“Ha-hak apa, Mas?” tanya Ayu sembari melangkah mundur satu jengkal dari hadapan Alvin.
Ayu bukannya tidak tahu maksud Alvin, dia tahu, hanya saja dia tetap bertanya seperti itu untuk mengulur-ngulur waktu agar dirinya bisa berpikir bagaimana caranya dia lepas dari situasi yang terasa genting ini.
“Kamu udah dewasa, Ayu. Kamu pasti paham apa maksud saya. Lagian kamu udah dua kali nikah, kamu pasti udah lebih berpengalaman dari saya,” cakap Alvin, suaranya terdengar berat, tatapannya pun kian lekat dan penuh minat.
“Ta-tapi saya sama Mas Riki ....”
“Jangan sebut nama cowok lain di depan saya, Ayu. Bukannya saya udah kasih tahu kamu?” tukas Alvin. “Sekalipun itu kakak saya, jangan pernah sebut di depan saya. Apalagi saat saya memintamu untuk melayani saya,” timpalnya.
“Ma-maaf,” cicit Ayu, yang tak henti-hentinya tergagap lantaran rasa gugupnya yang begitu pekat. “Tapi, Mas. Saya belum ....”
“Siap enggak siap, kamu harus siap. Kamu itu istri saya, sudah seharusnya kamu layani saya,” sela Alvin. “Lagian kita udah nikah selama empat bulan, udah cukup saya kasih waktu kamu, dan sekarang saya minta hak saya,” desaknya.
Ayu bingung bagaimana harus menjelaskannya. Masalahnya ini pertama kalinya Ayu dihadapkan dengan hal seperti ini.
Ayu dan Riki, mereka tidak pernah melakukan hubungan suami-istri satu kali pun. Bahkan, berciuman pun mereka tidak pernah.
Riki tidak pernah meminta, Ayu juga tidak pernah berpikir untuk memberikannya. Mereka hanya tidur bersama, layaknya saudara yang berada dalam satu ranjang, benar-benar tidak terjadi apa-apa.
Dan sekarang, Alvin—adik dari mantan suaminya itu tiba-tiba datang padanya dan meminta haknya secara tiba-tiba.
“Mas, saya ....”
Drrt. Drrt. Drrt.
Handphone Ayu berbunyi, suara panggilan masuk itu membuat fokus Alvin dan Ayu pecah, keduanya sama-sama menatap handphone yang tergeletak di atas meja rias.
“Enggak usah diang—” Belum selesai Alvin berbicara, Ayu langsung menyambar handphone-nya. Karena bagi Ayu, ini adalah cara dia bisa lolos dari Alvin.
Ayu sedikit menjauh dari Alvin, dan tampak bercakap-cakap dengan seseorang di seberang panggilan. Sedangkan Alvin, pria itu beberapa kali terlihat mengembuskan napasnya kasar sembari menatap Ayu dengan tidak sabar.
Selang beberapa saat kemudian, Ayu kembali mendekati Alvin, tapi raut wajah perempuan itu terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. Ayu terlihat cemas karena panik, seperti ada sesuatu yang serius tengah terjadi.
“Mas,” lirih Ayu.
“Ada apa?” tanya Alvin, terdengar sedikit ketus karena kesal pada Ayu yang membuatnya harus meredam gejolak di bawah sana.
“Mas, saya mau izin pergi keluar,” kata Ayu.
Alvin mengerutkan keningnya. “Ini udah mau magrib, ngapain kamu keluar? Mau keluar ke mana?” tukas Alvin, tampak tidak setuju.
“Tapi saya harus ke kantor polisi sekarang, Mas,” ujar Ayu, terlihat sangat panik.
“Ngapain kamu ke kantor polisi?”
“Ega,” ucapnya, pelan.
“Ega?” Kening Alvin berkerut, mencoba mengingat nama yang tak asing itu.
“Adek saya, Mas,” ujar Ayu, yang langsung membuat Alvin ingat dengan sosok pria muda itu.
“Adek yang udah jual kakaknya sendiri? Kamu ngapain ketemu sama dia lagi?” tukas Alvin.
Ayu menghela napasnya pelan. Dia tahu kalau Ega sudah berbuat hal yang sangat keterlaluan padanya. Tapi tetap saja, Ega adalah satu-satunya keluarganya. Dan Ega juga hanya memiliki dia sebagai sosok keluarga.
“Tapi saya harus temuin dia di kantor polisi, Mas. Ega ada di sana sekarang. Dia butuh saya sebagai walinya,” pinta Ayu.
“Kamu untuk apa peduli sama dia, Ayu? Dia udah buang kamu, dia tega jual kamu demi uang yang enggak seberapa,” oceh Alvin, yang terlihat sangat tidak setuju jika Ayu memedulikan adiknya itu.
“Maafin saya, Mas. Tapi saya tetep harus pergi, gimanapun juga dia adek saya. Saya satu-satunya keluarga dia. Saya enggak bisa diem aja, saya enggak bisa tenang,” urai Ayu, kemudian menghela napasnya pelan.
“Dulu sewaktu Mas Riki masih hidup, Mas pasti juga cemas ‘kan kalau Mas Riki ada apa-apa?” imbuh Ayu, menatap Alvin yang tampak diam. “Itu yang saya rasain sekarang, Mas,” lanjutnya.
Alvin mengembuskan napasnya berat. “Saya izinin kamu pergi, tapi saya juga ikut,” kata Alvin.
“Tapi—”
“Saya ikut atau kamu sama sekali enggak pergi?” ancam Alvin.
Ayu menghela napasnya pasrah, ia pun mengangguk, menyetujui tawaran yang Alvin berikan.
“Ya sudah, buruan ganti baju kamu. Saya tunggu di mobil,” ujar Alvin.
“Makasih, Mas,” ucap Ayu.
Alvin tak menanggapinya, pria itu hanya diam menatap Ayu. Lalu kemudian, Alvin melangkah menuju pintu kamar, membuka pintu yang sempat ia kunci.
Setelah kepergian Alvin, Ayu segera mengganti pakaiannya.
* * *
“Kamu masih enggak mau ngaku setelah buat anak saya babak belur kayak ‘gini, ha?” amuk wanita paruh baya yang belum lama tadi datang ke kantor polisi.
Beberapa kali ia ingin memukul Ega, tapi seorang polisi yang berada di tengah-tengah mereka terus berusaha untuk melerai.
“Tenang, Ibu. Ini di kantor polisi, jangan pakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah,” nasihat polisi itu.
Si wanita paruh baya tampak mendengus kesal, lalu ia beralih menatap putranya yang wajahnya tampak penuh dengan luka lebam.
Di sisi lain, Ega terlihat menghela napasnya pelan, kepala pria itu menunduk, sama sekali tidak ada goresan semangat dalam dirinya. Dia bahkan tampak pasrah jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Misalnya saja, menjadi pihak yang bersalah dan mendapatkan hukuman penjara.
Sampai kemudian, sebuah suara membuat kepala Ega terangkat, jantungnya pun berdesir hebat, ada getaran hangat yang mengalir di penjuru nadinya.
“Ega,” panggil seorang wanita, dia Ayu—sang kakak yang telah tega ia jual setengah tahun lalu.
Ega membeliak kaget, menatap tak percaya ke arah kakaknya yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Dengan saudari Ayu? Benar Anda keluarganya Ega?” tanya seorang polisi yang duduk di depan komputer.
Ayu langsung mengangguk. “Iya, saya kakaknya,” jawab Ayu.
“Bapak yang sudah hubungi wanita ini dan nyuruh dia dateng ke sini?!” tukas Ega pada polisi itu.
Si polisi tampak menghela napasnya pelan, lalu menyerahkan ponsel Ega yang sempat ditahan.
“Ada tiga kontak nomor di handphone kamu, dua nomor atasan di tempat kamu kerja, dan satu nomor kakak kamu. Jadi, saya hubungi dia sebagai wali kamu,” terang si polisi dengan papan nama bertuliskan Jaya.
Ega mengembuskan napasnya berat, harusnya sejak awal ia menghapus nomor kakaknya itu dari kontaknya, dengan begitu ia tidak akan lagi berhadapan dengan kakaknya yang sudah ia sakiti itu.
Ega merasa sangat malu, sampai rasanya ia lebih baik mati detik itu juga daripada bertemu dengan sang kakak dalam keadaan yang benar-benar buruk seperti sekarang ini.
“Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, sebenernya apa yang udah terjadi sama adek saya?” tanya Ayu.
“Adek kamu itu udah pukulin anak saya sampai babak belur kayak ‘gini,” sahut wanita paruh baya tadi.
Semua orang langsung menatap ke arah wanita dengan dandanan menor itu.
“Anak Ibu yang sudah pukul karyawan saya duluan.” Suara lain ikut terdengar.
