Menikmati jam istirahat yang masih cukup lama, Oscar dan teman-temannya memilih nongkrong di belakang sekolah, di dekat gudang yang menyimpan barang-barang tak terpakai. Sembari menikmati rok*k yang tengah di hisap.
"Os?" Panggil salah seorang temannya, membuat Oscar yang tengah mengepulkan asap rok*k ke udara melempar tatapan penuh tanya.
"Apaan?"
Meringis, teman Oscar tampak ragu melempar pertanyaan yang saat ini bercokol di kepala. Sayangnya, dia benar-benar merasa penasaran. Jadi, mengendapkan ragu, akhirnya tetap menanyakannya, "si Daniel, dia nggak bakal kenapa-kenapa?"
Mendengkus, sebelum kemudian berdecak, Oscar menyamankan duduk, sebelum akhirnya menjawab, "ya nggaklah, memangnya bakal kenapa?"
"Bukan gitu, gue cuma—"
"Lo percaya omongan para siswa yang anggap rooftop sekolah angker?" Kekeh Oscar, menggelengkan kepala tak habis pikir, "nih, gue masih utuh. Padahal tadi pagi gue ke sana, taro sepatunya si Daniel." Karena teman-temannya enggan, Oscar akhirnya memilih pergi sendiri ke atas rooftop yang sangat jarang—atau mungkin tak pernah lagi, di kunjungi para siswa yang sudah menganggapnya sebagai tempat angker. Karena kasus yang sempat menggegerkan saat itu.
"I—iya sih," meringis, Dino—teman Oscar itu menggaruk ujung hidung dengan canggung.
"Udah, lo semua nggak usah mikir yang aneh-aneh. Lagian, gue cuma mau ngisengin Daniel doang."
"Mumpung nggak ada Ainayya ya?" Tanya Rendi, sembari menaik turunkan alis mata menggoda, membuat Oscar yang sebal, melempar botol air mineral yang sudah kosong kearah temannya itu.
"Kenapa bawa-bawa Ainayya? Ada atau pun nggak ada dia, gue tetap kerjain si Daniel kalau mau."
"Tapi kalau ada Ainayya, lo langsung kicep pas kena damprat gara-gara kerjain si Daniel." Rendi tergelak, mengabaikan wajah masam yang Oscar perlihatkan.
"Eh, tapi, doi lagi sakit kan katanya? Lo nggak mau jengukin, Os? Siapa tau langsung luluh kan? Terus nggak galak lagi sama lo."
"Gue suka kok digalakkin Ainayya."
"Iyuh ...." Rendi dan Doni mencibir berbarengan, sembari bergidik menatap Oscar yang justru tergelak puas, sebelum kemudian terbatuk-batuk karena tersedak asap rok*knya sendiri. "Sial*n! Butuh minum gue. Si Beni kemana sih? Itu anak beli minum di Brazil apa gimana? Lama banget perasaan, nggak nongol-nongol dari tadi." Omel Oscar dengan kesal. Tak lupa melempar delikan tajam pada Doni dan Rendi yang justru tergelak begitu puas.
Tak sampai satu menit, usai ocehan Oscar. Sosok yang ditunggu-tunggunya seketika datang. Tampak berlari tergopoh-gopoh dan nyaris tersungkur saat tak segaja tersandung sesuatu.
"Lo kenapa Ben? Kayak di kejar penagih utang." Rendi terkekeh, melihat temannya yang tengah sibuk mengatur keadaan napasnya yang compang-camping.
"Heh! Curut! Minuman gue mana? Ditungguin dari tadi, baru nongol sekarang. Tapi pesanan gue nggak kelihatan. Lo kelayapan kemana sih?!"
Mengambil tempat duduk di samping Rendi, Beni mengabaikan gerutuan temannya itu yang kesempitan karena kursi yang diduduki tak bisa menampung seutuhnya pant*t mereka berdua.
"Oy! Ben, jawab!"
"Ntar, kasih gue kesempatan napas dulu, elah!"
Mencebik sebal, Oscar memilih untuk kembali menyesap rok*knya. Dia baru saja berniat bangkit dari duduknya untuk pergi ke kantin, membeli minumannya sendiri, saat suara Beni akhirnya mengudara.
Tapi, apa yang cowok itu katakan, nyaris membuat jantung Oscar meluruh ke dasar perut.
Oh, sepertinya tak hanya jantung Oscar. Tapi Doni dan Rendi pun merasakan hal yang sama.
"A—apa yang lo bilang tadi? Coba ulangi?" Melempar puntung rok*knya yang masih panjang ke atas rumput, sebelum kemudian diinjak hingga hancur. Oscar meletakkan atensi sepenuhnya pada Beni.
"Jawab lo, jangan diem aja!" Seru Oscar keras, tak sabaran untuk mendengar ulang mengenai kabar yang sebelumnya Beni sampaikan. "Atau lo tadi cuma asal bacot? Mau ngerjain gue?"
"Nggak, Os! Gue serius! Untuk apa gue bikin berita bohong kayak gitu?"
"J—jadi, lo serius?" Kali ini Oscar bertanya dengan nada yang nyaris seperti bisikkan.
Melihat anggukan kepala dari Beni, dan wajah cemas yang cowok itu perlihatkan. Membuat Oscar menjambak rambutnya sendiri sembari memaki-m*ki. Sebelum kemudian bangkit dari duduknya dan melesat cepat, membuat teman-temannya terkejut.
"Oscar! Njir, kita harus kejar dia sekarang!" Rendi ikut panik, meski sejujurnya sekarang, lututnya terasa melemas dengan jantung yang menggedor-gedor dad* begitu kencang, hingga membuatnya terasa sesak.
"Ben, l—lo seriusan? Perasaan ulangtahun Oscar masih jauh. Terlalu dini buat ngerjain dia." Doni yang seolah menolak percaya, masih berusaha untuk membujuk Beni, jika pengakuannya tadi, hanya untuk mengerjai Oscar.
"Gue serius! Tadi pas mau ke kantin, ada kerumunan. Gue kira ada yang berantem, pas tanya sama salah satu siswa, dia bilang, ada yang—akh! Ya, itu! Seperti yang gue bilang sama kalian tadi. Udah, sekarang mending nyusul Oscar." Segera bangkit, Beni akhirnya kembali harus berlari, walau lelah belum sepenuhnya enyah.
Bersama Rendi dan Doni, ketiganya berusaha menyusul Oscar yang sosoknya, tak lagi bisa tertangkap penglihatan.
Karena sekarang, dengan napas putus-putus, Oscar tengah menuju ke tempat yang baru saja diberitahukan oleh Beni. Hal yang membuatnya akan menggantung dengan posisi terbalik temannya itu di atas pohon yang paling tinggi di sekolah. Jika berita tadi hanya untuk mengerjainya.
Sayang, semua dugaan itu seketika meluruh, saat menemukan kerumunan para siswa.
J—jadi benar?
Meneguk ludah yang bertransformasi bak bara api yang bisa mengoyak tenggorokannya. Oscar segera merangsek ke dalam kerumunan. Mengabaikan gerutuan para siswa lain yang sebelumnya ingin mem*ki tapi akhirnya urung, saat mendapati ternyata sosok Oscar yang sudah membuat ulah.
Ketika akhirnya berhasil mencapai barisan paling depan pada kerumunan tersebut, Oscar bersiap menuju ke area tangga menuju rooftop sekolah. Sayang, langkahnya dihentikan secara paksa, oleh beberapa guru yang berjaga.
"Dilarang mendekat," seorang pria yang masih tampak muda, segera menghadang ketika melihat kedatangan Oscar yang berniat merangsek menuju area rooftop.
"Pak, saya harus ke sana! Saya harus melihat kondisi—" tertegun, Oscar seperti orang linglung, tiba-tiba saja kehilangan fokus. Terlebih, hingga saat ini, masih belum bisa percaya, sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Tidak bisa," Ettan—yang merupakan salah seorang guru, tetap bersikeras untuk melarang Oscar. "Tidak ada yang diperbolehkan untuk ke sana, selain para guru dan mereka yang memilki kepentingan.
"SAYA TEMANNYA, PAK!" Oscar berteriak penuh emosi, padahal sosok yang menghadangnya adalah guru yang harusnya ia hormati. Dan karena sikap buruuknya itu, bisa saja membuatnya terkena masalah.
Ketegangan yang tejadi tiba-tiba terinterupsi oleh kedatangan petugas medis.
"Bu, sebaiknya kita minta anak-anak untuk kembali ke kelas masing-masing, meski jam istirahat belum selesai. Saya hanya takut, peristiwa ini menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak." Ettan melempar usulan pada sosok wanita yang merupakan rekan seprofesinya.
Mengangguk setuju—Linda, yang juga merupakan seorang guru kemudian meminta para siswa yang masih berkerumun untuk segera membubarkan diri. "Jika masih bebal, Ibu tak akan segan memberi hukuman."
Suara protes para siswa diabaikan. Karena Linda dan Ettan tetap meminta para siswa untuk tak lagi berkerumun. Karena hal yang tejadi, tak sepantasnya menjadi tontonan.
Imbauan tersebut tak Oscar indahkan, karena dia tetap bertahan di posisinya. Sekali pun teman-temannya berusaha membujuk.
"Ayo Os, kita bisa kena masalah lebih dari ini kalau masih di sini." Beni menarik-narik lengan Oscar. Mengajaknya untuk pergi, tapi tak dihiraukan. Temannya itu masih bergeming di tempatnya.
"Bener yang Beni bilang. Situasinya lagi kacau Os, mending cari aman dulu. Duh, kok gue ngeri ya. Semoga Daniel nggak kenapa-napa, gue belum minta maaf sama dia. Kalau nanti gentayangan terus datengin gue gimana? Aduh! Ish, kenapa gue ditoyor?"
"Sebenarnya gue gatel pengen jedotin kepala lo ketembok. Tapi masih bisa ditahan." Gerutu Doni, "itu mulut kalau ngomong jangan sembarangan. Do'a yang baik-baik lebih bagus!"
Merengut sembari menepuk-nepuk bibirnya sendiri, Rendi menyesali perkataannya tadi.
Tak terusik dengan keributan teman-temannya, Oscar masih bertahan di posisinya dalam diam.
"Kalian kenapa masih di sini? Sana ke kelas." Berkacak pinggang, Linda memberi peringatan keras, tapi ke empat siswa di depannya tak juga pergi. "Pak Ettan, ini ada yang bebal." Adunya ketika Oscar dan teman-temannya tetapi tak mau pergi.
Ettan yang baru selesai bicara dengan rekan guru yang lain sudah bersiap untuk menegur Oscar dan gerombolannya, ketika petugas medis yang sebelumnya datang dan segera menuju ke tempat kejadian, kini tengah membawa salah seorang muridnya yang tak sadarkan diri dengan tandu dan dipindahkan ke brankar, sebelum kemudian segera dibawa masuk ke dalam ambulans.
Fokus semua orang yang tertuju pada sosok Daniel, membuat Oscar dan teman-temannya terabaikan. Tak ada lagi yang mencoba menegur ke empat siswa yang kini berwajah pucat dengan tubuh gemetar.
"D—dar*hnya, banyak banget." Rendi meremas lengan Doni yang berdiri di sampingnya. Lututnya tiba-tiba melemas, membuatnya kepayahan untuk menopang tubuhnya yang gemetar. Tapi rupanya, hal itu tak hanya dialami oleh Rendi. Ketiga temannya merasakan hal yang serupa. Oscar bahkan sudah terduduk di lantai, dengan pandangan kosong.
***
Aida mengusap kepala putranya yang berada dipangkuannya. Daniel tengah bermanja-manja, sembari memeluk toples berisi keripik kentang yang remahannya mengotori sofa serta rok yang dikenakan Aida.
Mendapat decakan, anak itu hanya melempar cengiran polos yang membuat Aida tak tega memberi omelan.
"Ma?" Panggil Daniel, dengan tatapan yang tak lagi terarah pada layar televisi. Tapi menatap sepenuhnya padanya.
"Hm? Kenapa?" Tanya Aida sembari terus mengelus rambut putranya.
"Mama bilang, Gara bisa melihat lagi, kalau dapat donor mata kan?"
Mengerutkan kening, Aida keheranan karena Daniel tiba-tiba membahas mengenai hal itu. Tapi akhirnya, ia tetap menganggukkan kepala, "iya, kalau bisa mendapat donor mata yang cocok, ada kemungkinan, Gara bisa melihat lagi. Tapi sampai sekarang, masih belum ada. Papa dan Mama sudah berbicara sama Om Hendra. Supaya kasih kabar kalau ada."
Hendra adalah sepupu Aida yang berprofesi sebagai Dokter di salah satu rumah sakit.
"Ma?"
"Hm?"
Daniel tak segera menjawab, membuat Aida yang sebelumnya menatap televisi, kembali menundukkan pandangan pada sosok putranya yang ia kira tertidur. Tapi ternyata tidak. Daniel terus diam sembari menatap lekat kearahnya.
"Kenapa, Sayang?"
Mengerjap, Daniel meraih tangan sang Mama, meletakan di pipinya sembari melengkungkan senyuman, "nanti, donorkan mata Daniel untuk Gara ya, Ma."
Mendengar hal itu, Aida tentu saja terkesiap. Tak menyangka putranya memiliki keinginan untuk mendonorkan matanya untuk sang sepupu.
"Ngawur!" Terkekeh kering, Aida berusaha untuk menanggapi ucapan Daniel yang ia anggap hanya gurauan. "Orang hidup mana boleh donorkan organ tubuhnya?" Membungkuk, agar bisa memberi kecupan sayang, Aida menatap lembut putra semata wayangnya, "Daniel anak baik. Tapi yang kamu minta tadi itu nggak masuk akal, Nak."
"Daniel juga sayang Mama, Papa, dan Gara." Mengecup punggung tangan sang Mama, ia lengkungan senyuman hangat, "dan yang Daniel bilang tadi, serius. Mau donorkan mata untuk Gara."
Kali ini, raut wajah Aida berubah kesal. Tak menyukai apa yang putranya ucapkan.
Baru saja berniat marah, tubuh Aida tersentak. Dengan mata yang seketika terbuka.
"Tante?"
Astaga ... Jadi yang tadi itu mimpi?
"Tante?"
Menolehkan kepala, Aida mendapati Gara di sampingnya. Dia memang menemani anak itu menonton tv, tapi justru ketiduran.
Mengusap wajah kuyunya, Aida menegakkan posisi duduk, "kenapa, Ga?"
"Tadi dengar suara si Mbok."
Dan, tak lama kemudian, wanita paruh baya itu muncul sembari tergopoh-gopoh. "Nyonya, ini, ada telepon. Katanya dari wali kelas Den Daniel."
"Wali kelas Danile?" Beo Aida yang tampak bingung sekaligus heran. Kenapa wali kelas anaknya menelpon? Padahal sekarang, Daniel masih berada di sekolah.
Apa mungkin Daniel membuat masalah yang cukup serius?
Tapi ... Rasanya tidak mungkin. Anaknya tak pernah berbuat aneh-aneh.
Menelan rasa cemas yang tiba-tiba merayapi, Aida menerima telepon rumah yang diserahkan oleh asisten rumah tangganya.
"Halo?" Sapanya ketika telepon tersebut sudah ditempelkan pada telinga, "iya betul, saya Aida, Ibunya Daniel. Ada apa ya Bu?" Sejenak, Aida menunggu alasan pihak sekolah tiba-tiba menghubunginya.
"Bu?" Panggil Aida karena tak juga mendapat jawaban. Dan dia tak merasa nyaman dengan rasa cemas yang sejak tadi merongrong.
Terdengar elaan napas dari seberang sambungan, sebelum kemudian, apa yang diberitahukan padanya, membuat tubuh Aida lemas seketika.
"Daniel, terjatuh dari tangga Bu Aida, dan sekarang, dilarikan ke rumah sakit."
"A—apa?!"
"Nyonya!" Si Mbok yang masih berada di sana seketika panik, melihat majikannya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Hal serupa dialami Gara, ketika mendengar teriakan si Mbok, dia menyadari ada sesuatu yang tejadi pada Bibinya. "Mbok, Bi Aida kenapa? Mbok?"
"Anu Den, Nyonya pingsan." Di tengah rasa paniknya, si Mbok kemudian berinisiatif untuk menghubungi Wira.
Sementara Gara, yang berhasil meraih tangan Aida, ikut merasa cemas. Apalagi, dia sempat mendengar nama sepupunya disebut-sebut.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Daniel?