Dibonceng?

1120 Kata
Keesokan harinya, Rischa menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pertemuannya dengan Ikhsan masih terekam jelas di otaknya. Dia sempat berpikir, Ikhsan datang darimana? Apa dari langit? Entahlah, tak akan ada habisnya jika terus terusan memikirkan lelaki yang pernah singgah di hati. Rischa duduk di samping Aura sambil membaca buku kesukannya. Yaitu buku Fiqih Islam bagian mazhab yang empat. Di dalamnya dijelaskan bahwa mazhab yang empat terus-menerus mendapat dukungan dari ulama muslimin sampai sekarang. Beratus-ratus kitab telah ditulis dan disusun dari zaman ke zaman. "Hay Cha, Ra, kita ke luar yu, bosen nih...," ajakan Vanesha membuat Rischa tidak fokus lagi membaca. "Ya udah yu." Kemudian Rischa menyimpan bukunya dan berniat akan membacanya lagi nanti. Mereka pun duduk di bangku depan kelas. Karena kelas mereka sangat strategis, akan sangat mudah bagi mereka melihat lapangan yang selalu ramai oleh para ikhwan. Seperti saat itu, mereka menonton 2 kelompok ikhwan yang sedang bertanding basket. Karena melihat salah satu ikhwan yang tampan, Vanesha berteriak heboh. "Aaaaa... Rischa.... Auraaa, dia tampan sekaliiii...," ucap Vanesha sambil berjingkrak kegirangan. "Yang mana sih Sha?" tanya Rischa sambil menyipitkan matanya. "Ituuu, yang itu ih...," ucap Vanesha sambil menunjuk ke arah seorang lelaki. "Yang mana sih, kan banyak ikhwannya, yang itu mana sih?" tanya Rischa lagi. "Itu yang lagi minum air mineral," ucap Vanesha sambil menunjuk ke arah lelaki itu lagi. "Oooh, dia yang kamu suka. Dia itu nolongin aku pas mau nyimpen buku tugas," ucap Rischa santai yang membuat Vanesha membulatkan matanya tak percaya. "What? Ah, Cha coba aja yang disuruh bu Hanni itu aku...," ucap Vanesha kesal. "Emang dia namanya siapa?" tanya Rischa. "Ah Rischa, masa ga tau, dia itu anaknya Ustadz Abdullah, namanya Umar," kali ini Aura angkat suara. Rischa membulatkan mulutnya disertai dengan anggukan pelan. **** Karena tidak ada kegiatan di siang hari, Rischa memutuskan untuk izin kepada Ustadzah Maryam, karena ingin ke toko buku. Di pesantren yang Rischa tempati memang diperbolehkan keluar dari lingkungan pesantren, namun itu juga tidak setiap orang dapat diizinkan. Yang diizinkan keluar dari lingkungan pesantren hanya orang yang memang sedang berkeperluan. Jika untuk membeli dan membaca buku di toko buku sih, itu diperbolehkan. Saat itu, Rischa sedang menunggu taxi yang nantinya akan mengantarkannya ke toko buku. Sudah sekitar 1 jam lebih Rischa menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Semakin lama, hari akan semakin sore. Dan gerbang pesantren pasti ditutup. Rischa mendengus kesal. Tak lama setelah itu, Rischa mendapati seorang lelaki yang tengah mengendarai motor mendekatinya hingga akhirnya berhenti tepat dihadapannya. Rischa mengernyitkan dahinya. Lelaki itu memakai helm berkaca gelap, sehingga Rischa kesulitan untuk mengenali siapa gerangab lelaki yang mendekatinya itu. "Hai. Assalamualaikum," ucap lelaki itu yang berhasil membuat Rischa terpaku. "Emm, waalaikumsalam." Rischa menundukkan kepalanya. "Sudah lama nunggu?" tanya lelaki itu seakan telah mengenali Rischa. "Mmm, lumayan." "Mau kemana?" "Toko buku." "Ya udah bareng aja. Aku juga mau kesana." Deg! Entah kenapa, jantung Rischa tiba-tiba bergetar kencang. Dia ingin mengetahui siapa lelaki yang baru berbicara dengannya itu? Sungguh, itu membuat Rischa penasaran. "Ayo naik! Aku orang baik ko," ucap lelaki itu santai, "oh iya, aku itu temen SMP kamu. Masa kamu lupa?" lanjut lelaki itu. Rischa hanya diam, tak mau ambil pusing tentang itu. Yang ia khawatirkan adalah, hari yang sudah semakin sore, mau tidak mau Rischa harus ikut dengan lelaki yang tidak diketahaui itu. Rischa bisa saja kembali ke pesantren, tapi buku yang akan dibelinya itu sangat penting. Tanpa buku itu, Rischa tak bisa mengerjakan tugas yang sulit baginya. Rischa menaiki motor itu. Keduanya tetap menjaga jarak. Tas milik lelaki itu pun ikut serta dalam menjaga jarak diantara mereka. Rischa terus mengatur nafasnya yang mulai tak karuan. Ini adalah pertama kalinya ia dibonceng lelaki selain kakak dan Abinya. Rischa berusaha bersikap tenang, walau sulit bahkan tak bisa ia lakukan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun jika suasananya seperti itu, tentu diperjalanan akan sangat terasa lama. Hening. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Keduanya hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lelaki itu fokus pada jalanan, sedangkan Rischa sedang melamunkan sesuatu hingga ia tak sadar,bahwa mereka sudah sampai di toko buku. "Udah sampe, kamu gak mau turun?" tanya lelaki itu yang berhasil membuyarkan lamunan Rischa. Rischa langsung terperanjat kaget. "E-eh, iya, maaf," ucap Rischa kikuk, sambil turun dari motor. "Hai," kata sapaan itu terucap oleh seorang perempuan yang Rischa kenali. "Eh, Rischa?" sapa perempuan itu. "Jelita?" "Kamu bareng Ikhsan?" tanya Jelita. "HAH??" Rischa membulatkan matanya kaget. Lelaki itu membuka helmnya, dan ternyata benar saja itu adalah Ikhsan. Mengetahui itu, Rischa menunduk. Betapa malunya ia, saat tau, bahwa yang memboncengnya itu adalah lelaki yang selama ini mengisi hatinya. "Cha, mau beli buku juga, ya?" tanya Jelita. "Iya, Jel." "Emm, gimana kalo kita bareng aja," ajak Jelita. "Emm... Aku sendiri aja Jel, lagian aku buru-buru nih," ucap Rischa,"aku duluan ya. Makasih banyak San," lanjut Rischa sambil berlalu dari mereka. "Sama-sama," ucap Ikhsan yang terdengar samar-samar. Mengetahui bahwa Ikhsan janjian dengan Jelita, wajah Rischa berubah menjadi kesal. Okey, saat itu Rischa jujur pada dirinya sendiri, bahwa ia cemburu. Rischa memasuki toko buku dengan langkah gontai. Ia menyusuri rak demi rak buku dan melihat-lihat deretan buku. Cukup lama ia mencari, namun akhirnya bertemu. Bertemu dengan buku yang dicarinya, maksudnya. Tanpa pikir panjang, Rischa langsung pergi ke kasir untuk membayar buku yang akan dibelinya itu. Setelah itu, Rischa memutuskan untuk cepat kembali ke pesantren sebelum gerbangnya ditutup. Langkahnya terhenti saat ia mengetahui bahwa ada yang memanggilnya dari arah belakang. "Hey, tunggu!" Rischa menoleh ke sumber suara. Dan, begitu kagetnya ia saat mengetahui bahwa yang memanggilnya itu adalah dia. Huft, dia lagi dia lagi. Sampai kapan sih kamu hadir dihadapanku? Rischa hanya diam sambil menunduk. Dia seakan memberi kode pada Ikhsan agar lekas menyatakan maksudnya. "Bisa gak, minggu depan kamu bertemu aku lagi disini?" tanya Ikhsan. "Aku gatau, San, belum tentu bisa juga sih." "Kenapa?" "Kan, kalo tidak ada kepentingan, aku gak dibolehin keluar pesantren." "Pasti dibolehin kok." Rischa mengernyitkan dahinya. "Gimana nanti aja." "Oke, minggu depan aku tunggu di bangku sebelah sana," ucap Ikhsan sambil menunjuk ke arah dimana Jelita sedang duduk. "Insyaallah, San," ucap Rischa lemah saat Ikhsan menunjuk ke arah Jelita. Rischa tersenyum miring. Rasa cemburunya semakin menjadi-jadi. Hubungan Ikhsan dan Jelita memang sudah semakin dekat, terlebih, saat mereka satu sekolah di SMA yang sama. Saat itu Rischa berusaha berpikir keras, ada apa Ikhsan mengejaknya untuk bertemu? Apa dia akan memberitau aku, bahwa dia dan Jelita sudah jadian? Atau... Atau... Ah, lupakanlah!! Batin Rischa. Rischa melangkahkan kakinya keluar dari toko buku. Hatinya semakin sakit, saat melihat dari jauh, Ikhsan dan Jelita tengah tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa. Tapi itu berhasil membuat hati Rischa tersakiti. Intinya, Rischa cemburu. Apa salah jika aku cemburu? Ketika melihatmu bersama dia. Bukankah itu wajar? Dan itu karena aku cinta. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN