Hujan

1123 Kata
Lantas Ikhsan pergi. Meninggalkan Rischa sendirian. Sedangkan Rischa masih terisak. Sempat juga Rischa bertanya pada dirinya sendiri, memangnya apa yang ingin Ikhsan katakan padanya? Air mata Rischa tak henti-hentinya mengalir di pipi. Tak peduli bisikan dan tatapan bingung dari orang-orang yang tengah membaca buku atau melewatinya. Yang Rischa pikirkan hanya satu, yaitu, apa Ikhsan membencinya? Sakit. Sakit hati. Saat orang yang pernah singgah di hati, justru menyakiti hati. Rischa memutuskan untuk pulang, karena sudah cukup lama ia menangis disana. Rischa melihat, butiran-butiran rahmat Allah turun ke bumi dengan derasnya. Rischa tak peduli itu, karena ia menyukai hujan. Air matanya masih mengalir di pipi, namun kali ini justru menyatu dengan air hujan. Hujan cukup deras, namun Rischa tetap menerjangnya dan memilih untuk duduk di bangku taman dekat toko buku. Pakaiannya basah kuyup. Rischa duduk, sambil menikmati tetes demi tetes air hujan. Hujan adalah rahmat dari Allah. Tanpa hujan, semua tanaman yang berada di sekitarnya itu tak akan tumbuh subur. Maka dari itu, Rischa suka hujan. Baginya, hujan akan menutupi kesedihannya. Kenapa? Karena dengan hujan, air matanya tak akan terlihat karena telah menyatu dengan air hujan. Rischa memejamkan matanya. Mencoba menikmati air yang Allah kirimkan ke bumi untuk digunakan sebaik-baiknya oleh manusia. Hujan sedikit mereda, namun tetesan air tetap jatuh ke bumi. Semuanya basah, termasuk gamis biru muda yang Rischa kenakan. Tapi... Kenapa hujan tiba-tiba berhenti? Rischa mendongakan kepalanya. Dan didapatinya langit berubah menjadi warna merah. Ah, tidak. Itu bukan langit, tapi sebuah payung. Seseorang tengah memayungi Rischa. Dan mengetahui siapa yang memayunginya, Rischa tersentak kaget. "Apa yang kamu lakukan?" tanya lelaki yang memayungi Rischa. Rischa menunduk. Tidak tau lelaki itu siapa, karena ia belum sempat menoleh ke arah lelaki di belakangnya itu. "Aku sedang duduk saja. Aku juga sedang membiarkan air hujan ini menyatu dengan air mataku. Agar aku terlihat tegar, agar aku terlihat seperti tidak sedang menangis," ucap Rischa. "Itu hanya akan membuatmu sakit!" ucap lelaki itu tegas. "Kenapa kamu tidak ke masjid untuk berdoa? Apa Allah sudah tidak dianggap olehmu? Kalo kamu ada masalah atau lagi sedih, lari nya ke masjid dan curahkan semua pada Allah, bukan kaya gini," ucapnya lagi. Rischa menoleh kearah lelaki itu. Dari perkataannya itu, persis seperti lelaki misterius. Rischa mendongak. Yang didapatinya adalah Ikhsan. Ikhsan yang sedang memayunginya dari belakang. Apa dia lelaki misterius itu? "Maafkan aku, San," ucap Rischa lemah. "Aku maafkan. Karena aku ga mau ngeliat kamu seperti ini hanya gara-gara aku." "Jangan maafkan aku jika alasannya karena kamu kasian sama aku!" ucap Rischa sambil menyeka air matanya. "Aku Ikhlas memaafkanmu, dan bukan karena aku kasian. Meski berat. Tapi sungguh, aku ga bisa marah sama kamu." Jantung Rischa berdegup kencang. Saat itu Rischa kedinginan, bukan karena hujan, tapi karena gugup berdekatan dengan Ikhsan si Mr. Dingin. Tangan dan kakinya terasa dingin. "Ayo kita ke halte sana untuk berteduh," ajak lelaki yang ternyata bernama Ikhsan itu. Rischa mengangguk pelan. Betapa degdegannya hati Rischa, saat Ikhsan memayunginya menuju halte yang jaraknya tak lebih dari 5 meter. Jarak Rischa dan Ikhsan saat itu cukup dekat. Saat mereka berdua, berada dalan lindungan payung berwarna merah milik Ikhsan. Pundak mereka hanya terpisah beberapa sentimeter. Akhirnya mereka sampai di halte. Ikhsan menutup payungnya, sedangkan Rischa tengah mengadu kedinginan sambil duduk di sana. Rischa memeluk dirinya sendiri, dan mengelus lengannya yang kedinginan. Ikhsan sepertinya tengah sibuk membuka tasnya, seperti sedang mencari suatu barang yang berada di dalamnya."Nih!" ucap Ikhsan sambil menyodorkan sebuah jaket berwarna biru dongker. "Buat apa?" tanya Rischa retoris. "Pake nanya. Buat kamu pake lah. Kamu pasti kedinginan. Apalagi deket aku," ucap Ikhsan. Mungkin Ikhsan sedang menggoda Rischa agar suasana mencair. "Makasih, San," ucap Rischa pelan. Rischa memakai jaket milik Ikhsan. Jaketnya sangat wangi dan terasa hangat. Hujan semakin deras. Bagaimana bisa Rischa pulang ke pondok jika keadaannya seperti ini? "Makannya, jangan hujan-hujanan. Kalo sakit gimana?" ucap Ikhsan ketus tanpa menatap ke arah Rischa sedikitpun. "Emm, Ikhsan, memangnya apa yang mau kamu katakan hari itu?" tanya Rischa sedikit ragu. "Ehm, gimana ya? Aku itu sebenernya suka...," ucap Ikhsan menggantung. "Suka apa?" tanya Rischa cepat. "Aku suka sama akhlak kamu," ucap Ikhsan sedikit lega setelah mengatakan itu. "Aku masih belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik. Kenapa kamu suka akhlakku? Jelita jauh lebih cantik dariku," ucap Rischa. "Aku hanya bersahabat dengan Jelita. Dan bersamanya, aku tidak merasakan ketenangan sedikitpun. Karena hanya kamu yang seperti angin...," ucap Ikhsan yang tentu saja membuat Rischa penasaran. "Kenapa gitu?" tanya Rischa. "Karena kamu selalu membuat hatiku sejuk." Deg! Mungkin hanya Rischa yang saat itu tengah gugup. Jantungnya berdebar kencang. Ada rasa senang, malu, gugup, di hati Rischa ketika mendengar perkataan Ikhsan barusan. "Kalo aku, selalu kedinginan saat aku bertemu kamu," ucap Rischa sambil menunduk. "Ko bisa?" tanya Ikhsan sambil terkekeh kecil. Melihat Ikhsan terkekeh, Rischa terdiam sejenak. Apa Rischa tidak sedang bermimpi? Barusan Ikhsan terkekeh sebab perkataannya. Ya Allah, Ikhsan sangat lucu. Aku ingin membawanya ke pondok, eh..., batin Rischa. "Soalnya, kamu itu sikapnya dingin, kaya es. Bahkan aku suka nyebut kamu Mr. Dingin, yaa walaupun kamu tak tau itu." "Kenapa gitu?" "Karena kamu adalah cowo super dingin di sekolah dulu." "Engga ah." "Engga kalo sama Jelita. Lah sama aku? Kamu hanya berbicara singkat padat Jelass!" ucap Rischa sambil mengerucutkan bibirnya. "Justru itu. Aku selalu gugup saat deket kamu. Makannya aku ga bisa berkata panjang lebar." "Tapi kok sekarang bisa?" "Mungkin aku berubah. Berubah menjadi sedikit berani berbicara denganmu." "Se-susah apa sih bicara sama aku? Oh iya, kok, aku ngira kalo kamu itu lelaki misteriusnya aku ya?" tanya Rischa. "Emang," ucap Ikhsan singkat. "APA??" "Eh, emm.. Engh." Ikhsan menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak gatal. Apakah benar, Ikhsan itu si lelaki misterius? "Kamu beneran lelaki misterius itu? Lelaki yang membuat aku ingat kembali pada Allah?" tanya Rischa penasaran dengan dahi yang mengernyit. "Iya, Cha..." ucap Ikhsan. "Eh, hujannya udah reda. Kita pulang aja. Kamu aku anter sampai pondok. Dan jaketnya bawa aja. Nanti kapan-kapan kembaliin." "Ya iyalah di kembaliin. Buat apa aku nyimpen barang kamu. Nanti aku cuci dulu ya." Rischa terkekeh pelan. "Yaa biarin aja. Itung-itung ngoleksi barang aku," canda Ikhsan. Ikhsan mengantar Rischa sampai pondok. Jaraknya cukup jauh, namun akhirnya sampai juga. Namun anehnya, saat telah mengantar Rischa, Ikhsan masuk ke ruangan besar khusus anggota keluarga Ustadz Abdullah. Dan itu tentu saja membuat Rischa bingung. Hari ini ada pengajian malam, mau tidak mau Rischa harus cepat kembali ke kamarnya. Rischa segera membersihkan diri, dan dengan cepat pergi ke masjid. Hampir saja terlambat. Rischa kemudian duduk di samping Vanesha. Baru saja Rischa duduk, Vanesha langsung berkicau menasehati Rischa agar tidak pergi terlalu lama seperti tadi. *** Hari ini, Rischa seperti diajak terbang. Pikirannya pun melayang kembali ke kejadian yang menurutnya manis tadi. Alhasil, sebuah senyuman mengembang di bibir Aisyah. Kamu itu... Misterius. Dan aku suka :) ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN