“Ya ampun, kakiku rasanya mau patah gara-gara event ini,” keluh seorang pegawai, siapa lagi kalau bukan Jeni.
Ayu yang ada di dekatnya hanya bisa diam melihat rekan kerjanya itu mengeluh, padahal jika dibandingkan dengan dirinya, Jeni tak banyak melakukan pekerjaan, pasalnya wanita itu selalu menjauh setiap kali ada pelanggan yang datang.
Di saat mereka baru saja duduk dan beristirahat, Sarah terlihat masuk ke dalam ruang istirahat karyawan perempuan. Wajahnya tampak panik dan seperti sedang diburu oleh sesuatu.
“Kalian semua keluar, udah cukup istirahatnya,” suruh Sarah.
“Kan ini masih jam istirahat, Mbak,” protes Jeni.
Sarah menghela napasnya pelan. “Kamu mau dipecat ya, Jen?” tegasnya, yang sontak langsung membuat semua karyawan butik berdiri, kecuali Ayu—yang sejak tadi belum sempat duduk.
“Eng-enggak, Mbak,” cicit Jeni. “Maaf,” lirihnya.
Sekali lagi Sarah mengembuskan napasnya berat. Lalu menatap semua bawahannya itu dengan raut tegasnya.
“Saya bukannya mau rampas waktu istirahat kalian. Tapi barusan kita kedatangan pimpinan perusahaan. Pak Damar sama istrinya dateng ke sini untuk mengunjungi Pak Alvin yang hari ini adalah hari terakhir Pak Alvin menjadi manajer di butik kita,” papar Sarah.
“Kalian mau kena tegur gara-gara butik kita yang lagi ngadain event keliatan kosong enggak ada karyawan? Kalau kalian maunya ‘gitu ya silakan,” timpal Sarah.
“Enggak, Mbak. Maafin kita, Mbak Sarah,” ujar salah seorang karyawan mewakili yang lainnya.
“Enggak usah minta maaf, lebih baik kalian buruan keluar, Pak Damar sama istrinya udah masuk dari tadi,” suruh Sarah.
Seketika itu, semua pegawai wanita yang ada di dalam ruangan itu keluar, mereka kembali bekerja di saat tubuh mereka sudah terasa mulai lelah.
Namun, ada satu pegawai yang terlihat enggan melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan. Dia adalah Ayu.
“Ayu?” Sarah mengerutkan keningnya, menatap Ayu heran.
Sarah sangat paham betul dengan kinerja Ayu. Ayu bukan tipe pegawai yang pemalas, dia tidak mungkin bertahan di dalam ruang istirahat ini tanpa suatu alasan.
“Kamu kenapa, Yu?” tanya Sarah. “Kamu sakit? Wajah kamu kok agak pucet ‘gitu?” imbuhnya.
Ayu memang sedikit pucat, tapi bukan karena dia sakit, melainkan karena dia tengah dilanda rasa cemasnya.
Rasa cemasnya itu mencuat saat ia mendengar nama Pak Damar disebut oleh Sarah. Pak Damar datang dengan istrinya ke butik ini, kedua mertuanya itu datang tanpa pemberitahuan. Dan jika mereka melihat Ayu masih bekerja di butik, habislah Ayu. Ayu juga tidak enak hati pada Alvin yang pasti akan mendapatkan amarah dari orang tuanya itu.
“Ayu?” panggil Sarah, ketika ia mendapati Ayu yang tampak melamun.
“Ma-maaf, Mbak Sarah. Saya ....”
“Sarah, kamu ada lihat Ayu?” tanya suara Alvin.
Sarah menatap atasannya itu dengan sopan, kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah Ayu yang masih berdiri di sudut ruangan dengan raut cemas.
Alvin yang berada di ambang pintu ruangan langsung masuk saat ia melihat istrinya itu.
“Mas, Papa sama Mama ....”
“Saya tahu, sekarang kamu ganti baju kamu, buruan,” suruh Alvin.
“Ta-tapi ... nanti temen-temen kerja aku, mereka bisa tahu kalau aku ....”
“Lebih baik ketahuan sama mereka kalau kita udah nikah daripada ketahuan sama Papa kalau kamu masih kerja di sini,” tukas Alvin, perkataannya itu membuat Sarah yang masih berdiri di depan pintu tampak membeliak kaget. Sekarang dia paham kenapa belakangan kemarin ia sering kali melihat Alvin dan Ayu tampak bersama.
“Buruan ganti baju kamu, Ayu,” desak Alvin, yang melihat Ayu hanya diam saja.
“Iya, Mas,” jawab Ayu.
Kemudian ia langsung berlari kecil menuju lokernya. Ayu mengambil baju yang ia bawa dari rumah, baju gantinya.
“Siapa yang suruh kamu pakai baju itu?” sergah Alvin, merebut baju Ayu yang terlihat murahan, seperti baju obral yang dijual di pinggir jalan. “Pakai baju ini,” suruhnya sembari menyerahkan salah satu baju butik yang Ayu ingat dipajang di bagian etalase khusus.
“Mas, baju ini ....”
“Pakai aja, sekarang ini jadi milik kamu. Jadi enggak usah banyak protes,” cakap Alvin.
Ayu menerima gaun yang menjuntai panjang sebatas lutut itu dengan ragu.
Setelah Ayu menerimanya, Alvin kemudian berbalik, melangkah menuju pintu untuk keluar dari dalam ruangan agar Ayu bisa mengganti pakaiannya.
“Sarah, bantu Ayu pakai gaun itu, dan jangan lupa kunci pintunya,” suruh Alvin pada Sarah yang ia tahu sejak tadi sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Ayu.
“Baik, Pak,” jawab Sarah.
Alvin pun melenggang pergi, tetapi sebelum benar-benar pergi, Alvin sempat menoleh kembali ke arah Ayu untuk mengingatkan Ayu tentang sesuatu hal.
“Ayu, ingat, pakai ‘aku, kamu’,” cakap Alvin.
Ayu langsung mengangguk paham, dia tahu apa maksud perkataan suaminya itu. Alvin meminta Ayu untuk menggunakan ‘aku dan kamu’ saat mereka berbicara di depan Pak Damar dan Bu Ajeng nanti.
* * *
Alvin tersenyum hangat menatap ibunya yang kini sudah berdiri tepat di depannya.
Pria itu sekilas merengkuh tubuh Mama Ajeng, lalu bergantian menyapa ayahnya dengan cara berbeda, Alvin hanya melemparkan senyum singkatnya pada sang ayah.
“Mama sama Papa kenapa enggak kabarin aku kalau mau dateng ke sini?” tanya Alvin.
“Emangnya Papa butuh izin dari kamu kalau Papa mau dateng ke butik milik perusahaan Papa sendiri,” tukas Pak Damar, yang hanya bisa ditanggapi Alvin dengan ringisan kecilnya.
Di sela-sela obrolan mereka, banyak pasang mata para karyawan butik yang terus memperhatikan ketiga orang penting itu.
Tak sedikit dari karyawan wanita yang tampak mengidamkan sosok Alvin sebagai suami impian.
Alvin yang biasanya terlihat tegas dan dingin, kini tampak sangat hangat dan penuh kelembutan.
Melihatnya saja mampu membuat hati para wanita meleleh terpesona.
Namun, khayalan mereka tentang Alvin seketika luntur saat sosok Ayu terlihat keluar dari dalam ruang karyawan wanita dengan pakaian yang dirancang khusus oleh desainer terkenal.
Para karyawan butik tentu tahu pakaian yang Ayu pakai adalah edisi terbatas yang dipajang di etalase khusus.
“Apa yang Ayu lakuin? Kenapa dia pakai baju itu? Ayu udah enggak waras, ya?” komentar Jeni, menatap Ayu dengan raut tak percayanya.
“Ma, Pa,” sapa Ayu, dari arah belakang Pak Damar dan Mama Ajeng.
Kedua mertuanya pun menoleh, menatap Ayu dengan sedikit rasa kaget yang menyelimuti hati mereka. Tapi, kemudian mereka mengurai senyum hangat mereka pada Ayu.
“Loh, Ayu juga ada di sini?” tanya Mama Ajeng.
“Alvin sengaja ajak Ayu buat dateng ke sini, Ma. Soalnya belakangan ini dia keliatan bosen ada di rumah terus. Lagian dulu Ayu juga kerja di sini, jadi ya ... biar dia juga bisa ikut rasain meriahnya event anniversary butik ini,” terang Alvin, yang kemudian mendekati Ayu dan menggenggam tangan istrinya itu.
Percakapan Alvin dan juga sikap Alvin pada Ayu tentu saja membuat semua karyawan butik Edelweis tampak membeliak kaget, bahkan ada yang menganga lebar saking syoknya.
“I-ini ... sebenernya apa yang terjadi?” lirih Jeni.
“Ayu itu istrinya Pak Alvin,” sahut Sarah, ia sengaja bergabung dengan karyawan butiknya yang tampak tidak fokus bekerja dan justru malah menguping pembicaraan atasan mereka di depan sana.
“Mbak Sarah,” lirih Jeni, tersenyum seperti kuda.
“Saya tadi suruh kalian keluar dari ruang istirahat buat apa?” tanya Sarah.
“Kerja,” cicit Jeni, mewakili beberapa karyawan lainnya.
“Terus kenapa sekarang malah nguping pembicaraan orang lain?” tegurnya.
“Iya, Mbak. Maaf,” ucap mereka, pelan. Tanpa berani menatap ke arah Sarah.
“Enggak perlu minta maaf, yang saya perlukan itu kinerja kalian,” tukasnya.
Sarah kemudian mengembuskan napasnya berat, lalu melenggang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat ia tinggalkan tadi.
Selepas kepergian Sarah, para karyawan yang tadinya berkumpul untuk menguping pembicaraan atasan mereka itu, kini kembali ke tempat mereka masing-masing.
“Ingetin gue buat enggak deket-deket sama Ayu lagi. Gue takut nyinggung dia. Soalnya kalau sampai dia kesinggung, mampus gue, gue bisa dipecat nanti,” kata Jeni pada beberapa rekan kerjanya yang baru saja ingin pergi ke etalase tempat mereka ditugaskan.
Setelah berkata seperti itu, Jeni menatap sekilas ke arah Ayu, lalu kemudian ia melangkah menuju etalasenya dan kembali bekerja walaupun sesekali Jeni melirik ke arah Ayu dan Alvin untuk tetap terus menguping karena rasa penasarannya.
Sebenarnya bukan hanya Jeni yang bersikap seperti itu, karena ada beberapa karyawan dan bahkan sepertinya hampir semua karyawan butik Edelweis tampak sesekali melirik dan menguping ke arah Ayu dan Alvin dari tempat mereka masing-masing.