“Eh, eh, Ayu kenapa udah bangun?”
Ayu terlonjak kaget saat suara ibu mertuanya tiba-tiba terdengar menyeruak keheningan.
“Duh, Mama buat kamu kaget, ya?” kata Mama Ajeng, yang baru saja datang ke rumah Alvin dan masuk menggunakan kunci cadangan.
“Mama? Kok Mama ada di sini?” Ayu bingung dengan kehadiran ibu mertuanya di pagi buta seperti ini. Padahal sebelumnya ibu mertuanya itu bahkan tidak pernah datang berkunjung sama sekali.
“Mama sengaja dateng ke sini,” ujar Mama Ajeng. “Kamu lagi masak, ya?” tanyanya kemudian.
“Iya, Ma. Buat bekal makan siangnya Mas Alvin,” jawab Ayu, dengan raut wajahnya yang masih tampak bingung.
“Alvin masih tidur?” tanya Mama Ajeng lagi, yang kini sudah maju dan mengambil alih masakan Ayu.
“Tadi Mas Alvin bangun sebentar buat sholat subuh, abis itu tidur lagi, Ma,” terang Ayu.
Mama Ajeng mengangguk paham sembari mengaduk masakan yang Ayu buat.
Ayu yang melihat ibu mertuanya mengambil alih kegiatannya, ia hanya bisa diam dan berdiri dengan rasa canggungnya.
Sampai kemudian Mama Ajeng menoleh ke arah Ayu.
“Kamu ngapain masih ada di sini? Udah sana ke kamar, tidur lagi sama Alvin. Biar Mama yang lanjutin masaknya,” kata Mama Ajeng, membuat Ayu mengernyitkan keningnya heran sekaligus bingung.
“Tapi, Ma. Aku ....”
“Udah, cepet sana tidur lagi,” suruh Mama Ajeng. Sungguh ibu mertua yang sangat langka dan sepertinya hanya ada seribu banding satu di dunia ini. “Mama tahu kamu pasti juga capek karena semalem kamu sama Alvin ....”
“Mama kok ada di sini?” Suara lain terdengar menggema.
Mama Ajeng dan juga Ayu menoleh ke sumber suara itu berasal.
Alvin tampak berdiri dengan wajahnya yang masih khas seperti orang baru bangun tidur. Pria itu kemudian terlihat melangkah mendekati ibu dan istrinya, lalu menatap ibunya untuk meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.
Mama Ajeng tersenyum. “Kamu masih capek, ‘kan? Tidur aja lagi, ajak Ayu tidur juga. Hari ini kamu enggak usah masuk kerja aja, biar nanti Mama bilang sama Papa kamu,” ujar Mama Ajeng, yang seketika langsung membuat Alvin mengernyitkan keningnya heran.
“Mama kesambet apa sih? Kok aneh banget,” komentar anaknya.
Bukannya marah, Mama Ajeng justru semakin melebarkan senyumnya, bahkan ia tampak mesem-mesem memandangi Ayu dan Alvin bergantian.
“Kalian ‘kan capek karena kerja semalaman. Jadi, kalian istirahat aja,” cakap Mama Ajeng, masih membuat Alvin dan Ayu belum mengerti dengan maksud dan tujuan wanita paruh baya itu.
“Capek apanya sih, Ma?” Bingung Alvin. “Semalem aku enggak kerja kok,” imbuhnya.
Mama Ajeng tak menanggapi, tapi wanita paruh baya itu masih tersenyum penuh arti, yang sampai detik ini belum bisa membuat Alvin dan Ayu mengerti dengan tingkah lakunya itu.
“Ma, mending Mama pulang aja deh. Kasihan nanti Papa nyariin Mama ‘gimana?” suruh Alvin.
“Bentar lagi Mama pergi setelah Mama selesaiin masakan ini. Lagian Mama sengaja dateng ke sini biar Ayu enggak kecapek’an karena harus bangun pagi setelah semalam kerja ekstra buat layanin kamu, Vin,” urai sang ibu, yang sontak membuat Alvin terbengong.
“Melayani? Melayani apa sih, Ma?” ujar Alvin.
“Buat dedek bayi,” jawab sang ibu tanpa dosa. Ia bahkan menjawab pertanyaan anaknya itu dengan sangat gamblang.
Ayu dan Alvin sampai merasa terdesak oleh ludahnya sendiri. Keduanya sama-sama berdehem sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat, menahan rona merah yang hampir membakar pipi mereka.
