Kamu Sudah Punya Suami

1267 Kata
“Ayu.” Panggilan itu membuat Ayu menoleh ke belakang. “Reza?” Kening Ayu berkerut heran saat ia mendapati Reza ada di belakangnya. “Aku tadi enggak sengaja lihat kamu, aku pikir salah orang, tapi ternyata emang bener kamu,” ujar Reza. Ayu tersenyum menanggapinya. Lalu ia menoleh ke sekitar Reza, berpikir kalau Reza mungkin tengah menemani ibunya. “Mama kamu mana?” tanya Ayu. Reza mengangkat kedua alisnya bingung. “Kenapa nanyain Mama aku?” “Bukannya kamu ke sini sama Mama kamu?” Ayu kembali bertanya. Reza terkekeh. “Enggak, aku ke sini sendiri,” jawabnya. “Oh, aku kirain kamu temenin Mama kamu belanja,” cakap Ayu. Reza kembali mengurai senyumnya. “Aku tinggal sendiri, jadi ya belanja sendiri,” terang Reza. “Oh.” Ayu tak banyak menanggapi, ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Em, sebenernya aku belum lama ini pindah, dan tinggal di deket sini,” imbuh Reza. “Di deket sini?”  Reza menganggukkan kepalanya. “Iya, belum lama, baru sekitar satu mingguan,” paparnya. “Oh.” Ayu kembali menanggapi seadanya. Pandangan Reza kemudian beralih ke arah troli Ayu dengan tatapan herannya. Pasalnya troli Ayu terlihat penuh dengan kebutuhan pokok, yang rasanya mustahil untuk diri Ayu sendiri. “Kamu belanja sama Mama kamu, ya?” terka Reza, ia belum tahu tentang perihal yang terjadi dua tahun lalu, yaitu tentang ibunya Ayu yang menikah lagi dan tega meninggalkan Ayu dan adiknya begitu saja. Ayu menghela napasnya pelan, ia paling benci jika ada yang bertanya tentang ibunya. Tapi, bagaimanapun juga, ia tetap tidak bisa menyalahkan orang yang bertanya soal ibunya itu. “Ibuku pindah ke Inggris,” jawab Ayu, tampak terpaksa. Namun, Reza sepertinya kurang peka dengan ketidaknyamanan yang Ayu rasakan. Reza masih lanjut bertanya. “Pergi ke Inggris? Kerja di sana, ya?” “Bukan,” kata Ayu, sedikit tersenyum paksa. “Dia nikah lagi,” lanjutnya. Seketika itu, Reza barulah paham dengan situasi yang sudah ia ciptakan, ia telah mengorek luka yang coba Ayu sembunyikan. “Maaf, aku enggak tahu. Aku juga enggak bermaksud ....” “Enggak pa-pa,” sela Ayu. Ia tidak ingin membahas lagi tentang ibunya itu. Setelah itu Reza tidak lagi bersuara, pria itu hanya diam sembari mengikuti Ayu dan sesekali membantu Ayu mengambil beberapa barang yang berada di rak atas yang cukup sulit untuk Ayu ambil. “Makasih,” ucap Ayu, lalu meletakkan ke dalam trolinya dan kembali mendorong troli belanjaannya itu. “Aku boleh ‘kan belanja bareng kamu?” tanya Reza, yang masih mengikuti Ayu ke mana pun perempuan itu pergi. Ayu menoleh sejenak ke arah Reza. Lalu ia menatap keranjang kecil yang Reza bawa, di sana terlihat ada beberapa barang yang sudah Reza pilih. “Iya, silakan, aku enggak masalah kok,” jawab Ayu. “Kalau kamu mau, aku bisa bantu kamu belanja,” imbuhnya, yang tentu saja membuat Reza langsung terlihat antusias. “Iya, boleh, aku malah makasih banget kamu mau bantu aku pilih bahan-bahan makanan yang mungkin kamu jauh lebih paham daripada aku,” cakap Reza. Ayu tersenyum tipis menanggapinya. Selang beberapa saat kemudian, Ayu selesai membeli semua kebutuhan pokoknya. Usai membayar semua belanjaannya, Ayu melangkah keluar dari supermarket itu. Reza masih terlihat setia mengekori Ayu ke mana pun perempuan itu pergi. “Kamu pulang sendiri?” tanya Reza, melihat Ayu yang tengah memegang ponselnya. Ayu mendongak, menatap ke arah Reza yang tengah memperhatikan dirinya. “Iya,” jawab Ayu, singkat. Lalu ia kembali menatap ke layar ponselnya lagi, berniat menghubungi sang suami yang tadi sempat menyuruh Ayu untuk menghubunginya jika Ayu sudah selesai belanja. “Mau aku anter pulang enggak? Lagian tempat tinggal kita enggak terlalu jauh kok,” tawar Reza. Ayu yang masih mengetik pesan untuk Alvin pun tiba-tiba menghentikan gerak jarinya, lalu ia menatap ke arah Reza yang terlihat menunggu jawabannya. “Apa enggak repotin