Suara Isak tangis yang tertangkap pendengaran membuat cengkraman Gara pada tanah basah yang berada digenggamannya kian menguat.
Meski gelap yang terbentang luas dalam pandangannya, ia bisa ikut merasakan, duka mendalam yang kini menyelimuti bak kabut tebal.
Derap langkah dan ucapan turut berdukacita berdengung ditelinganya. Dibarengi tetesan hujan yang kian riuh menjatuhkan diri. Membuat orang-orang bergegas angkat kaki. Menyisakan Gara beserta Paman dan Bibinya. Oh, juga si Mbok yang terus membujuknya pulang. Atas titah Wira yang tak pernah melepaskan pelukannya pada sang istri yang tak berhenti menangis.
"Nyonya!"
"Kenapa Mbok?" Gara terkesiap, mendengar suara jeritan si Mbok di sampingnya.
"I—itu, Den, Nyonya pingsan lagi."
Wira dengan sigap menggendong sang istri yang tak sadarkan diri, menatap kearah si Mbok di samping Gara yang memperlihatkan kecemasan yang sama, "Mbok, ajak Gara pulang. Saya harus membawa Aida ke rumah sakit."
Wajah istrinya sudah begitu pucat dengan mata membengkak. Diperparah keengganannya untuk makan. Hanya dua suapan roti yang mengisi perutnya sejak semalam. Itu pun harus Wira bujuk susah payah.
Sejujurnya, Wira merasakan hal yang sama. Tubuhnya seolah mati rasa. Perut yang dibiarkan kosong cukup lama bahkan tak membuatnya sadar akan rasa lapar. Meski begitu, ia coba paksakan makan, walau hambar yang hanya tercecap lidah. Bukan makanannya yang bermasalah. Tapi kondisinya di tengah duka, membuat Wira tak bisa menikmati makanannya walau dipesankan menu yang biasanya membuat lahap.
Hanya saja, Wira tetap berusaha mengisi perut agar tak tumbang. Dia membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi hari-hari berat sepeninggal sang putra yang begitu tiba-tiba.
Padahal sebelumnya, Wira yang mengantar Daniel ke sekolah agar tak terlambat karena bangun lebih siang dari biasanya.
Putranya itu tak segera turun saat mobil yang Wira kendarai akhirnya sampai di sekolah. Daniel tak juga turun, tapi justru memeluknya erat dan mengucap sayang. Wira mana tau itu adalah pelukan terkahir yang bisa ia dapatkan dari darah dagingnya?
Ada begitu banyak pengandaian yang bercokol di kepala. Tapi Wira sadar, itu tak berguna. Karena mungkin, memang sudah waktunya sang putra berpulang. Bahkan di usia yang masih teramat muda. Mendahuluinya serta sang istri yang hanya tidur beberapa jam. Itu pun lebih sering terbangun dan akhirnya menangis. Ketika sadar kepergian Daniel tak sekadar mimpi.
"I—iya, Tuan. A—ayo, Den Gara." Membantu Gara berdiri dari posisi berjongkoknya. Si Mbok menuntun Gara yang tak membantah ucapan Wira. Meski rasanya begitu berat meninggalkan tempat yang menjadi peristirahatan terakhir sepupunya.
Masih dalam diam, Gara masuk ke salah satu mobil kerabat yang masih ada di sana untuk menumpang pulang. Karena Wira bergegas membawa mobilnya ke rumah sakit.
Selama perjalanan, Gara memilih diam. Menulikan pendengaran dari obrolan beberapa kerabat yang tengah membahas tentang mendiang Daniel yang disayangkan berpulang di usia yang masih muda.
Tapi, yang namanya kematian, bukankah tak mengenal usia?
Sama halnya seperti Lili, adiknya yang bahkan masih kecil. Tapi berpulang bersama kedua orangtuanya.
Lalu, sekarang Daniel?
Kenapa?
Kenapa lagi-lagi Gara di tinggalkan oleh orang-orang yang dia sayangi?
Daniel. Sepupunya itu membuat Gara tak lagi mencecap kesepian. Dengan segala celotehan yang tak jarang menggelitik perut. Menciptakan bahagia yang beberapa bulan terakhir seolah lenyap di hidup Gara.
Ketika Gara mulai bisa menerima keadaannya berkat dukungan Daniel dan keluarganya. Sekarang, sosok itu harus absen dalam hidupnya yang pasti kembali ditemani sepi.
Sesampainya di kediaman sang Paman. Gara memilih beristirahat di kamar. Tak mau merepotkan si Mbok yang sekarang menjaganya.
Terbaring dengan posisi telentang, Gara mengembuskan napas gusar. Sebelum kemudian mencubit lengannya sendiri. Lalu meringis dan mendengkus kesal. Saat sadar, harapannya kembali pupus.
Entah berapa kali Gara melakukan hal itu. Hanya karena enggan mengakui jika semua benar-benar nyata. Bukan sekadar mimpi seperti harapannya.
Memiringkan tubuh, Gara mengelus bagian kosong tempat tidurnya. Tempat itu pernah di isi Daniel, ketika menginap di kamar ini seusai merayakan pesta ulangtahunnya.
Siang itu, kekacauan terjadi setelah sang Bibi dilaporkan tak sadarkan diri oleh si Mbok. Yang kemudian membantu membaringkan wanita itu ke atas sofa dan berusaha disadarkan dengan bantuan minyak kayu putih yang dibalurkan tipis sekitar hidung.
Ketika Aida akhirnya sadar. Wanita itu meracau, terus memanggil-manggil nama Daniel.
Tak lama, Wira datang. Mempertanyakan hal yang membuatnya terpaksa meninggalkan kantor setelah menerima telepon dari si Mbok yang mengabarkan istrinya pingsan.
Aida kemudian menceritakan soal telepon dari sekolah Daniel. Membuat keduanya bergegas menyusul ke rumah sakit untuk melihat kondisi putra semata wayang mereka.
Meski cemas merongrongnya, Wira berusaha untuk tetap tenang agar tak membuat situasi kian rumit. Apalagi istrinya sudah tak bisa membendung air mata, setelah tau putra mereka terluka. Walau belum mengetahui kondisinya.
Gara sejujurnya ingin ikut serta. Tapi keinginan itu hanya menggema di dalam hatinya. Berusaha tau diri, agar tak merepotkan paman dan bibinya yang tengah disergap rasa panik.
Akhirnya, dengan anggukan patuh, Gara mengiyakan pesan sang paman yang memintanya tetap tinggal di rumah bersama si Mbok.
Sepeninggal paman dan bibinya. Gara masih bertahan duduk di ruang tengah. Menolak halus saat si Mbok menawarkan bantuan agar kembali ke kamar.
Gara tak bisa memenjara resah yang sejak tadi mengerubunginya. Tak jarang, dia terus bertanya pada si Mbok, apakah paman dan bibinya sudah pulang? Atau, sudah berapa lama waktu berjalan?
Setiap detik yang berlalu, membawa sesak yang membuat Gara kepayahan menenangkan diri.
Lalu, ketika punggungnya mulai terasa pegal, karena entah berapa lama ia duduk di sofa yang terasa panas saat bekas duduknya disentuh telapak tangan.
Gara mendengar derap langkah yang begitu tergesa-gesa, dengan isakan suara tangis yang membuatnya mengepalkan kedua telapak tangan.
T—tidak. Itu pasti bukan pertanda buruk kan?
"Den?" Suara si Mbok terdengar bergetar, membuat Gara menunggu berita macam apa yang wanita paruh baya itu berikan padanya.
Meski sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan hati, pada apa pun yang akhirnya Gara ketahui. Nyatanya, ia tak siap. Ketika berita bak mimpi buruk itu di sampaikan padanya.
"D—Den, Mbok antar, ke kamar dulu ya."
Gara sudah membuka mulut, bersiap untuk menolak. Seperti sebelumnya, ia ingin tetap di sini sembari menunggu paman dan bibinya datang. Ah, juga Daniel. Mungkin, sepupunya mengalami insiden di sekolahnya hingga harus mendapat perawatan di rumah sakit. Tapi, semoga saja tak parah.
Dulu, Gara pernah mengalami hal serupa. Cidera saat melakukan pertandingan futsal antar kelas di sekolahnya. Membuat orangtuanya panik dan menyusul ke rumah sakit karena dia dilarikan ke sana oleh pihak sekolah untuk mendapat penanganan dengan segera.
Karena peristiwa itu, Gara abesn sekolah selama seminggu. Ketika akhirnya kembali ke sekolah pun, harus menggunakan kruk untuk membantunya berjalan.
"Mbok sama yang lain mau siap-siap, membereskan rumah, Den."
"Nggak apa-apa kalau mau beres-beres, Mbok. Aku di sini saja."
"Tapi Den—"
"Aku janji nggak akan merepotkan."
"Bukan begitu, tapi, kami mau persiapkan tempat—" si Mbok tak bisa menyelesaikan ucapannya ketika tangisnya pecah. Membuat Gara mengerutkan kening bingung.
"Mbok? Kenapa nangis?"
Wanita paruh baya itu kian tersedu-sedu, tak juga menjawab pertanyaan Gara yang masih terbebat kebingungan.
"Kami mau pindahkan sofa dan siapkan tempat, Den." Masih tersedu-sedu, si Mbok berusaha menyelesaikan ucapannya yang terus terputus, "biar nanti, semua sudah beres, saat ... Saat, j—jenazah Den Daniel tiba, bisa di tempatkan di sana, selagi mengurus untuk tempat pemakamannya."
Jika saja posisinya tak sedang duduk. Gara yakin, kedua lututnya yang tiba-tiba lemas, pasti tak bisa menopang tubuhnya hingga ambruk menghantam lantai.
Si Mbok masih menangis, sementara Gara tak mampu berkata-kata. Pikirannya seolah kosong, dengan degup jantung yang menggedor-gedor dad* hingga membuatnya terasa sesak.
Lalu, dengan gemeter, Gara mengarahkan tangannya pada pipi yang entah kapan sudah basah? Dijatuhi buliran air mata yang menyerbu turun, diikuti pundaknya yang bergetar, hingga bibir yang sebelumnya terkatup rapat. Mengeluarkan suara isak tangis yang tercuri keluar. Bersama si Mbok yang kian tersedu-sedu, keduanya menangisi kepergian Daniel yang tak pernah diduga. Padahal tadi pagi, masih mendengar segala celotehannya.
"Gara?" Suara familiar itu menyentak lamunan Gara tentang kabar kematian Daniel yang meruntuhkan perasaannya. Bak sebuah awan Cumulonimbus menggantung di atas kepala. Duka itu mengerubungi diselingi luka masa lalu yang kembali menganga.
"N—Nenek?" Segera merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, sebuah rasa hangat seketika menyelubungi tubuh Gara yang saat ini tenggelam dalam pelukan Puspita.
Lagi, pendengaran Gara terisi suara tangis pilu yang menyayat hati.
"Bu?"
Kali ini, suara sang Kakek yang terdengar.
Arief mengela napas panjang, menatap sang istri yang teguguk dipundak cucu mereka. Menengadahkan kepala, berusaha menahan laju air mata yang mendesak turun. Pria sepuh itu masuk ke kamar Gara.
Lagi-lagi mereka harus merasakan kehilangan. Ditinggalkan cucu untuk yang kedua kali setelah sebelumnya kepergian Lili, adik Gara.
Menundukkan pandangan, Arief mengusap pelan kepala Gara, "kami baru tiba, Nak." Wira baru mengabari kabar duka itu menjelang subuh. Membuatnya bertanya-tanya, di tengah rasa terguncang karena rasa kehilangan. Apa putra keduanya itu tak tidur sama sekali karena masih terjaga di jam itu?
Ya, tentu saja. Mana mungkin bisa tidur dengan kondisi berduka walau tubuh meneriakkan kata lelah. Karena hal serupa pernah Arief rasakan. Ketika putra pertamanya berpulang karena kecelakaan.
Arief jelas kebingungan, bagaimana caranya untuk menyampaikan berita duka itu pada sang istri?
Tak mungkin berkendara di waktu yang masih gelap di luar sana. Arief akhirnya memberitahu Puspita setelah mereka menyelesaikan salat subuh.
Istrinya terdiam dengan wajah pucat, sebelum tangis pilu itu mengisi kamar mereka. Dengan Arief yang berusaha menenangkan dan memintanya bersiap, karena mereka harus pergi ke sana, melihat Daniel untuk yang terakhir kalinya.
Sayang, hujan membuat kedatangan mereka terlambat. Atas info dari kerabat yang baru pulang dari pemakaman, karena Wira tak bisa dihubungi, mereka akhirnya sampai di pemakaman yang sudah tampak sepi. Dengan hujan yang kian menderas, Arief dan Puspita memanjatkan do'a di bawah payung agar tak terjamah keriuhan hujan.
Ketika akhirnya sampai dikediaman Wira. Arief baru tau putranya tengah berada di rumah sakit dari asisten rumah tangga yang membukakan pintu. Karena menantunya tak sadarkan diri, terpukul atas kepergian putra semata wayangnya.
Puspita masih terisak, tapi perlahan melepas pelukannya pada Gara, dan tercenung, mendapati wajah basah sang cucu.
Menghapus air mata Gara dengan tangannya yang gemeter, Puspita rasanya ingin meraung dengan keras. Karena lagi-lagi harus kehilangan anggota keluarganya. Meski dia tau, tak seharusnya begitu. Semua yang ada di dunia ini, sudah memilki takdirnya masing-masing.
Hanya saja, ia tak tega pada Gara. Terlebih, Daniel adalah sosok yang berhasil mengembalikan senyum yang sempat hilang di wajah Gara.
***
Tak peduli pada hujan yang menjamah tubuh hingga seragam putih abu-abunya berakhir kuyup. Sosok itu tetap berdiri, menatap makam bertabur bunga yang sebagian tercecer terhantam hujan.
Berjongkok, sosok itu—Oscar, menundukkan kepala, dengan bahu yang kemudian bergetar. Tangisnya pecah bercampur hujan.
Sesal itu menggerogoti hati. Membuatnya sesak untuk bernapas. Terlebih, tatapan penuh tuduhan dan celaan ia dapatkan dari para siswa ketika menginjakan kaki di sekolah.
Tak ada lagi tatapan takut dan segan di mata para siswa ketika mendapati keberadaannya.
Semua berubah. Dan Oscar tentu tau penyebabnya.
Berusaha abai pada para siswa yang melemparinya tatapan penuh cemooh. Oscar tetap mengayunkan langkah dengan perasaan carut marut. Kepalanya pengar, karena semalam nyaris tak tidur.
Bayang-bayang sosok Daniel bersimbah dar*h, terus bergentayangan di kepala.
Oscar akhirnya sampai di depan kelas. Dan lagi-lagi mendapat tatapan tak bersahabat. Kali ini, dari teman-teman sekelasnya.
Tapi, ketika berada di ambang pintu, Oscar terdiam dengan pikiran berkecamuk. Hingga akhirnya, memilih berbalik pergi. Mengabaikan panggilan dari teman-temannya, Oscar bertekat untuk membolos, agar bisa ke tempat yang seharunya ia datangi.
Oscar berada di sana. Saat prosesi pemakaman Daniel berlangsung. Sayangnya, dia hanya mampu melihat dari balik pohon. Bersembunyi bak pengecut.
Dia memang pengecut. Perbuatannya pada Daniel tak termaafkan.
Apa yang dilakukannya, mengakibatkan orangtua harus kehilangan putranya.
Ketika hujan akhirnya datang, semua orang mulai beranjak pergi. Tidak dengan Oscar yang terus bertahan di tempatnya. Tak peduli jika nanti harus sakit. Mungkin saja dengan sakit-sakitan, bisa membuatnya bertemu Daniel untuk mengemis maaf.
Ketika keadaan akhirnya sepi. Oscar menyeret langkah menuju makam Daniel. Mengais maaf pada sosok yang telah terkubur di dalam sana. Dan tentu saja, itu sia-sia.
"Maaf Niel," menelungkupkan wajah pada lipatan tangan yang berada di gundukan tanah penuh bunga pada makam Daniel, Oscar meracau permohonan maaf.
Sayang, hanya seruan hujan yang menjawab penyesalannya.