Kejadian kemarin, harus aku lupakan. Meski selalu saja aku merasa cemburu. Aku ga mungkin membenci Azizah. Azizah terlalu baik padaku selama ini. Lagipula, aku tak mau menjadi orang yang egois lagi.
Pagi ini, aku harus sudah berada di kelas pukul tujuh pagi. Kalau tidak, aku harus bersiap-siap untuk dihukum. Aku sekarang berada di mobil menuju kampus. Tiba-tiba handphone ku bergetar.
Drrrttt... Drrrrtttt...
Ada LINE masuk?? Dari siapa? Batinku yang mengurungkan diri sejenak untuk melajukan mobil.
M. Ikhsan: Hay Cha!
Ikhsan? Mau apa lagi dia? Apa dia tidak mengerti tentang perasaanku yang kemarin?
Aku Hanya membacanya. Malas sekali rasanya untuk membalas. Namun, dia terus mengirim pesan untuk kebeberapa kalinya.
Ikhsan: Hay Cha. Aku mulai pergi ke Mesir besok malam. Apakah hari ini kita bisa bertemu?
Ikhsan: Cha? Ko cuma di baca?
Ikhsan: Balas!!
Ikhsan: RISCHA!!!
Rischa: ENGGA BISA!! AKU SIBUK!!
Hanya itu balasanku untuknya. Aku terlanjur kesal dan sakit hati karena pertemuan kemarin. Sudah pasti aku ketauan cemburu oleh Ikhsan. Tapi aku tak peduli. Perasaanku padanya sudah tak bisa dibohongi lagi.
Akhirnya, aku sampai di kampus. Dan sampai saat ini pula Ikhsan tidak mengirim pesan lagi.
Aku berjalan menuju kelas. Sebenarnya jam masuk masih lumayan lama, tapi tak apa lah. Aku bisa baca-baca buku atau ngobrol dulu dengan Vanesha dan Azizah.
"Hay, Ukhty!" Sapa seseorang. Apa itu diperuntukkan untukku?
Karena penasaran, aku membalikkan badanku reflek.
"Ikhsan? Ngapain kesini?" Tanyaku ketus sekaligus terkejut mendapati sosoknya berjarak dekat denganku.
"Kenapa kamu ga mau ketemu aku? Aku tau kamu tidak terlalu sibuk. Dan tolong, aku cuma mau jalan dan mengobrol banyak denganmu. Ayolah Cha, tahun depan aku belum tentu bisa pulang kesini loh," keluhnya tak seperti biasa. Tak sedingin dulu.
"Loh apa urusannya denganku? Bukankah dari dulu juga kita hanya berteman? Udahlah!"
"Apa? Kamu hanya menganggap aku teman? Bukankah sudah jelas tertulis ya, di diary itu kalo aku suka sama kamu!" Ucap Ikhsan dengan nada tinggi di akhir kalimatnya.
"Kamu? Suka sama aku? Apa pernyataan itu masih berlaku?"
Kenapa kemarin kamu tidak ajak aku kerumahmu? Kenapa malah kak Umar yang mengajakku? Dan kenapa juga harus Azizah yang kamu ajak? Batinku.
"Kamu tuh ga peka ya?" Ucapnya terdengar kesal.
"Setau aku, kamu juga ga peka." Aku tak mau kalah.
"Kamu juga ga peka! Buktinya kalo memulai obrolan atau pesan antara kita selalu aku yang duluan!"
"Bukannya kamu seorang Ikhwan ya? Ya wajar lah jika seorang Ikhwan memulainya terlebih dahulu."
"Begitu juga semua hal lainnya? Apa harus Ikhwan dulu?"
"Engga juga. Tapi asal kamu tau, sebagian Akhwat hanya bisa memendam perasaannya. Dan, bukankah yang memulai sebuah ikatan yang halal itu Ikhwan? Aku pikir, percakapan ini terlalu berlebihan, udahlah, San. Lupain aja!"
"Oh, oke. Jadi, lupakan saja tentang perasaan yang aku tulis di diary itu. Kamu juga hanya menganggapku teman kan? Ga lebih! Dan aku mau negasin ke kamu, kalo aku suka pasti aku serius! Aku ingin kita lebih dari sekedar teman. Tegasnya, aku ingin jadi teman hidup kamu!"
Ikhsan lantas pergi. Aku masih mematung. Menatap kosong punggung si Mr. Dingin yang tengah marah besar padaku itu. Di sisi lain, aku tak percaya pada apa yang ia katakan tadi.
Teman hidup?
Tiba-tiba airmata ku menggenang, lantas meluncur dengan bebasnya.
Maafkan aku, San. Tapi hatiku terlanjur sakit. Aku terlanjur cemburu saat kamu bersama Azizah. Kenapa kamu tidak mengerti sih? Batinku.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba kak Umar datang menghampiriku yang sedang menangis. Taman tempatku saat ini memang tempat favorit Ka Umar juga.
"Kamu kenapa, Ukh?" Tanyanya.
Tangisku sedikit mereda.
"Ka, Kenapa kak Umar sama Ikhsan itu berbeda?" Tanyaku.
"Beda gimana?"
"Yaa beda aja. Kak Umar cenderung lebih baik dan bersikap sangat lembut dibanding Ikhsan. Kalo Ikhsan, kenapa dulu sikapnya dingin banget?"
"Kalo setau Ana, Ikhsan itu kesal karena waktu SD dia berpisah sama teman masa kecilnya. Dan semenjak SMP, dia jadi terlihat cuek sama perempuan. Dan itu karena Ikhsan ditinggalkan teman kecilnya tanpa kabar. Ikhsan bilangnya kalo dia menyukai temannya itu dari kecil. Jadi karena kekesalannya itu Ikhsan lebih bersifat dingin."
"Emangnya, siapa teman masa kecilnya?"
"Azizah. Azizah temen kamu itu."
Deg! Ikhsan? Menyukai Azizah?
"Katanya sih Azizah pergi ke Inggris, kota kelahirannya. Dia di Indonesia hanya menamatkan SDnya saja, kemudian pindah ke Inggris. Dan Ikhsan sangat bahagia ketika dia bertemu Azizah di Mesir dan satu Universitas. Kekesalannya dulu telah hilang semenjak pertemuannya dengan Azizah kembali." Lanjut kak Umar.
Oh ternyata Ikhsan sangat cuek ke perempuan karena Azizah meninggalkannya? Lantas, kenapa dia berani menyatakan suka padaku jika saat dia bertemu Azizah saja bahagia? Dan tentunya, kuyakin dia masih suka sama Azizah.
"Ukh, kamu kenapa?"
"Em... Eh engga, kak." Aku menggelengkan kepala.
"Kamu kok nanyain Ikhsan terus?"
"Ehm.. Eh kak maaf ya. Aju ada mata kuliah hari ini, dan beberapa menit lagi masuk. Afwan kak. Assalamualaikum," ucapku menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh darinya.
Dengan cepat aku berlalu dari kak Umar yang mungkin heran melihat tingkahku.
Di kelas, aku langsung duduk di tengah. Antara Vanesha dan Azizah. Entah kenapa pak Vito belum datang, padahal sekarang sudah pukul tujuh lebih. Saat aku bertanya pada Ajizah dan Vanesha, ternyata pak Vito sedang ada urusan selama satu jam pelajaran. Ini artinya free class.
Ko aku malah seneng ya?
"Hmm... Cha, kamu kayaknya deket banget ya sama Ikhsan?" Ucap Ajizah yang membuatku membeku sekejap.
"Emh... Kita cuma temen ko. Temen SMP," ucapku ragu tapi pasti.
"Tapi, dari percakapan tadi kayak yang serius gitu ya? Eh btw sorry aku nguping."
Aku terdiam bingung. Bingung harus bagaimana. Detakan jantung lagi lagi bergetar dengan kencang.
"Tapi, kita cuma temen ko ga lebih!" Aku mencoba meyakinkan Azizah.
"Hmm..."
Tiba-tiba pak Vito datang dengan membawa setumpuk kertas HVS putih. Wah gawat, pasti hari ini ada tes. Tidaaaaak!
***
Akhirnya, aku berhasil melewati tes penuh tantangan itu. Huh sekarang cukup lega. Siang ini, tidak ada mata kuliah lagi, jadi kuputuskan untuk segera pulang. Cape sekali memikirkan tes tadi.
"Oh iya. Azizah mana, Sha?" Tanyaku pada Vanesha yang tengah asyik bersama gadgetnya.
"Tau tuh. Tadi katanya mau ke toko buku sama temen masa kecilnya," jawabnya.
Tunggu dulu! Temen masa kecil? Apa itu Ikhsan? Deg! Ya Allah perasaan ini. Sakit ya Allah. Batinku.
"Kita susul Azizah, yu! Kebetulan aku mau beli buku juga," modusku. Sebenernya aku mau ngintip obrolan mereka.
"Ya udah yu!"
Sesampainya di toko buku, aku mencari-cari orang bernama Azizah. Dan aku berhasil menemukannya. Benar saja Ikhsan dan Azizah tengah mengobrol. Aku mendengar sedikit percakapannya.
"Azizah, aku mau kembali lagi ke Mesir. In Sya Allah jika ada waktu, tahun depan aku akan pulang, demi bisa bertemu kamu," ucap Ikhsan.
Deg!
"Iya, San. Hati-hati yaa. Jangan lama-lama perginya," jawab Azizah.
"Iyaaa. Aku bakal cepet pulang ko demi kamu hehe."
Ya Allah. Ini sangat menyesakkan hatiku. Sungguh! Aku tidak dapat menahan genangan air di mataku ini. Ikhsan, untuk apa kamu menyatakan kalo kamu suka aku? Kenapa kamu beri aku harapan?
Rasa sakit ini belum hilang. Bagaimana caranya?? Ya Allah tolong hilangkan dia!
Aku harap rasa sakit ini tidak berkepanjangan.
Aku sudah cape menghadapinya.
Hatiku sudah sangat sakit.
Hatiku sangat sesak.
Kenapa bisa aku masih menaruh harap padanya? Jelas-jelas dia sudah membuatku sakit hati kembali.
***