Seorang pria dengan badan besar tampak mendekat, membuat wanita paruh baya tadi menciut ketakutan.
“Maaf, Pak. Saya datang ke sini sebagai saksi. Saya juga bawa barang bukti. Ini rekaman CCTV di kafe saya, tempat lokasi kejadian,” ujar pria itu sembari menyerahkan sebuah hard disk ke polisi yang duduk di depan komputer itu.
“Saya bosnya di tempat anak ini bekerja,” lanjutnya, bersikap seperti sosok Bapak bagi Ega.
“Kamu tenang aja, Ga,” bisiknya pada Ega seraya menepuk bahu Ega sedikit kuat agar Ega tetap tegar dalam situasi ini.
Selang beberapa saat kemudian, polisi selesai memeriksa rekaman CCTV itu. Ega pun dinyatakan tidak bersalah. Dan akhirnya permasalahan selesai dengan jalur damai.
Setelah itu, Ega langsung bangkit dari duduknya, sesegera mungkin ia ingin cepat pergi dari sisi kakaknya.
“Ega, tunggu.” Ayu berusaha memanggil Ega, ia bahkan sempat mengejar Ega yang sudah berlari seperti buronan.
“Sudah, Ayu. Jangan dikejar. Dia jelas-jelas enggak mau ketemu sama kamu. Dia pasti malu sama kamu,” ujar Alvin, sengaja mencekal lengan Ayu agar istrinya itu berhenti mengejar Ega.
Alvin bahkan mengusap lembut bahu Ayu agar wanita itu bisa bersikap tenang.
“Maaf, menyela obrolan kalian,” kata pria yang menolong Ega tadi. “Apa Mbak ini ... kakaknya Ega?” tanyanya kemudian.
“Iya, benar. Saya kakak kandungnya Ega,” jawab Ayu. “Oh, ya. Saya lupa bilang makasih ke Masnya. Makasih banyak sudah bantu adek saya. Saya enggak tahu harus bagaimana bales budi ke Masnya,” cakap Ayu.
Pria itu tersenyum. “Enggak masalah, Mbak. Saya ikhlas bantuin Ega. Lagian selama ini dia udah saya anggep kayak adek saya sendiri,” ujar pria itu.
“Iya, sekali lagi makasih banyak ya, Mas,” ucap Ayu tak henti-hentinya.
“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas pria itu. “Oh, ya, Mbak. Saran saya, Mbaknya enggak usah kejar Ega. Ega pasti lagi butuh waktu untuk dirinya sendiri, makanya dia langsung pergi kayak tadi,” pesannya.
Ayu terdiam, sebagai kakak ia merasa bersalah karena tidak mampu memahami adiknya itu.
“Iya, Mas. Makasih sarannya, dan sekali lagi ma—”
“Ayu, udah, kamu udah banyak bilang makasih ke dia. Bisa-bisa dia eneg denger ucapan makasih kamu terus,” tukas Alvin.
Pria yang merupakan bos Ega itu tersenyum lebar mendengarnya.
“Ya udah, kalau gitu, saya pamit pergi duluan ya, Mbak, Mas,” pamitnya.
“Iya, silakan. Sebelumnya, makasih untuk Masnya. Oh, ya. Ini kartu nama saya, jika suatu saat nanti Masnya butuh bantuan, silakan hubungi saya, biar kita sama-sama impas dan istri saya enggak ada hutang budi lagi ke Masnya,” ujar Alvin seraya menyerahkan kartu namanya pada pria itu.
“Enggak usah, Mas. Saya enggak perlu dibalas budi kok,” tolak pria itu, halus.
Alvin mengangguk paham, lalu memasukkan kembali kartu namanya ke dalam dompet.
Setelah itu, pria tadi menaiki motornya, dan terlihat pergi dari area kantor polisi setelah sekali lagi berpamitan dengan Ayu dan Alvin.
Selepas kepergian pria tadi, Alvin terdengar menghela napasnya pelan, lalu ia menoleh ke arah Ayu yang berdiri di sampingnya.
“Ayo, pulang,” ajak Alvin.
Kemudian, tiba-tiba Alvin merayapkan jari-jemarinya ke sela-sela jari Ayu. Alvin dengan sengaja menggenggam hangat tangan istrinya itu, berniat menyalurkan kehangatannya agar Ayu bisa kembali tenang dan tidak memikirkan lagi tentang apa yang sudah terjadi pada Ega.