Mengernyitkan kening, Aida menatap heran pada putranya yang tampak makan dengan ogah-ogahan. Tumpukan ayam goreng di hadapan Daniel tak membuatnya makan dengan lahap. Padahal, biasanya, tiga paha ayam sudah bersemayam nyaman diperut, dan masih akan berlanjut pada paha ayam selanjutnya dalam waktu yang terbilang singkat.
Tapi sekarang, nasi sudah hampir tandas, sedangkan Daniel masih belum meraih paha ayamnya yang kedua.
Daniel yang tengah mengunyah pelan, seketika tersentak, menatap bingung pada sang Mama yang tadi, secara tiba-tiba memegang keningnya. "Kenapa, Ma?"
Mengela napas, Aida membalas tatapan Daniel, "kamu yang kenapa, Sayang? Lagi nggak enak badan?" Tanyanya, tapi mendapat gelengan kepala sebagai jawaban, " terus kenapa, kok nggak semangat makannya? Mau ganti menu?"
Daniel kembali menggeleng, membuat Aida hanya mengela napas panjang.
"Udah kenyang ini pun." Aku Daniel, walau sejujurnya, bertolak belakang dengan perut yang mencibir. Karena mereka masih belum merasa kenyang.
Menaikan satu alis mata, Aida menatap sangsi. Karena Daniel hanya menghabiskan satu setengah paha ayam.
"Habiskan, sayang kalau nggak habis."
Walau enggan, demi menghargai sang Mama yang sudah membuatkan ayam goreng favoritnya, Daniel yang hendak beranjak dari kursi, akhirnya menjatuhkan kembali pant*tnya di sana. Dan menyelesaikan makan siangnya yang terasa hambar.
Oh, bukan masakan mamanya yang hambar. Tapi perasannya yang masih carut marut.
Gara hanya diam, mendengarkan perbincangan antara Daniel dan Bibinya. Sembari makan dengan pelan.
Tak mau terus menyusahkan, sejak masih tinggal bersama nenek dan kakeknya, Gara belajar untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contohnya seperti makan, karena tak mungkin terus disuapi, walau isi piringnya kadang meloncat keluar dan bertebaran kemana-mana di sekitar piringnya.
Untuk meminimalisir hal itu, Gara menyendok makanannya dengan pelan.
"Permisi Nyonya," salah seorang asisten rumah tangga menyapa sopan, merasa sungkan karena harus mengganggu sejenak makan siang Aida.
"Kenapa Mbok?"
"Ini, ada telepon dari Tuan. Katanya ponsel Nyonya nggak aktif."
"Oh, iya, sedang di chas." Menerima telepon rumah yang diserahkan padanya, Aida mengucap terima kasih, lalu berbicara dengan sang suami di seberang sambungan. "Kenapa, Pa?"
"Ma, maaf, bisa ke kantor Papa? Bawakan file merah yang ada di meja kerja Papa? Kelupaan bawa, padahal itu penting buat rapat abis jam makan siang."
Mengela napas, Aida menggelengkan kepala. Bukannya merasa keberatan dengan permintaan sang suami, dia hanya gemas. "Yasudah, Mama ke sana sekarang, sekalian nanti pulang dari kantor Papa mau belanja di supermarket."
Usai menyelesaikan perbincangan singkat tersebut, Aida menatap Daniel yang masih sibuk menggigiti paha ayamnya. "Mama mau ke kantor Papa, anterin berkas yang ketinggalan. Terus nanti, pulangnya ke supermarket belanja kebutuhan yang mulai habis. Kamu di rumah sama Gara ya, Niel?"
Mengangguk, dengan tangan yang sedikit berminyak karena ayam goreng, Daniel mengacungkan ibu jari. "Siap, Ma."
Mengelus lembut kepala sang putra, Aida mengalihkan tatapannya pada Gara yang tengah meraba untuk mencari keberadaan gelas yang ada di sampingnya.
Demi menjaga kenyamanan, Gara menggunakan peralatan makan yang tak mudah pecah. Terlalu berisiko kalau tak sengaja memecahkan dan melukainya nanti. Hal tersebut pun, sudah diwanti-wanti Puspita sebelumnya pada Aida.
"Ga, Bibi mau pergi dulu, kamu di rumah sama Daniel ya? Kalau ada apa-apa, bilang sama Daniel atau si Mbok."
Meneguk minumannya beberapa kali, Gara letakan gelas pelan-pelan di sampingnya, lalu mengangguk, "iya, Bi."
Mempercepat makan siangnya agar tak terlambat mendatangi kantor Wira, Aida segera bangkit ketika selesai. Mengganti baju rumahannya, berdandan rapi agar tak tampak kusut dan berantakan.
Sementara Daniel dan Gara, keduanya pindah ke ruang tv, duduk di bawah yang beralaskan karpet bulu, dengan punggung yang disandarkan pada sofa di belakang mereka.
Meski tak bisa menyaksikan film yang tengah ditontonnya, Gara tetap senang bisa menemani Daniel. Apalagi, sepupunya itu menceritakan jalannya film tersebut cukup detail. Gara sempat khawatir Daniel tak bisa menikmati tontonannya karena sibuk memberi ulasan padanya.
Tapi tidak. Daniel mengaku senang, tetap bisa menikmati walau fokusnya terbagi. Belum lagi rasa haus yang sesekali menghampiri karena dia terlalu banyak bicara.
Bosan merayapi, ketika film yang mereka tonton bersama akhirnya selesai. Mengela napas panjang, Daniel melempar tatapan pada Gara yang masih setia menemaninya.
Pukul setengah tiga sore, dan Mamanya masih belum pulang. Pasti selain ke kantor sang Papa dan supermarket, melipir ke tempat lainnya.
Tapi ... Biar sajalah. Kepergian sang Mama justru membuat Daniel memiliki sebuah rencana.
Menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan Gara, yang mengerjap dan merasakan keberadaan Daniel menempel padanya. "Kenapa?" Tanyanya kemudian, "mau lanjut nonton film yang lain?" Tebak Gara, "tapi sebaiknya nggak perlu dijelaskan setiap adegan, Niel."
"Kenapa? Kamu merasa terganggu, Ga?"
Tersenyum tipis, Gara menggelengkan kepala, "bukan."
"Terus?"
"Nanti kamu capek." Jawabnya tenang, tapi membuat Daniel senang. Karena sang sepupu memberi perhatian, "nggak apa-apa nanti aku pahami sendiri jalan ceritanya lewat suara yang terdengar."
"Tapi, aku udah nggak mau nonton lagi."
"Kenapa?"
"Pegel, padahal cuma duduk sambil nonton doang, ya?" Kekeh Daniel, "ah, agak bosan juga." Akunya kemudian, lalu menyandarkan kepala pada sofa yang berada di belakangnya.
"Terus, mau apa? Tidur siang?"
"Sekarang udah sore, Ga. Nanggung kalau tidur."
Mengangguk sembari ber'oh panjang, Gara tak lagi melempar tanya.
Nyaris satu menit keduanya terjebak senyap yang meraja. Lalu tiba-tiba, Daniel menegakkan punggungnya. Gerakannya yang rusuh membuat Gara ikut berjengit, "kenapa?"
"Ga?"
"Ya?" Jawab Gara dengan kebingungan yang masih menggantung di kepala. Karena, alih-alih menjawab pertanyaannya, Daniel justru menggoyang-goyangkan bahunya dengan suara antusias.
"Jalan, yuk!"
"Hah?" Mengerjap, Gara mengerutkan kening tak mengerti. "Mau bantu aku latihan jalan lagi?"
Kondisi Gara memang kian membaik. Dan hal itu tentu saja, tak lepas dari peran keluarga sang paman. Termasuk, Daniel, yang tak segan menemani dan membantunya untuk melatih kedua kakinya agar kembali terbiasa untuk berjalan.
Sekarang, walau masih tertatih-tatih, Gara sudah bisa berjalan dengan baik.
"Oh, bukan jalan yang itu maksud aku." Ringis Daniel kemudian. Menggaruk belakang kepala, ia berdeham pelan, "jalan-jalan, Ga. Yuk?"
"Kemana? Tapi, Bibi belum pulang kan?"
"Justru itu, karena Mama belum pulang. Kita bisa jalan-jalan berdua."
"Berdua?" Beo Gara yang diangguki Daniel penuh semangat. Sayang, sepupunya itu tak bisa melihat gerakannya.
"Sebentar, kamu tunggu dulu di sini ya?"
"M—mau kemana? Kamu mau kemana?" Tanya Gara panik. Bukan karena ditinggal sendirian, tapi ... Entah kenapa, dia memiliki firasat tak baik dengan apa yang tengah Daniel rencanakan saat ini.
"Sebentar doang kok, tunggu ya?" Tak menunggu jawaban dari Gara, Daniel segera bangkit berdiri dan berderap pergi. Mengabaikan Gara yang masih mencoba memanggil-manggilnya.
Daniel tersenyum sumringah. Setibanya di garasi, dia buka penutup salah satu kendaraan kesayangan sang Papa. Sebuah Vespa berwarna merah yang cukup jarang digunakan. Dan tentu saja, tak mudah untuk Daniel mendapat izin membawanya.
"Pinjam sebentar ya, Pa? Nggak jauh-jauh kok, cuma mau ajak Gara jalan. Kasihan dia, pasti jenuh cuma di rumah." Ucapnya pada udara kosong. Karena tentu saja, sang Papa yang berada di kantor tak akan bisa mendengar ocehannya. Kecuali Daniel mengatakan hal tersebut melalui sambungan telepon.
Sayangnya, Daniel tak melakukan hal tersebut, karena sudah dipastikan, 99% penolakan yang nantinya akan ia dapat.
Mengeluarkan kunci Vespa tersebut yang sebelumnya sudah Daniel ambil, ia segera menaiki dan menghidupkannya. Lalu meluncur keluar dari dalam garasi.
"Loh, Den, mau kemana? Tumben pake motor Tuan?" Pria paruh baya yang bekerja sebagai pengurus rumah di area luar tampak menatap Daniel heran.
Menempelkan telunjuknya di atas bibir sembari mendesis, padahal tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Daniel melirik ke sekitar, untuk memastikan keadaan. "Mau pergi, Mang. Tapi cuma sekitar sini kok, jalan-jalan sore aja. Suntuk di rumah terus."
"Tapi kenapa bawa motor Vespa Tuan, Den? Nanti dimarahi loh." Mang Asep jelas tau majikan prianya begitu sayang pada Vespa yang kini berada di kuasa Daniel.
Dengan bibir mencebik, Daniel memanaskan motor lalu turun untuk menjemput Gara di dalam. "Masa dipinjam anak sendiri nggak boleh?" Rajuknya, walau pada kenyataannya memang begitu.
Meringis tak enak hati, Mang Asep permintaan maaf, "bukan gitu, Den. Mamang mah cuma kasih tau. Takut Den Daniel kena marah."
"Nggak akan kalau Mang Asep nggak bilang Papa." Jam pulang sang Papa masih cukup lama. Jadi Daniel rasa, dia akan aman. Karena nanti, berniat pulang sebelum Wira datang.
"Yasudah, hati-hati, Den." Ucap Mang Asep akhirnya. Karena mana mungkin dia melarang Daniel menggunakan fasilitas milik ayahnya sendiri. "Mang Asep potong rumput dulu."
"Tunggu, Mang!" Panggil Daniel dengan suara cukup keras, membuat pria kurus itu berjengit dan langkahnya yang baru dua pijakan terinterupsi.
"Kenapa, Den?"
Tak segera menjawab, Daniel merogoh saku celananya, "buat Mang Asep, beli es kenyot. Cuacanya panas, pasti haus abis potong rumput."
"Eh, nggak usah Den. Mamang mah, kalau haus tinggal minta air es sama si Mbok."
"Nggak apa-apa, kalau begitu buat beli yang lain." Meraih tangan pria paruh baya itu, Daniel menyerahkan uang lima puluh ribu.
"Ini mah, bukan uang es, tapi uang tutup mulut ya?" Tebak Mang Asep sambil terkekeh, membuat Daniel menggaruk pelipisnya dengan kikuk.
"Terserah Mang Asep, mau kasih nama apa. Yang jelas, makasih."
Mengela napas, Mang Asep akhirnya mengantongi uang tersebut. Yah ... Yang namanya rezeki, pamali ditolak, meskipun mungkin dia kecipratan dosa karena bantuin Daniel buat bohong.
"Yasudah, saya pergi potong rumput dulu, Den."
"Iya Mang, semangat!" Mengacungkan dua kepalaan tangannya ke udara, Daniel memberi semangat, bak Mang Asep hendak pergi untuk melakukan pertandingan. Padahal, yang akan pria itu lakukan adalah merapikan rumput dan membersihkan halaman.
Bergegas masuk ke dalam rumah, Daniel berderap dengan wajah sumringah.
"Loh, Den, abis dari mana?" Tanya si Mbok keheranan. Ketika berpapasan dengan Daniel.
"Dari luar Mbok, manasin motor."
"Manasin motor?" Tanyanya memastikan.
"Iya, motornya jarang dipake, jadi aku panasin dulu. Motor yang sering dipake aja perlu dipanasin dulu kan sebelum dipake pergi, apalagi yang jarang."
Masalahnya, bukan hal itu yang si mbok persoalkan.
"Memangnya, Den Daniel mau kemana?"
"Pergi sama Gara bentar. Nggak jauh-jauh kok, nanti bilang Mama kalau pulang duluan sebelum aku ya?"
"Tapi Den, memangnya nggak apa-apa?"
"Ya nggak, memangnya kenapa?"
"Den Gara kan—" si Mbok tampak sungkan untuk melanjutkan ucapannya. Takut menyinggung dan dinilai tidak sopan.
Daniel yang paham kemudian mengangguk singkat, "nggak akan ada masalah Mbok, aku bisa jaga Gara. Pergi dulu ya Mbok." Pamitnya karena tak bisa lagi menunggu karena hari akan semakin sore. Jangan sampai mereka pulang saat gelap. Bisa di amuk mamanya nanti. Ah, papanya juga pasti berpatisipasi.
Mengela napas, wanita paruh baya itu hanya bisa berharap keduanya baik-baik saja. Karena walau bagaimanapun, dia yang menjadi tanggung jawab selama majikannya tak ada.
"Gara!"
Gara berjengit, ketika Daniel memanggilnya dengan suara yang keras dan mengagetkan.
Terkekeh sembari meminta maaf, Daniel mematikan tv hingga ruangan tersebut hanya terisi suara mereka. "Yuk, berangkat. Motornya udah siap."
"Niel, kalau Bibi marah gimana? Apa ... Nggak sebaiknya tunggu Bibi pulang dulu buat minta izin, baru kita pergi?"
"Duh ... Kelamaan, Ga. Lagian, belum pasti kapan Mama pulang. Nggak jauh kok, cuma sekitar sini aja. Kan kayak yang tadi aku bilang, kita jalan-jalan sore doang."
Mengela napas, Gara sejujurnya masih bimbang. Tapi, di sisi lain tak mau mengecewakan Daniel yang terdengar antuasias.
Menelan paksa rasa ragunya, Gara anggukan kepala sebagai persetujuan. Disambut seruan Daniel yang tampak girang.
"Yuk, gue bantu." Pelan-pelan, Daniel membantu Gara berdiri, lalu menuntunnya keluar rumah.
"Nggak perlu ganti baju dulu?"
"Nggak usah, kaus sama celana selutut yang sekarang dipake pun udah bagus kok. Apalagi kamu good looking, pake apa aja nggak akan merusak penampilan." Kekeh Daniel yang membuat Gara mendengkus. Walau bibirnya berkedut menahan tawa.
Baru saja akan mencapai pintu, lagi-lagi, berpapasan dengan si Mbok yang memperlihatkan wajah gusar.
"Mbok, kita pergi dulu ya." Pamit Daniel pada asisten rumah tangganya itu.
Mengangguk kaku, si Mbok meringis, "hati-hati Den, jangan lama-lama." Bukannya mau mengatur, tapi kalau sang Nyonya pulang, dia pasti kebingungan untuk memberi jawaban.
"Nggak kok," jawab Daniel, lalu melanjutkan langkahnya keluar rumah, usai membantu Gara memakai sandal.
"MANG ASEP!" Teriak Daniel saat sudah berada di samping motor, membuat pria paruh baya itu tergopoh-gopoh mendatangi.
"Kenapa, Den?"
"Tolong bantu Gara naik ke sespan ya?"
"Oh ... Siap! Mari Den Gara, saya bantu."
"I—iya Mang, terima kasih."
"Kembali kasih, Den."
Sementara itu, Daniel mulai menaiki Vespa kesayangan Papanya. Sebenernya, hal itu juga yang menjadi pertimbangan Daniel membawa Vespa ayahnya yang memiliki sespan, sebuah boncengan yang berada di samping. Jadi tak khawatir Gara harus membonceng di belakang. Dengan boncengan yang berada di samping, membuat Daniel lebih mudah mengawasi sepupunya nanti.
"Sudah siap?" Tanya Daniel setelah mengenakan helm, pada Gara yang juga dipakaikan helm oleh Mang Asep.
Gara mengangguk, "sudah."
"Oke, kita berangkat sekarang." Daniel kemudian beralih menatap Mang Asep yang masih berdiri di samping sespan yang di tempati Gara. "Mang Asep, makasih sekali lagi."
"Siap, Bos!" Ucapnya sembari memberi hormat.
"Oke, kita berangkat!" Seru Daniel semangat sembari melajukan motornya.
Kedua sudut bibir Gara tertarik menjadi sebuah senyuman. Ketika angin sore yang cukup menyejukkan menerpa dirinya.
Benar yang Daniel katakan. Ini yang dia butuhkan. Udara segar demi menyegarkan pikiran. Membuang jenuh karena hanya 'terkurung' di dalam rumah.
Sebagai seseorang yang dulu begitu aktif dengan kegiatan di luar, Gara merindukan kebebasannya.
Sayangnya, untuk saat ini, dia tak bisa melakukan hal itu.
Mengendapkan rasa getir yang kembali menyeruak ke permukaan, Gara memilih untuk menikmati saat ini. Suara yang berada di sekitarnya, terpaan angin sore, serta alunan tawa puas penuh semangat dari Daniel.