. Ia tidak ingin Alvin tahu kalau dirinya hampir terbuai.
“Mas ....” Ayu kembali bersuara. Tapi kali ini suaranya sudah terbaur dengan nada serak yang menandakan bahwa dirinya sedang berada di atas awang-awang.
Alvin tampak terus bergerak lihai. Padahal ini kali pertamanya bagi pria itu bermain dalam dunia nyata, karena biasanya ia hanya merasakan gejolak seperti ini dalam mimpi dewasa yang selalu membuatnya harus mandi wajib setiap pagi.
“Sayang, kamu udah siap punya anak atau belum?” tanya Alvin, ketika sesuatu dari dirinya ingin memasuki tubuh Ayu. “Kalau udah, aku bakal keluarin di dalam. Kalau belum, aku keluarin di luar,” imbuhnya.
Ayu yang sudah kalut dalam pergulatan batinnya tak tahu harus menjawab apa.
“Cepet jawab, Sayang. Aku enggak bisa nunggu lebih lama lagi,” desak Alvin.
“Mas, aku mohon berhenti, udah cukup,” kata Ayu, tidak sesuai dengan jawaban yang Alvin inginkan.
Alvin mengembuskan napasnya berat. Pria itu tanpa aba-aba langsung mendesak tubuh Ayu kasar. Ayu bahkan sampai memekik tertahan, ia terkejut dengan tindakan Alvin yang benar-benar tidak berniat menunjukkan sisi lembutnya.
“Sakit, Mas,” lirih Ayu, air matanya kembali terjun bebas.
“Ayu, kamu masih ....” Alvin tampak terkejut melihat darah yang tampak melekat pada benda pribadinya. “Jadi, kamu sama Kak Riki, kalian beneran sama sekali enggak pernah ... apa aku yang pertama?” tanya Alvin.