Benci, kah, dia?

1123 Kata
Pagi yang cerah. Matahari menampakkan dirinya dengan sinar cahaya yang begitu terang, hingga dapat memberi kehangatan pada sebagian bumi. Burung-burung seakan mengobrolkan sesuatu pada sesamanya. Suaranya yang indah dan merdu membuat siapapun yang mendengarnya merasa tenang dan ingin tersenyum akibat suara merdu yang lucunya itu. Berbeda dengan lingkungan biotik yang menyambut dunia dengan ceria, Rischa pagi itu justru sedang gelisah. Entah karena apa. Yang pasti, seperti ada yang mengganjal dipikirannya. Tapi apa? "Tugas udah beres, surat Al-Mulk udah hafal, terus apa lagi ya?" tanya Rischa pada dirinya sendiri. Rischa memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di teras. Berusaha melupakan sesuatu yang membuatnya bingung. Akhirnya, taman indah yang berada tepat dihadapannya itu dijadikannya objek untuk menikmati suasana pagi yang sedang sejuk-sejuknya itu. Angin berhembus pelan, hingga jilbab putih yang Rischa kenakan itu terbawa olehnya. Masyaallah sekali kuasa Illahi. Yang tak henti-hentinya memberi nikmat pada semua hambaNya. Tak peduli apakah hambaNya itu pendosa atau tidak. Dia mengingatkan semua hambaNya dalam surat Ar-Rahman hingga puluhan kali, Fabbi ayyiaa laa-i Rabbikumaa tukadziban. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Seharusnya kita bersyukur. Meski hanya bisa bernafas, bergerak, melihat, mendengar, berjalab, berbicara, dll. Sungguh, itu adalah nikmat dari Allah yang sering diabaikan manusia. "Assalamualaikum Icha shalihah," ucap Vanesha yang berhasil membuyarkan lamunan Rischa. Rischa terperanjat kaget. "Astagfirullah Sha, aku kaget tau," ucap Rischa sambil mengerucutkan bibirnya. Vanesa terkikik geli melihat wajah sahabatnya itu. "Salamnya dijawab dulu atuh, Cha," ucap Vanesha sambil menunjukan sedikit logat sundanya. "Iya iya, waalaikumussalam Vanesha cantik," jawab Rischa. "Eh, Cha, kamu tau gak?" "Gak." "Ih dengerin dulu Icha shalihah." "Yaudah apa, Vanesha cantik?" "Kamu ikut aku yah?" "Ikut kemana sih, Sha?" "Ke toko buku sama ka Umar," ucap Vanesha. "Mau ngapain?" tanya Rischa malas. "Aku ngajak dia buat ajarin aku baca kitab yang kemarin. Soalnya aku ga ngerti. Lagian aku udah minta izin sama Ustadzah Maryam," ucap Vanesha sambil tersenyum. "Ooh, jam berapa?" tanya Rischa. "Sekitar 2 jam lagi lah." Rischa memutuskan untuk menemani Vanesha belajar kitab di toko buku. Di dalam toko buku itu memang disediakan ruangan khusus untuk meminjam dan tempat duduk untuk membaca buku. Semacam perpustakaan daerah. Namun di ruangan sebelahnya terdapat tempat khusus buku-buku yang dijual. Rischa masih ingat, tentang satu hal yang mengganjal di pikirannya. Namun Rischa berusaha melupakan itu. *** Perpustakaan kali ini cukup ramai, untuk menemukan Umar pun memerlukan waktu yang lumayan lama. Saat itu Ka Umar tengah menunggu di meja yang berada di pojok, mungkin karena meja itu satu-satunya yang kosong. "Assalamualaikum kak," ucap Rischa dan Vanesha bersamaan. "Waalaikumsalam," jawab Umar. Rischa dan Vanesha pun duduk di kursi yang telah disediakan. Umar segera mengeluarkan sebuah kitab dari tasnya. "Eh, Ka Umar, aku mau ke toilet dulu ya," ucap Vanesha. "Oh, silahkan," jawab Umar. Vanesha lantas pergi. Dan sekarang tinggal ada Rischa. Eh, maksudnya Rischa dengan Umar. Siasana di antara mereka sangatlah hening. Belum ada yang berani memecah keheningan itu. Bagi Rischa, baru kali ini dia berduaan dengan kakak kelas lelaki. Apalagi lelaki itu adalag lelaki terkenal se-pesantren, dan banyak santriwati mengidolakannya. "Kamu udah kenal lama ya sama Vanesha?" tanya Umar, yang berhasil memecah keheningan. "Lumayan kak," jawab Rischa sambil menunduk. "Dia agak cerewet ya," ucap Umar sambil terkekeh kecil. "Iya kak. Kadang telinga aku juga hampir budeg. Soalnya suaranya itu loh...," ucap Rischa sambil tertawa. "Hehe, tapi dia lucu kok," ucap Umar sambil tersenyum. Tiba-tiba Vanesha datang. Lantas Umar memulai pembahasan tentang kitab yang kemarin. Entah itu kitab apa namanya, Rischa lupa. Langit yang tadinya cerah mulai merubah warnanya menjadi jingga. Itu tanda bahwa hari sudah semakin sore. Mereka memutuskan untuk pulang. Umar pulang terlebih dahulu karena membawa sepeda motornya. Sedangkan Vanesha dan Rischa harus menunggu taxi dulu. Saat sedang menunggu taxi, Rischa menatap ke samping. Dan tanpa ia sadari bahwa ia saat itu sedang diperhatikan oleh seseorang. Mengetahui itu tentu saja Rischa terkejut. Apalagi seseorang itu adalah Ikhsan. Ikhwan berdiri tak jauh dari tempat Rischa berdiri. Mungkin jarak keduanya sekitar 2 meter saja. Ikhsan terus memperhatikan Rischa, hingga membuatnya salah tingkah. Ikhsan menatap Rischa dengan tatapan kosong, seakan ada makna dari tatapannya itu. Namun Rischa tak dapat memahaminya. Matamu, seperti menyiratkan kesedihan. Ada apa denganmu? Wahai lelaki yang sampai saat ini mengisi hatiku. *** Hari ini, hari libur. Daripada menghabiskan waktu di kamar, lebih baik pergi ke perpustakaan daerah. Begitulah Rischa, yang sangat cinta pada perpustakaan dan buku. Buku-buku di rumahnya pun mungkin sudah ada sekitar 5 rak buku, dan rak-rak buku itu terisi penuh oleh koleksi novel dan buku agama. Di toko buku, Rischa melihat pemandangan yang begitu menyesakkan, baginya. Saat melihat 2 insan yang tentu ia kenali tengah tertawa ria bersama. Saat itu Rischa membeku. Dia baru sadar, bahwa ia sudah melupakan sesuatu. Rischa lupa bahwa minggu lalu Ikhsan mengajaknya bertemu di perpustakaan dan berjanjian di tempat yang saat ini ditempatinya dan Jelita. Hati Rischa remuk. Pantas saja, kemarin hatinya tak tenang, ternyata masalahnya dia lupa. Rischa melihat, bahwa saat itu Jelita pamit. Entahlah, mungkin dia akan pulang. Hingga akhirnya, disana hanya terdapat satu insan saja. Dengan ragu, Rischa menghampiri Ikhsan yang tengah sibuk pada buku. "Assalamualaikum. Boleh aku duduk?" tanya Rischa. "Limadza la? Ini tempat umum. Tafadhol!" ucap Ikhsan mempersilahkan. Namun, dengan wajah dingin. Sedingin dulu. Rischa pun duduk di bangku yang Jelita tempati tadi. "Kamu marah?" tanya Rischa. "Na'am." "Afwan, San. Aku lupa." "Lupa? Lupa sebab kamu lebih memilih pergi ke perpustakaan ini dengan orang lain?" tanya Ikhsan ketus. "Kenapa kamu tau?" "Kau lupa juga? Aku sering ke perpustakaan ini, dan tentu saja aku melihatmu tertawa berdua dengan lelaki. Aku nunggu di sini, di tempat ini, sendirian, hingga kamu pulang. Aku pikir kamu akan menghampiri aku saat sudah selesai berbicara dengan lelaki itu." "Bukannya kamu bersama Jelita ya?" selidik Rischa. "Engga!! Dia sempat ingin ikut. Tapi aku menolaknya. Itu semua karena aku mau berbicara serius padamu. Dan hanya berdua." "Afwan, afwan, Ikhsan," ucap Rischa sambil menunduk. Hingga seketika Embun beningpun menitik di wajah Rischa. Dia yakin, bahwa Ikhsan tau ia sedang menangis. "Aku benci!" ucap Ikhsan yang berhasil membuat airmata Rischa tak henti-hentinya mengalir. "Emm.. Maksudnya, aku benci wanita yang menangis." Rischa terpaku saat mendengar perkataan Ikhsan yang terakhir. Ucapannya yang terakhir, sama persis seperti ucapan lelaki misterius yang dulu pernah hadir di kehidupan Rischa, walau hanya sekilas. Apa Ikhsan lelaki misterius itu? Rischa semakin terisak. Dia merasa sangat, sangat bersalah telah membuat Ikhsan marah. Mungkin, ini pertama kalinya Rischa membuat Ikhsan marah. Sungguh, ia tak rela Ikhsan marah seperti ini. Begitu terpukul hatinya. Setelah ini, mungkin Ikhsan akan pergi. Pergi meninggalkanku dengab keadaan dia marah. Bodohnya aku yang lupa. Tidak apa dia benci. Karena akupun membenci diriku. Kenapa aku lupa? Astagfirullah. Ma'af San... "Apa kamu tidak mendengar? AKU BENCI WANITA YANG MENANGIS!!!" Bencikah dia setelah itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN