Tiada hentinya dia mengucapkan syukur, karena telah diberi nikmat oleh Allah. Salah satunya adalah bisa kuliah di Universitas Negeri yang sedari dulu ia impikan. Kadang, ada juga rasa lelah karena banyak tugas. Namun, itulah ujian seorang mahasiswi, bukan?
Rischa dan Vanesha mengambil jurusan yang sama, itu bukan karena keinginan mereka saja, tapi juga karena ingin bisa selalu dekat. Sedangkan Aura, dia harus kuliah di luar kota karena ayahnya dipindah tugaskan.
"Huh, cape banget ya Cha, kuliah. Duh tugasnya ituloh," keluh Vanesha sambil menghembuskan nafasnya.
Rischa tersenyum, kemudian menatap sang sahabat. "Ke toko buku, yuk!" ajak Rischa.
Vanesha mendelikkan matanya malas. "Euh, aku lagi lelah, Icha. Masa kamu ngajak ke toko buku, sih? Males ah, di sana juga kalo gak beli buku, ya baca buku. Kan aku gak hobi baca, Rischa Kiana!" gerutu Vanesha.
"Ih, Vanesha mah gitu. Nih ya, mau kita hobi apa enggak sama membaca, kita harus bisa maksain. Kenapa? Karena tanpa baca buku, kita gak bakal dapet ilmu." Rischa protes.
Vanesha menyilangkan tangan di depan dadanya. "Iya iya, hayu kita ke toko buku!" kesalnya sambil bangkit dari duduknya.
Rischa dan Vanesha menunggu bis di halte. Jarak yang akan mereka tempuh menuju toko buku lumayan jauh. Jika terjadi macet, mungkin akan menghabiskan waktu berjam-jam. Tak lama kemudian, bis pun datang. Setelah masuk ke dalamnya, iapun mengantar Rischa dan Vanesha ke tujuan. Saat itu jalanan tidak terlalu ramai seperti biasanya, hingga mereka pun bisa sampai ke toko buku dengan cepat.
Baru saja Rischa memasuki toko buku, ia tiba-tiba terdiam, saat melihat satu tempat, dimana Ikhsan selalu suka duduk di sana. Jika boleh jujur, ia rindu. Pada lelaki yang kadang suka membuatnya sakit hati itu. Tapi mengapa, walau sudah membuat sakit hati, namun tetap saja rindu itu ada. Walaupun memang itu terasa menyakitkan.
Rischa mengarahkan pandangannya ke arah lain. Mulai dari tempat peminjaman buku, hingga tempat buku-buku yang dijual, semuanya masih sama seperti dulu. Ah, Rischa sangat merindukan tempat itu. Tempat dimana ia masuk ke dunia buku.
Rischa menyusuri rak buku yang dijual. Ya, Rischa lebih senang membeli buku. Alasannya agar ia bisa membacanya kembali di lain waktu.
●RISCHA POV●
Saat sedang menyusuri rak buku, aku tak sengaja membaca judul itu. Judul yang membuat jantungku berhenti berdegup sesaat. Judulnya...
HUJAN
Deg!
Aku jadi ingat kejadian itu. Saat Ikhsan memayungiku, memaafkanku, memberi jaketnya padaku dan mengantarku ke pondok. Seakan aku dibawa kembali pada masa yang telah lalu itu. Jujur saja aku rindu. Setiap kejadian bermakna saat hujan selalu sulit untuk ku lupakan. Entahlah, mungkin karena aku menyukai setiap pertemuan dengan Ikhsan.
Aku terdiam. Menatap kosong judul buku itu. Dan karena aku penasaran, akhirnya aku membeli buku itu tanpa pikir panjang.
***
Di rumah, aku langsung membuka buku itu dengan acak. Siapa tau aku menemukan kalimat yang bagus sebelum memulai membaca dari awal. Hingga akhirnya aku membuka sebuah halaman.
Kenapa kita mengenal banyak hal saat hujan turun?
Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya. (HUJAN~Tere Liye)
Buku Hujan itu kututup dengan perlahan. Pikiranku kembali melayang ke hari bersama Ikhsan dulu. Lelaki itu ternyata memang spesial. Bersamanya aku bisa menciptakan kenangan yang sulit terlupakan. Walaupun sesekali pernah membuat sesak.
Kenapa aku memiliki kenangan disaat hujan? Saat Ikhsan memayungiku sudah kuanggap kenangan. Dan bagiku itu sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin itu hanya kejadian biasa, tapi bagi yang merasakannya itu sangat luar biasa.
Beberapa minggu lalu aku sempat ke toko buku itu lagi, dan aku tak melihat Ikhsan sama sekali. Tapi sudahlah! Mungkin Ikhsan sudah menjadi milik Jelita. Lagipula, apalah seorang Rischa di mata lelaki yang mengagumkan itu? Mungkin hanya angin lalu.
Hatiku kembali sesak. Aku mengingatnya. Mengingat saat ikhsan dan Jelita mengatakan perasaannya satu sama lain. Jadi, apa tujuan Ikhsan yang pada waktu itu memayungiku? Apa tujuan dari perhatian yang ia kasih selama ini? Apa tujuan saat dia menjadi lelaki misterius jika pada akhirnya akan dengan Jelita?
Kenapa??
Kenapa kejadian manis harus hadir saat hujan?
Hal itu justru membuatku kembali sesak jika mengingat pertemuan dengan Ikhsan ketika hujan turun.
Aku memejamkan mata. Dan meresapi embun bening yang meluncur bebas di pipiku. Namun, segera ku hapus tangisan ini.
Kembali kubuka setiap lembar buku itu.
Jangan pernah jatuh Cinta saat hujan. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. (HUJAN~Tere Liye)
Benar.
