"Niel?"
"Hm?"
"Kantin, yuk?"
Menggaruk kepalanya yang tak gatal, hanya sebagai peralihan dari rasa sungkan, Daniel meringis, sebelum kemudian menggelengkan kepala. "Aku ada bawa bekal. Duluan aja."
"Oke," tak lagi memperpanjang, teman sebangku Daniel segera bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan Daniel bersama beberapa siswa yang memilih bertahan di kelas, saat jam istirahat.
Membuka resleting tasnya yang tersimpan di kolong meja, Daniel mengambil dompet, lalu mengintip isinya.
Kira-kira, apa cukup untuk membeli hadiah?
Daniel merengut, harusnya meminta uang lebih pada Papanya.
Dua hari lagi, Gara ulangtahun. Daniel tak sengaja mengetahui hal tersebut saat menemukan kartu pelajar Gara di kamar sepupunya itu, saat mereka menghabiskan waktu bersama.
Gara tak mengatakan soal tersebut, atau mungkin lupa pada hari ulangtahunnya sendiri? Entahlah, Daniel pun memilih diam dan tak bertanya. Tapi memberitahu sang Mama, dan mereka sepakat, untuk membuat pesta kejutan untuk Gara nanti.
BRAK!
"Astaga!" Daniel berjengit. Dia yang sebelumnya menunduk untuk mengintip dompet seketika mengangkat kepala, dan meneguk ludah yang tiba-tiba bak bertransformasi menjadi kulit durian. Saat tempat duduknya yang entah sejak kapan, sudah dikepung Oscar dan gengnya.
Dengan gerakan terburu-buru, Daniel memasukan kembali dompetnya ke dalam tas dan menutup resletingnya sembari menjejalkan lebih dalam ke kolong meja.
Oscar memerhatikan setiap pergerakan yang Daniel lakukan. Duduk di atas meja, pria itu bersedekap tangan dengan kaki yang di sandarkan pada kursi kosong milik teman semeja Daniel.
"Gue lapar," ucap Oscar tiba-tiba, dengan pandangan tak melepas Daniel yang mengkeret di tempat duduknya.
Menggaruk ujung hidung dengan kikuk, Daniel menunduk, tak berani menatap sekitarnya yang sudah dikepung Oscar dan gengnya.
Berdecak, Oscar menoyor kepala Daniel dengan kesal, "lo berani abaikan gue?!" Tanyanya dengan nada sewot.
Segera mengangkat kepala, Daniel menggeleng cepat, "ng—nggak, tentu aja nggak."
"Ya makanya, kalau ada orang ngomong, lo lihat mukanya! Ngapain nunduk liatin sepatu buluk punya lo? Gue tersungging, wajah gue yang good looking diabaikan. Masa kalah menarik sama sepatu buluk lo itu?"
"M—maaf," ucap Daniel dengan tangan yang saling meremas resah di atas pangkuan.
Kembali berdecak, Oscar menyunggingkan senyum miringnya, "maaf doang nggak bisa bikin perut gue kenyang."
"T—terus?"
"Lo harus kasih gue—oh, bukan, nggak cuma gue, tapi semua temen gue makan siang."
Menggigiti bibir bawahnya dengan gusar, Daniel tampak kebingungan. "T—tapi, bekal aku cuma satu. Memangnya cukup, untuk berlima?"
"Dih, siapa juga yang mau makan bekal punya lo?"
"T—terus?"
Kesal dengan respon yang Daniel berikan terlalu lelet, Oscar akhirnya mengatakan hal yang menjadi tujuannya mendatangi Daniel, "lo beliin kita makan siang di kantin sana!"
"Mau dibungkus?"
"Dih, ya nggaklah! Gue mau makan mie ayam baso, lo pesan ke kantin terus bawa ke kelas. Jangan dibungkus, tapi langsung pake mangkuk. Oh, es jeruknya juga. Jangan terlalu asam, es batu yang banyak, dan nggak boleh pake plastik. Gue mau pake gelas."
Memejam gusar, Daniel tau, jam makan siangnya kali ini tak akan berkahir dengan tenang. Tau begini, dia harusnya mengiyakan ajakan temannya tadi. Tak apa membawa bekal dan makan di kantin, sekalian nanti pesan menu lain di sana.
Tapi mau bagaimana lagi? Sesal tak bisa merubah keadaan. Sekarang, dia harus menjadi b***k Oscar dan gengnya. Entah bisa makan siang atau tidak? Karena mereka pasti menyita keseluruhan waktunya, untuk memenuhi setiap permintaan yang mereka mau.
Menjentik-jentikkan jari di depan hidung Daniel hingga berhasil mengoyak lamunannya. Oscar menendang kursi yang Daniel duduki, "malah bengong, lo. Buruan!" Ucapnya ketus, lalu beralih pada teman-temannya, "heh, lo pada mau apa? Bilang buruan, nanti Daniel yang ambilkan. Iya kan, Niel?" Tanyanya sembari mengelus—oh, lebih tepatnya mengacak-acak rambut Daniel hingga kusut masai, "Daniel kan anak baik. Suka menolong teman dan dermawan kasih makan siang gratis." Kekeh Oscar, yang disahuti tawa teman-temannya.
"Gue mau siomay aja, bumbu kacangnya banyakin ya, Niel. Minumnya es teh. Dan, sama kayak Oscar, jangan dibungkus atau pake plastik, langsung bawa berserta piring dan gelasnya." Ucap salah seorang teman Oscar.
"Gue baso ya, Niel. Pake bihun sama mie kuning, sambelnya banyakin. Nggak pake sayur. Minumnya es teh juga."
"Gue! Gue! Gue mau—"
"T—tunggu!" Daniel menginterupsi ucapan teman Oscar dengan takut-takut.
"Ck! Gue belum pesan, oy!"
"I—iya, tapi ... Maaf, tolong tunggu sebentar. Aku ... Mau ambil buku sama pulpen buat catat pesanan kalian, s—supaya nggak lupa dan salah pesan."
"Astaga ... Kenapa nggak daritadi sih?!"
"M—maaf."
"Ck! Yaudah, buruan!"
Bergegas membuka tasnya dan mengambil buku berserta pulpen, Daniel mencatat apa saja pesanan Oscar dan teman-temannya. Tak lupa memberi nama pada setiap pesanan agar tak keliru. Dia tak mau, mendapat masalah tambahan jika tak sengaja tertukar sewaktu menyuguhkan.
"Buruan sana! Kita tunggu di sini." Mengedikkan dagu, Oscar meminta Daniel yang baru selesai mencatat pesanan segera beranjak menuju kantin.
Memperbaiki letak kacamatanya, Daniel menganggukkan kepala, sebelum bangkit dari duduknya, dan bergegas pergi menuju kantin. Agar bisa lebih cepat menyelesaikan titah dari Oscar.
Kepergian Daniel diiringi alunan tawa yang terdengar puas dari balik punggungnya. Tapi coba ia abaikan dan menekan segala rasa yang berkecamuk di hati.
Sesampainya di kantin, kedua bahu Daniel merosot, sembari menatap nelangsa, pada keadaan kantin yang penuh para siswa.
Tentu saja. Kantin dikerubungi banyak siswa yang ingin mengisi perut di jam makan siang seperti sekarang. Hal yang Daniel rasakan saat ini. Tapi terpaksa ditunda karena harus mendapat tugas dadakan dari sosok yang ditakutinya.
Menelan paksa rasa kesalnya, Daniel membaca sobekan kertas berisi pesanan Oscar dan teman-temannya. Lalu bergegas memesan. Sayangnya, harus melewati antrian yang cukup panjang, untuk mendapat satu menu makan siang yang diinginkan.
Daniel tengah menunggu antrian baso, yang begitu padat, karena memang menjadi salah satu menu favorit. Jika begini, bisa-bisa jam makan siang segera habis. Ah, harusnya tadi cari yang antriannya tak terlalu mengular. Tapi sudah telanjur, jika Daniel keluar dari jalur antrian, bisa-bisa, nanti mulai dari urutan belakang lagi. Jadi, biar sajalah, menunggu sampai kaki pegal, dan peluh yang menjamah tubuh, hingga menciptakan rasa gerah.
Seperti yang Daniel duga, siang itu, dia sibuk mengurus makan siang Oscar dan teman-temannya, hingga membuatnya sendiri tak memiliki waktu mengisi perut.
Ketika akhirnya membawa nampan berisi pesanan terakhir milik salah seorang teman Oscar yang belum kebagian, Daniel nyaris menjatuhkannya saat hendak memasuki pintu kelas, bersenggolan dengan Ulfa.
"Daniel!"
"M—maaf, Fa, nggak sengaja."
Ulfa hanya mampu mempertahankan wajah masamnya beberapa detik, ketika menemukan wajah lelah Daniel yang basah oleh keringat. Sebelum kemudian menjatuhkan pandangan pada nampan yang cowok itu bawa, "ya ampun, lo bawa makanannya ke kelas? Ngapain bikin ribet? Kenapa nggak sekalian di kantin aja makannya?"
Tersenyum tipis, Daniel tak menjawab apa yang Ulfa tanyakan, dan memilih untuk segera masuk ke dalam kelas, usai berpamitan canggung pada Ulfa dan Ainayya.
"Dih, gue tanya malah dicuekin. Loh, Ai, tungguin!" Astaga ... Sekarang malah di tinggal temannya yang tiba-tiba masuk ke kelas dengan wajah keras.
"Ai, lo kok main tinggal aja sih—aduh!" Ulfa tak bisa menyelesaikan gerutuannya, ketika wajahnya menubruk kepala Ainayya yang berhenti secara tiba-tiba, "Ai, lo kenap—astaga ...." Ternganga tak percaya, Ulfa mengerjap, mendapati Daniel yang tengah meletakkan sepiring siomay untuk salah seorang gerombolan Oscar.
Kenapa kelasnya berubah jadi kantin dadakan? Dan tentu saja, itu ulah Oscar bersama teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan mereka yang bisa membuat kekacauan seperti sekarang? Ditambah menjadikan Daniel bak pelayan pribadi. Ck! Benar-benar keterlaluan!
Dan sepertinya, kekesalan tersebut bukan hanya dirasakan Ulfa. Gebukan amarah bahkan menyer*ng sahabatnya yang segera mengambil tindakan. Walau yakin Oscar tak akan menyakiti Ainayya, rasa cemas itu tetap saja ada.
Bagaimana kalau amarah menutup kewarasan Oscar dan membalas sahabatnya?
Ulfa tentu saja tak ingin Ainayya kenapa-kenapa, apalagi sampai terluka.
Sayang, dia tak bisa meredam kemarahan gadis itu.
"Eh, Ai! Mau ngapain?" Panik, Ulfa berusaha mengejar Ainayya yang mendatangi meja Oscar, yang tengah berbincang santai dengan teman-temannya.
"Maksud lo apa?!" Tanyanya dengan suara keras. Tak hanya memantik perhatian Oscar berserta teman-temannya, tapi para siswa lainnya yang berada di dalam kelas.
"Oh, halo, Ai?" Melempar cengiran, Oscar melambaikan tangan pada sosok Ainayya yang sudah mengetatkan rahang dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuh. Andai saja dia bisa bela diri atau pun mungkin memiliki tenaga selayaknya pria, pasti tak akan segan untuk melayangkan tinju*n di wajah Oscar yang tampak sangat menyebalkan. Hingga mematahkan gigi yang kini diperlihatkan bak sebuah iklan pasta gigi.
"Sekarang apalagi? Lo nggak pernah puas ya, ngerjain Daniel? Dia salah apa sebenarnya sama lo?!"
"Woho ... Tunggu, cantik. Jangan langsung marah-marah, nanti lelah. Duduk dulu, kita bicara baik-baik, dari hati ke hati juga boleh." Mengedipkan satu mata, Ainayya mendengkus jengah dengan sikap Oscar yang selalu seenaknya.
Apa karena tak ada yang berani padanya, membuat Oscar kian nyaman berbuat ulah? Hingga tak jarang merugikan orang lain.
Terutama Daniel, yang selalu menjadi target favorit cowok itu bersama teman-temannya.
Ainayya jelas tak tega. Sulit untuknya berpura-pura tak tau dengan apa yang Oscar dan gengnya lakukan pada Daniel. Seperti siswa lainnya agar tak berurusan dengan berandalan sekolah mereka.
"Gue bakal laporin kelakuan lo kalau masih semena-mena sama Daniel." Ya, ancam*n basi yang baru saja dilontarkannya, tak akan membuat Oscar gentar. Tapi setidaknya, Ainayya berharap, cowok itu tak lagi mengusik siapa pun, hanya karena dianggap lemah dan bisa dijadikan mainan demi memuaskan egonya.
Beralih menatap Daniel yang berdiri kaku di sampingnya, Ainayya menarik nampan yang sejak tadi dipeluk cowok itu, lalu melemparkannya kearah Oscar yang berdecak jengkel karena sempat membentur kepalanya. Jika saja bukan Ainayya yang melakukannya, sudah pasti akan habis olehnya.
Meski berandalan, pantang baginya untuk memukul perempuan. Apalagi seorang Ainayya.
"Niel, balik ke kursi lo. Nggak usah lo urus manusia-manusia benalu kayak mereka." Melihat Daniel yang justru diam dengan wajah resah, membuat Ainayya gemas. Lalu meraih lengannya dan menuntun ke tempat duduk.
"A—Ai?" Panggil Daniel dengan suara bak sebuah cicitan. Beruntung, suaranya masih tertangkap pendengaran gadis itu, hingga membuat Ainayya menoleh kearahnya, "m—makasih." Ucap Daniel lalu segera menundukkan pandangan, menatap sepasang sepatunya sendiri.
Sepatu?
Ah, tunggu!
Sepertinya, Daniel mendapatkan ide untuk hadiah yang ingin diberikannya pada Gara nanti.
"Sama-sama, Niel." Suara Ainayya membuat lamunan singkat Daniel koyak. Mengangkat kepala, ia beri senyuman gugup pada sosok Ainayya yang masih memberi delikan pada Oscar dan teman-temannya.
Mengela napas panjang, Daniel tak bisa merasa lega sepenuhnya. Karena ... Pembelaan yang Ainayya berikan memang sangat membantunya. Sayang, hal itu pasti memantik kemarahan Oscar. Dan membuatnya kian menjadi bulan-bulanan.
Bulu kuduk Daniel meremang seketika. Entah kenapa, meski tak melihatnya, dia yakin, Oscar tengah memplototi punggungnya.
Meneguk ludah kelu, Daniel memilih untuk mencuri pandang pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu, setidaknya, tersisa kurang lebih tujuh menit lagi jam istirahat selesai. Bisa Daniel manfaatkan untuk makan siang.
Merogoh kolong meja, Daniel membuka resleting tasnya, mengambil kotak bekal berisi sandwich buatan sang Mama.
Sayang, senyumannya meluruh cepat, usai membuka kotak bekal dan tak menemukan sandwich di sana.
Kosong. Kemana sandwich yang seharusnya menjadi menu makan siangnya? Tak ada di kotak bekalnya, dan hanya ada sobekan kertas dengan sebuah tulisan yang membuat Daniel meneguk ludah getir.
'Lo lama. Jadi gue makan, buat ganjel perut.'
Refleks, usai membaca pesan singkat tersebut, Daniel yang sebelumnya enggan, kini menolehkan kepala pada sosok Oscar, hingga tatapan keduanya bersirobok.
"Apa lo?!" Tanya Oscar galak, membuat Daniel segera membuang pandangan.
Saat memasukan kembali kotak bekalnya, Daniel menemukan permen karet di dalam tas. Membuat tatapannya berbinar. Bak baru saja menemukan sebuah peti harta karun berisi tumpukan emas dan berlian. Tapi tentu saja, bukan hal itu yang Daniel dapatkan.
Hanya sebuah permen karet. Tapi kini menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Dia ingat, itu kembalian saat jajan dan tak ada uang receh, jadi diganti permen karet.
Membuka bungkusnya, Daniel mengunyah permen karet tersebut dengan riang. Sembari mengelus perutnya yang sesekali merengek, meminta jatah makan siang.
Mau bagaimana lagi, untuk saat ini, Daniel hanya bisa olahraga rahang dengan mengunyah permen karet untuk meredam rasa lapar.
"Sabara ya, nanti di rumah boleh makan sepuasnya." Bisiknya pelan pada perutnya sendiri.