Diary dan Miss Clinton

1140 Kata
Di rumah, aku segera mengunci diri di kamar. Buku yang diberi Jelita dari Ikhsan ini benar-benar membuatku sangat penasaran. Aku sempat heran juga dengan Ikhsan yang suka menulis diary. Aku membuka halaman pertama buku kecil itu. 21 Mei Entah perasaan apa? Rasa itu tiba-tiba hadir dalam hatiku. Saat itu, aku tak ingin Rischa dihukum seorang diri. Entahlah saat itu aku kenapa. Tapi kaki ini sangat sulit untuk digerakkan. Hingga akhirnya aku menunggu Rischa yang sedang membenarkan tali sepatunya. Karena keterlambatan, kami dihukum. Aku sangat tidak keberatan dengan hukuman itu. Aku mengerutkan dahi. Tiba-tiba lamunanku melayang ke masa yang telah lalu. Hari ketika dihukum dengan Ikhlas memang terasa sangat menyebalkan. Tapi di sisi lain itu menyisakan kisah lucu tersendiri. Aku pun hanya bisa terkekeh saat mengingatnya. Dari sini aku dapat menyimpulkan, bahwa tak semua orang cuek itu tak memiliki rasa peduli. Bahkan dibalik sikap dingin seseorang pun, ada rasa kepedulian di dalamnya. 23 Mei Sebenarnya aku belum cukup pantas untuk menjadi ketua. Tapi aku merasa sangat dibantu untuk tetap bertahan. Untuk mempertanggung jawabkan amanah ini. Ini tak mudah, tapi Maha Baiknya Allah mengizinkan dia menjadi wakil untukku. Dia banyak membantu, walau aku terlalu jaim untuk berterima kasih. Terima kasih banyak, Rischa. Aku semakin tidak percaya jika ini adalah tulisan Ikhsan, tapi di sisi lain aku senang atas pengakuan tertulis ini. Aku yang selama menjadi wakilnya dicuekin, diam-diam dihargai walau tidak secara langsung. 25 Agustus Seandainya boleh jujur, iya aku cemburu! Hey Reza!!! Cara mencintai itu bukan dengan memacari! Saat itu aku sangat marah! Ketika aku berusaha menjaga hati agar tetap menjaga batasan dengan Rischa, Reza justru berani-beraninya mengajak Rischa pacaran. Dan aku yakin sekali, cara mencintai dengan mengajak pacaran takkan pernah Allah ridhoi. Hingga mereka putus, entah karena apa. Aku bersyukur. Dan saat itu pula aku berusaha menjadi orang misterius untuk Rischa. Ternyata Ikhsan benar-benar lelaki misterius itu. Lelaki misterius yang membuatku berfikir berkali-kali tentang kesalahan yang telah aku perbuat dengan Reza. Bahkan saat ini pun, aku kembali diingatkan tentang pacaran yang ternyata tak manfaat. Hanya buang-buang waktu dengan memikirkan perasaan hati yang tak jelas. Kini aku paham, bahwa Ikhsan tak suka jika aku bermaksiat dengab Reza dengan berpacaran. Maka dari itu Ikhsan selalu bersikap dingin padaku. Walaupun seharusnya yang ia lakukan adalah mengingatkan, bukan malah membiarkan bahkan menghindar. Hmm, yasudahlah. Aku tetap bersyukur. Kembali ku buka lembaran selanjutnya. 11 Oktober Setelah perpisahan kelas IX. Aku dan Rischa berpisah. Namun perpisahan itu, aku gunakan sebaik mungkin dengan memberi tahu semua kelas IX bahwa Rischa ulang tahun. Aku senang dia bisa menerima kado dariku. Dan... Lumayan lama aku dan Rischa berpisah. Aku ingin mengetahui kondisinya. Aku gunakan cara lain, yaitu menjadi her secret admirer. Jadi? Ikhsan adalah secret admirer ku?? Tak bisa disangka, ternyata Ikhsan yang aku suka, Lelaki misterius yang aku rindu, dan secret admirer yang membuatku bingung adalah orang yang sama. Lelaki misterius itu Ikhsan... Secret admirer itu Ikhsan... Dan orang yang aku suka adalah Ikhsan... Semuanya Ikhsan, orang yang selalu menjadi harapanku. Aku beralih ke halaman berikutnya dari diary itu. 28 November Melihatnya kembali setelah sekian lama menunggu... Aku sangat senang, apalagi saat dia masih menyimpan al-qur'an pemberianku. Pertemuan itu..... Aku menutup buku pemberian Ikhsan. Cukup lama aku membaca buku ini dan melamun. Nanti akan ku lanjutkan membacanya. Ikhsan. Kenapa kamu ga bilang, kalo kamu suka aku. Maafin keegoisan aku. Maafin juga sifat kekanak-kanakanku. Aku memang selama ini masih belum dewasa dalam menyikapi berbagai hal. Tapi setidaknya, sekarang aku bisa mengambil banyak pelajaran. Tiba-tiba aku ingat ada tugas yang harus diselesaikan dan besok harus persentasi. Segera kubuka laptop yang berada di atas meja belajar. Baru saja ku aktifkan hotspot seluler dan terhubung, sebuah pesan email masuk. ------ From: secretadmirer@hotmail.Com Subjeck: Big hi! Assalamualaikum. Kaifa-haluk? By:MR ----- Aku tersenyum. Itu pasti Ikhsan. ------ Rischa: Bikhair alhamdulillah. Bagaimana denganmu san? MR: kenapa kamu panggil aku San? Rischa: Aku tau kamu Ikhsan. MR: Oh, ya? Kamu pasti sudah membacanya ya? Rischa: Kenapa namamu disini 'MR'? MR: MR itu misterius... Rischa: Kenapa kamu menamakannya misterius?? ------ Huh... Satu menit, tiga menit, tujuh menit. Tidak ada balasan lagi dari Ikhsan. Hmm, padahal aku sudah sangat berharap dapat chat bersamanya lebih lama. Akhirnya kuputuskan untuk segera mengerjakan tugasku membuat power point. Mungkin sekitar satu jam lebih aku menyelesaikan tugas ini. Ketika aku cek email, ternyata Ikhsan masih belum membalas. Padahal pertanyaan yang terakhir itu penting menurutku. Hingga tak lama setelah itu, aku memiluh untuk merebahkan diri di atas kasur. Terlelaplah aku. *** Pagi yang cerah, cahaya mataharipun menembus jendela rumahku. Huh, untung aja sekarang aku masuk pukul delapan, sedangkan sekarang masih pukul 5 shubuh. Aku hari ini tidak sholat karena sedang berhalangan. Aku mengecek email melalui ponsel, mungkin Ikhsan sudah membalas. Dengan binar mata penuh harap, seketika sirna saat tak kudapati satupun pesan masuk. Aku membanting ponselku ke atas kasur dengan kesal dan segera pergi ke ruang makan untuk sarapan. ------ Jam tanganku sudah menunjukan pukul 07.30 WIB. Maka, aku bergegas untuk pergi ke kampus. Hari ini aku harus naik bis, karena supirku sedang cuti, Kak Zidan jarang pulang karena sekarang dia kuliah di luar kota, sedangkan Abi sudah berangkat kerja dari pukul 7 pagi tadi. Biasanya, Vanesha mengajakku naik motornya. Tapi berhubung Vanesha tidak menginap, jadi dia tidak bisa berangkat bareng karena rumahnya cukup jauh dengan rumahku. Di kampus, aku menunggu Vanesha seperti biasa. Dia memang selalu lama. Namun tak lama setelah itu, aku mendapat kabar bahwa ia tak akan ke kampuskarena sedang tidak enak badan. Baru saja aku hendak melangkahkan kakiku, seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. "Assalamualaikum ukh, saya mau tanya, toilet dimana ya?" tanyanya. Aku tertegun. Gadis ini sangat cantik. Dia memiliki wajah ke-Inggrisan. Namun, yang lebih mengagumkannya adalah dia memakai jilbab yang syar'i. "Oooh, kita bareng aja, aku juga mau benerin kerudung nih. Yu!" Ajakku so dekat. Dia baru saja keluar dari toilet, sedangkan aku baru selesai membenarkan kerudung. "Eh kenalin aku Rischa Kiana Putri. Kamu bisa panggil aku Rischa." Ucapku sambil tersenyum ramah. Dia membalas senyumanku, "Hai, aku Azizah Lucia Clinton. Aku dari Oxford, Inggris. " "Ouh ya? Hy Miss. Clinton. " "Ouh NO! Kamu panggil aku Azizah aja, sekarang aku ada di Indonesia. " "Oh, iya. Seneng bisa kenal kamu, Ajizah. " "Aku juga, Rischa." "Kamu ko bisa kuliah di sini?" "Sebelumnya aku kuliah di Mesir, tapi, karena Ummi tidak mau jauh dari aku, jadi aku pindah. Begitu juga dengan Ayah, dia harus pindah dari Inggris ke Indonesia. Karena Ummi mau tinggal di sini. Oh iya, Ummiku dari Indonesia, sedangkan Ayahku dari Inggris,'' ceritanya. "Hah? Ummi dan Ayah?" tanyaku bingung. "Sudah kuduga. Kamu pasti heran. Ibuku lebih ingin dipanggil Ummi. Sedangkan ayahku maunya dipanggil Ayah." Saat itu, aku berbicara cukup lama dengannya. Dia sangat ramah. Matanya yang berwarna biru gelap membuat hatiku nyaman. Dan semenjak hari itu, Azizah menjadi temanku. Vanesha pun telah mengenalinya. Miss. Clinton itu sangat anggun. Aku menyukainya. Dia sangat baik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN