Pertemuan itu

1078 Kata
Keesokan harinya, Rischa mulai sekolah. Aura dan Vanesha sangat setia menemani Rischa kemanapun. Mereka seperti sudah bertahun-tahun berteman, padahal, baru beberapa hari saja saling mengenal. Mereka selalu bercerita trntang apapun. Termasuk bercerita tentang masa-masa di SMP dulu. Ahh... Mengingat masa SMP, Rischa jadi ingat lelaki yang selalu bikin ia kesal bukan main. Sifat dinginnya itulohh... *** Berhari-hari sudah Rischa lewati bersama semua teman barunya. Mereka ramah. Semuanya ramah maksudnya. Tak ada permusuh diantara semuanya. Yang ada hanya rasa persaudaraan. Yang lebih menguntungkan, di kelas hanya ada perempuan. Perempuan dan laki-laki dipisah. Syukurlah. Meskipun kelas khusus laki-laki tidak terlalu jauh, setidaknya Rischa akan sedikit sekali berkomunikasi dengan yang namanya laki-laki. Pelajaran pertama hari ini selesai. Bu Hanni menyuruh Rischa membawa setumpuk buku tugas ke ruang guru. Apa aku tidak dibantu? Sendiri? Ya dia menyuruhku sendiri.. Batin Rischa. Rischa berjalan melewati koridor. Dijalan, buku yang ada dipelukannya sudah merosot beberapa kali. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, namun akhirnya buku itu jatuh dan berantakan di bawah. Rischa tak sengaja menjatuhkannya, karena sudah tidak kuat. Saat Rischa sedang membereskan buku, ia melihat langkah kaki dari arah depan mendekatinya "Bisa saya bantu?" tanya orang itu, yang ternyata seorang lelaki. "Ng... Nggak usah." "Kita seorang muslim, sudah sepantasnya saling membantu." Ucapannya yang itu membuat Rischa berkeringat dingin. "Tapi aku bisa menyelesaikannya sendiri. Dan, ikhwan tak berkewajiban membantu akhwat jika akhwat bisa menyelesaikan sendiri," ucap Rischa gemetar. "Tapi kamu tidak bisa menyelesaikan sendiri. Buku itu terlalu banyak." Rischa memang butuh bantuan. Tapi dia ragu. Lelaki itu malah mengambil sebagian buku yang berada di lantai. Dia membawa setengah, dan menyisakan setengah buku lagi untuk dibawa Rischa. "Ayo ke ruang guru. Jaga jarak!" ucap lelaki itu ketus. Rischa hanya menunduk, dia tidak berani menatap lelaki itu. Dan akhirnya, sampailah mereka di ruang guru yang tak menyisakan 1 orang guru pun, karena semuanya sedang mengajar. "Ini di meja siapa?" tanya lelaki itu. "Bu Hanni." Lelaki yang belum di ketahui namanya itu meletakkan buku itu di meja Bu Hanni, dan Rischa pun melakukannya. Rischa berhasil bertatap muka dengan lelaki itu, tapi Rischa kembali menunduk, sedangkan lelaki itu membuang mukanya. "Syukron," ucap Rischa "Hmm.. Iya...," jawab lelaki itu. Lelaki yang bisa dikatakan tampan itu pergi tanpa mengucapkan salam. Ya, dia memang tampan. Namun, kenapa Rischa merasa, bahwa lelaki itu adalah Ikhsan si Mr. Dingin. Sikap dingin lelaki tadi dan Ikhsan itu tak ada bedanya sedikitpun. **** Sudah satu bulan lebih Rischa ada di pesantren. Dan dia merasakan ketenangan yang luar biasa disana. Sudah sekitar satu bulan, tidak ada lagi pesan e-mail dari secret admirernya. Di hati Rischa, ada sedikit rasa berharap, ingin mendapat pesan lagi dari lelaki yang mengaku secret admirernya itu. Hari ini, hari minggu. Banyak para santri dan santriwati pergi berjalan-jalan, baik di kawasan ponpes maupun ke luar ponpes. Rischa berjalan-jalan mengelilingi ponpes. Dia sendiri. Vanesha dan Aura sedang sibuk mengerjakan tugas. Rischa berjalan sambil memeluk al-qur'an pemberian Ikhsan. Dia sedang mencari tempat yang tepat untuk menikmati suasana pagi sambil membaca ayat-ayat suci al-Quran. Rischa pergi ke masjid terlebih dahulu, karena ia lupa mengambil wudhu. Rischa meletakkan al-qur'an di tembok dekat tempat wudhu. Selesai wudhu, dia langsung memakai kaus kaki dan sendalnya. Taman ponpes tidak terlalu jauh dari masjid. Saat Rischa berjalan ke arah Taman, seperti ada suara lelaki yang memanggilnya. Namun, Rischa sedikit ragu jika suara itu ditujukan kepadanya. "Heyy kamu!!" Rischa menoleh namun tak sedikitpun mencuri pandangannya. Dia menunduk. Hanya menunduk, mengingat yang memanggilnya adalah seorang ikhwan. "Rischa?" Lah? Kenapa dia mengetahui nama Rischa? Rischa semakin menundukkan kepalanya. Dia terlalu gugup untuk menatap seorang lelaki yang tadi memanggilnya itu. "Terima Kasih masih menyimpan dan mengamalkan al-qur'an ini." Ucapannya yang itu membuat Rischa membulatkan matanya, lalu menoleh reflek ke arah lelaki itu. Rischa merasa terkejut. "Kamu?" "Iya. Makasih ya, udah menyimpan Al-Quran ini," ucapnya yang lantas menyodorkan sebuah al-qur'an yang tadi tertinggal di tempat wudhu pada Rischa. Rischa hanya diam. Jantungnya sudah hampir copot. Keringat dingin pun menetes di dahinya. "Makasih Cha." "I... Iy.. Iya," ucap Rischa terbata-bata. "Hmm.. Kamu berubah. Kamu makin anggun," ucap lelaki itu. Dari perkataan lelaki itu, Rischa merasakan perubahan pada seorang Ikhsan. Ya. Lelaki itu adalah Muhammad Ikhsan. Yang menjadi pertanyaan terbesar di otak Rischa adalah, kenapa Ikhsan ada di ponpes itu? "Makasih. Emm maaf, aku mau ke Taman dulu," ucap Rischa. "Oh iya. Sampai ketemu lagi ya!" Rischa mengangguk pelan. "Assalamualaikum," ucap Rischa. "Waalaikumsalam," jawab Ikhsan. Tak lama setelah itu, Rischa pergi menuju taman. Dia merasa tak percaya atas sebuah pertemuan yang tak diduganya itu. Namun, Rischa menyukai pertemuan itu. Pertemuan yang tak memerlukan perjuangan sedikitpun. **** Malam yang begitu gelap. Namun malam tak pernah kesepian. Selalu ada bulan yang setia menemani, dan terkadang ada banyak bintang yang ikut meramaikan. Sambil melamunkan pertemuan tadi, Rischa mulai menuliskan kata demi kata ke sebuah diary yang sempat jarang ia buka. __________________________________ Dia hadir kembali? Apa kabar dirimu? Apa kabar imanmu? Ini takdir Allah yang mengizinkan ku melihat nya lagi setelah beberapa bulan telah berlalu Ini takdir Allah yang mengizinkan ku mengingatnya kembali sewaktu dulu ia hadir. Yah dulu dia hadir,lalu aku menjauh. Dia yang mengirimkan pertemanan itu namun aku tetap menjauh karena ku tau aku akan mengikuti nafsu itu untuk mencari perhatian mu.namun tak ku sangka ia menjadi lebih baik setelah sekian lama ku tau ia memang taat sewaktu dulu. Izinkan aku mengatakan bahwa dia jauh lebih baik dan aku akan mencari perhatian Allah dan bukan mencari perhatianmu. Hatiku bilang ini masa lalu, Iya ini masa lalu namun aku berharap akan menjadi masa depan Akankah ada takdir Allah selanjutnya untuk ini? Ahh kurasa aku akan canggung namun tak ku izinkan mata ini, hati ini, dan pikian ini terus memikirkan itu. Disini aku berlatih menjadi lebih taat insyaaAllah, menjadi diri yang bermanfaat untuk sekitar Disini aku berlatih menjadi wanita yang dicemburui para malaikat insyaaAllah Disini aku menunggu takdir Allah yang selanjutnya. Hatiku bilang ini masa lalu, yah memang ini masa lalu tapi aku berharap ini akan menjadi masa depan. berpaling itu susah dan memendam rasa itu menyakitkan.Berpaling dari masa lalu yang dulu. Disini aku masih beradu akan sulitnya berpaling dari masa lalu di putih biru Apalah arti sebuah pengharapan jika nyatanya Allah tak mengizinkan sebuah harapan menjadi kenyataan. Diaryku, jagalah tulisanku yang ini. Jangan sampai ada yang berani membacanya selain aku :) ___________________________________ Rischa pikir ini masih berada di masa lalu, dimana Ikhsan adalah orang terdingin. Tapi dia sangat berharap, bahwa Ikhsan berada di masa depan. Bersamanya... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN