"Apa benar kamu tidak menyimpan perasaan apapun pada Ikhsan?" Tanya Azizah di Taman kampus.
"Emm, engga ko. Ikhsan cuma temen masa SMP dulu." Aku tidak meluruskan antara hati dan ucapan. Ku akui aku dusta. Tapi ini demi kebaikan pertemananku dengan Azizah.
Ya Allah, maafkan aku. Maafkan aku karena aku telah berbohong. Aku ga mau Azizah menjauhi lelaki yang ia cinta hanya karena aku menyukai lelaki itu, batinku.
"Hmm.. Syukurlah. Cha, aku sangat mencintai Ikhsan. Aku sangat berharap, jika kami sukses kelak, Ikhsan segera melamarku. Aamiin." Dia mengaminkan harapannya sambil tersenyum penuh harap.
Deg!
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Biarlah perasaan dalam hatiku ini hilang seiring dengan berjalannya waktu. Meski rasa itu begitu dalam dan tak yakin aku mampu mengikhlaskan Ikhsan.
Setidaknya, jangan menjadi lemah hanya karena perasaan. Hidup tak harus selalu bawa perasaan. Yang penting itu pikiran yang jernih dan tenang dalam menyikapi dan bertindak.
???
Beberapa bulan berlalu begitu saja. Azizah sampai saat ini masih sering bercerita tentang Ikhsan. Mulai dari pertemuan masa kecilnya, kebaikan Ikhsan juga kedekatannya dengan Ikhsan. Terkadang hatiku nyesek saat mendengar semua itu, tapi aku berusaha menyembunyikan luka dan menggantinya dengan ketulusan senyum. Ini demi Azizah. Dan demi kebahagiaan orang yang selama ini singgah di hati ku.
Azizah bilang, hari ini juga Ikhsan akan pulang dari Mesir. Azizah mengajakku untuk menemui Ikhsan di toko buku. Aku sempat menolaknya, tapi Azizah terus membujuk dan memaksaku dengan wajah memelasnya. Apa boleh buat? Aku harus bersiap-siap menahan hati yang akan hancur detik itu juga. Terlalu lebay memang diriku ini. Tapi begitulah kenyataan yang aku rasa.
Di Toko buku
"Hai, San!" Panggil Azizah pada Ikhsan yang sedang fokus duduk sambil membaca sebuah buku.
Azizah duduk di samping Ikhsan, namun jaraknya masih dijaga. Sedangkan aku masih berdiri di samping Azizah sambil menunduk dalam-dalam. Ya Allah, sedekat inikah mereka? Batinku.
"Cha! Ayo duduk!" Ajak Azizah
"Hah? Eh, oh iyaiya," ucapku.
Aku duduk tepat di depan Ikhsan. Yang memisahkan kami hanya meja bundar berwarna coklat. Selama itu aku hanya bisa menunduk sambil sesekali memejamkan mata.
"Eh, San, Cha. Aku ke toilet dulu ya. Kalian ngobrol aja, kalian kan udah temenan dari SMP," ucap Azizah yang lantas pergi.
Aku hanya menunduk. Sungguh! Suasana saat ini sangat dingin. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Jantungku terus berdegup dengan kencang. Aku yakin, Ikhsan pasti ingat dengan kejadian dulu. Saat aku hanya menganggapnya seorang teman dekat saja.
"Apa aku masih kau anggap teman dekat?" Tanya Ikhsan, mencairkan suasana.
"Hmm... Ya," ucapku singkat.
"Aku pikir, kamu akan menganggapku lebih dari teman dekat. Dan asal kamu tau, aku masih menyimpan dan mengunci hati ini agar tidak bisa lagi mencintai seseorang selain kamu."
Deg!
"Ga mungkin!" Ucapku.
"Kenapa ga mungkin? Aku lebih mencintaimu daripada A-" ucap Iksan terpotong karena Azizah tiba-tiba datang.
"Hay. Wah ternyata kalian masih akrab ya?"
"Ehm, hehe," tawa Ikhsan kikuk.
Aku hanya diam. Ibaratkan aku ini adalah patung atau CCTV yang sedang menyaksikan dua insan ini. Selain itu, karena memang aku tak ada kepentingan dengan siapapun.
"Berapa lama kamu ada di Indonesia?" Tanya Azizah pada Ikhsan.
"Sekitar dua minggu lebih. Aku diizinkan tinggal lebih lama disini," jawab Ikhsan.
Setelah cukup lama mereka mengobrol, akhirnya hal yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Yaitu pulang.
Ikhsan mengajakku dan Azizah pulang bareng dengan menaiki mobil sedan putih miliknya. Mobil mewah ini melaju dengan cepatnya. Sampai-sampai mobil itu berhenti di depan rumah mewah tiga tingkat berwarna biru. Itu adalah rumah Azizah si Miss. Clinton.
"San, Cha, kalian mau mampir dulu?" tanya Ajizah.
"Engga, makasih, aku duluan aja," jawab Ikhsan.
"Iya aku juga Zah," ucapku.
Kamipun pamit. Setelah salam kami terjawab oleh Azizah, Ikhsanpun menjalankan mobilnya. Namun aneh, kali ini Ikhsan melambatkan laju mobilnya. Aku tak paham.
"Aku sengaja melambatkan laju mobilku. Agar aku dapat mendengarkan semua penjelasan darimu," ucap Ikhsan.
"Penjelasan apa?" tanyaku tak mengerti.
Dengan satu tarikan nafas Ikhsan berkata, "Jelaskan, kenapa kamu hanya menganggap aku teman dekat?"
"Bukannya dari dulu juga begitu?"
"Tapi, apa kamu tidak membaca diary itu? Aku menyukaimu Rischa. Kenapa kamu ga peka sih?"
Aku juga menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tapi bagaimana dengan Azizah? Batinku.
Aku membuka ranselku, dan mengeluarkan diary kecil milik Ikhsan. Mencoba untuk mengembalikannya.
"Ini... Ini aku kembalikan. Rasanya aku tak ingin melanjutkan membacanya."
"Kenapa?"
"Aku rasa jika aku membacanya lagi, aku akan terus berharap padamu. Padahal, belum tentu kamu tertulis dalam Skenario Allah untuk bersama denganku."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa yang menghambat kamu mengungkapkan perasaanmu padaku? Aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin kamu tertulis di lauh mahfudz bersamaku. Kenapa kamu tidak mengerti?" Ucap Ikhsan memaksa.
"Aku sangat mencintaimu. Apa kamu sudah puas? Kenapa kamu hanya menganggapku teman? Sedangkan aku selalu menyebut namamu di setiap setelah sholat tengah malam? Apa kamu tak pernah menyebut namaku dalam doamu?" Tanya Ikhsan yang lantas menghentikan mobilnya.
Aku hanya menunduk. Menangis dalam diam. Aku tak tau harus bagaimana. Aku juga mencintainya. Tapi aku tak ingin menyakiti hati Azizah yang menyukai Ikhsan juga.
"Aku selalu berdoa pada Allah, agar aku disebut dalam doa calon imamku. Dan aku tak tau jodohku siapa. Tapi, aku harap dialah yang terbaik agamanya. "
"Apa yang kamu maksud calon Imam itu aku? Aku sangat berharap bahwa itu adalah aku. "
"Entahlah. Saat aku berdoa, yang ada dipikiranku hanya kamu. Tapi, kamu belum tentu jodohku. Dan perihal lauh mahfudz hanya Allah yang tahu, Ikhsan."
"Aku harap, aku adalah seseorang yang Allah tuliskan dalam Skenario-Nya untuk menjadi tokoh utama bersamamu. Untuk melanjutkan kisah kehidupan kita selanjutnya bersama."
Aamiin, Batinku.
Akhirnya, sekarang aku sudah berada tepat di depan rumah. Aku cukup lega, sekaligus keringat dinginku berhenti.
Aku pamit. Mengucap salam padanya. Setelah dia menjawabnya, aku langsung membuka pintu mobilnya.
Baru saja aku akan menutupnya kembali, Ikhsan berkata, "Aku akan menunggu kamu!" Ucapnya yang membuatku tak mengerti.
"Menunggu apa?" Tanyaku bingung.
"Aku akan nunggu sampai kamu berani mengatakan bahwa kamu juga mencintaiku."
Aku membeku. Menunduk. Lantas, aku menutup pintu mobilnya dengan pelan. Kemudian, mobil sedan itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Aku harus bagaimana?
Aku sangat mencintainya,
Tapi bagaimana dengan Azizah?
Ya Allah, aku mohon, beri aku petunjuk.
Aku tak tau harus bagaimana?
Aku juga mencintai Ikhsan,
Tapi aku tak ingin menyakiti hati Azizah.
Asal kamu tau,
Aku Juga Mencintaimu... ❤
???
Aku berjalan gontai menuju Taman kampus. Vanesha bilang, dia sudah menungguku di Taman. Namun, aku tak melihatnya sama sekali. Hanya ada seorang lelaki memakai peci putih. Lelaki itu menoleh kearahku.
Dan ternyata dia...
***