Daniel menggaruk kepala yang sejujurnya tak gatal. Hanya sebagai pengalihan dari rasa bingung yang kini tengah melanda.
Sepulang sekolah, dia tak segera menuju rumah. Tapi mampir ke salah satu mal untuk berburu kado yang akan ia hadiahkan pada Gara nanti.
Setelah menemukan ide, kado apa yang akan dia berikan. Daniel mengayunkan langkah menuju sebuah toko yang menjual deretan sepatu.
Beruntung, tadi sudah menghubungi sang Mama. Tak hanya meminta izin pulang terlambat, tapi memintanya memeriksa nomor sepatu Gara. Agar Daniel bisa membeli dengan ukuran yang pas. Tak kekecilan atau pun kebesaran.
"Ada yang bisa saya bantu, Dek?"
Berjengit, Daniel meringis, sembari memperbaiki letak kacamatanya yang melorot. Sebelum kemudian berdeham pelan, berusaha untuk meluruhkan rasa canggung yang tiba-tiba menyergap.
"O—oh, itu Mbak, saya ... Lagi cari sepatu." Ucapnya pada seorang wanita yang merupakan pekerja di toko sepatu tersebut.
"Mau sepatu yang bagaimana? Siapa tau saya bisa bantu carikan yang sesuai Adek mau?"
"B—boleh, yang ... Nyaman aja."
"Nanti bisa Adek coba, apakah nyaman atau tidaknya ya?"
"T—tapi," menggaruk hidung, Daniel berdiri kikuk, "b—bukan buat saya. Itu ... Hadiah untuk sepupu yang akan ulangtahun."
Ber'oh panjang sembari menganggukkan kepala, wanita tersebut kemudian menggiring Daniel untuk melihat-lihat beberapa model sepatu yang sekiranya cocok untuk Gara.
Ternyata, untuk mendapatkan satu pasang sepatu yang cocok di mata Daniel membutuhkan waktu yang terbilang lama. Beruntung pegawai toko yang membantunya begitu sabar memenuhi permintaan Daniel.
Sampai akhirnya, sepatu yang akan dihadiahkan pada Gara, berhasil di dapatkan. "Makasih banyak ya Mbak, sudah bantu saya."
"Sama-sama, semoga sepupunya suka hadiahnya ya. Dan selamat ulangtahun untuk sepupunya."
Tersenyum cerah, Daniel menganggukkan kepala. Mengucap terima kasih sekali lagi sebelum kemudian beranjak pergi.
Sembari menenteng plastik berisi kotak sepatu, Daniel berencana untuk langsung pulang. Meski sebenarnya tergoda mencari makan sing yang tertunda di sini, karena lagi-lagi perutnya merengek minta di isi.
Sayangnya, sisa uang yang menghuni dompetnya tidak meyakinkan. Karena hanya cukup untuk ongkos pulang ke rumah.
"Duh ... Kenapa nggak nunggu pas di rumah aja sih?" Keluh Daniel ketika tiba-tiba tak tahan ingin ke toilet.
Takut tak bisa menahannya selama perjalanan menuju rumah, dia akhirnya tergesa-gesa mencari keberadaan toilet.
Ketika akhirnya berhasil menemukannya, Daniel bergegas masuk ke salah satu bilik yang kosong.
Setelah selesai, Daniel bersiap membuka pintu. Tapi ... Suara obrolan yang tertangkap pendengaran membuatnya urung keluar dari bilik toilet yang di tempatinya, dan justru dihantam rasa takut.
Astaga ... Bagaimana bisa terjadi sebuah kebetulan yang tak diharapkannya? Tau begini, Daniel memilih untuk menahan keinginan ke toilet sampai tiba di rumah.
Lalu, bagiamana sekarang? Kalau dia keluar, mereka pasti mengerjainya seperti biasa.
Mengela napas gusar, Daniel memilih kembali duduk di penutup kloset. Memeluk sepatu yang tadi dibelinya untuk Gara. Semoga saja, para pengganggunya di luar sana, bisa segera pergi agar dia bisa pulang.
Sementara itu, di luar bilik yang menjadi tempat persembunyian Daniel. Oscar dan teman-temannya tengah berceloteh.
"Lo nggak takut Ainayya bakal lapor ke guru BK semisal ganggu si Daniel lagi?" Tanya salah seorang temannya yang tengah mencuci tangan di wastafel.
Menaikan satu alis mata, Oscar menatap temannya itu melalui pantulan cermin yang berada di atas wastafel. Sebelum kemudian mendengkus, "biar aja kalau mau lapor. Gue nggak takut sama sekali harus nongkrong di ruang Guru BK."
"Si Oscar, dikepung pas tawuran aja cengengesan, apalagi cuma berurusan sama Guru BK? Udah kebal dia, Bro!"
Tergelak, Oscar mengibas-ngibaskan tangannya yang masih basah, lalu mengusapkan pada seragam sekolah temannya, membuat suara tawanya kian pecah, ketika mendapat maki*n.
"Itu ada tisu sama pengering tangan, ngapain seragam gue yang jadi korban, njir?!"
Tak mengindahkan gerutuan temannya, masih dengan sisa-sisa tawa, Oscar melangkah menuju deretan bilik toilet. Keningnya mengernyit, saat mendapati satu dari tiga bilik toilet yang tampak tertutup. "Woy, guys! Di sini ada orangnya?"
Salah satu teman Oscar meletakan atensi pada cowok itu yang masih menatap pintu salah satu bilik yang tertutup rapat. Tapi tak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam sana.
"Gue juga nggak tau. Dari pas kita masuk kayaknya udah ketutup itu pintu. Ada orangnya mungkin."
"Tapi nggak ada suara apa pun." Iseng, Oscar menempelkan telinga pada bilik tersebut.
"Gue juga heran. Jangan-jangan pingsan orang yang di dalam itu?"
"Dobrak aja gimana?"
Mendengar usul salah satu teman Oscar, membuat Daniel yang bersembunyi di bilik tersebut kian ketar-ketir. Jika mereka nekat, dia pasti ketahuan. Dan Daniel, tak bisa membayangkan, hal apa yang akan terjadi padanya nanti, jika mereka menemukan keberadaannya?
Mempererat pelukannya pada plastik berisi sepatu untuk Gara, Daniel menggigiti bibir bawahnya dengan resah. Sebenarnya dia ingin segera keluar, tak tahan dengan keadaannya yang kegerahan. Belum lagi perutnya keroncongan.
Ayolah ... Segera pergi, agar Daniel bisa cepat-cepat keluar dari sini.
Oscar mendengkus, ketika mendengar saran temannya. "Nggak usah asal, yang ada kita bisa kena masalah karena dituduh merusak fasilitas umum. Emang lo mau ganti rugi?"
Sembari meringis dan mengelus belakang lehernya kikuk, teman Oscar menggelengkan kepala. "Kan cuma saran. Takut aja itu orang di dalam lagi b*ker terus tiba-tiba pingsan, dan nggak ada yang tau. Kan kasihan."
Tok! Tok! Tok!
"Ada orang di dalam?"
Daniel berjengit, tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat Oscar mengetuk-ngetuk pintu bilik toilet yang dihuni olehnya.
"Ih, kok gue rada-rada horor ya? Itu bilik jangan-jangan angker." Salah seorang teman Oscar bergidik sembari mengelus kedua lengannya.
"Heh, jangan nakut-nakutin lo."
"Gue nggak ada mau nakutin, cuma kepikiran aja—eh, lo mau ngapain Oscar? Ngintip orang b*ker? Bintitan loh nanti." Tanyanya melihat Oscar sudah berjongkok di depan bilik tersebut.
"Ck! Gue cuma mau cek, di dalam ada orang atau nggak? Atau memang ada dan pingsan kayak dugaan kalian?"
"Terus ngapain lo ngintip dari bawah?"
"Ya emang dari mana lagi, curut?! Lo kira mata gue tembus pandang, bisa lihat apa yang ada di dalam sana secara langsung? Ngintip dari atas pun ribet. Malas gue naik-naik."
Terkekeh kering, cowok itu menggumamkan permintaan maaf dan hanya menjadi penonton saat Oscar berusaha untuk mengintip dari celah bagian bawah.
Daniel yang mendengar rencana Oscar seketika panik, lalu segera mengangkat kedua kakinya agar tak tertangkap penglihatan Oscar.
"Gimana? Ada orangnya nggak?"
Bangkit dari posisinya, Oscar menepuk-nepuk tangan dan celana seragam bagian lututnya yang sedikit kotor terkena lantai. "Apa sih yang gue lakukan?" Gerutunya pada diri sendiri. "Bod* amat mau ada orangnya apa nggak. Bukan urusan gue." Kesalnya, ketika tak berhasil melihat hal mencurigakan, lalu masuk ke bilik yang ada di sebelahnya. Mengabaikan teman-temannya yang tertawa puas.
Setelah menyelesaikan urusannya, Oscar keluar dari bilik dan mengajak teman-temannya pergi.
"Rusak kali bilik yang urutan pertama itu."
"Harusnya kasih tulisan, jangan bikin orang curiga." Gerutu Oscar sembari melangkah keluar dari toilet.
Mengela napas panjang, Daniel yang masih bertahan di dalam bilik melemaskan kedua bahunya yang menegang sejak tadi. Sebelum akhirnya menurunkan kedua kaki yang terasa kesemutan.
Daniel ingin segera pergi. Tak tahan dengan kondisinya yang sudah kegerahan. Tapi ... Jika keluar sekarang, dia takut Oscar dan teman-temannya masih belum jauh. Kalau sampai akhirnya tertangkap, bisa habis dia. Sia-sia pengorbanannya yang sejak tadi mengurung diri di dalam bilik.
Memilih untuk menunggu setidaknya sampai lima menit. Daniel akhirnya berani untuk keluar dari bilik. Cowok itu tersenyum gugup saat ada beberapa pria yang berada di toilet.
Bergegas pergi, Daniel mengela napas panjang ketika akhirnya bisa keluar dari sana. Sembari mengelap peluh dengan lengan seragamnya.
Astaga ... Yang tadi itu benar-benar menegangkan. Untung saja, Oscar dan teman-temannya tak memaksa untuk mendobrak pintu atau mencari tau sosok yang berada di bilik tersebut.
Dan, kenapa harus bertemu mereka di sini? Sudah cukup berurusan dengan Oscar bersama gengnya di sekolah. Daniel tak berminat untuk terlalu sering bertemu mereka.
Awalnya, Daniel berniat untuk mencari angkutan umum atau pun bus yang bisa membawanya pulang ke rumah. Tapi, tubuhnya yang sudah lelah dan lapar terasa lemas sekarang. Jadi akhirnya, ia putuskan untuk menggunakan taksi. Walau isi dompetnya tak mencukupi. Biar sajalah, nanti saat tiba di rumah, ia minta sang Mama untuk membayar. Lebih baik dapat omelan daripada pingsan di jalan.
"Oscar! Tungguin, oy!"
Daniel yang sedang menunggu taksi seketika menegang. Ketika pendengarnya menangkap suara seseorang, memanggil nama cowok yang tak ingin ditemuinya.
Apalagi ini?
Jadi mereka masih belum pergi? Dan kenapa sejak tadi terus berkeliaran di sekitarnya?
Panik, Daniel berusaha untuk mencari-cari kendaraan yang bisa segera membawanya pergi dari sana. Tapi sejak tadi, masih belum ada yang melintas.
Bagaimana ini?
Daniel harus menghindari mereka. Atau setidaknya, menyembunyikan diri. Tapi di mana?
Ketika melihat sebuah pohon yang tak jauh darinya, Daniel segera menyembunyikan diri di sana dengan tergesa. Sayangnya, pohon tersebut terlalu kecil untuk menyembunyikan keseluruhan tubuhnya.
"Eh, itu si Daniel bukan?"
Gawat!
"Mana?"
"Tuh, yang nemplok dekat pohon." Tunjuk salah seorang teman Oscar. Mereka yang berniat menuju parkiran untuk mengambil kendaraan seketika mengurungkan niat.
"Dari belakang sih, mirip." Oscar memerhatikan dengan lekat, tampak curiga jika apa yang temannya katakan memang benar.
"Cek aja udah," usul suara lainnya. Membuat Oscar akhirnya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Kita cek," sembari mengedikkan dagu, Oscar mengajak teman-temannya untuk mendekati cowok yang memiliki perawakan seperti Daniel.
Senyum miring Oscar terbit. Jika benar itu Daniel, dia bisa bermain-main lebih dulu sebelum pulang.
Daniel sendiri kian panik karena pada akhirnya, dia ketahuan oleh Oscar dan teman-temannya.
Astaga ... Bagaimana ini? Usahanya bersembunyi di toilet benar-benar berakhir dengan sia-sia jika begini.
Tak mau ambil risiko tertangkap Oscar dan gerombolannya. Daniel kemudian bergegas berlari, sembari memeluk sepatu yang akan ia hadiahkan pada Gara.
"Eh, lari dia!"
"Wah, beneran si curut berarti."
"Kejar!" Teriak Oscar yang seketika membuat mereka semua ikut berlari untuk mengejar.
Daniel kian kepayahan. Dia benar-benar payah dalam latihan fisik semacam ini. Bahkan, saat jam olahraga pun, dia selalu menempati urutan terbawah.
Dengan napas putus-putus, Daniel meliarkan pandangan untuk mencari tumpangan yang bisa membawanya kian menjauh dari gerombolan Oscar.
Ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang, tapi berada di seberang jalan. Untuk ke sana, Daniel harus menyeberang. Sayangnya, keadaan tengah ramai oleh kendaraan.
Menoleh ke belakang, Daniel mendapati Oscar dan teman-temannya kian dekat. Bermodal nekat, dia akhirnya memilih untuk menyeberang walau harus mendapat maki*n dari beberapa pengguna jalan yang merasa terganggu oleh Daniel yang seenaknya menyeberang di saat bukan lampu merah.
"Aduh!" Tersandung kakinya sendiri, Daniel meringis ketika jatuh terjerembab. Meringis sembari menahan perih, saat melihat kedua sikunya yang baret tergesek aspal.
"Heh! Bocah! Lo bosen hidup? Terserah! Tapi jangan nyusahin gue!" Omel salah seorang pengendara yang terpaksa mengerem mobilnya untuk menghindari Daniel yang bisa saja ditabraknya.
Di belakang, pengendara lain membunyikan klakson tak sabaran karena jalanan tiba-tiba macet.
"DANIEL!" Seruan keras dari arah belakangnya membuat Daniel terkejut. Dia menoleh dan seketika terbelalak, mendapati Oscar dan gerombolannya semakin dekat menyusulnya.
Segera bangkit, Daniel bergegas menyeberang. Mengabaikan beberapa orang yang melempar umpat*n untuk melampiaskan rasa kesal padanya.
Bertepatan dengan hal itu, Daniel berhasil mencapai taksi yang tengah kosong. Masuk ke dalam dengan napas compang-camping, ia meminta agar sang sopir yang tampak kebingungan, untuk segera membawanya pergi.
Mengelap peluh yang membasahi kening, Daniel mengintip dari jendela taksi, dan menemukan Oscar berserta gerombolannya sudah berhasil ikut menyebrang.
Huh, untung saja, Daniel sudah aman di dalam taksi yang sekarang mulai melaju.
T—tapi, tunggu!
Mengerjap, Daniel memerhatikan apa yang Oscar tenteng.
Sebuah kantung plastik yang tampak familiar.
Di mana Daniel pernah melihatnya?
Terkesiap. Daniele sekali lagi menoleh pada Oscar yang tengah menatap kearah taksi yang ditumpanginya. Kaca jendela yang terbuka membuat cowok itu bisa melihat Daniel. Lalu mengacungkan kantung plastik yang membuat Daniel panik.
Itu miliknya!
Kantung plastik itu berisi box yang di dalamnya sepasang sepatu yang akan dihadiahkan pada Gara. Tapi sekarang, justru berada di tangan Oscar.
Ya ampun! Bagaimana ini?
Mengacak rambut dengan frustrasi. Daniel memperbaiki posisi duduknya. Menyandarkan punggung pada jok taksi dengan bahu merosot.
Hadiahnya berada di tangan Oscar sekarang. Dan, bagaimana Daniel mendapatkannya tanpa berurusan dengan pembuat onar itu?
Apa ... Sebaiknya Daniel ikhlaskan saja? Beli hadiah baru untuk Gara?
Masalahnya, uang tabungannya sudah dia bongkar untuk membeli sepatu itu. Masa minta uang jajan tambahan pada orangtuanya?
Selama perjalanan, pikiran Daniel penuh dengan berbagai cara yang mungkin harus dilakukannya agar bisa mendapat sepatu itu lagi.
Sayang, ketika ingat harus berhadapan dengan Oscar dan gerombolannya, nyali Daniel seketika menciut.
"Dek, sudah sampai."
Mengerjap, Daniel seketika menegakkan posisi duduknya.
Sudah sampai? Cepat sekali? Atau dia yang terlalu lama melamun?
Entahlah. Yang harus dilakukannya sekarang adalah segera turun dan meminta uang untuk membayar taksi.
"Tunggu di sini dulu ya, Pak. Saya masuk ke rumah buat minta uang sama Mama." Usai mendapat anggukan dari pria paruh baya yang merupakan sopir taksi tersebut, Daniel bergegas turun.
"Mama mana, Mbok?" Tanya Daniel, ketika pintu rumah akhirnya terbuka dan memperlihatkan salah seorang asisten rumah tangganya.
"Ada di dapur sedang buat puding, Den."
Mengangguk sembari mengucap terima kasih, Daniel segera melesat ke tempat Aida, tak mau membuat sang sopir taksi menunggunya terlalu lama.
"Mama!"
"Apa sih, Niel? Datang-datang kok teriak kayak di hutan?" Gerutu Aida yang sempat kesal karena dibuat terkejut. Hampir saja puding yang tengah dituangkan pada wadah tumpah.
"Ma, bagi duit."
"Ini lagi, ucap salam belum, tiba-tiba minta duit."
"Ma, nanti aku jelaskan, sekarang bagi duit, kasihan bapak sopir taksi nanti nunggu lama di luar."
"Kamu pulang naik taksi?" Tanya Aida yang diangguki Daniel, "kenapa nggak minta jemput aja tadi."
Menggaruk ujung hidung, Daniel meringis. "Udah terlanjur, Ma."
"Mbok," panggil Aida pada asisten rumah tangganya yang muncul, "tolong lanjutkan pekerjaan saya ya? Soalnya mau bayar taksinya Daniele di luar."
"Oh, iya Nyonya, silakan."
"Mama aja yang bayar. Sekarang kamu ke kamar, mandi. Itu seragam basah penuh keringat begitu."
Meringis pelan, Daniel menuruti titah sang Mama.
Tapi ... Sesampainya di dalam kamar. Alih-alih menyeret langkah menuju kamar mandi, Daniel justru duduk di lantai dengan punggung yang disandarkan pada tempat tidur yang berada di belakangnya.
Menengadahkan kepala, Daniel menatap langit-langit kamarnya dengan gusar. Pikirannya masih terbebat kalut. Tertuju pada sosok Oscar yang mengambil sepatu miliknya. Padahal, itu untuk hadiah ulangtahun Gara.
Baiklah, besok, dia harus menyiapkan diri berurusan dengan Oscar dan gerombolannya. Yang penting, hadiah untuk Gara, bisa kembali padanya.