Pertemuan Menyakitkan

1124 Kata
Hari ini aku, Vanesha dan Azizah sedang cuti. Kami bingung harus kemana. Tapi tiba-tiba ide Cemerlang pun keluar dari mulut Azizah. "Kita ke Taman kota aja yu! Buat refreshing aja," ucap Azizah. "Ayo!!" Seruku dan Vanesha. Di Taman... Pagi ini, Taman masih terlihat sepi. Tapi jika sudah siang atau sore pasti penuh. Entahlah, mungkin karena hari ini Hari Senin. Aku lebih senang dengan udara sejuk pagi ini. Kami bertiga sedang duduk di bangku Taman yang panjang. Tiba-tiba, ada yang memanggilku. "Hay Ukhti Rischa." Aku membeku. Sesaat aku menoleh. Deg! Kak Umar? Sedang apa dia? Batinku. "Rischa, boleh aku berbicara denganmu? Tapi hanya berdua. Tenang saja! Kita jaga jarak ko. " "Ba-baik kak! " Vanesha terlihat biasa saja. Aku tau dulu dia sangat mengidolakan kakak sholeh ini. Tapi sekarang perasaannya berubah. Bagaimana tidak? Setiap kak Zidan pulang dari luar kota, Vanesha selalu dibuat kak Zidan baper. Kak Umar mengajakku sedikit menjauh dari Vanesha dan Azizah. Sehingga mereka tidak dapat mendengar percakapan kami. "Cha! Jadi gini, adik aku sekarang akan pulang dari luar negri. Dan ummi akan merayakan kedatangannya dengan mengadakan makan malam dirumahku. Apa kamu berkenan untuk ikut kerumahku?" tanyanya. "Eng.. Entahlah. Tapi, kenapa akhi ajak Ana?" Tanyaku, seolah percakapan ini sedang berlangsung di pondok pesantren dulu. "Karena Ana disuruh adik Ana untuk mengajak akhwat yang Ana kagumi. "Ucapnya ragu. Apa dia bilang? Kagum? Batinku "Em.. Eh maksud Ana temen terdekat Ana. " Bukannya kak Umar ga deket sama aku ya?? Tapi, waktu di ponpes sempet dekat juga sih, secara kan aku selalu diajak Ummi nya kak Umar untuk membantu membuat makan siang. Dan otomatis aku juga lumayan deket sama kak Umar...batinku. "Emm.. Insyaallah ya akhi." Lantas kak Umar mengucapkan salam. Dia bilang aku harus datang ke rumahnya pukul 7 malam. Ummi sudah pasti mengizinkan. Karena Ummi tau kalo kak Umar anaknya Ustadz Abdullah. *** Waktu menunjukkan pukul 06.23 WIB. Saat ini aku sudah memakai gamis berwarna biru muda kesukaanku. Tak lupa dengan kerudung yang senada dengan gamisku. Hari ini aku diantar supirku yang baru saja pulang pagi tadi. Sampai juga di rumah kak Umar. Rumah yang megah sekali. Aku kagum... Supirku pulang. Dia akan menjemputku apabila aku telah mengirimnya pesan atau menelepon. Kuketukkan tanganku pada pintu. Tak lupa juga dengan salam yang kuucapkan. Terdengar jawaban yang lembut dari dalam. "Waalaikumsalam." Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dan itu adalah Ustadzah Maryam. Aku rindu sekali padanya. "Eh Rischa? Kamu diajak siapa? Ustadzah kira, anak-anak ustadzah ga akan ajak kamu. Ya udah masuk yu! Tuh udah ada temennya kok," Ucapnya. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Aku masuk ke dalam rumahnya. Dan Ustadzah mengajakku langsung ke ruang makan. Tapi, tunggu!! Kenapa disana ada Azizah?? "Ajizah?" tanyaku heran. "Rischa? Kamu diajak juga ya?" Tanyanya. "Emh... Iya..." Ucapku. Lantas aku duduk tepat di samping Azizah. Aku gugup. Memangnya siapa sih adiknya kak Umar. Dan, apa Azizah diajak kak Umar? Tapi emangnya kak Umar kenal sama Azizah? Sekarang, kak Umar, Ustadzah Maryam dan Ustadz Abdullah sudah berkumpul di meja makan. Yang belum hadir hanya adiknya kak Umar. Aku sungguh penasaran, siapa sih adiknya kak Umar? "Afwan ya kak. Adiknya kakak mana?" Tanyaku yang terdengar seperti berbisik. "Adik aku kayaknya lagi sholat tuh. Maklum ya, dia baru pulang langsung istirahat tadi. Dan dia seumuran loh sama kamu." "Oh ya?" Terdengar suara hentakkan kaki dari arah tangga. Dan sepertinya dia datang juga. Hah, akhirnya. Memangnya siapa sih dia?? "Assalamualaikum semuaa," Ucap lelaki itu. Aku masih belum menoleh ke arah belakang. Aku menunduk. "Waalaikumsalam," Jawab semuanya. "Wah wah, anak-anak Ummi udah bawa pasangannya masing-masing nih? Gimana? Mau ta'arufan ga?" Tanya Ustadzah sambil terkekeh kecil. "Ah Ummi bisa aja. Eh kak Umar ajak siapa tuh?" tanya lelaki itu. Aku masih menunduk. "Aku ajak Rischa. Cuma dia akhwat yang deket sama aku San." San?? Tunggu!! Siapa yang dimaksud kak Umar? Batinku. Aku menoleh ke arah lelaki itu reflek. Dan saat itu bola mata kami bertemu.... Deg! Deg! Deg! Jantungku berdebar sangat kencang. Kenapa dia ada disini? Apa dia adiknya kak Umar? "Rischa??" "Ikhsan??" Kami berkata bersamaan. Ya Allah aku tidak bisa mengatur detakkan jantung ini. Dan tunggu! Ikhsan? Anaknya Ustadz Abdullah? Oh tentu saja nama belakang Ikhsan adalah Abdullah... "Kalian udah kenal ya?" Tanya Ustadz Abdullah. Diam sejenak... "Oke deh. Untuk Azizah dan Rischa, kalian panggil ustadzah sama ustadz , Ummi sama Abi aja ya. Biar kesannya lebih dekat," Ucap Ustadzah Maryam. "Hmm, sekarang anak-anak Ummi udah pada bawa calonnya ya? Jadi? Kapan anak-anak ummi mau mengkhitbah Azizah dan Rischa?" Deg! Kak Umar bilang, yang diajak ke acara makan malam ini adalah orang terdekatnya. Berarti Ikhsan juga mengajak orang terdekatnya? Dan itu... Azizah? Sahabatku? Ya Allah, aku ingin menangis... Kenapa Ikhsan tidak mengajakku. Dia bilang dia menyukaiku. Tapi... Mungkin itu semua bohong. Aku terlalu berharap. Sudahlah! Cukup! Aku mau pulang! "Ustad... Eh, Ummi, Rischa pulang duluan yah. Soalnya Ummi nyuruh Rischa untuk tidak lama-lama." "Loh gapapa kali. Masa ke rumah Ummi gaboleh lama-lama. Nanti, Ummi Maryam jelasin ko ke Ummi kamu. " "Bukan gitu ummi Maryam. Tapi Qilla lagi sakit, jadi Rischa harus jagain Qilla." Ucapku. Aku tidak berbohong, karena memang benar Qilla sedang sakit. "Ooh ya udah. Umar, kamu antar Rischa ya." "Emh, ga usah mi. Rischa udah bilang jemput ko." "Tapi belum ada yang jemput kan? Udaaah gapapa. Biar Umar yang antar saja." Aku pamitan ke ummi dan abi Abdullah. Aku ga kuat. Hatiku terlalu sakit jika harus ikut makan malam hari ini. Kak Umar mengantarku dengan mobil sedan berwarna hitamnya. Dia dalam mobil, tidak ada percakapan satupun. Aku, hanya menatap kosong jalanan yang gelap. "Cha. Kenapa kamu mau pulang?" tanya kak Umar mecahakan keheningan. "Em..hah? Eh, kak Umar, Azizah itu siapanya Ikhsan sih?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Emangnya kenapa? Ikhsan bilang sih tadi pagi bakalan ajak temen dekatnya yang pindah ke Indonesia dari Inggris. Oh iya, Azizah juga temen masa kecilnya Ikhsan." Hah? Deg! Sakit hati ini ya Rabb. Aku terdiam setelah itu. Kak Umar sempat mencoba untuk memecahkan lamunanku lagi, tapi sekarang tidak bisa. Aku sudah terlanjur membeku. Sekarang aku sudah berada di depan rumah. Aku sudah pamit dan mengucap salam pada kak Umar. Hingga seketika mobil sedan hitam mengkilap itu berjalan menjauhiku. Aku masuk ke rumah. Setelah salamku dijawab. Aku lari ke kamar. Ummi sempat bertanya kenapa hanya sebentar aku ke rumah Kak Umar, namun aku tak menghiraukannya. Di kamar... Aku menangis di atas kasur king sizeku. Ya Allah... Kenapa? Kenapa Ikhsan Kasih harapan padaku jika akhirnya dia harus mengajak Ajizah?? Bukannya aku adalah teman dekatnya sewaktu smp?? Apa aku sudah tidak dianggap? CUKUP!! Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya, Jika pertemuan itu hanya akan mendatangkan rasa sakit pada hatiku..... Pertemuan itu... Janganlah ada pertemuan lagi... Aku sudah terlalu sakit merasakannya.... Apa Ikhsan bisa bertukar posisi denganku?? Agar dia merasakan, Pertemuan yang menyakitkan seumur hidup..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN