bc

Pelukanku Untuk Sang Iblis Yang Lelah

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
reincarnation/transmigration
drama
bxg
campus
small town
like
intro-logo
Uraian

Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan, hiduplah Ayla, seorang gadis muda yang dikenal dengan naluri penyembuhnya yang luar biasa. Desa Hening, namanya, adalah tempat yang damai dan sederhana, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar yang penuh konflik. Namun, di balik ketenangan itu, Ayla menyimpan rasa ingin tahu yang besar tentang dunia di luar batas desa dan rahasia yang tersembunyi di balik bisikan angin dan gemerisik daun.Suatu pagi yang dingin, saat Ayla mencari ramuan di hutan dekat desa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—seorang pria dengan tanduk patah di kepalanya dan sepasang sayap hitam yang robek tergeletak lemah di antara semak-semak. Pria itu bernama Kael, seorang makhluk yang selama ini hanya dikenal dalam legenda sebagai Iblis Pemusnah, musuh umat manusia dan penjaga surgawi yang jatuh karena memilih menolak kekerasan yang melanda dunia.Meski ketakutan dan kecemasan menyelimuti hati Ayla, naluri penyembuhannya mengalahkan segala keraguan. Ia membawa Kael pulang, merawat luka-lukanya dengan ramuan dan kasih sayang, serta menyembunyikannya dari mata para penduduk desa yang takut dan memusuhi makhluk seperti Kael. Di balik tatapan merah menyala Kael yang penuh kesedihan, Ayla menemukan bukanlah monster, melainkan jiwa yang letih dan rindu akan kedamaian.Seiring waktu, ikatan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa kasihan. Dalam kehangatan rumah kecil di pinggir desa, di antara bisikan angin malam dan suara hutan yang menenangkan, Ayla dan Kael berbagi cerita tentang dunia yang terpecah antara cahaya dan kegelapan, tentang peperangan yang telah berlangsung selama ribuan tahun, dan tentang pilihan-pilihan sulit yang harus mereka hadapi. Mereka tahu, cinta mereka bukan hanya sebuah anomali, tapi sebuah pemberontakan terhadap takdir yang mencoba memisahkan mereka.Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Kecurigaan penduduk desa mulai tumbuh, dan bayangan pemburu kerajaan yang memburu Kael semakin dekat. Ayla harus menghadapi dilema berat—antara melindungi Kael dan menjaga keselamatan desanya sendiri. Setiap keputusan yang diambil akan mengubah jalan hidup mereka dan mungkin nasib dunia yang lebih besar.Pelukanku untuk Sang Iblis yang Lelah adalah kisah fantasi romantis yang menggabungkan keindahan alam, konflik batin, dan perjuangan cinta yang melampaui batas-batas dunia. Novel ini mengajak pembaca menyelami perjalanan dua jiwa yang berbeda, namun saling melengkapi, berusaha menemukan harapan dan kebahagiaan di tengah kegelapan yang mengintai. Sebuah cerita tentang keberanian untuk mencintai apa yang dianggap salah oleh dunia, dan kekuatan pengampunan yang mampu menyembuhkan luka terdalam.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 DESIR ANGIN DI DESA HENING
Pagi di Desa Hening selalu datang perlahan, seolah waktu enggan beranjak dari malam. Embun masih menggantung di ujung dedaunan saat Ayla membuka jendela rumah kayunya yang sederhana. Udara pegunungan menyapa dengan dingin yang bersih, membawa aroma pinus dan tanah basah. Di kejauhan, matahari mulai naik dari balik bukit, menebarkan cahaya keemasan ke atap-atap rumah penduduk desa yang berjajar rapi. Ayla berdiri sejenak di ambang jendela, membiarkan matanya menyapu hamparan hijau dan kabut tipis yang melayang. Ia mendesah pelan, lalu mengambil keranjang rotan miliknya. Hari ini, seperti biasa, ia akan pergi ke hutan untuk mencari ramuan obat. Di desa itu, Ayla dikenal sebagai penyembuh muda. Ia mewarisi bakat dari ibunya yang telah lama tiada. Bakat yang membuatnya disukai sekaligus ditakuti. Beberapa warga menyebutnya “anak hutan”, sebab ia sering menghilang berjam-jam, bahkan berhari-hari di tengah pepohonan lebat. Tapi Ayla tidak peduli. Hutan adalah tempat di mana ia merasa hidup—jauh dari tatapan curiga, dari gosip, dari batas-batas desa yang sempit. Pagi itu, ia menyusuri jalan setapak yang biasa dilaluinya, kaki telanjangnya menyentuh tanah dingin dan lembut. Burung-burung berkicau dari atas dahan, dan suara gemericik sungai terdengar di kejauhan. Ayla memetik daun sirna dan bunga kashira dengan cekatan, memasukkannya ke dalam keranjang. Tapi tak lama kemudian, ia mendengar suara lain—seperti rintihan. Suara itu datang dari balik semak belukar, dalam area hutan yang jarang ia datangi. Ayla berhenti, tubuhnya menegang. Tapi rasa takut kalah oleh rasa penasaran. Dengan hati-hati, ia menyibak semak dan menemukan sosok tubuh tergeletak di antara akar pohon besar. Itu adalah seorang pria. Tapi bukan pria biasa. Tubuhnya tinggi dan berotot, meski kini tampak lemah tak berdaya. Di dahinya tumbuh dua tanduk patah, dan dari punggungnya menjuntai sayap hitam robek, berlumuran darah. Pakaiannya compang-camping, dan kulitnya lebih pucat daripada manusia biasa. Ayla menahan napas. Makhluk ini… bukan manusia. Ia tahu itu. Mungkin ini iblis, seperti dalam cerita-cerita tua yang sering diceritakan penduduk desa. Namun, saat matanya bertemu dengan mata si makhluk—mata merah yang tampak penuh rasa sakit—Ayla tidak bisa bergerak. Bukan karena takut, tapi karena iba. Tanpa banyak berpikir, ia merobek ujung roknya dan menekan luka di perut pria itu untuk menghentikan pendarahan. Ia tidak tahu siapa dia, dari mana datangnya, atau apa tujuannya berada di sini. Tapi satu hal yang ia tahu: makhluk ini sedang sekarat. Dan Ayla tidak bisa membiarkannya mati. Dengan susah payah, ia menyeret tubuh besar itu ke atas sehelai kain dan menariknya kembali ke desa. Ia melewati jalur belakang agar tak terlihat, lalu membawanya ke ruang bawah tanah di rumahnya—tempat ia biasa menyimpan herba kering. Di sanalah, dengan cahaya lentera dan aroma ramuan, ia mulai merawat luka-luka makhluk itu. Beberapa hari berlalu. Pria itu belum sepenuhnya sadar, tapi napasnya kini teratur. Ayla membersihkan lukanya setiap pagi dan malam, mengganti perban, dan menyuapinya air madu. Ia tetap bungkam kepada penduduk desa. Bahkan kepada Lian, tetangga terdekatnya. Saat malam ketiga, suara serak terdengar dari sudut ruangan. “Kenapa kau menolongku?” Ayla, yang sedang mencampur ramuan di sudut ruangan, menoleh perlahan. Mata pria itu terbuka, memandang langsung ke arahnya. “Kau butuh bantuan,” jawab Ayla tenang. “Dan kau masih hidup.” “Kau tahu aku bukan manusia…” “Aku tahu,” bisiknya. “Tapi luka adalah luka. Entah milik manusia… atau bukan.” Pria itu terdiam sejenak. Lalu, dengan suara rendah, ia berkata, “Namaku Kael.” Ayla tersenyum tipis. “Aku Ayla.” Mereka tidak bicara lagi malam itu, tapi perkenalan itu menjadi awal dari sesuatu yang aneh dan tak terduga. Hari-hari berikutnya, Kael mulai bisa duduk dan membantu dirinya sendiri. Meski tubuhnya sembuh perlahan, sorot matanya tetap menyimpan luka lama. Ayla bisa melihatnya—kesepian, kelelahan, dan rasa bersalah yang dalam. Kael tidak pernah menceritakan masa lalunya, tapi Ayla tahu bahwa ia bukan sekadar makhluk buangan. Ia bukan monster seperti yang diceritakan dalam legenda. Ia adalah jiwa yang tersesat, yang memikul beban yang tidak bisa dijelaskan. Dan meski Ayla tahu keberadaannya berbahaya, hatinya tetap memilih untuk percaya. Karena di balik tatapan Kael, ia melihat seseorang yang hancur, bukan karena kejahatan, tapi karena kehilangan. Di desa yang tenang itu, dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi dari dunia, sesuatu mulai tumbuh. Bukan hanya kepercayaan, tapi sesuatu yang lebih hangat, lebih dalam. Dan Ayla tahu, hidupnya takkan pernah sama lagi. Bersambung......

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Wolf Alliance Series : The Path of Conquest

read
42.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.7K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
4.2K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook