Sore itu, Ayu makan bersama suami dan mertuanya di restoran dekat butik.
Pak Damar dan Alvin beberapa kali sempat mengobrol mengenai perusahaan, sedangkan Ayu dan Mama mertuanya hanya diam menyimak para suami itu berbincang.
Sampai kemudian, Mama Ajeng yang sepertinya enggan menjadi pendengar terus, ia mulai membuka obrolannya dengan Ayu.
“Yu, ‘gimana? Udah hampir setengah tahun nikah sama Alvin, kamu ... udah isi belum?” tanyanya, yang seketika itu membuat Ayu tersedak makanannya.
Alvin yang ada di sampingnya langsung menepuk-nepuk pelan punggung Ayu, sesekali mengusap punggung istrinya itu agar makanan yang tersedak berharap bisa turun ke lambung.
“Pelan-pelan, Sayang,” ucap Alvin.
Jangan heran dengan panggilan yang Alvin lontarkan pada Ayu. Karena itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Alvin tidak mungkin akan memanggil Ayu seperti itu jika saja bukan karena ada orang tuanya di sana.
“Ini, minum, Yu,” kata Mama Ajeng sembari menyerahkan segelas air mineral kepada Ayu yang masih terbatuk-batuk.
Alvin membantu Ayu mengambil gelas berisi air mineral yang ibunya berikan, lalu ia meminumkan air itu kepada Ayu.
“Pelan-pelan minumnya,” suruh Alvin.
Ayu meminum air mineral itu perlahan, hingga sisa setengah dan Ayu menjauhkan bibirnya dari gelas tersebut, pertanda Ayu sudah merasa lebih baik.
Kemudian, Alvin meletakkan gelas yang ia pegang itu ke atas meja kembali, lalu ia menatap ke arah ibunya yang terlihat masih menatap Ayu khawatir.
“Mama bisa enggak sih jangan tanya aneh-aneh pas Ayu lagi makan?” tukas Alvin.
“Mas, jangan kasar ‘gitu sama Mama. Mama enggak bermaksud jahat, lagian Mama cuma tanya hal yang wajar ke aku,” nasihat Ayu, tangannya langsung memegang tangan Alvin lembut, berharap emosi pria itu sedikit mereda. Entah emosi palsu atau memang nyata.
Alvin mengembuskan napasnya berat. Ia lantas meminum segelas air mineral bekas Ayu tadi.
“Maafin Mama ya, Yu. Mama enggak bermaksud bikin kamu kaget kayak ‘gitu,” kata sang ibu mertua, yang justru membuat Ayu tidak enak hati.
“Eh, enggak usah minta maaf, Ma. Mama enggak salah kok. Tadi itu aku cuma kaget aja, Ma. Soalnya kemarin-kemarin waktu aku masih jadi istrinya almarhum Mas Ri-ki, Mama enggak pernah tanya kayak ‘gitu ke aku,” papar Ayu. Sebenarnya ia sedikit ragu saat dirinya harus menyebut nama mendiang suaminya itu di depan Pak Damar, Mama Ajeng, dan juga Alvin.
Kini embusan napas berat terdengar dari diri Mama Ajeng.
“Kamu pasti udah tahu alasannya, Ayu. Riki mungkin mencintai kamu, tapi dia sama sekali enggak ngerti yang namanya cinta terhadap lawan jenis. Yang dia tahu, kamu baik, dan dia suka sama kamu. Dia juga enggak ngerti sama yang namanya hubungan suami istri. Karena itu, selama kamu jadi istri Riki, Mama enggak pernah tuntut kamu buat kasih kami cucu,” terang Mama Ajeng.
“Iya, Ma,” lirih Ayu, paham.
“Dan sekarang, karena kamu udah jadi istrinya Alvin, yang normal dan sehat secara mental dan fisik, makanya Mama tanya kamu kayak tadi. Mama harap, walaupun kalian menikah karena paksaan, semoga kalian tetep bisa saling mencintai satu sama lain, dan menghasilkan buah cinta di antara kalian,” ujar Mama Ajeng, menatap anak dan menantunya itu penuh harapan.
“Kamu dengerin kata Mama kamu, Vin. Mama sama Papa kamu ini juga bakal semakin bertambah tua, dan tinggal kamu satu-satunya anak kami, jadi keturunan kamulah yang Papa harapkan bisa menjadi penerus perusahaan keluarga kita. Kecuali kamu mau anak-anak sepupu kamu yang kelak bakal ambil alih perusahaan yang sudah Papa bangun susah payah ini,” sahut Pak Damar.
Secara tidak langsung, kedua orang tua Alvin sebenarnya tengah mendesak Alvin dan Ayu untuk lekas memiliki momongan.
“Iya, Pa. Alvin paham,” jawab Alvin, yang kemudian menghela napasnya panjang dan kembali menyantap makanannya.
* * *
“Ayu!” teriak Alvin dari dalam kamar mandi.
Ayu yang saat itu tengah menyiapkan baju ganti untuk Alvin, ia segera menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tampak dibuka sedikit oleh Alvin.
“Iya, Mas?” tanya Ayu, kakinya langsung bergerak mendekati pintu kamar mandi yang terbuka satu sentimeter itu.
“Ada apa, Mas?” Ayu kembali bertanya, ketika ia sudah sampai di depan pintu.
“Handuk,” ujar Alvin. “Tolong ambilin handuk, saya lupa bawa,” pintanya.
“Oh, iya, tunggu bentar, Mas. Saya ambilin,” kata Ayu, kemudian ia langsung berlari menuju lemari Alvin untuk mengambil handuk suaminya itu.
“Cepetan, Ayu,” tukas Alvin.
“Iya, Mas. Bentar,” jawab Ayu, ia tengah berusaha mengambil handuk Alvin yang entah sejak kapan dipindahkan oleh suaminya itu di bagian lemari atas, yang membuat Ayu harus berjinjit dan susah payah mengambilnya.
Setelah perjuangan singkatnya, Ayu akhirnya mendapatkan handuk hitam itu.
“Ayu, buruan,” kesal Alvin.
“Iya, Mas. Ini handuknya baru dapet,” kata Ayu, kemudian langsung berlari kecil menuju pintu kamar mandi kembali.
“Ini handuknya, Mas,” ujar Ayu sembari menyodorkan handuknya ke celah pintu yang sedikit Alvin buka.
“Lama banget sih,” oceh Alvin, ia sedikit membuka pintunya lebih lebar, lalu mengambil handuk yang Ayu sodorkan padanya.
Tapi tak lama kemudian, Alvin tiba-tiba terdengar berteriak ketakutan.
“Cicaaaak!” teriak Alvin.
Bahkan saking takut dan paniknya Alvin, ia sampai keluar dari dalam kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun. Handuknya bahkan sudah ia lempar jauh ke sembarang tempat.
“Aaaaaa! Mas Alviiiiin!” Ayu ikut berteriak keras. Perempuan itu berteriak sambil menutup matanya rapat.
Rumah itu kini menjadi ajang pencarian bakat siapa yang berteriak paling kuat adalah pemenangnya.
* * *
Alvin keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan mengenakan pakaian lengkapnya.
Ia kemudian melangkah mendekati Ayu yang tampak duduk di tepi ranjang, karena menuruti perintahnya yang beberapa saat lalu ia menyuruh Ayu untuk duduk diam di sana.
Ayu yang melihat Alvin mendekatinya, ia langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah bersemu merah.
Ingatan tentang Alvin yang tidak mengenakkan busana seketika itu tersemat lekat di dalam benak Ayu.
Ayu sudah berusaha menepis ingatan itu. Tapi sepertinya apa yang tersemat di dalam benaknya saat ini seolah telah menempel permanen dan tidak akan pernah lepas sampai kapan pun.
“Kamu harus tanggung jawab,” ujar Alvin, kini kakinya sudah berdiri tegap, tepat di depan Ayu.
Ayu yang tadinya menundukkan kepalanya, sekarang wajahnya tampak terangkat dan menatap Alvin bingung. Apa yang harus ia pertanggungjawabkan?
“Emangnya saya salah apa, Mas?” tanya Ayu dengan wajah polosnya.
Alvin mengembuskan napasnya kasar saat sorot matanya menangkap wajah polos Ayu yang terlihat lugu dan menggemaskan itu.
“Kamu sengaja taruh cicak di handuk saya, ‘kan? Kamu pasti udah tahu kalau saya paling benci sama hewan satu itu, ngaku kamu,” tuding Alvin, bulu kuduknya rasanya merinding saat ia membayangkan rupa cicak yang baginya sangat menjijikkan.
“Enggak, Mas. Saya enggak ....”
“Saya enggak mau tahu alasan kamu. Pokoknya kamu harus tanggung jawab,” tukas Alvin.
“Tapi ‘kan cicaknya udah kabur, Mas. Mas mau saya tangkep cicaknya?” bingung Ayu, ia sungguh tidak mengerti dengan maksud tanggung jawab yang berulang kali Alvin lontarkan padanya.
“Bukan masalah cicaknya aja, Ayu,” kesal Alvin, wajahnya tampak bersemu merah. Ayu pikir Alvin marah, tapi sebenarnya pria itu tengah menahan harga dirinya yang melompat-lompat malu.
“Terus apa yang harus saya pertanggungjawabkan, Mas?” tanya Ayu.
Alvin mengembuskan napasnya berat, ia lantas menyedekapkan kedua tangannya sembari menatap Ayu serius.
“Karena saya suka keadilan, jadi kita harus impas, adil,” ujarnya.
“Maksudnya apa, Mas?” Ayu semakin tak mengerti.
“Kamu tadi lihat saya enggak pakai baju, ‘kan?” tanya Alvin.
“I-itu ... saya ....”
“Jawab aja ‘iya’ atau ‘enggak’. Saya butuh jawaban kamu, bukan alasan kamu,” tukas Alvin.
“I-iya, Mas.” Ayu langsung menjawab cepat, walaupun jantungnya sudah berpacu kuat dan wajahnya merona seperti tomat. Ingatan tubuh Alvin yang menggoda benar-benar bersemayam nakal di dalam benak Ayu.
“Kamu lihat semuanya? Termasuk bagian ‘itu’?” tanya Alvin, yang sebenarnya tengah menahan rasa malunya.
“Iya,” lirih Ayu, suaranya pelan, wajahnya pun tertunduk semakin dalam.
“Sekarang kamu buka baju,” suruh Alvin tiba-tiba, yang sontak langsung membuat mata Ayu terbeliak lebar. Ia menatap Alvin syok. Ayu bahkan secara refleks menyilangkan kedua tangannya membentuk sebuah pertahanan. Tubuhnya juga sudah meringsek mundur ke belakang, menjauh dari jangkauan Alvin.
“Mas.” Ayu menatap Alvin seperti om-om hidung belang yang hendak menodai dirinya.
“Kamu udah lihat punya saya, Ayu. Jadi saya juga harus lihat apa yang ada pada diri kamu. Itu baru adil, lagian saya ini suami kamu, halal bagi saya lihat tubuh kamu sepenuhnya,” desak Alvin, sebenarnya ia hanya sangat frustrasi dengan rasa malunya.
“Enggak mau,” tolak Ayu, kepalanya menggeleng kuat. “Saya ‘kan enggak sengaja lihat punya kamu, Mas,” tukasnya, panik. Bahkan emosinya sudah meronta-ronta ingin melawan kehendak Alvin.
“Kalau saya minta hak saya sebagai suami kamu ‘gimana? Kamu masih enggak mau kasih saya lihat? Lagian kamu denger ‘kan kata Mama sama Papa tadi sore? Mereka mau kita cepet-cepet punya anak,” ujar Alvin, ingin menang sendiri.
“Tapi itu ‘kan enggak ada hubungannya sama handuk, cicak, dan Mas yang keluar kamar mandi tanpa busana,” kata Ayu, benar-benar merasa terdesak oleh keadaan, hingga ia memiliki keberanian untuk menjawab setiap omongan Alvin.
“Mas, cari kesempatan dalam kesempitan, ya?” tuding Ayu. “Oh, jangan-jangan Mas yang emang dari awal sengaja enggak bawa handuk, terus suruh saya bawain Mas handuk, terus Mas taruh cicak di handuk itu, dan Mas pura-pura takut, terus Mas keluar dari kamar mandi, jadinya saya harus lihat Mas enggak pakai pakaian sama sekali. Dan sekarang, Mas minta keadilan dari saya dengan cara yang aneh kayak ‘gini. Ini semua udah Mas rencanain, ya?” cakap Ayu, balik menuduh suaminya itu.
Alvin melotot tajam, ia tidak pernah berpikir akan mendapatkan serangan balik yang sangat telak. Bahkan, semua yang Ayu tuduhkan padanya benar-benar terdengar masuk akal. Walaupun faktanya, Alvin sama sekali tidak pernah memiliki rencana segila itu.
“Kamu berani tuduh saya kayak ‘gitu?” tukas Alvin, emosinya terpancing.
Ayu bergerak mundur saat Alvin terlihat mendekati dirinya.
Namun, pergerakan Ayu tak kalah cepat dengan Alvin yang sudah menerjangnya seperti macan yang menemukan mangsanya. Tubuh Ayu terjatuh ke atas kasur dengan posisi yang tidak pernah Ayu harapkan.
Mendapatkan kesempatan emas, Alvin langsung menindih tubuh Ayu di bawahnya. Bahkan kedua tangan Ayu sudah berada dalam kuasanya.
“Mau lari ke mana kamu?” bisik Alvin, tersenyum menyeringai.
“Mas, aku ....”
“Alvin, tadi Mama dapet telepon dari Bu Desi, tetangga kamu, katanya ada teriakan di rumah kam—”
Kalimat Mama Ajeng terhenti saat ia membuka pintu kamar Alvin tanpa permisi dan melihat posisi anak dan menantunya yang seperti hendak ....
“Oh, lagi buat dedek, pantes berisik,” komentar Mama Ajeng sembari tersenyum mesem-mesem. “Ya udah, dilanjut. Lain kali dikunci ya pintunya. Pintu depan biar Mama kunci pakai kunci cadangan. Mama pulang dulu, have fun sampai pagi, ya,” imbuhnya, yang kemudian menutup pintu dan terkikik di luar sana.
“s**t!” umpat Alvin, harga dirinya benar-benar sudah hancur lebur. Bukan hanya hancur di depan istrinya saja, tapi juga di depan ibunya. Alvin benar-benar diterjang rasa malu yang bertubi-tubi. Ia sungguh sial.