Dia adalah Ikhsan. Hah? Mau apa lagi dia? Aku hanya terdiam di jarak yang cukup jauh dengan bangku yang diduduki Ikhsan. Lebih tepatnya aku masih bingung akan keberadaan Ikhsan. "Kenapa masih diam disitu? Ayo sini duduk. Aku sengaja nyuruh Vanesha agar kamu datang kesini." Hah? Vanesha? Ish, Vaneshaaaaa... Teriakku dalam hati. Aku duduk di ujung bangku yang cukup panjang itu dan lantas bertanya, "Ada apa?" "Ayo cepat katakan, kalo kamu juga mencintaiku!" Perintahnya aneh, seperti bukan Ikhsan si Mr. Dingin. "Engga, San!" Tolakku sambil menunduk dalam-dalam. "Kenapa? Aku tau kok kamu juga mencintaiku. Aku hanya ingin kamu mengatakannya langsung padaku!" "Engga! Kenapa kamu mencintaiku? Bukankah kamu mencintai Azizah?" "Tidak. Itu dulu. Aku sangat sakit hati saat ia pergi tanpa m

