Egois

1228 Kata
Jika kuingat kembali, walaupun umurku semakin bertambah, ternyata aku belum mampu menjadikanku lebih dewasa. *** "Sebenernya hubungan aku sama Ikhsan itu...," ucap Jelita terhenti karena ragu. Aku berusaha menahan rasa sakit. Ternyata, apa yang aku duga selama ini adalah benar. Jelita dan Ikhsan memang ada hubungan. Entahlah itu hubungan apa. Bahkan akupun tak habis pikir jika Ikhsan berpacaran dengan Jelita. Aku tak percaya padanya. Yang selama ini aku kagumi, justru malah mengecewakan. "CUKUP!!!" ucapku yang tidak lain agar Jelita tidak meneruskan pembicaraannya. Karena ku yakin, itu hanya akan membuatku semakin cemburu. Dengan satu tarikan nafas, aku berkata, "Aku sudah tau kok, Jel. Tenang aja...," ucapku sambil mencoba melengkungkan bibirku. "Syukurlah, Cha," ucap Jelita. Lantas Jelita pamit untuk pulang. Aku dibuat melongo olehnya. Hanya untuk itu, kah, dia menemuiku? Tidak penting! *** Aku berlari menuju kamarku. Tidak peduli dengan pertanyaan ummi dan Qilla yang terlihat khawatir. Aku mengunci pintu kamar dan bersandar di belakang pintu. Aku menangis terisak. Ya Allah ternyata benar saja. Mereka telah bersama. Sakit ya Allah. Padahal aku sangat berharap bahwa Ikhsan adalah jodohku. Tapi sepertinya itu sudah tak mungkin! batinku. Aku terus menangis! Tiba-tiba, pintu yang aku sandari bergetar dan dan terdengar sebuah ketukan yang berasal dari baliknya. Orang yang mengetuk pintu terus memanggil namaku. Aku sangat kenal suara itu, itu suara Vanesha. Sudah biasa ia datang ke rumah. Bahkan kami pun sudah seperti bersaudara. Segera aku mengusap wajahku dengan kerudung, tak peduli walaupun menjadi basah karena air mata. Aku membuka pintu dan mempersilahkan Vanesha untuk masuk ke kamarku. Sekarang hanya ada aku dan Vanesha di kamar. Vanesha terlihat cemas melihat wajahku yang sembab. Aku hanya diam. "Kamu kenapa, Cha?" Tanya Vanesha dengan hati-hati, sepertinya ia khawatir. "Aku mau menghapus semua ingatanku tentang Ikhsan!" ucapku.. "Bagaimana caranya?" "Aku juga ga tau. Teknologi itu (teknologi penghapusan ingatan) hadir sekitar puluhan tahun lagi. Apa aku harus menunggunya agar dapat menghapus kenangan lamaku?" "Kamu ga perlu menunggu datangnya teknologi itu, Cha." Aku menoleh ke arah Vanesha, bingung. "Iya! Apa kamu lupa kalo kamu punya seseorang?" Tanya Vanesha lagi. "Siapa? Punya ummi? Abi? Qilla? Kakak Usilku? Atau kamu?" "Allah!" Ucapnya kali ini terdengar tegas. Deg! Astagfirullahal'adziim. Sebanyak apa dosaku hingga melupakan-Mu. Se-egois apa aku ini? Air mata ku kembali mengalir. Bukan karena Ikhsan, tapi karena aku takut Allah murka dengan semua keegoisanku. Selama ini, aku terlalu mementingkan diri sendiri. Selama ini aku bertingkah seolah seperti anak-anak. Jika kuingat kembali, walaupun umurku semakin bertambah, ternyata aku belum mampu menjadikanku lebih dewasa. Aku tak habis pikir dengan diriku sendiri. Selama ini aku mencintai manusia, tanpa pernah aku berfikir untuk mencintai Sang Pencipta. Dia. Yang Menciptakan semua makhluk, termasuk manusia benrnama Ikhsan itu. Allah, ampuni aku. Aku memeluk erat sahabatku. Vanesha selalu saja bisa membuatku ingat pada Allah. Bagiku, dialah penasihat setiaku setelah Ummi dan Abi. Dia adalah sahabat yang paling berhati-hati jika hendak menasihati, bahkan selalu memperhatikan kondisiku terlebih dulu. Dan selama ia menasihati, jujur aku tak pernah menolak. Karena nasihat ternyata adalah bagian dari kebutuhanku. Aku menyuruh Vanesha untuk menginap di rumahku. Tadi sore dia membawa baju ganti untuk hari besok, sekalian membawa buku novel baru yang hendak ia tunjukkan padaku. "Apa kamu masih mau menunggu puluhan tahun lagi untuk teknologi canggih itu?" Tanya Vanesha. "Sepertinya tidak. Kembali kepada Allah adalah keputusanku mulai detik ini. Walaupun aku baru memulainya, tapi aku sudah merasa tenang." *** Sepertinya, hari ini aku dan Vanesha menjadi mahasiswa paling rajin. Karena jam masuk masih sekitar dua jam lagi. Vanesha tak mempermasalahkan hal itu, justru dengan itu ia bisa menikmati sejuknya hawa pagi di taman kampus sambil membaca buku. Vanesha buku pelajaran, sedangkan aku buku novel yang ia kasih kemarin. "Cha, kamu mau Jus ga?" Tanya Vanesha. "Emh, boleh. Aku nitip jus alpukat ya," ucapku. "Oalah, kamu nitip dan nyuruh aku beliin, toh? Aku kira mau anter aku ke kantin." Vanesha mengerucutkan bibirnya. Melihat itu aku tertawa terpingkal-pingkal. Jujur saja aku mager saat ini. "Kan Vanesha cantik dan baik hati." Aku mencoba menggodanya hingga ia benar-benar pergi menuju kantin. Dengan sisa tawa, aku melanjutkan aktivitas membacaku. Namun, tak lama setelah itu, aku mendengar seseorang menyapaku. "Hy Cha!" Sepertinya aku mengenal suara bas itu. Dan entahlah tiba-tiba aku merindukan orangnya. Dia, kah ini? "Aku Ikhsan. Mau ngomong penting sama kamu, Cha!" Aku menoleh malas padanya. "Apa?" Tanyaku ketus. "Ini tentang hubungan kita." "Hubungan? Kita cuma teman dekat bukan?" "Engga! Aku mau lebih dari itu. " "Ga bisa!" "Kenapa?" Tentu aku tidak bisa! Jelita mau dia kemanakan? Batinku. "Kamu udah punya Jelita!" "Tapi Jelita itu-" Aku segera memotongnya. "Aku udah tau semuanya. Termasuk tentang hubungan kamu sama Jelita. Jadi untuk apa lagi? Untuk apa kamu memberi tahu aku tentang masalah pribadimu?" "Aku ga ngerti, Cha!" "Jangan bohong dan jangan temui aku lagi!!" "Tunggu Cha!" Dia berteriak! Aku sudah terlanjur berlari menjauh dari taman dengan membawa tas berat milik Vanesha. *** Aku mau kita ketemu lagi, Cha. Di taman komplek deket rumah kamu! Aku tunggu, sekarang! Pesan dari Jelita itu aku terima dengan heran. Aku sempat malas untuk datang, tapi sepertinya ini penting. Akhirnya ku putuskan untuk segera ke taman komplek. Di Taman. Jelita sudah duduk manis di bangku Taman. Aku menghampirinya, dan duduk di sebelahnya. "Cha! Aku mau ngomong tentang Ikhsan," ucap Jelita yang terlihat panik. "Ada apa?" Tanyaku malas saat mendengar nama itu. "Ikhsan..." "Ikhsan kenapa Jel!" Aku menjadi penasaran. "Ikhsan pergi..." "Kemana Jel? Mati?" "Eh, jangan ngomong kemana aja, Cha! Gak baik." "Ikhsan kemana?" "Ikhsan mau kuliah di Mesir. Itu keinginan orang tuanya. Dan sebenarnya Ikhsan mau bicara sangat serius tentang kelanjutan hubunganmu dengannya. Ikhsan bisa saja kembali ke Indonesia. Dan itu akan dilakukannya jika kamu berbicara dengannya hari itu. Tapi sayang, kamu sekarang gak punya kesempatan lagi untuk bertemu bahkan berbicara lagi dengan Ikhsan, Cha!" Aku tertegun. Tapi aku tetap belum percaya sepenuhnya. Bukannya Ikhsan suka sama Jelita? "Ta-tapi, bukannya Ikhsan suka sama kamu? " "Ooh mungkin kamu mendengar percakapan itu di toko buku ya? Jadi ceritanya begini...." "Jelita. Kamu baik. Aku suka sama kamu..." "Makasih, San. Aku juga suka sama kamu..." Saat itu aku segera menjauh dari pemandangan Jelita dan Ikhsan. Ternyata jadinya salah paham. Aku tidak mendengar percakapan mereka keseluruhan karena terlanjur sakit hati. Dan ternyata... Kata Ikhsan kepada Jelita, "Kamu akan selalu menjadi sahabatku. Sahabat saat aku merasa lelah ketika menyukai Rischa tanpa disukai balik olehnya." "Aku yakin Rischa juga menyukaimu. Aku melihat titik kecemburuan di wajahnya." Wajahku memerah saat Jelita menceritakan kecemburuanku. "Kamu mengerti, setelah semua aku ceritakan?" Aku menunduk dan mengangguk pelan. Apa benar Ikhsan menyukaiku? Ah, rasanya pipiku mulai memerah sekarang. "Apabila Ikhsan menyukaiku, kenapa dia harus pergi dan ga akan kembali?" "Aku ga tau, Cha. Yang aku tau, Ikhsan suka sama kamu. Dan saat kemarin kamu tidak mau mendengar penjelasan darinya, dia mundur. Dia pikir kamu ga akan pernah membalas perasaannya." Deg! Betapa egoisnya aku... Kenapa aku selalu berprasangka buruk padanya?Batinku. Jika boleh jujur, aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal. Sifat kekanak-kanakanku memang takkan pernah bisa membuatku memahami semua. Aku terlalu egois untuk hal ini. "Dan buku ini untukmu," ucap Jelita sambil menyodorkan buku berukuran sedang. "Buku apa?" Tanyaku. "Diary Ikhsan tentang kamu." "Ikhsan suka nulis diary?" Terdengar lucu memang. "Isi diary ini hanya tentang pertemuan kamu dengan Ikhsan. Lebih baik kamu baca di rumah ya. Oh ya! Aku juga mau pamit. Aku akan pulang ke Belanda mulai bulan depan." "Makasih ya Jelita. Dan, hati-hati..." Jelita mengnggukkan kepalanya sambil tersenyum kepadaku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN