"Jadi, siapa yang sudah mengerjai Daniel tadi?" Bersedekap tangan, Roni—guru olahraga itu menatap nyalang pada barisan siswa di depannya.
Gara-gara insiden tadi, dia terpaksa menunda pelajaran olahraga yang seharusnya sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu.
Sayangnya, dia tak mungkin mengabaikan peristiwa yang menimpa salah seorang muridnya. Dan kini, entah pergi kemana Daniel.
Ah, bocah malang itu mungkin kembali ke kelas dan mengurung diri di sana setelah dipermalukan.
"Masih tidak mau ada yang mengaku?" Tanya Roni sekali lagi, pada para siswa yang sekarang kelasnya mendapat mata pelajaran olahraga darinya.
Sementara itu, meski memilih diam, beberapa siswa saling melempar lirikan. Mereka tentu saja resah karena bisa mendapat hukuman. Yang lebih menyebalkan lagi, hukuman tersebut bukan kesalahan yang mereka perbuat.
Meski sejujurnya tau, siapa biang kerok dalam insiden Daniel tadi. Sayangnya tak ada yang berani membuka suara untuk mengatakan yang sejujurnya.
Hukuman yang akan Pak Roni berikan dirasa lebih baik, dibanding berurusan dengan pentolan kelas mereka yang jauh lebih menakutkan.
Menganggukkan kepala, Roni mengurai tangannya yang tadi bersedekap, lalu memasukannya ke dalam kantong celana, "baik, jika memang tak ada yang mau mengaku." Ucapnya yang mulai jenuh menunggu kejujuran yang sepertinya, terlalu sulit untuk didengarnya. "Berarti, kalian semua lebih senang mendapat hukuman bersama-sama."
Menahan erangan kesal, para siswa itu hanya mampu merengut masam.
Sebelum kemudian, Oscar menendang betis bagian belakang secara pelan, salah seorang siswa bertubuh kurus yang berdiri di depannya. Membuat siswa tersebut berjengit. Tak hanya menahan sakit, atas tendangan yang Oscar berikan pada kakinya—walau tak terlalu terasa sakitnya. Tapi ketakutan lebih mend*minasi. Karena sepertinya, dia yang dipilih sebagai tumbal oleh cowok itu.
Astaga ... Kenapa harus dirinya?
Tau begini, seharusnya mengambil tempat dengan posisi paling jauh dari Oscar dan gengnya.
Berdecak pelan, Oscar merangsek maju dengan gerakan yang sengaja dibuat setenang mungkin, agar tak memancing perhatian Pak Roni yang masih menimbang hukuman yang hendak diberikannya karena tak ada yang mau mengaku.
Setelah berhasil berdiri di samping siswa tersebut, Oscar menatap tajam, "maju, atau ... Lo mau, kehilangan dua gigi depan lo?"
Menelan ludah yang tiba-tiba bertransformasi menjadi batu bata, siswa tersebut hanya bisa merintih dalam hati, atas kesial*nnya hari ini, karena dijadikan sebagai tumbal oleh Oscar.
"Buruan," desis Oscar tak sabaran, tak lupa salah satu kakinya menginjak sepatu siswa tersebut dengan keras.
Mengusap telapak tangannya yang basah pada celana olahraganya, siswa tersebut mengangguk kaku. Lalu mengayunkan langkah yang terasa begitu berat, bak ada rantai yang mengikat kakinya bersama bola besi berukuran besar.
Diam-diam, siswa lain yang mengetahui rencana Oscar, menatap prihatin. Walau dalam hati ada rasa lega yang muncul kepermukaan, karena bukan mereka yang dipilih cowok itu sebagai kambing hitam. Dan mungkin, setelah adanya perwakilan yang mengaku sebagai tersangka, Pak Roni mengurungkan niatnya untuk menghukum mereka semua.
"P—Pak," panggil siswa tersebut, bak anak curut yang menjerit saat melintasi dapur malam-malam, lalu berlari ke lubang persembunyiannya.
Oscar yang memerhatikan di dalam barisan hanya bisa mendengkus.
Ck! Benar-benar payah. Keluhnya yang kemudian melempar pelototan. Jika memanggil dengan suara seperti itu, mana mungkin Pak Roni bisa dengar?
"Yang bener manggilnya oncom. Suara lo harus lebih keras, jangan kayak orang panik lupa cebok." Tegur Oscar dengan suara mendesis.
Beberapa siswa berdeham-deham pelan, berusaha keras mengaburkan keinginan untuk terbahak, menahan geli yang sudah menggelitik perut mereka.
Mengangguk dengan tubuh gemetar, siswa itu mulai beringsut maju. Oscar yang tak lagi sabar, kemudian menendang pant*tnya hingga terdorong dan jatuh terjerembab. Tepat di depan Pak Roni yang berjengit karena terkejut.
"Astaga! Riki, kamu ngapain?"
Bangkit dengan tergesa-gesa, Riki menatap Pak Roni gugup, "i—itu Pak, k—kesandung."
"Ya ampun ... Makanya hati-hati. Yasudah, sana, masuk lagi ke barisan—"
"Pak," panggilnya cepat. Menelan paksa rasa ragu yang menggelayuti hati. Meski tentu saja, pengakuan palsu yang akan Riki lakukan, bisa membuatnya terkena sanski. Tapi mau bagaimana lagi? Jika tak melaksanakan, Oscar dan gengnya, siap menghabisi.
Kenapa jadi begini? Riki seperti diberi buah simalakama. Posisinya jadi serba salah.
"Riki?" Roni memanggil salah seorang muridnya yang justru melamun. "Sana, kembali ke baris—"
"S—saya, Pak."
"Apa?"
Dengan kedua tangan yang saling terkepal di masing-masing sisi tubuh, Riki akhirnya memberanikan diri.
Setidaknya, hukuman yang Pak Roni berikan tak membuatnya kehilangan gigi. Seperti yang Oscar anc*mkan tadi.
"S—saya, yang merobek, celana Daniel."
Bak memberi peran dukungan agar tampak lebih meyakinkan. Geng Oscar berpura-pura terkesiap kaget, dan berbisik-bisik dengan suara yang jelas terlampau keras untuk disebut sebagai bisikan.
"Ya ampun, nggak nyangka gue, kok Riki tega ya?"
"Ih ... Kan dia emang sentimen sama Daniel."
"Daniel yang malang, gue tadinya mau ngejar. Tapi takut dikira adegan film India kalau kejar-kejaran."
"Harus dikasih hukuman sih, biar jera. Kasihan Daniel, jiwanya pasti terguncang, hatinya terluka meski tak berdarah."
Deheman keras yang Roni layangkan, akhirnya berhasil membuat Oscar dan teman-temannya diam.
Meletakkan kembali atensinya pada sosok Riki yang hanya menunduk dalam, Roni mengela napas panjang. "Kenapa kamu melakukan itu, Riki? Walau bagaimanapun, Daniel itu juga teman kamu. Tapi hal yang tadi kamu perbuat sudah keterlaluan karena mempermalukannya di depan banyak orang."
Di dalam barisan, gadis bersuarai panjang yang diikat kuncir kuda, menggigiti bibir bagian bawahnya dengan resah. Lalu berniat maju tapi ditahan temannya yang memberi pelototan.
"Mau apa? Jangan coba-coba buat uji nyali ya, Ai."
Mengela napas gusar, ia tatap temannya yang memberi peringatan, "ini udah keterlaluan, Fa. Gue nggak bisa diam aja. Apa yang Oscar lakukan udah sangat keterlaluan. Mengerjai Daniel dan sekarang? Memaksa Riki mengakui perbuatannya itu."
"Ck! Ya ampun Ai, lo kayak dua menit yang lalu kenal si Oscar. Kan memang begitu candaannya sama teman-temannya. Ngeri-ngeri sedap memang. Tapi mau bagaimana lagi? Yang penting, kita nggak jadi target mereka aja." Jelasnya, berusaha untuk memberi pengertian pada Ainayya yang tak bisa menahan geram, atas kelakuan teman sekelas mereka.
