10. Rooftop Sekolah

1753 Kata
"Aduh!" Daniel mengaduh. Saat tangannya yang tengah mencolek krim coklat, mendapat tabokan dari sang Mama. "Kalau kamu comot terus, nanti keburu habis sebelum dikasih ke Gara. Udah sana, kamu temenin dia di kamar aja. Biar Mama yang urus sendiri, kalau pun butuh bantuan ada si Mbok. Nggak usah ikut-ikutan di dapur kalau cuma bikin repot." "Cuma nyicip dikit Ma, buat mastiin gimana rasanya? Aku sama Gara itu punya selera yang hampir sama." "Bukan selera kalian yang hampir sama. Tapi memang kamunya yang suka pada semua makanan." Mencebik, Daniel menatap kue yang baru selesai diberi dekorasi oleh Mamanya. Dan nanti, pada tengah malam, tepat di mana Gara berganti usia, mereka akan memberikan kue tersebut dan mengadakan perayaan kecil-kecilan. Dan hal itu atas inisiatif Daniel. Wira dan Aida hanya membantu hal-hal yang diperlukan. Mereka beranggapan, perayaan tersebut perlu, meski tak sampai mengadakan pesta besar. Tapi setidaknya, Gara tak lagi merasa sendirian. Serta memberikan suasana layaknya keluarga yang cowok itu rindukan. "Udah, sana temenin Gara. Dia pasti heran, kamu yang biasanya sepulang sekolah merusuh di kamarnya, tiba-tiba absen." "Kalau cuma sehari kayaknya nggak masalah. Nanti selesai ini, aku pergi ke kamar Gara." "Sudah selesai, tinggal Mama kasih nama di atas kuenya." Mengangguk, Daniel berusaha menahan diri, agar tak sampai meneteskan air liur. Melihat penampakan kue ulangtahun Gara yang tampak menggiurkan. Meski sekadar membantu ala kadarnya dan lebih banyak menjadi penonton proses pembuatan kue yang dibuat Mamanya. Daniel tetap merasa bangga bisa berpartisipasi. Setidaknya, dia sudah ikut andil dalam persiapan pesta kejutan yang akan diberikan untuk Gara nanti malam. *** Gara seketika terjaga. Ketika merasakan sentuhan pada pergelangan kakinya yang tersembunyi di balik selimut. Meski tak tau jam berapa sekarang? Tapi dia yakin, matahari belum meneriakkan pagi. Mengingat, belum lama Gara terseret lelap. "S—siapa?" Tak ada yang menjawab. Keadaan kamar yang sekarang di tempatinya terdengar senyap. Walau begitu, Gara yakin ada sosok lain yang berada di kamarnya. Dan Gara tak mengaitkan hal tersebut dengan hal-hal berbau horor. "Daniel?" Tebaknya yang membuat pendengarannya menangkap suara decakan. Melengkungkan senyuman, Gara terkekeh kecil saat tebakannya benar. Hanya dengan menangkap aroma pewangi pakaian yang sering digunakan Daniel. Dia sudah yakin itu sepupunya. Tapi, tunggu! Untuk apa Daniel mendatangi kamarnya tengah malam begini? Menurunkan selimut hingga sebatas paha, Gara merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, dengan punggung yang di sandarkan pada kepala tempat tidur. "Kamu ngapain di sini malam-malam? Nggak bisa ti—" "SURPRISE!!!" Gara tersentak, tak bisa menyelesaikan ucapannya ketika terdengar seruan banyak orang dan bunyi nyaring yang ditebaknya sebagai konfeti. Mengerjap, Gara kehilangan kata-kata. Rasa terkejut membuat pikirannya mendadak kosong. Jadi tak hanya Daniel yang saat ini berada di kamarnya? Tepukan dipundaknya membuat Gara tersadar dari lamunan singkatnya. "Selamat ulangtahun ...." Suara Daniel begitu dekat, dan gerakan pada tempat tidur yang berada di sampingnya, membuat Gara yakin, sang sepupu sudah menempatkan diri di sana. "Ga, tiup lilinnya. Mama udah sodorkan kue di depan wajah kamu. Eh, jangan sedekat itu juga, hidung mancung kamu nanti kebakar." Sergah Daniel sembari menahan Gara agar tak terlalu mencondongkan tubuh. Mendengkus geli, Gara tetap menuruti instruksi dari Daniel. Menegakkan posisi duduknya dan berusaha meniup lilin yang berada di atas kue. "Sudah?" Tanyanya memastikan, apa lilin tersebut berhasil dipadamkan? "Udah, tadi aku bantu tiup biar cepat mati lilinnya." Lapor Daniel kemudian. "Selamat ulangtahun Gara, Paman harap, semua yang terbaik buat kamu, Nak." Mengusap lembut kepala sang keponakan, Wira kemudian memberi pelukan singkat, lalu mengusap mata yang tiba-tiba basah. Teringat pada mendiang sang kakak yang tak bisa melihat putranya sudah kian beranjak dewasa. Dalam hati Wira berjanji, akan menjaga Gara layaknya putra sendiri. "Terima kasih, Paman." Suasana yang sebelumnya ceria seketika berubah sendu. Membuat Gara ikut merasakan hal yang serupa. Apalagi, saat kepalanya memutar bayangan sewaktu perayaan ulangtahun di tahun lalu bersama keluarganya yang masih ada. Terutama celotehan sang adik yang begitu dirindukan. "Selamat ulangtahun ya Gara, Bibi pun mengharapkan semua yang terbaik buat kamu." Dengan satu tangannya yang bebas tak memegangi kue, Aida mengelus kepala Gara. "Ga?" Panggil Daniel pelan tapi masih tertangkap pendengaran. Membuat Gara menaikan alis mata dan memperlihatkan raut tanya. Alih-alih memberi jawaban, Daniel justru menubruk tubuh Gara hingga membuat sang sepupu nyaris terjengkang di atas tempat tidur. Meringis, usai melepas pelukan bar-barnya pada Gara, Daniel meminta maaf. Apalagi kedua orangtuanya yang ikut terkejut seketika memberinya teguran. Alih-alih marah atau pun kesal, Gara justru tertawa lepas. Ketika akhirnya potong kue dan foto bersama selesai. Wira dan Aida memilih untuk kembali ke kamar mereka, sementara Daniel bertahan di kamar Gara. Dia bahkan berniat untuk menginap tanpa sepengetahuan orangtuanya. Beruntung, Gara mempersilakan. "Ga?" "Hm?" Daniel yang masih sibuk mengunyah kue, sementara Gara memilih untuk tak lagi menambah setelah menghabiskan satu potongan. Hanya menemani sepupunya makan sembari mendengar ocehannya. "Kadonya besok ya?" Ucap Daniel dengan wajah tertekuk masam. Andai saja Oscar dan gengnya tak mengejar hingga sepatu yang seharusnya menjadi kado untuk Gara jatuh. Sekarang, Daniel pasti bisa melihat reaksi sepupunya mendapat kado darinya. "Nggak usah repot-repot, Niel. Ini aja udah lebih dari cukup. Aku nggak nyangka kalau kamu, Paman, dan Bibi tau hari ulangtahunku." "Aku sebenarnya nggak sengaja lihat kartu pelajar kamu. Terus bilang sama Mama dan Papa, lalu akhirnya, kami merencanakan pesta kecil-kecilan ini." "Sekali lagi terima kasih. Sudah menjadi bagian dari keluarga ini saja, adalah kado terbaik." "Ck! Bicara apa? Kan kamu memang bagian dari keluarga, Ga." Gerutu Daniel yang membuat Gara tersenyum simpul. Meletakkan sendok dan piring kecil yang hanya menyisakan krim di atas nakas. Daniel merangkak naik ke atas tempat tidur, bergabung bersama Gara yang sudah mengisi posisi dibagian kanan. Membuatnya menempati posisi kiri yang dikosongkan. "Jam berapa?" Tanya Gara, membuat Daniel menolehkan kepala kearah penunjuk waktu yang tergantung di dinding kamar. "Setengah dua." "Ayo tidur, nanti kamu terlambat berangkat ke sekolah. Obrolannya kita lanjut besok." Merebahkan tubuh, Gara mulai memejamkan mata. Meninggalkan Daniel yang masih terjaga. Andai saja bisa, aku mau memberi kado yang buat kamu bisa melihat lagi, Ga. Gumam Daniel dalam hati. Sebelum kemudian ikut memejamkan mata, agar bisa terseret lelap. *** Mengeratkan genggaman pada tasnya, Daniel mengayunkan langkah menuju kelas dengan hati resah. Daniel nyaris kesiangan, jika saja sang Mama tak membangunkan dengan mengetuk pintu secara bar-bar. Mungkin kesal, karena dia tak juga memunculkan diri, padahal hari kian siang. Bahkan Gara pun sudah tak berada di sampingnya saat membuka mata. Terbirit-b***t ke kamarnya sendiri di iringi omelan dari sang Mama. Daniel mandi kilat dan bergegas bersiap. Bahkan tak sempat menyentuhkan pant*tnya ke kursi meja makan, dan hanya mengambil sepotong roti tanpa selai sebagai pengganjal perutnya pagi ini. Itu pun dia lahap selama perjalanan menuju sekolah. Kantuk masih menggelayut. Meski pada akhirnya, Daniel coba enyahkan secara paksa. Kurang jam tidur hanya memperburuuk keadaan. Tapi mau bagaimana lagi? Mana mungkin Daniel bisa tidur nyenyak, ketika kepalanya dijejali dengan berbagai pengandaian buruuk ketika menghadapi Oscar dan gerombolannya nanti? Alih-alih mengayunkan langkah menuju kelas yang sudah cukup dekat, Daniel justru berbelok arah menuju toilet. Setidaknya mencuri secuil waktu untuk menenangkan diri. Mungkin karena masih pagi, jadi tak terlalu banyak siswa yang berada di toilet. Segera menuju wastafel, Daniel melepas kacamatanya, menyalakan keran, lalu menampung air yang mengucur keluar dengan kedua telapak tangannya. Ketika akhirnya penuh, segera dibasuhkan pada wajah. Daniel lakukan hal tersebut tiga kali. Setelah dirasa cukup, ia menyandarkan kedua tangannya pada sisi wastafel. Mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk, Daniel menemukan bayangan dirinya pada pantulan cermin yang berada di atas wastafel. Sebelumnya, ia sempat berpikiran untuk mengikhlaskan sepatu yang kini berada di tangan Oscar, dan memilih untuk membeli yang baru. Tapi rencana itu urung saat melihat sisa tabungannya yang ada. Jadi, mau tak mau, Daniel memang harus menghadapi Oscar dan gengnya sekarang. Biar sajalah, paling jadi pesuruh mereka. Mengelap wajah basahnya dengan tisu. Daniel memakai kembali kacamatanya, lalu berderap keluar dari toilet. Sesampainya di kelas, Oscar dan gerombolannya sudah menempati kursinya. Teman sebangkunya bahkan memilih untuk mengungsi sementara. "Ini dia bintang utama kita, akhirnya datang." Salah satu teman Oscar yang sebelumnya duduk di atas meja segera meloncat turun, usai menemukan keberadaan Daniel yang berjalan teramat pelan bak siput. Merangkul sok akrab seolah mereka memang teman dekat, dia menggiring Daniel—nyaris membuat langkah cowok itu terseok-seok. Sampai akhirnya berdiri tegang di samping Oscar. "Tumben datang siang? Lo udah bikin geu melewatkan sarapan buat berangkat lebih pagi. Tapi justru bikin gue nunggu lama." Menaikan kedua kaki ke atas meja lalu menyilangkannya, Oscar mendengkus ketika Daniel hanya mampu berdiri takut sembari menunduk. "Nyari apa lo? Upil lo jatuh?" Celetukan Oscar memecah gelak tawa teman-temannya. Dengan jari telunjuknya, Oscar meminta Daniel mendekat kearahnya. Meneguk ludah kelu, Daniel membungkukkan tubuh, berusaha mengendapkan rasa gugupnya. "Mau nggak, sepatu lo balik?" Mendengar hal itu, Daniel menatap Oscar dengan pendar antusias. "Mau! Mau! Tentu saja mau!" "Tapi ada syaratnya," memainkan kuku jarinya, Oscar menatap Daniel dengan wajah bosan. "A—apa?" "Gue tuh baik, jadi gampang aja syaratnya." Menunggu cemas, Daniel berusaha untuk menahan rasa pegalnya karena terus membungkuk. "Gue belum sarapan, lo pesankan di kantin sana!" Mengangguk cepat, Daniel kali ini melakukannya dengan semangat. Yang penting, sepatu yang dia hadiahkan untuk Gara bisa kembali. "Eh! Tunggu! Gue bahkan belum bilang apa yang mau di pesan." Gerutu Oscar melihat Daniel yang sudah bersiap untuk melesat pergi menuju kantin. "Lo pada mau pesan nggak?" Tanya Oscar pada teman-temannya. "Daniel yang bayar." Tambahnya membuat Oscar tersenyum puas, mendapati Daniel menampilkan ekspresi muram. Pasrah, Daniel segera mencatat pesanan Oscar dan teman-temannya. Lalu sibuk bolak-balik dari kantin ke kelas, membuat anak-anak lain menatapnya dengan iba. Tak terkecuali Ulfa. Ah, jika saja sahabatnya tak absen hari ini karena tengah demam. Dia yakin, Ainayya tak akan segan mendatangi Oscar dan gerombolannya untuk membela Daniel yang teraniaya. Ketika tugasnya selesai, sampai terlambat masuk ke kelas yang ternyata sudah di datangi guru yang mengajar di jam pelajaran pertama, Daniel tak sabar ingin menagih janji pada Oscar. Sayangnya tak bisa dilakukan sekarang karena kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Menunggu dengan resah hingga bel penanda waktu istirahat berteriak lantang, Daniel segera bangkit dari tempat duduknya dan melesat ke tempat Oscar yang tampak terlibat obrolan bersama teman-temannya. "Oscar?" Panggilnya sembari meremasi tangan dengan resah. "Apa?!" Tanya Oscar judes, merasa terganggu dengan kedatangan Daniel. "I—itu, sepatunya, kamu ... Sudah janjikan?" Terbelalak dengan ekspresi berlebihan, Oscar memegangi dad*nya sembari menatap Daniel sok imut, "oh, ya ampun. Lupa ...." Rengeknya membuat teman-temannya tergelak. Menggigiti bibir bagian bawahnya, Danile memaksakan senyumnya, "t—terus, gimana?" "Tenang, sepatu lo ada kok." Mengela napas lega, kedua bahunya yang tegang sejak tadi seketika melemas, mendengar ucapan Oscar. "Lo ambil sendiri sana, di rooftop sekolah." Deg! Daniel menatap horor. R—rooftop sekolah? Bukankah tempat itu terlarang? Karena peristiwa yang sempat menggegerkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN