Aku sangat sedih. Apa memang karena aku terlalu berharap padanya? Padahal Ikhsan hanya seorang teman SMPku dan tak pernah lebih. Tapi mungkin perasaanku yang terlalu berlebihan. Padahal aku tau, yang namanya berlebihan itu tak baik. Dalam hal apapun.
Ya Allah dia menyakitiku lagi. Kali ini, Ikhsan sangat menyukai Azizah, dan itu bukan karena kebaikannya tapi karena memang dia benar-benar menyukai Azizah. Ya Allah hati aku sangat sakit. Apa yang harus ku lakukan? Melupakannya? Tapi itu tidak semudah membalikkan tangan, Ya Rabb.
Sepertinya, mengikhlaskan Ikhsan adalah cara yang harus kupilih. Mau bagaimanapun, mau sesakit apapun hatiku, jika tidak ditakdirkan dengan Ikhsan ya tentu tak akan bisa bersama.
Aku harus perbanyak harap dan doa pada Allah. Mencoba untuk meminta yang terbaik.
***
Keesokan harinya, Vanesha sudah menungguku di teras rumah. Dia memang sengaja datang ke rumah untuk menjemputku ke kampus.
"Cha! Ko kamu lesu gitu," ucap Vanesha saat aku keluar dari rumah.
"Oh ya? Perasaan aku biasa aja. Sehat-sehat aja ko."
"Ya udah deh. Aku yakin kamu punya masalah. Aku bisa liat dari mata kamu. Mata yang menyiratkan kesedihan. Di kampus kamu harus ceritain apa yang terjadi. Titik."
"Iya, iya..."
***
Aku berjalan menuju Taman kampus dengan lesu. Jam masukku masih lama, sekitar satu jam lagi. Vanesha terus mengoceh agar aku bercerita padanya. Aku malas bercerita sebenarnya.
"Ayoo cha cepetan cerita!" Ucap Vanesha sambil menggoyangkan tubuhku.
"Iya, iya," Jawabku malas.
"Ya udah cepetan!"
Huft, akhirnya aku mengiyakan perintahnya untuk bercerita. Siapa tau dia bisa kasih solusi.
"Kamu tau kan Ikhsan? Orang yang aku suka?"
Vanesha mengangguk antusias. "Yaa, kamu selalu menceritakan Mr. Dingin itu."
Aku menarik nafasku dalam-dalam. "Azizah adalah teman masa kecilnya. Dan Ikhsan menyukai Azizah," ucapku.
Vanesha diam sejenak. Dia menatapku prihatin. Aku hanya menunduk lesu.
"Kamu harus melupakan Ikhsan. Kamu udah tau kan kalo berharap pada manusia itu hanya berbuah kekecewaan? Kenapa kamu tidak berharap pada Allah? Allah ada di sini, Cha. Allah menunggu kamu berharap pada-Nya. Apa kamu tidak menyadari itu?"
Vanesha benar. Ya Allah ampuni aku. Aku menunduk. Airmataku sudah meluncur. Embun demi embun air sudah keluar dari mataku. Aku memeluk erat Vanesha. Aku sangat beruntung memilikinya.
Aku memejamkan mata. Meresapi setiap embun yang meluncur di pipiku.
"Makasih, Sha. Aku sayang kamu karena Allah. Aku harap, kamu dapat terus menemaniku sampai Surga kelak. Jangan bosen buat cerewet nasehatin aku," Ucapku sambil menyeka airmataku.
Vanesha tersenyum. "Aku sahabatmu. Aku akan menemanimu sampai kapanpun. Kamu adalah sahabat surgaku, Cha. Aku juga menyayangimu karena Allah.''
Aku cukup lega dan sedikit tenang. Vanesha melonggarkan pelukannya. Aku membersihkan sisa airmata tadi. Memang masih terasa sakit, walau tak sesakit sebelumnya.
"Cha! Aku ke toilet dulu ya. Kamu tunggu aja disini," ucap Vanesha.
"Iya."
Baru saja Vanesha pergi, tiba-tiba kak Umar datang. Dia duduk tepat di ujung bangku panjang yang aku duduki. Dia menatapku heran. Mungkin karena hidungku yang merah bekas nangis tadi. Aku menunduk malu.
"Hai, Ukh. Kamu kenapa?"
"Emm... Engga papa, ka."
"Kamu pasti ada masalah ya? Mending cerita aja sama Ana."
"Afwan, ka. Tapi ini masalah pribadi."
"Ooh. Ya udah maaf ya. Hmm, Ukh? "
"Iya kak?"
"Ana uhibbuki fillah."
Hah? Deg!
Aku gugup. Aku terpaku. Aku diam. Aku semakin menunduk. Aku malu.
"Aku suka akhlakmu," ucapnya.
Aku semakin menundukkan kepalaku. Rasanya lidahku kelu. Sulit untuk mengatakan sesuatu. Di sisi lain aku juga bingung mau menjawab apa, walaupun itu bukan kalimat tanya.
Drrtttt Drrrtt
Syukurlah handphone ku berdering. Dan kulihat adalah pesan singkat dari Vanesha.
Vanesha: Cha! Kamu ke kantin ya temenin aku. Aku lapar nih. Aku tunggu oke?
Rischa: Oke
Akhirnya aku punya alasan untuk mengindar dari Ka Umar. Bukan aku tak menghargainya, tapi dia terlalu ambigu. Dia tak menyebutkan alasan juga penjelasan. Tentu membuatky bingung.
"Afwan, Akhi. Aku udah ditunggu Vanesha. Assalamualaikum." Aku segera berlalu dan meninggalkan Ka Umar sendiri. Dalam hati aku terus meminta maaf.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh."
Sepanjang perjalanan menuju kantin, aku banyak merenung juga bertanya-tanya tentang Ka Umar tadi. Ya Allah, apa benar kak Umar menyukaiku? Memangnya aku pantas, untuk lelaki sebaik dan sesholeh Ka Umar?
***
Aku tertidur pulas malam ini. Namun, tiba-tiba aku terbangun. Entah kenapa aku bisa terbangun. Saat ku lihat jam, ternyata masih pukul dua dini hari. Aku tau arti dari bangunku ini. Ini adalah kode dari Allah agar aku melaksanakan sholat tahajud. Alhamdulillah, terimakasih Ya Rabb telah membangunkanku.
Aku berwudhu dan setelahnya memakai mukena. Aku mulai menggerakkan setiap sendi yang sebelumnya beristirahat.
Di dalam sujud, aku menangis sesenggukan. Dengan seperti inilah aku merasa sangat dekat dengan Penciptaku. Hatiku begitu tenang saat berdialog dan mencurahkan segala isi hati pada Allah.
"Dirinya masih rahasia
Entah siapa orangnya
Tapi namanya telah tertuliskan untukku
Dan namaku tertuliskan untuknya
Entah bagaimana kami akan dipertemukan.
Karena Allah sudah menyusun rapi skenario demi
skenario, kapan dan dimana kita akan bertemu.
Kapan kami akan dipersatukan?
Semuanya adalah takdir terbaik yang Allah telah
siapkan.
"Ya Rabb...
Sampaikan salamku padanya.
Pada dia yang sedang memperbaiki dirinya.
Karena diriku pun juga sedang menata dan
memperbaiki diri.
Jagalah dia untukku.
Tanamkan kecintaan padaMu semata.
Dan pertemukan kami sesuai waktu terbaik yang
telah Engkau tetapkan.
Jika Ikhsan jodohku, maka dekatkanlah."
" Ya Allah, ampuni aku. Maafkan aku, karena sampai detik ini aku masih menyimpan perasaan pada salah satu hamba-Mu.
Perasaan yang entah akan dibalas atau tidak.
Tapi, kenapa perasaan itu sulit dihilangkan?
Padahal, aku sudah terjatuh dan sakit berkali-kali .
Ya Allah, jika memang dia jodohku, maka dekatkanlah.
Jika bukan, tolong jangan biarkan dia memberi harapan lagu padaku."
Tenang sekali rasanya bisa mengadu pada Allah di sepertiga malam. Di dalam keheningan, aku merasa khusyuk. Sesakku seketika hilang, terganti dengan ketentraman hati.
Saat aku mengadu dengan tangis, seolah Allah merangkulku untuk kembali dan memohon hanya pada-Nya.
Aku tau, aku sadar, bahwa berharap pada manusia itu melelahkan hati. Aku salah, yang terlalu mempercayai seorang lelaki, padahal bukti cinta itu dengan menghalalkan bukan dengan mengumbar janji atau bahkan hanya mengutarakan perasaan.
Ya Allah, ternyata begitu luar biasanya peristiwa jatuh cinta. Jika salah sedikit saja, makan akan berakibat fatal. Terlebih jika cinta itu justru malah menjauhkanku dariMu, Ya Rabb.
Terkadang juga, kita menyukai seseorang namun justru rasa itu tak terbalas. Malah orang lain yang menyukai kita.
Terlalu banyak kisah memang, walau hanya dari satu judul bernama jatuh cinta.
***
Siapa yang masih nunggu??
Salam,
Saifa Hunafa.