"Eh, tapi si Oscar kan naksir lo, Ai. Jadi kayaknya, lo nggak bakal jadi targetnya deh. Paling target cinta." Kekeh Ulfa sembari menyenggol pelan bahu Ainayya dan menaik-turunkan alisnya dengan seringai menggoda, membuat temannya itu mendengkus sembari menatap malas.
"Apaan sih? Basi, Fa."
"Ish, semua juga tau, Ai. Makanya, nggak ada yang berani aneh-aneh sama lo." Mengibaskan tangan di depan wajah, Ulfa kembali berusaha meminta Ainayya agar tak ikut campur, "udah, jadi penonton aja kita. Nggak perlu merepotkan diri sebagai penolong bak peri baik hati." Memeluk lengan Ainayya, berjaga-jaga sahabatnya masih nekat pada keinginannya untuk membongkar kebohongan Oscar dan gengnya. Ulfa berusaha menggagalkan rencana Ainayya yang akhirnya mengela napas panjang.
Keduanya kembali menyaksikan Riki yang tengah ditanyai Pak Roni.
"Riki?" Tak juga mendapat jawaban, Roni kembali melempar tanya. "Kamu tidak dengar, apa yang saya tanyakan?"
"D—dengar, Pak."
"Terus, kenapa nggak jawab?"
"M—maaf, Pak."
"Yang Bapak butuh, penjelasan kamu, bukan maaf kamu. Nanti saja kalau maaf, simpan untuk Daniel nanti. Karena dia yang lebih berhak mendapatkannya."
Menundukkan kepala kian dalam, Riki tengah mencangkul alasan yang tepat, demi bisa menyempurnakan karangan yang sudah dia katakan pada Pak Roni.
"Jadi?" Kembali bersedekap tangan, Roni menatap Riki yang masih bergeming di tempatnya, "kenapa kamu melakukan hal tak terpuji seperti itu pada Daniel?"
Mengangkat kepala, yang sebelumnya terus tertunduk hingga membuat leher agak pegal. Riki mengubur dalam rasa gugupnya agar tak terlalu tampak jelas. Karena walau bagaimanapun, sandiwara yang tengah dimainkannya harus terlihat nyata.
"S—saya, hanya bercanda, Pak." Setelah bersusah payah mencari alasan yang tepat. Akhirnya, hal tersebut yang Riki jadikan sebagai kebohongan.
"Astaga ...." Menggeleng-gelengkan kepala, Roni memijat pangkal hidungnya, "itu sama sekali tak bisa dijadikan sebagai candaan, Riki."
"M—maaf, Pak."
"Sudah Bapak bilang, maafmu itu untuk Daniel. Dia yang lebih berhak mendapatkannya."
"I—iya, Pak, saya ... Akan minta maaf sama Daniel."
"Ya, tentu saja. Tapi, setelah kamu menyelesaikan hukuman dari Bapak."
Menelan ludah, Riki hanya bisa pasrah. Pada hukuman yang akan diberikan padanya.
"Sekarang, kamu ke gudang tempat penyimpanan peralatan olahraga. Bereskan dan rapikan semuanya. Jangan lupa sapu dan pel sampai bersih. Nanti minta alat-alat kebersihan sama petugas sekolah." Ucap Roni yang memberi tau hukuman yang harus Riki jalani. "Nanti, jam istirahat, kamu datang ke ruang guru untuk temui Bapak bersama Daniel."
Kedua bahu Riki seketika merosot, mendengar apa saja jenis hukuman yang Pak Roni berikan padanya.
Di belakangnya, tatapan iba diberikan oleh teman-teman sekelasnya. Tak tega, tapi juga tak memiliki secuil pun keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya, demi membebaskan Riki dari hukuman yang tentu saja tak pantas di dapatkannya.
Karena sudah jelas, bukan cowok itu yang melakukan hal buruuk pada Daniel.
Mengangguk dengan perasaan carut marut, Riki bergegas pergi untuk melaksanakan hukumannya, sementara Pak Roni, kembali pada siswa lainnya. Sudah terlalu banyak waktu yang terlewat karena masalah ini. Membuat jam mata pelajarannya sempat terbengkalai.
Ketika jam pelajaran olahraga akhirnya selesai. Sebagian besar para siswa memilih kantin sebagai tempat tujuan. Sayangnya, hal itu tak berlaku untuk Ainayya yang memilih tempat lain.
"Ai!" Seruan seseorang yang memanggil namanya membuat Ainayya menghentikan langkah. Menolehkan kepala, ia dapati sosok Ulfa yang berlarian menuju kearahnya.
"Astaga ... Engap gue."
"Siapa suruh lari-lari?"
"Siapa suruh lo ngilang tiba-tiba?" Balas Ulfa tak mau kalah.
"Gue nggak ngilang."
"Terus? Ini lo mau kemana? Gue tadi abis dari toilet nyari lo di kantin nggak ada, di kelas juga nggak ada. Taunya di sini, memangnya mau kemana?"
"Koperasi."
"Mau ngapain?"
"Beli sesuatu."
"Apaan?"
Astaga ....
Menebalkan kesabaran atas kecerewetan sahabatnya, Ainayya mendesah, "adalah pokoknya, lo duluan aja ke kantin. Gue ada urusan lain."
Berdecak tak puas, Ulfa akhirnya menurut. Paling sahabatnya itu beli alat tulis yang mungkin rusak atau hilang, "yaudah, gue duluan ya? Nanti nyusul."
"Iya ...."
Setelah kepergian Ulfa. Ainayya akhirnya melanjutkan langkah, menuju kearah koperasi sekolah.
"Memangnya buat siapa?"
Tersenyum tipis, meski lebih tampak seperti ringisan, Ainayya berdeham pelan untuk meluruhkan gugup, "teman, Bu." Ucapnya sopan, sembari menerima dua plastik berbeda isi setelah menyelesaikan pembayaran.
"Oh ... Kirain pacarnya. Soalnya yang dibeli celana seragam sekolah." Kekeh penjaga koperasi, lalu memberi uang kembalian pada Ainayya yang tampak kikuk dengan candaannya.
"Makasih Bu, permisi." Tak mau terjebak kecanggungan kian lama, Ainayya segera pergi, setelah mendapatkan apa yang dicarinya.
Saat menyusuri koridor yang cukup sepi, Ainayya dikejutkan dengan kehadiran Oscar yang muncul secara tiba-tiba.
"Astaghfirullah! Ish! Oscar! Apaan sih, ngagetin aja!" Semburnya yang tak menutupi rasa jengkel.
"Abis dari mana?" Mengabaikan kekesalan Ainayya, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, Oscar berdiri menghalangi jalan gadis cantik yang selalu bersikap ketus padanya.
"Bukan urusan lo!"
Lihat?
Benar-benar seorang Ainayya. Tapi anehnya, sikap garang itu hanya ditujukan untuknya. Karena ketika bicara dengan orang lain, maka seketika berubah lebih lembut dan ramah.
Jika yang bersikap seperti ini padanya adalah orang lain, Oscar jelas akan membuat perhitungan. Sayangnya, dia Ainayya. Seseorang yang mencuri perhatiannya.
Ah, mungkin juga hatinya?
Astaga ... Itu sungguh menggelikan.
Tapi mau bagaimana lagi? Oscar hanya remaja yang tengah bertumbuh dan akhirnya mengenal hal-hal semacam cinta m*nyet yang kini menderanya.
Sayang, sang hati justru terjebak pada si judes yang menggemaskan.
"Minggir gue bilang!"
"Nggak ke kantin?"
Memutar bola mata, Ainayya memilih tak menjawab pertanyaan basa-basi yang Oscar lontarkan, dan tak sabar untuk segera pergi.
"Ai—"
"Jangan ikutin gue. Atau, gue kasih tau Pak Roni soal kelakuan lo sama Daniel dan Riki?"
Berdecak, Oscar menyugar rambut, "kok jadi bawa-bawa hal itu?"
"Serius ya, kelakukan lo tadi benar-benar keterlaluan. Lo kerjain Daniel, terus lempar kesalahan sama Riki sampai dia yang harus kena hukuman."
"Gue cuma bercanda doang, Ai. Buat lucu-lucuan."
"Lucu-lucuan?!" Beo Ainayya dengan nada tinggi, lalu menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir, "itu sama sekali nggak lucu. Tapi brengs*k! Sama kayak kelakuan lo." Mendorong bahu Oscar hingga tubuh cowok itu mundur satu langkah, Ainayya akhirnya berlalu pergi, dengan gebukan rasa kesal yang menggelayuti hati.
Melihat kepergian Ainayya, Oscar justru menyeringai. Menatap kepergian gadis itu yang tengah marah padanya. Tapi justru terlihat menggemaskan.
Ainayya sampai di ruang UKS. Masuk ke dalam, dan mengernyit saat sepi yang menyambut.
Kemana penjaga UKS? Apa mungkin sedang ada urusan?
Memilih untuk tak ambil pusing, Ainayya mengayunkan langkah, menuju brankar yang letaknya paling pojok, diantara tiga brankar yang ada di sana.
Membuka tirai pembatas yang membuat Ainayya menemukan seseorang yang dicarinya. Karena sebelum ini, gadis itu sempat ke beberapa tempat. Mulai dari kelas, perpustakaan, taman sekolah, hingga area belakang gedung yang biasa menjadi tempat nongkrong beberapa siswa membolos.
Tapi akhirnya, Ainayya menemukan sosok itu tengah meringkuk di salah satu brankar yang ada di ruang UKS.
Berdeham pelan, untuk mendapat atensi sosok yang berbaring membelakanginya, Ainayya tersenyum ramah, "hai, Niel. Maaf ganggu waktu istirahat kamu."
Mengusap pipi basahnya, Daniel merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, dengan selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya hingga sebatas perut.
"Boleh duduk?"
Meski bingung dengan kedatangan teman sekelasnya itu, Daniel akhirnya mengangguk. Membuat Ainayya akhirnya mengambil tempat di pinggir kasur.
"Maaf ya, apa yang Oscar dan teman-temannya lakukan tadi sangat keterlaluan."
Jadi benar, yang mengerjainya tadi itu Oscar dan gengnya?
Ya, memangnya siapa lagi jika bukan gerombolan itu? Harusnya Daniel sudah bisa menebak sejak awal.
"Ini," Ainayya memberikan dua kantung plastik pada Daniel yang menatapnya bingung, "buat kamu, semoga sesuai ya."
"U—untuk apa?" Terbata, Daniel melempar tanya.
"Nanti, Pak Roni minta kamu ke ruang guru. Jadi, aku rasa, kamu butuh itu."
Bangkit dari duduknya, Ainyya kembali memberi senyuman, "aku duluan ya. Jangan sedih-sedih lagi." Usai mengatakan hal tersebut, gadis itu akhirnya berlalu. Meninggalkan Daniel yang hanya diam terpaku.
Ketika kesadarannya berhasil kembali, Daniel menunduk, lalu didera rasa penasaran yang sudah menggantung di benak, pada dua kantung plastik pemberian Ainayya.
Plastik pertama berisi sebotol air mineral, satu kotak s**u coklat, dan dua bungkus roti rasa keju serta satunya lagi rasa coklat.
Berpindah pada plastik kedua, Daniel tercenung. Sebelum kemudian mengerjap-ngerjapkan mata, lalu mengambil apa yang berada di sana.
Itu ... Sebuah celana seragam sekolahnya. Dengan ukuran yang cukup besar, sesuai dengnnya.
Menundukkan kepala, Daniel mengela napas, sembari mengusap matanya yang basah dengan lengan seragamnya.
Merasa terharu, pada perhatian dan kepedulian yang dilakukan teman sekelasnya.