kamu?” tanya Ayu, sebenarnya ia sedikit tertarik untuk ikut pulang bersama Reza. Pasalnya ia tidak mau mengganggu Alvin yang ia ingat hari ini ada rapat penting. Ayu takut jika dirinya menghubungi Alvin di saat suaminya itu berada di tengah rapat, kemungkinan besar Ayu pasti akan mengganggu pekerjaan Alvin. Reza mengurai senyum hangatnya. “Sama sekali enggak repotin kok,” ujar Reza. “Gimana? Mau, ‘kan? Lagian rumah kita beneran deket kok, aku enggak bohong,” katanya. Ayu kemudian terlihat menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu ia mengangguk menanggapi Reza. “Iya, aku pulang sama kamu. Tapi ... aku beneran enggak repotin kamu, ‘kan?”  “Enggak, Ayu,” ujar Reza. “Makasih, Za,” ucapnya. “Apaan sih, Yu. Kayak sama siapa aja,” komentar Reza dengan sikap Ayu yang terlihat kaku padanya. “Ya udah, sini barang belanjaan kamu, biar aku bawa ke mobil. Kamu tunggu di sini aja. Aku mau ambil mobil dulu di basemen,” katanya. Ayu mengangguk menanggapinya. Lalu ia memberikan semua barang belanjaannya pada Reza. “Berat enggak?” tanya Ayu, saat ia sadar kalau dua barang belanjaannya yang lain ternyata sudah ada yang Reza bantu bawa sebelumnya. Dan kini pria itu harus membawa lima kantung besar berisi kebutuhan pokok yang beratnya berkilo-kilo gram. “Enggak,” jawab Reza. “Kalau berat, sini biar aku bantu bawa,” ujar Ayu sembari berniat mengambil dua kantung belanjaannya untuk membantu Reza membawanya ke mobil. “Eh, enggak usah, Ayu. Kamu tunggu aja di sini, ya. Biar aku yang bawa belanjaan ini ke mobil,” kata Reza, yang langsung menjauh dari jangkauan Ayu yang ingin membantunya. “Tapi—” “Aku ke mobil dulu, kamu tunggu di sini,” sela Reza, setelah itu langsung melangkah pergi dari hadapan Ayu, sebelum Ayu kembali memaksa untuk membantunya lagi. Ayu yang melihat tingkah Reza itu hanya bisa menghela napasnya pelan. * * * Alvin masuk ke dalam rumahnya dengan raut penuh emosi. Wajah pria itu tampak memerah, pertanda kalau dirinya sedang sangat marah. “Ayu!” teriaknya, mencari sosok istrinya yang saat ini tengah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. “Iya, Mas?” Ayu menyahuti. Seperti biasa, Ayu akan langsung berlari menghampiri suaminya jika suaminya itu memanggil namanya. “Ada apa, Mas?” tanya Ayu. Napas Alvin terlihat naik turun dipenuhi gejolak emosinya. Ayu yang melihatnya pun seketika itu merasa kalau Alvin sudah tahu tentang dirinya yang di antar pulang oleh orang lain, apalagi yang mengantarnya adalah Reza, sosok pria yang seolah Alvin anggap sebagai musuh. “Tadi pas aku anter kamu belanja, aku bilang apa ke kamu, hah?” tegas Alvin. “Telepon Mas kalau sa—” Ayu menghentikan perkataannya sejenak, ia hampir menggunakan panggilan ‘saya’ jika saja dirinya tidak ingat kalau Alvin sudah menyuruhnya untuk mengubah cara berbicara mereka. “Kenapa diem?” desak Alvin, dengan suara kerasnya. Ayu bahkan sampai tersentak mendengar Alvin yang seperti tengah membentak dirinya itu. “Kamu dianter pulang sama siapa?” tanya Alvin kemudian. Ayu tak langsung menjawab. Perempuan itu bingung harus menjawab apa. Ayu takut berkata jujur, tapi ia juga takut membohongi suaminya. “Jawab, Ayu,” kesal Alvin. Tubuh Ayu sudah gemetar takut, kepalanya bahkan menunduk semakin dalam. “Tadi aku ketemu Reza, Mas,” cicit Ayu. “Aku dianter pulang sama dia,” imbuhnya, pelan. Tanpa berani menatap Alvin yang sepertinya terlihat semakin marah. Alvin bahkan tampak mengepalkan kedua tangannya kuat, seperti tengah menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. “Masuk kamar sekarang juga, aku tunggu kamu di sana,” tukas Alvin, yang kemudian melenggang pergi dari hadapan Ayu. “Ke-kenapa harus di kamar, Mas?” tanya Ayu, ada goresan takut yang melanda dirinya. “Kamu harus dihukum. Biar kedepannya kamu inget kalau kamu itu udah punya suami,” pungkas Alvin. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN