Kadang, waktu itu tak terasa. Jika ditunggu, selalu terasa lama. Jika tak ditunggu, kadang selalu terasa cepat berlalu.
Sama halnya seperti Rischa, yang telah melewati masa SMAnya. Terutama saat melewati UN.
Kini ia sudah lulus, dengan nilai UN yang begitu membanggakan kedua orang tuanya. Ia tinggal menunggu, apa ia sudah diterima di universitas negri impiannya? Dimana Uminya mendaftarkan Rischa di sana.
Waktu benar-benar cepat berlalu. Sudah 3 tahun ternyata, Rischa mencari ilmu di Pesantren At-Taqwa ini. Dan sekarang, dia harus meninggalkan tempat itu. Terasa sangat berat sekali baginya untuk melangkah pergi. Tapi, jika Allah berkehendak, ia pasti kembali lagi ke tempat itu.
Masih tentang waktu. Dimana, selama 2 tahun lebih, ia tak bertemu dengan lelaki yang pernah menduduki hatinya. Lelaki itu tentu saja Ikhsan. Terakhir kali mereka bertemu adalah ketika cuacanya memang tak mendukung-hujan-namun Rischa menyukainya. Ada rasa ingin berkakata, kamu kemana? Tapi apa daya, lelaki bernama Ikhsan itu tak tau dimana keberadaannya.
Saat itu, Rischa sempat sering ke toko buku, dan tujuannya hanya karena ingin bertemu Ikhsan. Namun, usahanya itu sia-sia. Ikhsan tak pernah terlihat duduk di toko buku lagi. Sempat Rischa mengira, bahwa Ikhsan telah hilang ditelan bumi. Hmm, terdengar lucu, tapi itu hanya pengibaratan saja.
Pernah juga, Rischa sering dihukum Ustadzah Maryam karena selalu pergi ke luar pesantren sebab suatu alasan yang tak masuk akal. Aksi konyol itu ia lakukan hanya untuk menemui Ikhsan di tempat biasa mereka bertemu.
Umi dan Abinya telah datang untuk menjemput Rischa. Baru saja Uminya turun dari mobil, Rischa langsung berlari, lantas memeluk erat sang Umi.
Koper-koper telah dimasukkan ke dalam mobil. Tinggal para pemilik mobil itu saja yang belum masuk.
Setelah orang tua Rischa berpamitan pada semua Ustadz Ustadzah, merekapun memasuki mobil.
Di dalam mobil, sudah ada Rischa dan Qilla-adiknya-yang tengah berpelukan. Tentu saja mereka saling merindukan. Terutama Qilla, yang kadang selalu menangis jika Kakaknya itu kembali lagi ke pesantren.
Yang Rischa rindukan bukan hanya keluarganya saja, dia juga rindu, pada Mr. Dinginnya yang bernama Ikhsan. Sungguh, ia rindu. Namun, apa haknya merindukan Ikhsan? Tentu Ikhsan bukan siapa-siapa.
Saat itu Rischa meminta pada Abinya, agar diantar ke toko buku. Dia sudah kehabisan stok bacaan. Membaca adalah hobinya, Qilla sang adikpun memiliki hobi yang sama dengannya. Padahal, kedua orang tuanya tak terlalu suka membaca. Entahlah, tapi Rischa sudah sangat jatuh cinta pada buku.
Setelah sampai di toko buku, orang tuanya harus pulang lebih dulu, karena ada kerabatnya yang datang. Rischa dan Qillah terpaksa harus pulang naik taxi.
Ketika Rischa tengah asik melihat-lihat buku, tak sengaja ia melihat Ikhsan. Maksudnya, Ikhsan dan Jelita. Rischa membeku melihat mereka. Rasa cemburu seakan mendominasi hatinya.
Qilla melambaikan tangannya di depan wajah Rischa. "Kak? Ka Icha?"
Beberapa detik kemudian Rischa tersadar dan tentu saja terkjut. "Hah? Iya, kenapa?"
"Kak Qilla mau milih buku di arah sana ya. Nanti susul aja aku ke sana," ucap Qilla sambil menunjuk ke arah kumpulan novel.
"Iya, nanti kakak susul."
Qilla pergi, berlari menuju novel-novel yang berhasil menarik perhatiannya. Sedangkan Rischa, dia melanjutkan kembali aksi mengintipnya.
Saat itu, Rischa tak sengaja melihat Ikhsan yang tengah memberikan sebuah buku kecil kepada Jelita. Entahlah buku apa, tapi sepertinya, buku itu adalah buku yang sangat penting.
Tak sengaja, Rischa mendengar percakapan Ikhsan dan Jelita yang tampak serius itu.
"Jelita. Kamu baik. Aku suka sama kamu...," ucap Ikhsan sambil menampilkan senyuman manisnya yang sangat sulit Rischa dapatkan.
"Makasih, San. Aku juga suka sama kamu," ucap Jelita.
Rischa berjalan mundur. Dia merasa sudah tak kuasa mendengar percakapan mereka lagi. Hatinya seperti telah ditusuk oleh ribuan jarum tajam. Menyakitkan sangat.
Rischa menutup telinganya, sambil mundur beberapa langkah. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dengan kasarnya ia hapus.
Rischa masih dapat melihat, jika saat itu Jelita seperti tengah berpamitan pada Ikhsan. Hingga, hilanglah wanita keturunan Belanda itu dari samping Ikhsan. Begitu Rischa terkejut, saat Ikhsan melihat Rischa.
Ikhsan berjalan mendekati Rischa yang tengah mematung sambil menunduk. Saat itu Ikhsan berdiri tepat di hadapan Rischa. Itu tak membuat Rischa berhenti menangis, justru ia semakin terisak. Sedangkan Ikhsan hanya menatapnya bingung.
"Kamu kenapa Cha?" tanya Ikhsan.
Rischa menunduk diam. Airmata nya mulai berjatuhan ke lantai.
"Kamu kenapa Rischa?" tanya Ikhsan lagi
"Em.. Engga kenapa napa kok, aku... Baik." Rischa berkata sangat lirih, namun Ikhsan masih dapat mendengar.
Rischa membalikkan badannya. Kemudian mulai melangkahkan kaki untuk berlari menjauh dari Ikhsan.
Wahai Ikhwan. Tak sadarkah kamu, bahwa aku cemburu?
Rischa berlari. Menyusuri rak rak buku yang tertata rapi. Jujur saja, setelah semakin jauh ia berlari, semakin lelah juga ia pada akhirnya. Nafasnya terengah-engah. Rischa berhenti sejenak, saat ia akan berlari kembali, ada sebuah tangan melingkar di pergelangan tangannya. Ini pasti kami, San, pikir Rischa dlam hati.
"Kamu kenapa Cha?"
"Aku Baik...," jawab Rischa lemah.
"Bohong!" Ikhsan tidak percaya.
Saat Rischa akan menghempas tangan Ikhsan, Ikhsan malah mengeratkannya. Dan itu membuat tangis Rischa semakin menjadi-jadi.
"Jawab Cha!!"
Kenapa san? Kenapa kamu mau tau keadaan ku?? Sedangkan sudah jelas kamu menyukai Jelita, batin Rischa.
"Karena aku khawatir sama kamu. Aku takut kamu kenapa-napa. Kamu kenapa cha?" ucap Ikhsan seolah telah membaca pikiran Rischa..
Asal kamu tau, aku cemburu San. AKU CEMBURU!!!... batin Rischa berteriak. Berharap Ikhsan bisa membaca pikirannya lagi. Tapi nihil. Yang terjadi malah hening.
Ikhsan mulai melonggarkan tangannya yang melingkar di pergelangan tangan Rischa.
"Emm... Maaf," ucapnya sambil melepas tangannya.
Rischa menyeka air matanya.
Hening. Cukup kata itulah yang bisa mewakili suasana dingin di sana.
"Bukankah lelaki misterius pernah bilang kalo dia benci wanita yang menangis?" Iksan memecah keheningan.
Memangnya lelaki misterius itu benar-benar Ikhsan? batin Rischa.
"Aku lelaki misterius itu Cha. Aku yang berlari pergi menjauh saat kamu akan menoleh kebelakang," ucap Ikhsan.
"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Rischa lemah.
"Aku mau pamit."
"Silahkan!" jawab Rischa cepat.
Pamit? Pamit dari hati aku? Silahkan saja. Jelita jauh lebih cantik kok..
Rischa kemudian pergi, meninggalkan Ikhsan yang masih mematung seorang diri di sana. Kali ini Ikhsan hanya diam, tak mengejar Rischa lagi. Ikhsan hanya menunduk pasrah.
Udah berapa kali Anda membuat gadis itu menangis? Dasar lelaki bodoh, rutuk Ikhsan dalam hati pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, ada Rischa yang tengah membenarkan keadaan wajahnya yang kusut dan hidung merahnya karena tangisan tadi. Dia berharap Qilla tidak mengetahuinya.
"Kak. Qilla udah nunggu kakak lamaaaaa banget disini. Kakak abis ngapain sih?" tanya Qilla.
"Engh.. Engga, kakak ada urusan tadi. Eh kamu udah dibayar belum bukunya?"
"Belum lah. Qilla kan nunggu kakak," ucap Qilla sambil mengerucutkan bibirnya.
Rischa terkekeh geli melihat ekspresi Qilla yang begitu menggemaskan. "Ya udah yu kita bayar dulu."
Mereka menuju kasir untuk membayar buku yang dipilih Qilla. Saat Rischa akan melangkahkan kakinya ke pintu keluar, dia menoleh ke arah kanan dan didapatinya Ikhsan sedang memperhatikan Rischa. Ikhsan menatap penuh harap. Entah apa harapannya. Wajahnya sangat memelas.
Maafkan aku San. Cukup segini saja kamu sakitin hati aku. Aku udah puas ko!!... batin Rischa.
Ya Allah, berharap selain pada-MU hanya mendatangkan kekecewaan....
Aku paham...
Aku mohon hilangkanlah perasaan ini...
Aku ga mau bertemu Ikhsan lagi..
Aku sudah puas...
Sudah puas menyaksikan Jelita dan Ikhsan yang saling mengungkapkan perasannya satu sama lain...
Mereka saling mencintai,
Dan kemungkinan besar sangat mudah untuk menyatu...
Sedangkan aku?
Aku hanya pengagum Ikhsan,
Aku hanya menyukai Ikhsan,
Yang tentu perasaan suka itu tak mungkin Ikhsan balas dengan perasaan yang sama....
Aku bukan siapa-siapa,
Aku harap kamu bisa pergi dengan mudah dalam pikiranku!!
***