Dan saai ini pula aku ingin menghapus kenangan itu. Kenangan yang terlihat manis, namun jujur saja itu terasa pahit bagiku saat ini. Terkadang aku cape saat harus mengingat itu. Aku senang saat Ikhsan memayungiku, tapi kenapa disaat aku merasa senang, dia justru seolah menghapusnya dengan menyukai orang lain. Tak rela, kah, aku merasa senang?
***
Hari sudah sore. Setelah melaksanakan sholat Ashar dan membaca dzikir petang, Al-Ma'tsurat, aku memutuskan untuk pergi ke taman
kompleks yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku berjalan melewati rumah-rumah tetangga komplek. Angin bertiup dengan lembut. Sehingga membuat gamis dan jilbab biruku terbawa arah angin.
Sesampainya di taman, aku lantas duduk di bangku Taman. Aku hanya menatap kosong tanaman yang tertata rapi. Anak-anak yang sedang bermain hingga tak sengaja melihat seorang remaja sedang berduaan dengan lawan jenisnya. Saat itu aku hanya bisa beristigfar. Aku bersyukur, Allah masih memberiku iman untuk menjauhi hal yang tak baik itu.
Angin berhembus sangat kencang. Hingga aku merasakan ada satu titik air di hidungku. Apa ini? Hujan!! Beberapa detik kemudian hujan semakin deras, namun aku masih duduk. Aku suka hujan dan aku ingat Ikhsan. Seandainya dia hadir kembali untuk memayungiku. Tapi sepertinya itu tak mungkin terjadi lagi.
Cengengnya, aku menangis. Airmataku sudah menyatu dengan derasnya air hujan. Tak ada yang tau aku mengeluarkan air mata. Tapi mataku yang memerah sudah menunjukan dengan jelas bahwa aku menangis.
"Kamu sedang apa?" Tanya seseorang, tiba-tiba mengagetkan ku.
Suaranya samar-samar karena terkalahkan oleh derasnya hujan.
"Aku sedang sedih. Sedih mengingat masa indah saat hujan turun!" Aku berusaha mengeraskan suara agar orang itu bisa mendengar suaraku.
"Masa indah bersamaku?"
Aku menoleh reflek setelah mendengar perkataannya.
IKHSAN??
Mataku membulat sempurna. Dengan cepat aku berlari, dengan arah tujuan yang aku sendiri tak tau akan pergi kemana. Dan ini arah yang berlawanan dari rumahku. Aku tetap berlari. Di belakang, saat ku menoleh, Ikhsan mengejarku tanpa memanggil.
Saat sedang berlari, aku tersandung batu. Aku terjatuh. Lututku berdarah hingga menembus gamisku. Ikhsan melihatku, lantas dia segera menghampiriku. Aku masih menangis. Dia tidak membawa payung. Dia membantuku berdiri. Syukurlah aku masih bisa berjalan.
Aku kali ini menyerah untuk berlari darinya. Lututku terasa sakit, ngilu. Untuk berjalan saja cukup sulit. Ikhsan mengantarku sampai ke rumah.
"Assalamualaikum," ucap Ikhsan saat kami sampai di depan rumahku.
"Waalaikumsalam," jawab Ummiku setelah membuka pintu rumah. Melihatku meringis kesakitan, dia bertanya, "Eh, Icha kamu kenapa?"
"Rischa tadi jatuh, Tante," jawab Ikhsan.
"Ya udah yuk, kita masuk dulu," ajak Ummi sambil membantuku berdiri.
Ikhsan juga ikut masuk. Kami duduk di ruang tamu. Aku memakai handuk untuk mengeringkan gamisku. Ummi tidak menyuruh ku untuk ganti baju. Dia menyuruhku untuk tetap di ruang tamu bersama Ikhsan.
"Nak, Ikhsan, apa kabar?" Tanya Ummi setelah mengobati luka kecilku.
Loh, ko ummi kenal Ikhsan ya??
"Alhamdulillah, Tante, baik. "
"Ummi sama Abi kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, mereka juga baik tante."
"Emm.. Ummi, Icha mau ke kamar ya, cape, mau istirahat," ucapku lemas.
"Oh iya hati-hati ya, jalannya." Ucap Ummi.
Aku sangat berterima kasih pada Ikhsan karena sudah menolong. Walaupun aku sendiri bingung, ada apa lagi Ikhsan datang?
***
Aku menjalani hariku seperti biasa. Sekarang aku berada di kampus. Aku sedang menunggu Vanesha yang sudah sekitar 1 jam tidak datang juga.
Sekitar 3 menit kemudian, ada yang menyapaku dari belakang, "Hai, Icha!" Aku mengira ini Vanesha, tapi suaranya hari ini berbeda.
Aku menoleh. Ternyata dia adalah Jelita. Dia datang tidak sendiri, tapi bersama Ikhsan. Aku memalingkan wajah dari merekadengan malas.
"Ada apa?" Tanyaku dingin.
"Kita mau bicara sama kamu," ucap Jelita.
"Berdua aja, gak usah sama dia!" Ucapku ketus menyudutkan Ikhsan.
Sesekali aku menatap Ikhsan yang menatapku heran.
"Ta-Tap-," ucap Jelita yang lantas aku potong.
"Mending berdua atau nggak sama sekali."
"Ya udah deh. Ikhsan, biar aku yang bilang tentang hubungan kita selama ini."
Deg!
Berarti benar dugaanku!!
Mereka bukan hanya berteman, tapi lebih.
Lantas, untuk semua perhatian yang ia beri, apa maksudnya? Apakah atas dasar rasa kasihan? Ayolah, aku tak butuh rasa belas kasihan. Aku hanya ingin dihargai dan dipahamkan.
***