* * *
Suasana di dalam mobil itu terasa canggung. Alvin sejak tadi sebenarnya ingin membuka percakapan, tapi ia selalu mengurungkan niatnya itu lantaran melihat Ayu yang duduk di sampingnya itu tampak terlihat tenang dan seolah tidak ingin diganggu.
Padahal sebenarnya hati Ayu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Alvin rasakan saat ini. Canggung dan salah tingkah.
Sampai beberapa saat kemudian, mobil yang Alvin kendarai berhenti di depan pintu masuk supermarket yang berada tak jauh dari rumahnya.
“Sudah sampai,” ujar Alvin.
Ayu mengangguk, tanpa bersuara ia langsung melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk segera keluar dari dalam mobil.
Namun, belum sempat Ayu membuka pintu mobilnya, tangan Alvin terlihat mencegah Ayu untuk keluar. Pria itu bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah Ayu yang seketika itu tampak menegang.
“Soal semalem ....”
“Saya udah enggak inget, Mas,” sela Ayu, cepat.
Alvin terdiam dengan sorot matanya yang menatap Ayu lekat. Dia menatap Ayu cukup lama.
Sampai suara klakson mobil di belakang sana terdengar berbunyi nyaring, membuat Alvin langsung melepaskan tangannya dari lengan Ayu. Pria itu juga menjauhkan dirinya dari dekat wajah Ayu.
“Keluarlah,” suruh Alvin. “Nanti kalau pulang hubungi aku, biar aku pesenin kamu taksi online,” imbuhnya.
“A-aku?”
Alvin menatap Ayu bingung. “Kenapa?”
“Mas barusan pakai sebutan ‘aku, kamu’,” kata Ayu.
“Oh, itu, aku sengaja,” ujar Alvin.
“Sengaja?”
“Aku pikir, udah saatnya kita berhenti pura-pura di depan semua orang, termasuk Mama sama Papa. Lagian kamu juga bukan bawahanku lagi, aku juga bukan atasanmu lagi. Kamu juga udah enggak kerja di butik Edelweis lagi. Jadi, status kita sekarang bener-bener murni suami istri. Wajar ‘kan kalau aku mau kita ubah cara bicara kita?” kata Alvin.
“I-iya, Mas.” Ayu hanya bisa menanggapi seadanya.
Alvin menghela napasnya pelan, lalu pandangannya beralih lurus ke depan.
“Aku harap kamu paham sama apa yang barusan aku omongin,” ujarnya. “Ya udah, buruan keluar, sebelum pemilik mobil yang di belakang kita itu sewot,” sambungnya.
Ayu menatap mobil yang di belakangnya dari kaca spion, ia melihat pengendara mobil itu tampak menunjuk-nunjuk sambil mengoceh penuh emosi.
“Aku pergi dulu, Mas,” pamit Ayu. Kemudian ia membuka pintu mobil itu.
“Kamu enggak mau cium tangan aku?” tukas Alvin, membuat Ayu berhenti bergerak dan menoleh ke arah Alvin lagi.
Ayu menatap Alvin heran, karena tidak biasanya pria itu memintanya untuk melakukan rutinitas seperti suami istri pada umumnya.
“Cium tangan, Mas?” tanya Ayu, takut salah dengar.
“Iya, cium tangan,” ujar Alvin, terdengar mendesak Ayu untuk segera mencium tangannya.
Ayu dengan ragu mengamit tangan Alvin dan mencium tangan suaminya itu penuh khidmat.
Lalu saat kepala Ayu mendongak kembali—usai mencium tangan Alvin. Ayu merasakan bibir Alvin terasa menyapu keningnya lembut.
“Mulai sekarang, jadikan ini rutinitas kita setiap hari, inget itu,” ujar Alvin. “Ya udah, buruan keluar, nanti kalau kamu ada apa-apa atau butuh sesuatu langsung telepon aku,” pesannya.
Ayu mengangguk dengan isi kepalanya yang masih berantakan lantaran ciuman Alvin yang mendarat di keningnya tadi.
Ayu bahkan keluar dari dalam mobil suaminya itu dengan tatapan kosongnya, benar-benar terlihat seperti orang linglung yang baru saja terkena hipnotis.
Tak lama setelah Ayu keluar, mobil Alvin tampak melaju pergi.
“Mas Alvin salah makan apa sih pagi ini? Dia kok ... aneh?” gumam Ayu sembari memegangi kedua pipinya yang terasa memanas.